Haruskah Anda Percaya Tritunggal ? Bag.4

November 27, 2009

Tritunggal Bag.1, Bag.2, Bag.3

E. APAKAH ALLAH SELALU LEBIH UNGGUL DARIPADA YESUS?
YESUS tidak pernah mengaku sebagai Allah. Segala sesuatu yang ia katakan tentang dirinya menunjukkan bahwa ia tidak menganggap dirinya sama dengan Allah dalam hal apapun -tidak dalam hal kuasa, tidak dalam pengetahuan, tidak dalam umur.

Dalam setiap periode keberadaannya, tidak soal di surga atau di atas bumi, ucapan-ucapan dan tingkah lakunya mencerminkan kedudukan yang lebih rendah daripada Allah. Allah selalu yang lebih unggul, Yesus adalah pribadi yang lebih rendah yang diciptakan oleh Allah.

Yesus Dibedakan Dari Allah
BERULANG kali, Yesus menunjukkan bahwa ia adalah makhluk yang terpisah dari Allah dan bahwa ia, Yesus, mempunyai Allah di atas dirinya, Allah yang ia sembah, Allah yang ia sebut “Bapa.” Dalam doa kepada Allah, yaitu sang Bapa, Yesus berkata, “Engkau, satu-satunya Allah yang benar.” (Yohanes 17:3) Dalam Yohanes 20:17 ia berkata kepada Maria Magdalena:
“Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu.” Dalam 2 Korintus 1:3 rasul Paulus meneguhkan hubungan ini: “Terpujilah Allah, Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus.” Karena Yesus mempunyai Allah, Bapanya, ia tidak mungkin pada waktu yang sama juga adalah Allah itu.

Rasul Paulus tidak mempunyai keraguan untuk menyebut Yesus dan Allah sebagai pribadi-pribadi yang terpisah dan berbeda:
“Bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa,… dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus.” (1 Korintus 8:6) Rasul itu menunjukkan perbedaannya ketika ia menyebutkan “di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat malaikat pilihanNya.” (1 Timotius 5:21) Jadi sama seperti Paulus menyebut Yesus dan para malaikat sebagai pribadi-pribadi yang berbeda satu sama lain di surga, demikian pula Yesus berbeda dengan Allah.

Kata-kata Yesus dalam Yohanes 8:17, 18 juga penting. Ia berkata: “Dalam kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian dua orang adalah sah; Akulah yang bersaksi tentang diriKu sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.” Di sini Yesus menunjukkan bahwa ia dan sang Bapa, yaitu Allah Yang Mahakuasa, harus dua kesatuan yang berbeda, jika tidak bagaimana mungkin benar-benar ada dua saksi?

Yesus selanjutnya menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang terpisah dari Allah dengan mengatakan: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.” (Markus 10:18) Jadi Yesus mengatakan bahwa tidak ada pribadi lain manapun yang sebaik Allah, bahkan Yesus sendiri tidak. Allah adalah baik dengan cara yang membuat Ia terpisah dari Yesus.

Hamba Allah yang Menundukkan Diri
BERULANG kali, Yesus memberikan pernyataan-pernyataan seperti: “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya.” (Yohanes 5:19) “Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendakKu, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 6:38) “AjaranKu tidak berasal dari diriKu sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 7:16) Bukankah yang mengutus lebih unggul dari yang diutus?

Hubungan ini nyata dalam perumpamaan Yesus tentang kebun anggur. Ia menyamakan Allah, Bapanya, dengan pemilik kebun anggur, yang pergi ke luar negeri dan meninggalkan kebun itu dalam tangan para penggarap, yang melambangkan imam-imam Yahudi. Ketika sang pemilik kemudian mengutus seorang hamba untuk mendapatkan hasil dari kebun anggur itu, para penggarap memukul hamba tersebut dan mengusirnya dengan tangan kosong. Kemudian sang pemilik mengutus hamba yang kedua, dan kemudian yang ketiga, yang kedua-duanya mendapat perlakuan sama. Akhirnya, pemilik kebun itu berkata: “Aku akan menyuruh anakku [Yesus] yang kekasih, tentu ia mereka segani.” Namun para penggarap yang korup itu berkata: “Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisan ini menjadi milik kita. Lalu mereka melemparkan dia ke luar kebun anggur itu dan membunuhnya.” (Lukas 20:9-16) Jadi Yesus menggambarkan kedudukannya sendiri sebagai pribadi yang diutus oleh Allah untuk melakukan kehendak Allah, sama seperti seorang ayah mengutus seorang anak yang tunduk.

Para pengikut Yesus selalu memandangnya sebagai hamba Allah yang menundukkan diri, bukan sebagai pribadi yang sama dengan Allah. Mereka berdoa kepada Allah mengenai “Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi,… tanda-tanda dan mujizat-mujizat [dilakukan] oleh nama Yesus, HambaMu yang kudus.”-Kisah 4:23, 27, 30.

Allah Lebih Unggul Sepanjang Zaman
PADA awal mula pelayanan Yesus, ketika ia ke luar dari air pembaptisan, suara Allah dari surga berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.” (Matius 3:16, 17) Apakah Allah berkata bahwa Ia adalah Anak-Nya sendiri, bahwa Ia berkenan kepada diri-Nya sendiri, bahwa Ia mengutus diri-Nya sendiri? Tidak, Allah sang Pencipta mengatakan bahwa Ia, sebagai yang lebih unggul, berkenan kepada pribadi yang lebih rendah, Anak-Nya, Yesus, untuk melakukan pekerjaan yang ada di hadapan.

Yesus menyatakan keunggulan Bapanya ketika ia berkata: “Roh Tuhan [Yehuwa, NW] ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.” (Lukas 4:18) Pengurapan adalah pemberian wewenang atau tugas oleh orang yang lebih tinggi kepada seseorang yang masih belum mempunyai wewenang. Di sini, Allah adalah jelas yang lebih unggul, karena Ia mengurapi Yesus, memberinya wewenang yang tidak ia miliki sebelumnya.

Yesus membuat jelas keunggulan Bapanya ketika ibu dari dua murid memohon agar putra-putranya masing-masing duduk di sebelah kanan dan di sebelah kiri Yesus bila ia memerintah dalam Kerajaannya. Yesus menjawab: “Hal duduk di sebelah kananKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa BapaKu [yaitu Allah] telah menyediakannya.” (Matius 20:23) Jika Yesus adalah Allah Yang Mahakuasa, ia berhak memberikan kedudukan tersebut. Namun Yesus tidak dapat melakukan itu, karena ini adalah hak Allah, dan Yesus bukan Allah.

Doa Yesus sendiri merupakan contoh yang ampuh dari kedudukannya yang lebih rendah. Ketika Yesus akan mati, ia memperlihatkan siapa pribadi yang lebih unggul daripada dia dengan berdoa: “Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.” (Lukas 22:42) Kepada siapakah ia berdoa? Kepada sebagian dari dirinya sendiri? Tidak, ia berdoa kepada pribadi yang sama sekali terpisah darinya, Bapanya, Allah, yang kehendak-Nya lebih unggul dan bisa saja berbeda dari kehendaknya sendiri, satu-satunya Pribadi yang dapat ‘mengambil cawan ini.’

Kemudian, ketika mendekati kematian, Yesus berseru:
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15: 34) Kepada siapakah Yesus berseru? Kepada dirinya sendiri atau bagian dari dirinya? Pasti seruan itu, “Allahku,” tidak berasal dari seseorang yang menganggap dirinya sendiri Allah. Dan jika Yesus adalah Allah, maka oleh siapa ia ditinggalkan? Dirinya sendiri? Hal itu tidak masuk akal. Yesus juga berkata: “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” (Lukas 23:46) Jika Yesus adalah Allah, mengapa ia harus menyerahkan nyawanya kepada sang Bapa?

Setelah Yesus mati, ia berada dalam kuburan selama sebagian dari tiga hari. Jika ia adalah Allah, maka Habakuk 1:12 (NW) keliru ketika berkata: “Allahku, Yang Mahakudus, Engkau tidak mati.” Namun Alkitab berkata bahwa Yesus mati dan tidak sadar dalam kuburan. Dan siapakah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati? Dan jika ia benar-benar mati, ia tidak mungkin membangkitkan dirinya sendiri. Sebaliknya jika ia tidak benar-benar mati, kematiannya yang pura-pura tidak akan membayar harga tebusan untuk dosa Adam. Tetapi ia benar-benar membayar harga itu sepenuhnya melalui kematiannya yang sungguh-sungguh. Jadi “Allah [yang] membangkitkan [Yesus] dengan melepaskan Dia dari sengsara maut.” (Kisah 2:24) Yang lebih unggul, Allah Yang Mahakuasa, membangkitkan yang kurang unggul, hamba-Nya Yesus, dari kematian.

Apakah kesanggupan Yesus untuk melakukan mukjizat-mukjizat, seperti membangkitkan orang, menunjukkan bahwa ia adalah Allah? Nah, rasul-rasul dan nabi Elia serta nabi Elisa juga mempunyai kuasa itu, namun hal itu tidak membuat mereka lebih tinggi daripada manusia. Allah memberikan kuasa untuk melakukan mukjizat-mukjizat kepada nabi-nabi, Yesus, dan rasul-rasul untuk menunjukkan bahwa Ia mendukung mereka. Namun hal itu tidak membuat mereka semua bagian dari Keilahian yang jamak.

Pengetahuan Yesus Terbatas
KETIKA Yesus memberikan nubuatnya mengenai akhir sistem ini, ia berkata: “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.” (Markus 13:32) Jika Yesus adalah Anak yang setara, bagian dari Keilahian, ia pasti mengetahui apa yang diketahui sang Bapa. Namun Yesus tidak tahu, karena ia tidak setara dengan Allah.

Demikian pula, kita membaca dalam Ibrani 5:8 bahwa Yesus “belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya.” Dapatkah kita membayangkan bahwa Allah harus belajar sesuatu? Tidak, tetapi Yesus memang demikian, karena ia tidak mengetahui segala sesuatu yang Allah ketahui. Dan ia harus belajar sesuatu yang Allah tidak akan pernah perlu pelajari -ketaatan. Allah tidak pernah harus menaati siapapun.

Perbedaan antara apa yang Allah ketahui dan apa yang Kristus ketahui juga nyata ketika Yesus dibangkitkan ke surga untuk tinggal bersama Allah. Perhatikan kata-kata pertama dari buku Alkitab yang terakhir: “Wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepadaNya.” (Wahyu 1:1) Jika Yesus sendiri adalah bagian dari Keilahian, apakah ia perlu diberi Wahyu oleh bagian lain dari Keilahian itu -Allah? Pasti ia sudah mengetahui semuanya, karena Allah mengetahuinya. Namun Yesus tidak tahu, karena ia bukan Allah.

Yesus Tetap Lebih Rendah Kedudukannya
DALAM kehidupannya sebelum menjadi manusia, dan juga ketika ia berada di atas bumi, Yesus lebih rendah dari Allah. Setelah dibangkitkan, ia tetap berada dalam kedudukan yang lebih rendah, nomor dua.
Ketika berbicara tentang kebangkitan Yesus, Petrus dan orang-orang yang besertanya mengatakan kepada Sanhedrin Yahudi: “Dialah [Yesus] yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan ["ke," NW] tangan kananNya.” (Kisah 5:31) Paulus berkata: “Allah sangat meninggikan Dia.” (Filipi 2:9) Jika Yesus adalah Allah, bagaimana mungkin Yesus ditinggikan, yaitu dinaikkan kepada kedudukan yang lebih tinggi yang sudah ia miliki sebelumnya? Ia tentu sudah merupakan bagian dari Tritunggal dengan kedudukan yang tinggi. Jika, sebelum ditinggikan, Yesus setara dengan Allah, meninggikan dia lebih tinggi lagi akan membuatnya lebih unggul daripada Allah.

Paulus juga berkata bahwa Kristus masuk “ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.” (Ibrani 9:24) Jika anda muncul di hadapan hadirat seseorang, bagaimana mungkin anda adalah orang itu juga? Tidak mungkin. Anda harus berbeda dan terpisah.

Demikian pula, tepat sebelum dilempari batu sampai mati, sang martir Stefanus “menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.” (Kisah 7:55) Maka jelas, ia melihat dua pribadi yang terpisah -namun tidak melihat roh kudus, tidak melihat Keilahian Tritunggal.

Dalam kisah di Wahyu 4: 8 sampai 5: 7, Allah diperlihatkan duduk di atas takhta surgawi-Nya, tetapi Yesus tidak. Ia harus menghampiri Allah untuk mengambil gulungan dari tangan kanan Allah. Ini menunjukkan bahwa di surga Yesus bukan Allah tetapi terpisah dari Dia.

Sesuai dengan yang dikatakan di atas, Bulletin of the John Rylands Library di Manchester, Inggris, berkata: “Dalam kehidupannya di surga setelah dibangkitkan, Yesus digambarkan tetap memiliki kepribadian tersendiri sebagai individu dalam segala hal, yang berbeda dan terpisah dari pribadi Allah tepat seperti ketika ia hidup di atas bumi sebagai Yesus di bumi. Di samping Allah dan dibandingkan dengan Allah, ia memang muncul sebagai suatu pribadi surgawi lain lagi di tempat surgawi Allah, sama seperti para malaikat -walaupun sebagai Anak Allah, ia berada dalam tingkatan yang berbeda, dan mempunyai kedudukan jauh di atas mereka.” -Bandingkan Filipi 2 :11.

Bulletin juga berkata: “Namun, apa yang dikatakan mengenai kehidupan dan fungsi-fungsinya sebagai Kristus surgawi tidak berarti ataupun menyatakan bahwa dalam status ilahi ia berdiri setingkat dengan Allah sendiri dan adalah sepenuhnya Allah. Sebaliknya, dalam gambaran Perjanjian Baru mengenai pribadi surgawi dan pelayanannya kita melihat seorang tokoh yang terpisah dari Allah dan lebih rendah daripadaNya.”

Di masa depan yang kekal di surga, Yesus akan terus menjadi hamba Allah yang terpisah dan lebih rendah. Alkitab mengatakannya sebagai berikut: “Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia [Yesus di surga] menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa … maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diriNya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawahNya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.”-1 Korintus 15:24, 28.

Yesus Tidak Pernah Mengaku Sebagai Allah
SIKAP Alkitab jelas. Allah Yang Mahakuasa, Yehuwa, bukan hanya suatu Pribadi yang terpisah dari Yesus tetapi sepanjang zaman Ia adalah Pribadi yang lebih unggul daripada Yesus. Yesus selalu dinyatakan sebagai hamba Allah yang rendah hati, terpisah dan lebih rendah. Itulah sebabnya Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa “Kepala dari Kristus ialah Allah” dalam arti yang sama bahwa “Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus.” (1 Korintus 11:3) Dan itulah sebabnya Yesus sendiri berkata: “Bapa lebih besar dari padaAku.”-Yohanes 14: 28.

Faktanya ialah, Yesus bukan Allah dan tidak pernah mengaku demikian. Hal ini diakui oleh semakin banyak sarjana. Seperti dikatakan Bulletin dari Rylands: “Faktanya harus dihadapi bahwa penelitian Perjanjian Baru selama kira-kira tiga puluh atau empat puluh tahun belakangan ini telah menuntun semakin banyak sarjana Perjanjian Baru yang ternama kepada kesimpulan bahwa Yesus … jelas tidak pernah menganggap dirinya sendiri Allah.”

Bulletin itu juga mengatakan tentang orang-orang Kristen abad pertama: “Maka, ketika mereka menyebut [Yesus] dengan gelar-gelar penghormatan seperti Kristus, Anak manusia, Anak Allah dan Tuhan, ini adalah cara mengatakan bahwa ia adalah, bukan Allah, melainkan yang melakukan pekerjaan Allah.”

Jadi, bahkan ada sarjana-sarjana yang mengakui bahwa gagasan Yesus adalah Allah bertentangan dengan seluruh kesaksian Alkitab. Di sana, Allah selalu yang lebih unggul, dan Yesus adalah hamba yang lebih rendah.

F. ROH KUDUS TENAGA AKTIF ALLAH

MENURUT doktrin Tritunggal, roh kudus adalah pribadi ketiga dari Keilahian, setara dengan sang Bapa dan sang Anak. Seperti dikatakan buku Our Orthodox Christian Faith: “Roh Kudus adalah Allah sepenuhnya.”
Dalam Kitab-Kitab Ibrani, kata yang paling sering digunakan untuk “roh” ialah ru’ach, yang berarti “nafas; angin; roh.” Dalam Kitab-Kitab Yunani, kata tersebut ialah pneu’ma, yang mempunyai arti sama. Apakah kata-kata ini menunjukkan bahwa roh kudus adalah bagian dari suatu Tritunggal?

Tenaga Aktif
“ROH kudus” yang digunakan dalam Alkitab n menyatakan bahwa ini adalah suatu kekuatan atau tenaga yang dikendalikan yang digunakan oleh Allah Yehuwa untuk melaksanakan berbagai maksud-tujuan-Nya. Sampai taraf tertentu, ini dapat disamakan dengan listrik, tenaga yang dapat digunakan untuk melakukan beragam fungsi.

Dalam Kejadian 1:2 Alkitab berkata bahwa “Roh [bahasa Ibrani, ru'ach] Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Di sini, Roh Allah adalah tenaga aktif-Nya yang bekerja untuk membentuk bumi.
Allah menggunakan roh-Nya untuk memberikan penerangan kepada mereka yang melayani Dia. Daud berdoa: “Ajarlah aku melakukan kehendakMu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh[ru'ach]Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!” (Mazmur 143:10) Ketika 70 pria yang cakap ditunjuk untuk membantu Musa, Allah berkata kepadanya: “Sebagian dari Roh [ru'ach] yang hinggap padamu itu akan Kuambil dan Kutaruh atas mereka.” -Bilangan 11:17.

Nubuat Alkitab dicatat ketika orang-orang dari Allah ‘didorong oleh Roh [bahasa Yunani, dari pneu'ma] Kudus.” (2 Petrus 1:20, 21) Dengan cara ini Alkitab “diilhamkan Allah.”

Kata Yunani untuk itu ialah The-o’pneu-stos, yang berarti “dinafaskan oleh Allah.” (2 Timotius 3:16) Dan roh kudus membimbing orang-orang tertentu untuk mendapat penglihatan-penglihatan atau mimpi-mimpi nubuat. -2 Samuel 23:2; Yoel 2:28, 29; Lukas 1:67; Kisah 1:16; 2:32, 33

Roh kudus mendorong Yesus untuk pergi ke padang gurun setelah ia dibaptis. (Markus 1:12) Roh itu seperti api dalam diri hamba-hamba Allah, yang menyebabkan mereka mendapatkan kekuatan dari tenaga itu. Dan ini memungkinkan mereka untuk berbicara dengan berani dan tabah. -Mikha 3:8; Kisah 7:55-60; 18:25; Roma 12:11; 1 Tesalonika 5:19.

Melalui roh-Nya, Allah melaksanakan vonisNya atas manusia dan bangsa-bangsa. (Yesaya 30: 27, 28; 59:18, 19) Dan roh Allah dapat sampai ke mana-mana, bertindak demi orang-orang atau melawan mereka. -Mazmur 139:7-12.

“Kekuatan yang Melimpah-limpah”
ROH Allah dapat juga memberikan “kekuatan yang melimpah-limpah ["melebihi yang normal," NW]” kepada mereka yang melayani Dia. (2 Korintus 4:7) Ini memungkinkan mereka untuk bertekun dalam ujian iman atau melakukan hal-hal yang sewajarnya tidak dapat mereka lakukan.

Sebagai contoh, mengenai Simson, Hakim 14:6 menceritakan:
“Pada waktu itu berkuasalah Roh TUHAN [Yahweh, JB] atas dia, sehingga singa itu dicabiknya … tanpa apa-apa di tangannya.” Apakah suatu pribadi ilahi benar-benar memasuki atau berkuasa atas Simson, menggunakan tubuhnya untuk melakukan apa yang ia lakukan? Tidak, ini benar-benar “kuasa TUHAN [yang] membuat Simson kuat.” -Today ’s English Version (TEV).

Alkitab berkata bahwa ketika Yesus dibaptis, roh kudus turun ke atasnya dalam bentuk seekor burung merpati, tidak dalam bentuk manusia. (Markus 1:10) Tenaga aktif dari Allah ini memungkinkan Yesus untuk menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Seperti dikatakan dalam Lukas 5:17: “Kuasa Tuhan [Allah] menyertai Dia [Yesus], sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit.”

Roh Allah juga memberi kuasa kepada murid-murid Yesus untuk melakukan hal-hal yang bersifat mukjizat. Kisah 2:1-4 menceritakan bahwa murid-murid itu sedang berkumpul bersama pada hari Pentakosta ketika ‘tiba-tiba turun dari langit bunyi seperti tiupan angin keras. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.’

Jadi roh kudus memberi Yesus dan hamba-hamba Allah yang lain kuasa untuk melakukan apa yang biasanya tidak dapat dilakukan oleh manusia.

Bukan suatu Pribadi

TETAPI, bukankah ada ayat-ayat Alkitab yang menyebut roh kudus dengan istilah-istilah yang menyatakan ia seolah-olah suatu pribadi? Memang, namun perhatikan apa yang dikatakan teolog Edmund Fortman mengenai hal ini dalam The Triune God:
“Walaupun roh ini sering dipersonifikasikan, tampak jelas sekali bahwa para penulis kitab-kitab suci [dari Kitab-Kitab Ibrani] tidak pernah menganggap atau menyatakan bahwa roh ini adalah suatu pribadi tersendiri.”

Dalam Alkitab, bukan suatu hal yang tidak lazim jika sesuatu dipersonifikasikan. Hikmat dikatakan mempunyai anak-anak. (Lukas 7:35, Bode) Dosa dan kematian dikatakan berkuasa. (Roma 5 :14, 2 1) Dalam Kejadian 4:7 The New English Bible (NE) berkata: “Dosa adalah hantu yang mendekam di pintu,” dosa dipersonifikasikan sebagai suatu roh jahat yang mendekam di pintu Kain. Tetapi, tentu dosa bukan suatu pribadi roh; demikian pula mempersonifikasikan roh kudus tidak membuatnya menjadi suatu pribadi roh.

Demikian pula, dalam 1 Yohanes 5:6-8 bukan hanya roh tetapi juga “air dan darah” dikatakan memberi “kesaksian.” Namun air dan darah jelas bukan pribadi-pribadi, demikian pula roh kudus bukan suatu pribadi.
Selaras dengan ini ialah penggunaan umum dari kata “roh kudus” dalam Alkitab dengan cara yang tidak menunjukkannya sebagai suatu pribadi, seperti pada waktu menyejajarkannya dengan air dan api. (Matius 3:11; Markus 1:8) Orang-orang dianjurkan agar menjadi penuh dengan roh kudus dan bukan dengan anggur. (Efesus 5:18) Mereka dikatakan dipenuhi dengan roh kudus dengan cara yang sama seperti mereka dipenuhi dengan sifat-sifat seperti hikmat, iman, dan sukacita. (Kisah 6:3; 11: 24; 13:52) Dan dalam 2 Korintus 6:6 roh kudus dimasukkan di antara sejumlah sifat. Pernyataan-pernyataan seperti itu tidak akan digunakan jika roh kudus benar-benar suatu pribadi.

Kemudian, walaupun beberapa ayat Alkitab mengatakan bahwa roh itu berbicara, ayat-ayat lain menunjukkan bahwa ini sebenarnya dilakukan melalui manusia atau malaikat. (Matius 10:19, 20; Kisah 4:24, 25; 28:25; Ibrani 2:2) Tindakan roh dalam peristiwa-peristiwa tersebut adalah seperti gelombang radio yang mengirimkan berita dari satu orang kepada orang lain di tempat yang jauh.

Dalam Matius 28:19 disebutkan “nama … Roh Kudus.” Namun kata “nama” tidak selalu berarti nama pribadi, dalam bahasa Yunani maupun bahasa Indonesia. Bila kita mengatakan “atas nama hukum” kita tidak menunjuk seseorang. Kita memaksudkan apa yang diwakili oleh hukum itu, yaitu wewenangnya. Word Pictures in the New Testament karya Robertson mengatakan:
“Penggunaan nama (onoma) di sini umum dilakukan dalam Septuaginta dan papirus lain untuk kuasa atau wewenang.” Jadi pembaptisan ‘dalam nama Roh Kudus’ menyatakan seseorang mengakui wewenang roh itu, bahwa ini berasal dari Allah dan berfungsi melalui kehendak ilahi.

“Penolong”
YESUS menyebut roh kudus sebagai “seorang Penolong,” dan ia berkata bahwa roh ini akan mengajar, membimbing, dan berbicara. (Yohanes 14:16, 26; 16:13) Kata Yunani yang ia gunakan untuk penolong (para’kletos) adalah kata yang berjenis laki-laki atau maskulin. Jadi ketika Yesus menyatakan apa yang akan dilakukan penolong itu, ia menggunakan kata ganti nama pribadi laki-laki. (Yohanes 16:7, 8) Sebaliknya, bila kata Yunani yang berjenis netral untuk roh (pneu’ma) digunakan, kata ganti yang netral “it” dalam bahasa Inggris itulah yang digunakan.

Kebanyakan penerjemah yang menganut Tritunggal menyembunyikan fakta ini, seperti diakui oleh New American Bible Katolik berkenaan Yohanes 14:17: “Kata Yunani untuk ‘Roh’ ialah berjenis netral, dan walaupun kita menggunakan kata ganti nama pribadi dalam bahasa Inggris (‘he,’ ‘his,’ ‘him’), kebanyakan MSS [manuskrip] Yunani menggunakan kata [bahasa Inggris] ‘it.’”

Jadi bila Alkitab menggunakan kata ganti nama pribadi berjenis laki-laki sehubungan dengan para’kletos dalam Yohanes 16:7, 8, hal ini sesuai dengan peraturan tata bahasa, bukan menyatakan suatu doktrin.

Bukan Bagian dari suatu Tritunggal
BERBAGAI sumber mengakui bahwa Alkitab tidak mendukung gagasan bahwa roh kudus adalah pribadi ketiga dari suatu Tritunggal. Sebagai contoh:
The Catholic Encyclopedia: “Kita tidak menemukan satu ayat pun dalam Perjanjian Lama yang dengan jelas menunjukkan adanya suatu Pribadi Ketiga.”

Teolog Katolik Fortman: “Orang-orang Yahudi tidak pernah menganggap roh itu sebagai suatu pribadi; juga tidak ada bukti yang kuat bahwa ada penulis Perjanjian Lama yang menganut pandangan ini … Roh Kudus biasanya dinyatakan dalam Sinoptiks [Injil-Injil] dan dalam buku Kisah sebagai suatu kekuatan atau kuasa ilahi.”
New Catholic Encyclopedia: “P[erjanjian] L[ama] dengan jelas tidak menggambarkan roh Allah sebagai suatu pribadi. Roh Allah hanyalah kuasa dari Allah. Jika ini kadang-kadang dinyatakan sebagai sesuatu yang berbeda dari Allah, ini adalah karena nafas Yahweh bertindak di luar diri-Nya.” Buku itu juga mengatakan: “Mayoritas naskah-naskah P[erjanjian] B[aru] menyatakan roh Allah sebagai sesuatu, bukan seseorang; ini terutama terlihat dalam kesejajaran antara roh dan kuasa Allah.” -Cetak miring red.

A Catholic Dictionary: “Secara keseluruhan, Perjanjian Baru, seperti [Perjanjian] Lama, berbicara tentang roh itu sebagai suatu energi atau kuasa ilahi.”

Jadi, orang-orang Yahudi maupun orang-orang Kristen yang mula-mula tidak memandang roh kudus sebagai bagian dari suatu Tritunggal. Ajaran itu muncul berabad-abad kemudian. Seperti dikatakan A Catholic Dictionary: “Pribadi ketiga itu diteguhkan pada Konsili Aleksandria pada tahun 362 … dan akhirnya oleh Konsili Konstantinopel pada tahun 381″-kira-kira tiga setengah abad setelah roh kudus memenuhi murid-murid pada hari Pentakosta!

Tidak, roh kudus bukan suatu pribadi dan bukan bagian dari suatu Tritunggal. Roh kudus adalah tenaga aktif Allah yang Ia gunakan untuk melaksanakan kehendak-Nya. Roh kudus tidak setara dengan Allah tetapi selalu dipakai oleh-Nya dan lebih rendah daripada Dia.

Bersambung


Haruskah Anda Percaya Tritunggal ? Bag.3

November 26, 2009

Tritunggal Bag.2 , Tritunggal Bag.1

Apa yang Mempengaruhi Hal Itu?

DI SELURUH dunia zaman purba, di Babel dulu, ibadat kepada dewa-dewa kafir yang dikelompokkan dalam tiga serangkai, sangat umum. Pengaruh itu juga umum di Mesir, Yunani, dan Roma pada abad-abad sebelum, selama, dan setelah Kristus. Dan setelah rasul-rasul meninggal, kepercayaan kafir tersebut menyusup ke dalam Kekristenan.

Sejarawan Will Durant mengatakan: “Kekristenan tidak memusnahkan kekafiran; ia menerimanya… Dari Mesir datang gagasan mengenai trinitas ilahi.” Dan dalam buku Egyptian Religion, Siegfried Morenz berkata: “Tritunggal merupakan hal yang terutama menyita perhatian para teolog Mesir… Tiga allah digabung dan diperlakukan seperti satu pribadi tunggal, disapa dalam bentuk tunggal. Dengan cara ini kekuatan rohani dari agama Mesir memperlihatkan hubungan yang langsung dengan teologi Kristen.”

Jadi, di Aleksandria, Mesir, tokoh-tokoh gereja dari akhir abad ketiga dan permulaan abad keempat, seperti Athanasius, memperlihatkan pengaruh ini pada waktu mereka merumuskan ide-ide yang mengarah kepada Tritunggal. Pengaruh mereka sendiri meluas, sehingga Morenz menganggap “teologi Aleksandria sebagai penghubung antara warisan agama Mesir dan Kekristenan.”

Dalam kata pengantar buku History of Christianity dari Edward Gibbon, kita membaca: “Jika Kekafiran ditaklukkan oleh Kekristenan, halnya juga benar bahwa Kekristenan telah dirongrong oleh Kekafiran. Keilahian yang murni dari orang-orang Kristen yang mula-mula… diubah, oleh Gereja Roma, menjadi dogma trinitas yang tidak dapat dimengerti. Banyak dari kepercayaan kafir, yang diciptakan oleh orang-orang Mesir dan diidealkan oleh Plato, dipertahankan sebagai sesuatu yang patut dipercayai.”

A Dictionary of Religious Knowledge menyatakan bahwa Tritunggal “adalah suatu penyelewengan yang dipinjam dari agama-agama kafir, dan dicangkokkan ke dalam iman Kristen.” Dan The Paganism in Our Christianity berkata: “Asal usul [Tritunggal] seluruhnya kafir.”

Itu sebabnya, dalam Encyclopedia of Religion and Ethics, James Hastings menulis: “Dalam agama di India, misalnya, kita temukan kelompok tiga serangkai Brahma, Syiwa, dan Wisnu; dan dalam agama Mesir kelompok tiga serangkai Osiris, Isis, dan Horus… Bukan hanya dalam agama-agama dalam sejarah, kita temukan Allah dianggap sebagai suatu Tritunggal. Kita khususnya dapat mengingat pandangan Neo-Platonik mengenai Realitas yang Paling Tinggi,” yang “diwakili secara tiga serangkai.” Apa hubungan antara filsuf Yunani Plato dengan Tritunggal?

Platonisme

Plato
Plato

PLATO, menurut perkiraan, hidup dari tahun 428 sampai 347 sebelum Kristus. Meskipun ia tidak mengajarkan Tritunggal dalam bentuknya yang sekarang, filsafatnya membuka jalan untuk itu. Belakangan, gerakan filsafat yang mencakup kepercayaan kepada kelompok-kelompok tiga serangkai bermunculan, dan semua ini dipengaruhi oleh gagasan Plato mengenai Allah dan alam.

Nouveau Dictionnaire Universel (Kamus Universal Baru) bahasa Perancis mengatakan mengenai pengaruh dari Plato:
“Tritunggal menurut Plato, yang sebenarnya hanyalah penyusunan kembali dari tritunggal-tritunggal yang lebih tua dan berasal dari orang-orang zaman dulu, tampaknya merupakan tritunggal yang rasional dan filosofis dari sifat-sifat yang melahirkan ketiga hypostase (zat) atau pribadi ilahi yang diajarkan oleh gerejagereja Kristen… Konsep filsuf Yunani mengenai trinitas ilahi ini… dapat ditemukan dalam semua agama [kafir] kuno.”

The New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge memperlihatkan pengaruh dari filsafat Yunani ini: “Doktrin mengenai Logos dan Tritunggal menerima bentuknya dari Bapa-Bapa Yunani, yang… sangat dipengaruhi, secara langsung atau tidak langsung, oleh filsafat Plato… Bahwa kesalahan dan kerusakan menyusup ke dalam Gereja dari sumber ini tidak dapat disangkal.”

The Church of the First Three Centuries mengatakan: “Doktrin Tritunggal dibentuk secara bertahap dan baru belakangan terhitung;… ia berasal dari sumber yang sama sekali tidak dikenal dalam Kitab-Kitab Suci Yahudi maupun Kristen;… ia tumbuh, dan dicangkokkan ke dalam Kekristenan, melalui tangan Bapa-Bapa pengikut Plato.”

Menjelang akhir abad ketiga M., “Kekristenan” dan filsafat Plato yang baru, berpadu secara tidak terpisahkan. Sebagaimana dinyatakan Adolf Harnack dalam Outlines of the History of Dogma, doktrin gereja kemudian “berakar dengan kuat di tanah Hellenisme [paham Yunani kafir]. Dengan demikian ini menjadi suatu misteri bagi bagian terbesar dari orang-orang Kristen.”

Gereja mengaku bahwa doktrin-doktrin barunya didasarkan atas Alkitab. Namun Harnack mengatakan: “Dalam kenyataan di kalangannya sendiri [gereja] mengesahkan spekulasi Hellenik, pandangan dan kebiasaan takhyul dari ibadat kafir yang bersifat misteri.”

Dalam buku A Statement of Reasons, Andrews Norton menyatakan tentang Tritunggal: “Kita dapat menelusuri sejarah doktrin ini dan menemukan sumbernya, bukan dalam wahyu Kristen, melainkan dalam filsafat Plato… Tritunggal bukan doktrin dari Kristus dan Rasul-Rasulnya, melainkan suatu fiksi dari sekolah para pengikut Plato.”

Jadi, pada abad keempat M., kemurtadan yang dinubuatkan oleh Yesus dan para rasul mulai berkembang penuh. Perkembangan dari Tritunggal hanya satu bukti dari ini. Gereja-gereja yang murtad juga mulai menganut gagasan kafir lain, seperti api neraka, kekekalan jiwa, dan penyembahan berhala. Secara rohani, Susunan Kristen telah memasuki abad-abad kegelapannya yang telah dinubuatkan, dikuasai oleh golongan pendeta “manusia durhaka” yang terus bertambah besar.-2 Tesalonika 2:3, 7.

Mengapa Nabi-Nabi Allah Tidak Mengajarkannya?
MENGAPA, selama ribuan tahun, tidak seorang pun dari nabi-nabi Allah mengajarkan umat-Nya mengenai Tritunggal?

Pada kesempatan terakhir, tidakkah Yesus akan menggunakan kecakapannya sebagai Guru Agung untuk menjelaskan Tritunggal kepada para pengikutnya? Apakah Allah akan mengilhami ratusan halaman dari Alkitab namun tidak menggunakan pengajaran ini untuk mengajarkan Tritunggal jika hal itu memang “doktrin utama” dari iman?

Apakah orang-orang Kristen harus percaya bahwa berabad-abad setelah Kristus dan setelah mengilhami penulisan Alkitab, Allah akan mendukung perumusan suatu doktrin yang tidak dikenal oleh hamba-hamba-Nya selama ribuan tahun, doktrin yang merupakan “misteri yang tidak dapat dimengerti” “di luar jangkauan akal manusia,” doktrin yang diakui mempunyai latar belakang kafir dan “sebagian besar adalah masalah politik gereja?”

Bukti dari sejarah sudah jelas: Ajaran Tritunggal adalah penyimpangan dari kebenaran, kemurtadan darinya.

D. APA YANG ALKITAB KATAKAN MENGENAI ALLAH DAN YESUS?

JIKA orang membaca Alkitab dari depan sampai belakang tanpa memiliki gagasan sebelumnya mengenai Tritunggal, apakah mereka dengan sendirinya akan sampai pada konsep tersebut? Sama sekali tidak.

Apa yang dengan sangat jelas akan timbul dalam pikiran seorang pembaca yang netral ialah bahwa Allah saja Yang Mahatinggi, sang Pencipta, terpisah dan berbeda dari pribadi manapun, dan bahwa Yesus, bahkan dalam keberadaannya sebelum menjadi manusia, juga terpisah dan berbeda, suatu makhluk yang diciptakan, lebih rendah daripada Allah.

Allah Itu Satu, Bukan Tiga

AJARAN Alkitab bahwa Allah itu esa atau satu disebut monoteisme. Dan L. L. Paine, profesor sejarah gereja, menyatakan bahwa monoteisme dalam bentuknya yang paling murni tidak mengizinkan adanya Tritunggal: “Perjanjian Lama secara tegas adalah monoteistis. Allah adalah suatu pribadi tunggal. Gagasan bahwa suatu tritunggal dapat ditemukan di dalamnya… sama sekali tidak berdasar.”

Apakah ada perubahan dari monoteisme setelah Yesus datang ke bumi? Paine menjawab: “Mengenai hal ini tidak ada pemisah antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tradisi monoteistis terus dilanjutkan. Yesus adalah seorang Yahudi, dilatih oleh orang-tua Yahudi dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Ajarannya sepenuhnya Yahudi: memang suatu injil baru, namun bukan suatu teologi baru… Dan ia menerima sebagai kepercayaannya sendiri ayat agung dari monoteisme Yahudi:
‘Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita adalah satu Allah’”

Kata-kata tersebut terdapat dalam Ulangan 6:4. New Jerusalem Bible (NJB) Katolik berbunyi: “Dengarlah, Israel: Yahweh Allah kita adalah esa, satu-satunya Yahweh.”[1] Dalam tata bahasa dari ayat itu. kata ìesaî tidak mengandung sifat jamak untuk menyatakan bahwa kata itu mempunyai arti yang lain, yaitu bukan satu pribadi.
Catatan kaki:
[1] Nama Allah dinyatakan “Yahweh” dalam beberapa terjemahan, “Jehovah” dalam terjemahan-terjemahan lain (dalam bahasa Inggris).

Rasul Kristen Paulus tidak menunjukkan adanya perubahan dalam sifat Allah, bahkan setelah Yesus datang ke bumi. Ia menulis: “Allah adalah satu.” -Galatia 3: 20, lihat juga 1 Korintus 8:4-6.

Ribuan kali dalam seluruh Alkitab, Allah disebutkan sebagai satu Pribadi. Bila Ia berfirman, ini adalah sebagai satu Pribadi yang tidak terbagi. Alkitab benar-benar sangat jelas dalam hal ini. Seperti Allah katakan: “Aku ini [Yehuwa], itulah namaKu; Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain. ” (Yesaya 42 :8) “Akulah Yahweh Allahmu… Engkau tidak boleh memiliki allah-allah lain kecuali aku.” (Cetak miring red.)-Keluaran 20: 2, 3, JB.

Untuk apa semua penulis Alkitab yang diilhami Allah akan berbicara mengenai Allah sebagai satu Pribadi jika Ia sebenarnya adalah tiga Pribadi? Apa gunanya hal itu, selain dari menyesatkan orang? Tentu, jika Allah terdiri dari tiga Pribadi, la akan menyuruh para penulis Alkitab-Nya untuk membuat hal itu benar-benar jelas sehingga tidak mungkin ada keraguan mengenai hal itu. Sedikitnya para penulis Kitab-Kitab Yunani Kristen yang mempunyai hubungan pribadi dengan Anak Allah sendiri tentu akan berbuat demikian. Ternyata tidak.

Sebaliknya, apa yang dinyatakan dengan sangat jelas oleh para penulis Alkitab ialah bahwa Allah adalah satu Pribadi; Pribadi yang unik, tidak terbagi-bagi yang tidak setara dengan siapapun juga: “Akulah [Yehuwa] dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. ” (Yesaya 45:5) “Engkau sajalah yang bernama [Yehuwa], Yang Mahatinggi atas seluruh bumi.”-Mazmur 83 :19.

Bukan Allah yang Jamak

YESUS menyebut Allah “satu-satunya Allah yang benar.” (Yohanes 17:3) Ia tidak pernah menyebut Allah sebagai ilahi yang terdiri dari pribadi-pribadi jamak. Itulah sebabnya dalam Alkitab tidak ada satu pribadi pun selain Yehuwa yang disebut Yang Mahakuasa. Jika tidak, arti kata “mahakuasa” tidak berlaku lagi. Yesus maupun roh kudus tidak pernah disebut demikian, karena hanya Yehuwa yang paling tinggi. Dalam Kejadian 17:1 Ia berkata: “Akulah Allah Yang Mahakuasa.” Dan Keluaran 18:11 berbunyi: “[Yehuwa] lebih besar dari segala allah.”

Dalam Kitab-Kitab Ibrani, kata ‘eloh’ah (allah) mempunyai dua bentuk jamak, yaitu, ‘elo-him’ (allah-allah) dan ‘elo-heh’ (allah-allah dari). Bentuk-bentuk jamak ini umumnya memaksudkan Yehuwa, dan dalam hal itu kata-kata tersebut diterjemahkan dalam bentuk tunggal sebagai “Allah.” Apakah bentuk-bentuk jamak tersebut menyatakan suatu Tritunggal? Tidak. Dalam A Dictionary of the Bible, William Smith berkata: “Gagasan khayalan bahwa ['elo-him'] memaksudkan tritunggal dari pribadi-pribadi dalam Keilahian, sekarang hampir tidak mempunyai pendukung lagi di kalangan para sarjana. Hal itu adalah apa yang disebut para ahli tata bahasa bentuk jamak dari keagungan, atau itu menyatakan kepenuhan dari kekuatan ilahi. Kuasa keseluruhan yang diperlihatkan oleh Allah.”

The American Journal of Semitic Languages and Literatures mengatakan tentang ‘elo-him.’ “Ini hampir selalu dijelaskan dengan suatu predikat kata kerja tunggal, dan membutuhkan atribut kata sifat tunggal.” Untuk menggambarkan ini, gelar ‘elo-him’ muncul 35 kali secara tersendiri dalam kisah penciptaan, dan setiap kali kata kerja yang menggambarkan apa yang Allah katakan dan lakukan adalah dalam bentuk tunggal. (Kejadian 1:1-2:4) Jadi, publikasi itu menyimpulkan: “['Elo-him'] agaknya harus dijelaskan sebagai bentuk jamak yang bersifat intensif, yang menyatakan kebesaran dan keagungan.”

‘Elo-him’ bukan berarti “pribadi-pribadi,” melainkan “allah-allah.” Jadi mereka yang berkukuh bahwa kata ini menyatakan suatu Tritunggal menjadikan diri sendiri politeis, penyembah lebih dari satu Allah. Mengapa? Karena ini berarti ada tiga allah dalam Tritunggal. Namun hampir semua pendukung Tritunggal menolak pandangan bahwa Tritunggal terdiri dari tiga allah yang terpisah.

Alkitab juga menggunakan kata-kata ‘elo-him’ dan ‘elo-heh’ bila menyebutkan sejumlah allah-allah berhala yang palsu.

(Keluaran 12:12; 20:23). Namun pada kesempatan lain hal itu bisa memaksudkan hanya satu allah palsu, seperti ketika orang-orang Filistin menyebutkan “Dagon, allah mereka ['elo-heh'].” (Hakim 16:23, 24) Baal disebut “allah ['elo-him]” (1 Raja 18:27) Selain itu, ungkapan ini digunakan untuk manusia. (Mazmur 82:1, 6) Musa diberi tahu bahwa dia akan menjadi “Allah ['elo-him']” bagi Harun dan bagi Firaun.-Keluaran 4:16; 7:1.

Jelas, menggunakan gelar-gelar ‘elo-him’ dan ‘elo-heh ‘untuk allah-allah palsu, dan bahkan manusia, tidak menyatakan bahwa masing-masing adalah allah-allah yang jamak; demikian juga menerapkan ‘elo-him’ atau ‘elo-heh’ pada Yehuwa tidak berarti bahwa Ia lebih dari satu Pribadi, terutama bila kita mempertimbangkan bukti dari ayat-ayat lain dalam Alkitab mengenai pokok ini.

Yesus Ciptaan yang Terpisah

KETIKA berada di atas bumi, Yesus adalah seorang manusia, meskipun manusia yang sempurna karena Allah telah memindahkan daya kehidupan dari Yesus ke dalam rahim Maria. (Matius 1: 18-25) Namun itu bukan awal kehidupannya. Ia sendiri menyatakan bahwa ia “telah turun dari sorga.” (Yohanes 3:13) Jadi wajarlah bila ia belakangan berkata kepada para pengikutnya: “Bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia [Yesus] naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?”-Yohanes 6:62.

Jadi. Yesus sudah hidup di surga sebelum datang ke bumi. Tetapi apakah sebagai salah satu pribadi dalam Keilahian tiga serangkai yang mahakuasa dan kekal? Tidak, karena Alkitab dengan jelas menerangkan bahwa sebelum menjadi manusia, Yesus adalah suatu makhluk roh yang diciptakan sama seperti malaikat-malaikat adalah makhluk-makhluk roh yang diciptakan oleh Allah. Para malaikat maupun Yesus tidak hidup sebelum mereka diciptakan.

Yesus, sebelum hidup sebagai manusia, adalah ‘yang sulung dari segala yang diciptakan.’ (Kolose 1:15) Ia adalah “permulaan dari ciptaan Allah.” (Wahyu 3:14) “Permulaan” [bahasa Yunani, ar-khe'] tidak dapat ditafsirkan bahwa Yesus adalah ‘pemula’ dari ciptaan Allah. Dalam tulisan-tulisannya di Alkitab, Yohanes menggunakan berbagai bentuk dari kata Yunani ar-khe’ lebih dari 20 kali, dan ini selalu mempunyai arti umum “permulaan.” Ya, Yesus diciptakan oleh Allah sebagai permulaan dari ciptaan-ciptaan Allah yang tidak kelihatan.

Perhatikan betapa erat hubungan antara acuan-acuan kepada asal usul Yesus dengan pernyataan-pernyataan yang diungkapkan oleh “hikmat” kiasan dalam buku Amsal di Alkitab: “TUHAN [Yahweh, NJB] telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaanNya, sebagai perbuatanNya yang pertama-tama dahulu kala. Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir; sebelum Ia membuat bumi dengan padang-padangnya atau debu dataran yang pertama ["unsur-unsur pertama dari dunia," NJB].” (Amsal 8: 12, 22, 25, 26)

Meskipun istilah “hikmat” digunakan untuk mempersonifikasi pribadi yang Allah ciptakan, kebanyakan sarjana setuju bahwa ini sebenarnya adalah kata kiasan untuk Yesus sebagai makhluk roh sebelum hidup sebagai manusia.

Sebagai “hikmat” sebelum menjadi manusia, Yesus selanjutnya berkata bahwa ia berada “di sampingNya [Allah], seorang pekerja ahli.” (Amsal 8: 30. JB) Selaras dengan peranan sebagai pekerja ahli ini, Kolose 1:16 (BIS) mengatakan tentang Yesus bahwa “melalui dialah Allah menciptakan segala sesuatu di surga dan di atas bumi.”

Jadi melalui pekerja ahli inilah, seolah-olah mitra kerja-Nya yang lebih muda, Allah Yang Mahakuasa menciptakan semua perkara lain. Alkitab meringkaskan masalahnya sebagai berikut: “Bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu… dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang melalui dia, segala sesuatu telah dijadikan.” (Cetak miring red.)-1 Korintus 8:6, Revised Standard Version, edisi Katolik; BIS.

Tiada sangsi lagi bahwa kepada pekerja ahli inilah Allah berkata: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” (Kejadian 1: 26) Ada yang mengatakan bahwa “Kita” dalam pernyataan ini menunjukkan suatu Tritunggal. Namun jika anda mengatakan, ‘Baiklah kita membuat sesuatu untuk diri kita,’ tidak seorang pun akan secara wajar memahami bahwa ini menyatakan beberapa orang digabungkan menjadi satu di dalam diri anda. Anda hanya memaksudkan bahwa dua pribadi atau lebih akan bersama-sama mengerjakan sesuatu. Maka, demikian pula, ketika Allah menggunakan “Kita,” Ia hanya menyapa suatu pribadi lain, makhluk roh-Nya yang pertama, sang pekerja ahli, pramanusia Yesus.

Dapatkah Allah Dicobai?

DALAM Matius 4:1, Yesus dikatakan “dicobai Iblis.” Setelah menunjukkan kepada Yesus semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,” Setan berkata: “Semua itu akan kuberikan kepadaMu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (Matius 4:8, 9) Setan berupaya untuk membuat Yesus tidak loyal kepada Allah.

Tetapi ujian keloyalan macam apakah itu jika Yesus adalah Allah? Dapatkah Allah memberontak melawan diri-Nya sendiri? Tidak, tetapi malaikat-malaikat dan manusia dapat memberontak melawan Allah dan telah berbuat demikian. Cobaan atas Yesus hanya masuk akal jika ia, bukan Allah, melainkan suatu pribadi yang terpisah yang mempunyai kehendak bebasnya sendiri, pribadi yang bisa saja tidak loyal jika ia memutuskan demikian, seperti halnya malaikat atau manusia.

Sebaliknya, kita tidak dapat membayangkan bahwa Allah dapat berdosa dan tidak loyal kepada diri-Nya sendiri. “PekerjaanNya sempurna… Allah yang setia,… adil dan benar Dia.” (Ulangan 32:4) Jadi jika Yesus adalah Allah, ia tidak mungkin dicobai.-Yakobus 1:13.

Karena bukan Allah, Yesus bisa saja tidak loyal. Namun ia tetap setia, dengan mengatakan: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan [Yehuwa, NW], Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”-Matius 4:10.

Berapa Besar Harga Tebusan Itu?

SALAH satu alasan utama Yesus datang ke bumi juga mempunyai hubungan langsung dengan Tritunggal. Alkitab menyatakan:
“Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan [yang sesuai, NW] bagi semua manusia.”-1 Timotius 2: 5,6.
Yesus, yang tidak lebih dan tidak kurang daripada seorang manusia sempurna, menjadi tebusan yang dengan tepat mengganti rugi apa yang telah dihilangkan Adam -hak untuk hidup sebagai manusia sempurna di bumi. Jadi Yesus dengan tepat dapat disebut “Adam yang akhir” oleh rasul Paulus, yang berkata dalam ikatan kalimat yang sama: “Sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (1 Korintus 15: 22, 45) Kehidupan manusia yang sempurna dari Yesus adalah “tebusan yang sesuai” yang dituntut oleh keadilan ilahi-tidak lebih, tidak kurang. Suatu prinsip dasar bahkan dari keadilan manusia ialah bahwa harga yang dibayar harus sesuai dengan kesalahan yang dilakukan.

Tetapi, jika Yesus adalah bagian dari suatu Keilahian, harga tebusan akan sangat jauh lebih tinggi daripada apa yang dituntut oleh Taurat Allah sendiri. (Keluaran 21:23-25; Imamat 24:19-21) Yang berdosa di Eden hanya seorang manusia sempurna, Adam, bukan Allah. Maka tebusan itu, agar benar-benar selaras dengan keadilan Allah, harus tepat sama nilainya-seorang manusia sempurna, “Adam yang akhir.” Maka, ketika Allah mengutus Yesus ke bumi sebagai tebusan itu, Ia menjadikan Yesus sebagai sesuatu yang akan memenuhi keadilan, bukan suatu inkarnasi, bukan manusia-allah, melainkan manusia sempurna, “lebih rendah daripada malaikat-malaikat.” (Ibrani 2:9; bandingkan Mazmur 8: 6, 7.)

Bagaimana mungkin suatu bagian dari Keilahian yang mahakuasa Bapa, Anak, atau roh kudus-dapat lebih rendah daripada malaikat-malaikat?

Bagaimana “Satu-Satunya yang Diperanakkan”?

ALKITAB menyebut Yesus “Anak Tunggal” atau dalam bahasa Inggris, “only-begotten Son” (“Anak satu-satunya yang diperanakkan”). (Yohanes 1:14; 3:16, 18; 1 Yohanes 4:9) Para penganut Tritunggal mengatakan bahwa karena Allah itu kekal, maka Anak Allah juga kekal. Namun bagaimana seseorang bisa menjadi anak dan pada waktu yang sama umurnya setua ayahnya?

Para penganut Tritunggal mengatakan bahwa dalam hal Yesus, “satu-satunya yang diperanakkan” tidak sama dengan definisi kamus untuk “memperanakkan” yang adalah “memberi kehidupan sebagai bapa.” (Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary) Mereka berkata bahwa dalam hal Yesus ini memaksudkan “sifat dari hubungan tanpa asal usul,” semacam hubungan anak tunggal tetapi tanpa ia diperanakkan. (Vine’s Expository Dictionary of Old and New Testament Words, karya Vine) Apakah hal itu kedengaran masuk akal bagi anda? Dapatkah seorang pria menjadi ayah seorang anak tanpa memperanakkan dia?

Selain itu, mengapa Alkitab menggunakan kata Yunani yang sama untuk “satu-satunya yang diperanakkan” (seperti diakui oleh Vine tanpa penjelasan apapun) untuk menggambarkan hubungan antara Ishak dengan Abraham? Ibrani 11:17 menyebut Ishak sebagai “anaknya [Abraham] yang tunggal,” atau dalam bahasa Inggris “anak satu-satunya yang diperanakkan.” Tidak mungkin ada keraguan bahwa dalam hal Ishak, ia satu-satunya yang diperanakkan dalam arti yang normal, tidak sama dalam umur atau kedudukkan dengan ayahnya.

Kata dasar bahasa Yunani untuk “satu-satunya yang diperanakkan” yang digunakan untuk Yesus dan Ishak ialah monogenes’, dari mo’nos, yang berarti “satu-satunya,” dan gi’no-mai, sebuah akar kata yang berarti “menghasilkan,” “menjadi (menjadi ada),” kata Exhaustive Concordance oleh Strong. Maka, monogenes’ didefinisikan sebagai: “Satu-satunya yang dilahirkan, satu-satunya yang diperanakkan, artinya satu-satunya anak.”-A Greek and English Lexicon of the New Testament, oleh E. Robinson. Theological Dictionary of the New Testament,, dengan penyunting Gerhard Kittel, berkata: “[Monogenes] berarti ‘keturunan satu-satunya’ yaitu, tanpa saudara laki-laki atau perempuan.” Buku ini juga menyatakan bahwa dalam Yohanes 1:18; 3: 16, 18; dan 1 Yohanes 4:9, “hubungan Yesus tidak hanya disamakan dengan hubungan seorang anak tunggal atau satu-satunya anak dengan ayahnya. Ini memang hubungan antara anak satu-satunya yang diperanakkan oleh sang Bapa.”

Jadi, kehidupan Yesus, Anak satu-satunya yang diperanakkan, mempunyai permulaan. Dan Allah Yang Mahakuasa dengan tepat dapat disebut Yang Memperanakkan dia, atau Bapa-Nya dalam arti yang sama seperti seorang ayah jasmani di bumi, seperti Abraham, memperanakkan seorang anak. (Ibrani 11:17) Maka, bila Alkitab menyebut Allah sebagai “Bapa” dari Yesus, ini memaksudkan tepat seperti yang dikatakannya -bahwa mereka adalah dua pribadi yang terpisah. Allah yang senior. Yesus yang yunior -dalam hal waktu atau umur, kedudukan, kuasa, dan pengetahuan.

Bila seseorang mempertimbangkan bahwa Yesus bukan satu-satunya makhluk roh, anak Allah yang diciptakan di surga, halnya menjadi jelas mengapa istilah “Anak Tunggal” atau “Anak satu-satunya yang diperanakkan” digunakan dalam hal Yesus. Tidak terhitung banyaknya makhluk roh lain yang diciptakan, malaikat-malaikat, juga disebut “anak-anak Allah,” dalam arti yang sama seperti halnya Adam, karena daya kehidupan mereka berasal dari Allah Yehuwa, Sumber Kehidupan. (Ayub 38:7; Mazmur 36:10; Lukas 3:38) Namun mereka semua diciptakan melalui “Anak Tunggal,” yang adalah pribadi satu-satunya yang langsung diperanakkan oleh Allah.-Kolose 1 :15-17.

Apakah Yesus Dianggap Allah?

MESKIPUN Yesus sering disebut Anak Allah dalam Alkitab, tidak seorang pun pada abad pertama pernah menganggap dia sebagai Allah Anak. Bahkan hantu-hantu, yang ‘percaya bahwa hanya ada satu Allah,’ mengetahui dari pengalaman mereka di alam roh bahwa Yesus bukan Allah. Maka, dengan tepat mereka menyapa Yesus sebagai “Anak Allah” yang terpisah. (Yakobus 2:19: Matius 8:29) Dan ketika Yesus mati, para prajurit Roma yang kafir itu yang sedang berjaga cukup mengetahui untuk dapat mengatakan bahwa apa yang mereka dengar dari para pengikut Yesus pasti benar, bukan bahwa Yesus adalah Allah, melainkan bahwa “sungguh, ia ini adalah Anak Allah.”-Matius 27: 54.

Maka, ungkapan “Anak Allah” menunjuk kepada Yesus sebagai makhluk yang terpisah dan diciptakan, bukan bagian dari Tritunggal. Sebagai Anak Allah, ia tidak mungkin Allah sendiri, karena Yohanes 1:18 berkata: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah.”

Murid-murid memandang Yesus sebagai ‘pengantara yang esa antara Allah dan manusia,’ bukan sebagai Allah sendiri. (1 Timotius 2:5) Karena menurut definisi seorang pengantara adalah seorang yang terpisah dari mereka yang membutuhkan pengantara, suatu kontradiksi jika Yesus adalah satu kesatuan dengan salah satu pihak yang ia coba perdamaikan. Itu berarti ia pura-pura menjadi pengantara, padahal bukan.

Alkitab memang jelas dan konsisten berkenaan hubungan antara Allah dengan Yesus. Allah Yehuwa saja Yang Mahakuasa. Ia secara langsung menciptakan pramanusia Yesus. Jadi, Yesus mempunyai permulaan dan tidak pernah dapat setara dengan Allah dalam kuasa atau kekekalan.

Bersambung Bag.4


Haruskah Anda Percaya Tritunggal ? Bag.2

November 22, 2009

Untuk memahami tritunggal sebelumnya, silahakn baca terlebih dahulu Bag.1

B. APAKAH ITU BENAR-BENAR AJARAN ALKITAB?

Tritunggal

Tritunggal

ANDAIKAN Tritunggal itu benar, hal itu seharusnya disampaikan dengan jelas dan konsisten dalam Alkitab. Mengapa? Karena, seperti ditegaskan para rasul, Alkitab adalah penyingkapan Allah mengenai diri-Nya kepada umat manusia. Dan karena kita perlu mengenal Allah agar dapat menyembah Dia dengan sepatutnya, Alkitab harus jelas dalam memberi tahu kita siapa Ia sebenarnya.

Orang-orang beriman pada abad pertama menerima Alkitab sebagai penyingkapan Allah yang otentik. Itu menjadi dasar kepercayaan mereka, wewenang yang mutlak. Misalnya, ketika rasul Paulus mengabarkan kepada orang-orang di kota Berea, “mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”-Kisah 17:10,11.

Apa yang digunakan oleh pria-pria Allah yang terkemuka di kala itu sebagai wewenang mereka? Kisah 17:2, 3 (BIS) memberi tahu kita: ‘Paulus seperti biasa… bertukar pikiran dengan orang-orang di situ mengenai ayat-ayat Alkitab. Berdasarkan ayat-ayat Alkitab ia menjelaskan dan membuktikan.”
Yesus sendiri memberikan teladan dalam menggunakan Alkitab sebagai dasar ajarannya, dengan berulang kali mengatakan:

“Ada tertulis.” “Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci.”-Matius 4:4, 7; Lukas 24:27.

Jadi, Yesus, Paulus, dan orang-orang beriman pada abad pertama menggunakan Alkitab sebagai dasar ajaran mereka. Mereka mengetahui bahwa “semua yang tertulis dalam Alkitab, diilhami oleh Allah dan berguna untuk mengajarkan yang benar, untuk menegur dan membetulkan yang salah, dan untuk mengajar manusia supaya hidup menurut kemauan Allah. Dengan Alkitab itu orang yang melayani Allah dapat dilengkapi dengan sempurna untuk segala macam pekerjaan yang baik.”-2 Timotius 3:16, 17, BIS; lihat juga 1 Korintus 4:6; 1 Tesalonika 2:13: 2 Petrus 1:20, 21.

Karena Alkitab dapat “membetulkan yang salah,” ia seharusnya dengan jelas menyingkapkan keterangan mengenai masalah Tritunggal yang kata orang merupakan doktrin dasar. Namun apakah para teolog dan sejarawan sendiri mengatakan bahwa hal itu benar-benar merupakan ajaran Alkitab?

“Tritunggal” apakah ada dalam Alkitab?

SEBUAH publikasi Protestan berkata: “Kata Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab… Ia baru mendapat tempat secara resmi dalam teologi gereja pada abad ke-4.” (The Illustrated Bible Dictionary) Dan seorang yang berwewenang dalam agama Katolik mengatakan bahwa Tritunggal “bukanlah… secara langsung firman dari Allah.” -New Catholic Encyclopedia.

The Catholic Encyclopedia juga mengomentari: “Dalam Alkitab belum terdapat satu istilah pun untuk menyatakan ke-Tiga Pribadi Ilahi tersebut secara bersama. Kata triaz [tri'as] (asal kata dari trinitas bahasa Latin) mula-mula ditemukan dalam [tulisan] Teofilus dari Antiokhia kira-kira tahun 180 M…. Tidak lama kemudian itu muncul dalam bentuk Latinnya trinitas dalam [tulisan] Tertullian.”

Namun, hal ini sendiri tidak membuktikan bahwa Tertullian mengajarkan Tritunggal. Karya tulis Katolik Trinitas – A Theological Encyclopedia of the Holy Trinity misalnya, menyatakan bahwa beberapa dari kata-kata Tertullian belakangan digunakan oleh orang-orang lain untuk menjelaskan Tritunggal. Kemudian ia memperingatkan: “Tetapi kesimpulan yang tergesa-gesa tidak dapat diambil hanya berdasarkan pemakaian, karena ia tidak menerapkan kata-kata tersebut untuk teologi Tritunggal.”

Bukti dari Kitab-Kitab Ibrani
MESKIPUN kata “Tritunggal” tidak dapat ditemukan dalam Alkitab, apakah setidak-tidaknya gagasan tentang Tritunggal dengan jelas diajarkan di dalamnya? Sebagai contoh, apa yang ditunjukkan oleh Kitab-Kitab Ibrani (“Perjanjian Lama”)?

The Encyclopedia of Religion mengakui: “Para teolog dewasa ini setuju bahwa Alkitab Ibrani tidak memuat doktrin tentang Tritunggal.” Dan New Catholic Encyclopedia juga mengatakan:
“Doktrin Tritunggal Kudus tidak diajarkan dalam P[erjanjian] L[ama].”

Demikian pula, dalam bukunya The Triune God, imam Yesuit Edmund Fortman mengakui: “Perjanjian Lama… tidak secara tegas ataupun samar-samar memberi tahu kepada kita mengenai Allah Tiga Serangkai yang adalah Allah, Anak dan Roh Kudus… Tidak ada bukti bahwa penulis tulisan suci manapun bahkan menduga adanya suatu [Tritunggal] di dalam Keilahian… Bahkan mencari di dalam ["Perjanjian Lama"] kesan-kesan atau gambaran di muka atau ‘tanda-tanda terselubung’ mengenai trinitas dari pribadi-pribadi, berarti melampaui kata-kata dan tujuan dari para penulis tulisan-tulisan suci.”-Cetak miring red.

Penyelidikan dalam Kitab-Kitab Ibrani itu sendiri akan membuktikan komentar-komentar ini. Jadi, tidak ada ajaran yang jelas mengenai Tritunggal dalam 39 buku pertama dari Alkitab yang membentuk kanon yang asli dari Kitab-Kitab Ibrani yang terilham.

Bukti dari Kitab-Kitab Yunani
MAKA, apakah Kitab-Kitab Yunani Kristen (“Perjanjian Baru”) dengan jelas berbicara tentang suatu Tritunggal?
The Encydopedia of Religion mengatakan: “Para teolog setuju bahwa Perjanjian Baru juga tidak memuat doktrin yang jelas mengenai Tritunggal.”

Imam Yesuit Fortman mengatakan: “Para penulis Perjanjian Baru… tidak memberi kita doktrin Tritunggal yang resmi atau dirumuskan, juga tidak ajaran yang jelas bahwa dalam satu Allah terdapat tiga pribadi ilahi yang setara… Di mana pun kita tidak menemukan doktrin tritunggal dari tiga subyek kehidupan dan kegiatan ilahi yang berbeda dalam Keilahian yang sama.”

The New Encyclopaedia Britannica menyatakan: “Kata Tritunggal atau doktrinnya yang jelas tidak terdapat dalam Perjanjian Baru.”

Bernhard Lohse mengatakan dalam A Short History of Christian Doctrine: “Sejauh itu menyangkut Perjanjian Baru, seseorang tidak menemukan di dalamnya doktrin Tritunggal yang aktual.”

The New International Dictionary of New Testament Theology juga mengatakan: “P[erjanjian] B[aru] tidak memuat doktrin Tritunggal yang diperkembangkan. ‘Alkitab tidak memuat deklarasi yang terus terang bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah dari zat yang sama’ [kata teolog Protestan Karl Barth].”

Profesor E. Washburn Hopkins dari Universitas Yale meneguhkan: “Bagi Yesus dan Paulus doktrin tritunggal jelas tidak dikenal;… mereka tidak mengatakan apa-apa mengenai itu.”-Origin and Evolution of Religion.

Sejarawan Arthur Weigall menyatakan: “Yesus Kristus tidak pernah menyebutkan perwujudan demikian, dan di manapun dalam Perjanjian Baru tidak terdapat kata ‘Tritunggal.’ Gagasannya baru diterima oleh Gereja tiga ratus tahun setelah kematian Tuhan kita.”-The Paganism in Our Christianity.

Jadi, ke-39 buku dari Kitab-Kitab Ibrani ataupun kanon dari ke-27 buku yang terilham dari Kitab-Kitab Yunani Kristen tidak ada yang memuat ajaran yang jelas mengenai Tritunggal.

Apakah Diajarkan oleh Orang-Orang Kristen yang Mula-Mula?
APAKAH orang-orang Kristen yang mula-mula mengajarkan Tritunggal? Perhatikan komentar-komentar berikut dari para sejarawan dan teolog:
“Kekristenan yang mula-mula tidak mempunyai doktrin Tritunggal seperti yang setelah itu dirinci dalam kredo-kredo.”-The New International Dictionary of New Testament Theology.

“Namun orang-orang Kristen yang pertama pada awal mula tidak pernah mempunyai pikiran untuk menerapkan gagasan [Tritunggal] kepada kepercayaan mereka sendiri. Mereka memberikan pengabdian mereka kepada Allah Bapa dan kepada Yesus Kristus, Anak Allah, dan mereka mengakui… Roh Kudus; tetapi tidak ada buah pikiran bahwa ketiga pribadi ini adalah suatu Tritunggal, setara dan dipersatukan dalam Satu.”-The Paganism in Our Christianity.

“Pada mulanya kepercayaan Kristen bukan kepada Allah Tiga Serangkai… Halnya tidak demikian pada zaman rasul-rasul atau sebelumnya, seperti diperlihatkan dalam P[erjanjian] B[aru] dan tulisan-tulisan Kristen yang awal lainnya.”

Encyclopedia of Religion and Ethics.
“Perumusan ’satu Allah dalam tiga Pribadi’ tidak ditetapkan dengan tegas, dan pasti belum dilebur sepenuhnya ke dalam kehidupan Kristen dan pengakuan imannya, sebelum akhir abad ke-4… Di antara Bapa-Bapa Rasuli, tidak pernah bahkan sedikit pun ada yang mendekati sikap atau pandangan seperti itu.” – New Catholic Encyclopedia.

Apa yang Diajarkan oleh Bapa-Bapa Pra-Nicea
BAPA-BAPA pra-Nicea diakui sebagai guru-guru agama yang terkemuka pada abad-abad permulaan setelah kelahiran Kristus. Apa yang mereka ajarkan patut diperhatikan.

Justin Martyr, yang meninggal kira-kira tahun 165 M., menyebut pramanusia Yesus sebagai malaikat yang diciptakan yang “tidak sama dengan Allah yang menciptakan segala perkara.” Ia mengatakan bahwa Yesus lebih rendah daripada Allah dan “tidak pernah melakukan sesuatu kecuali yang Pencipta… ingin ia lakukan dan katakan.”

Irenaeus, yang meninggal kira-kira tahun 200 M., mengatakan bahwa pramanusia Yesus keberadaannya terpisah dari Allah dan lebih rendah daripada Dia. Ia memperlihatkan bahwa Yesus tidak setara dengan “Allah yang benar dan satu-satunya,” yang “lebih tinggi di atas segala-galanya, dan selain Dia tidak ada yang lain.”
Clement dari Aleksandria, yang meninggal kira-kira tahun 215

M, menyebut Yesus dalam keberadaannya sebelum menjadi manusia sebagai “suatu ciptaan” tetapi menyebut Allah sebagai “yang tidak diciptakan dan tidak dapat binasa dan satu-satunya Allah yang benar.” Ia mengatakan bahwa sang Anak “adalah nomor dua setelah satu-satunya Bapa yang mahakuasa” tetapi tidak setara dengan Dia.

Tertullian, yang meninggal kira-kira tahun 230 M., mengajarkan keunggulan Allah. Ia berkata: “Sang Bapa berbeda dari Anak (yang lain), karena Ia lebih besar; sebagaimana yang memperanakkan berbeda dari yang diperanakkan, ia yang mengutus berbeda dari dia yang diutus.” Ia juga berkata:
“Ada masanya ketika sang Anak tidak ada… Sebelum semua perkara ada, Allah berada sendirian.”

Hippolytus, yang meninggal kira-kira tahun 235 M., mengatakan bahwa Allah adalah “Allah yang esa, Pribadi yang pertama dan satu-satunya, Khalik dan Tuhan dari semua,” “tidak ada yang [memiliki umur yang sama] dengan Dia… Tetapi Ia adalah Esa, berada sendirian; yang, karena menghendakinya, membuat ada apa yang dulunya tidak ada,” seperti misalnya pramanusia Yesus yang diciptakan.

Origen, yang meninggal kira-kira tahun 250 M., mengatakan bahwa “sang Bapa dan Anak adalah dua hakekat… dua hal sehubungan dengan pokok dasar mereka,” dan bahwa “dibandingkan dengan Bapa, [Anak] adalah terang yang sangat kecil.”

Meringkaskan bukti sejarah, Alvan Lamson mengatakan dalam The Church of the First Three Centuries: “Doktrin Tritunggal yang modern dan populer… tidak mendapat dukungan dari bahasa Justin [Martyr]: dan pernyataan ini dapat diperluas sehingga berlaku juga untuk semua Bapa pra-Nicea; yaitu, untuk semua penulis Kristen selama tiga abad setelah kelahiran Kristus. Memang, mereka berbicara mengenai sang Bapa, Anak dan… Roh kudus, tetapi tidak sebagai [pribadi-pribadi] yang setara, tidak berjumlah satu zat, tidak sebagai Tiga dalam Satu, dalam arti apapun yang sekarang diterima oleh para penganut Tritunggal. Justru sebaliknyalah yang merupakan fakta.”

Jadi, bukti dari Alkitab dan dari sejarah membuat jelas bahwa Tritunggal tidak dikenal sepanjang zaman Alkitab dan selama beberapa abad setelahnya.

C. BAGAIMANA DOKTRIN TRITUNGGAL BERKEMBANG?

SAMPAI di sini saudara mungkin bertanya: ‘Jika Tritunggal bukan ajaran Alkitab, bagaimana itu menjadi doktrin Susunan Kristen?’ Banyak orang berpikir bahwa ini dirumuskan pada Konsili di Nicea pada tahun 325 M.
Tetapi, hal itu tidak sepenuhnya tepat. Konsili Nicea memang meneguhkan bahwa Kristus adalah dari zat yang sama seperti Allah, dan hal ini menjadi fondasi untuk teologi Tritunggal di kemudian hari. Tetapi konsili ini tidak menyusun Tritunggal, karena dalam konsili itu sama sekali tidak
disebutkan mengenai roh kudus sebagai pribadi ketiga dari
suatu Keilahian tiga serangkai.

Peranan Konstantin di Nicea

SELAMA bertahun-tahun, ada banyak tentangan atas dasar Alkitab terhadap gagasan yang makin berkembang bahwa Yesus adalah Allah. Dalam upaya untuk mengakhiri pertikaian itu, penguasa Roma Konstantin memanggil semua uskup ke Nicea. Yang hadir kira-kira 300, sebagian kecil dari jumlah keseluruhan.

Konstantin bukan seorang Kristen. Menurut dugaan, ia belakangan ditobatkan, tetapi baru dibaptis pada waktu sedang terbaring sekarat. Mengenai dirinya, Henry Chadwick mengatakan dalam The Early Church: “Konstantin, seperti bapanya, menyembah Matahari Yang Tidak Tertaklukkan;… pertobatannya hendaknya tidak ditafsirkan sebagai pengalaman kerelaan yang datang dari batin… Ini adalah masalah militer. Pengertiannya mengenai doktrin Kristen tidak pernah jelas sekali, tetapi ia yakin bahwa kemenangan dalam pertempuran bergantung pada karunia dari Allah orang-orang Kristen.”

Peranan apa yang dimainkan oleh kaisar yang tidak dibaptis ini di Konsili Nicea? Encyclopaedia Britannica menceritakan:
“Konstantin sendiri menjadi ketua, dengan aktif memimpin pertemuan dan secara pribadi mengusulkan… rumusan penting yang menyatakan hubungan Kristus dengan Allah dalam kredo yang dikeluarkan oleh konsili tersebut, ‘dari satu zat dengan Bapa’… Karena sangat segan terhadap kaisar, para uskup, kecuali dua orang saja, menandatangani kredo itu, kebanyakan dari mereka dengan sangat berat hati.”

Karena itu, peran Konstantin penting sekali. Setelah dua bulan debat agama yang sengit, politikus kafir ini campur tangan dan mengambil keputusan demi keuntungan mereka yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi mengapa? Pasti bukan karena keyakinan apapun dari Alkitab. “Konstantin pada dasarnya tidak mengerti apa-apa tentang pertanyaan pertanyaan yang diajukan dalam teologi Yunani,” kata A Short History of Christian Doctrine. Yang ia tahu adalah bahwa perpecahan agama merupakan ancaman bagi kekaisarannya, dan ia ingin memperkuat wilayah kekuasaannya.

Namun, tidak seorang uskup pun di Nicea mengusulkan suatu Tritunggal. Mereka hanya memutuskan sifat dari Yesus tetapi bukan peranan roh kudus. Jika suatu Tritunggal merupakan kebenaran Alkitab yang jelas, tidakkah mereka seharusnya mengusulkannya pada waktu itu?

Perkembangan Selanjutnya
SETELAH Konsili Nicea, perdebatan mengenai pokok ini terus berlangsung selama puluhan tahun. Mereka yang percaya bahwa Yesus tidak setara dengan Allah bahkan mendapat angin lagi untuk beberapa waktu. Namun belakangan, Kaisar Theodosius mengambil keputusan menentang mereka. Ia meneguhkan kredo dari Konsili Nicea sebagai standar untuk daerahnya dan mengadakan Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M. untuk menjelaskan rumus tersebut.

Konsili tersebut menyetujui untuk menaruh roh kudus pada tingkat yang sama dengan Allah dan Kristus. Untuk pertama kali, Tritunggal Susunan Kristen mulai terbentuk dengan jelas.

Tetapi, bahkan setelah Konsili Konstantinopel, Tritunggal tidak menjadi kredo yang diterima secara luas. Banyak orang menentangnya dan karena itu mengalami penindasan yang kejam.

Baru pada abad-abad belakangan Tritunggal dirumuskan dalam kredo-kredo yang tetap. The Encyclopedia Americana mengatakan: “Perkembangan penuh dari ajaran Tritunggal terjadi di Barat, pada pengajaran dari Abad Pertengahan, ketika suatu penjelasan dari segi filsafat dan psikologi disetujui.”

Kredo Athanasia
TRITUNGGAL didefinisikan lebih lengkap dalam Kredo Athanasia. Athanasius adalah seorang pendeta yang mendukung Konstantin di Nicea. Kredo yang memakai namanya berbunyi:
“Kami menyembah satu Allah dalam Tritunggal… sang Bapa adalah Allah, sang Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; namun mereka bukan tiga allah, tetapi satu Allah.”

Tetapi, para sarjana yang mengetahui benar masalahnya setuju bahwa Athanasius tidak menyusun kredo ini. The New Encyclopasdia Britannica mengomentari: “Kredo itu baru dikenal oleh Gereja Timur pada abad ke-12. Sejak abad ke-17, para sarjana pada umumnya setuju bahwa Kredo Athanasia tidak ditulis oleh Athanasius (meninggal tahun 373) tetapi mungkin disusun di Perancis Selatan pada abad ke-5… Pengaruh kredo itu tampaknya terutama ada di Perancis Selatan dan Spanyol pada abad ke-6 dan ke-7. Ini digunakan dalam liturgi gereja di Jerman pada abad ke-9 dan kira-kira tidak lama setelah itu di Roma.”

Jadi dibutuhkan waktu berabad-abad sejak zaman Kristus bagi Tritunggal untuk dapat diterima secara luas dalam Susunan Kristen. Dan dalam semua hal tersebut, apa yang membimbing keputusan-keputusannya? Apakah Firman Allah, atau apakah pertimbangan para pendeta dan politik? Dalam Origin and Evolution of Religion, E. W. Hopkins menjawab: “Definisi ortodoks yang terakhir dari tritunggal sebagian besar adalah masalah politik gereja.”

Kemurtadan Dinubuatkan
SEJARAH yang tidak baik dari Tritunggal ini cocok dengan apa yang Yesus dan rasul-rasulnya nubuatkan akan terjadi setelah zaman mereka. Mereka mengatakan bahwa akan ada kemurtadan, penyelewengan, penyimpangan dari ibadat sejati sampai kembalinya Kristus, yaitu saat ibadat sejati akan dipulihkan sebelum hari manakala Allah membinasakan sistem perkara-perkara ini tiba.

Mengenai “Hari” itu, rasul Paulus mengatakan: “Sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka. ” (2 Tesalonika 2: 3, 7) Belakangan, ia menubuatkan: “Sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.” (Kisah 20:29, 30) Murid-murid Yesus yang lain juga menulis mengenai kemurtadan ini dengan golongan pendetanya yang “durhaka.”-Lihat, misalnya, 2 Petrus 2: 1; 1 Yohanes 4:1-3; Yudas 3, 4.

Paulus juga menulis: “Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” -2 Timotius 4:3, 4.

Yesus sendiri menjelaskan siapa yang ada di balik kemurtadan dari ibadat sejati. Ia mengatakan bahwa ia telah menabur benih yang baik tetapi musuhnya, Setan, akan menabur lalang di ladang. Maka ketika muncul tunas pertama dari gandum, muncul juga lalang. Jadi, penyimpangan dari Kekristenan sejati harus diharapkan terjadi sampai tiba musim menuai, pada waktu Kristus akan membereskan perkara-perkara. (Matius 13:24-43) The Encyclopedia Americana mengomentari: “Ajaran Tritunggal dari abad ke-4 tidak dengan saksama mencerminkan ajaran Kristen yang mula-mula mengenai sifat Allah; sebaliknya, ini adalah penyimpangan dari ajaran tersebut.”

Maka, dari mana asalnya penyimpangan ini?-1 Timotius 1: 6

Bersambung ke Bag.3

Sumber: Membongkar Kedok Kristologi on Facebook


Verifikasi Doktrin Tritunggal

November 20, 2009

Tulisan dalam Kategori “Membongkar Kebobrokan dan Kepalsuan Iman Kristen” ini disusun oleh :

Dimitry A. (YBT)

dimitry19yesusbukantuhan@yahoo.com

yesusbukantuhan@myquran.com

“Janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri” (QS. Al-Ankabuut 46).

Namun lebih tegas lagi, Allah SWT juga memerintahkan kita untuk tidak mundur bila diserang:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).”(QS.Al-Anfaal:15)

Karena itu kita sebagai Pemuda-pemudi Muslim  wajib  terus  memperkuat  diri  baik secara fisik  maupun  pemikiran, agar  bisa mempertahankan Islam baik dalam perang fisik maupun perang pemikiran. Islam sendiri sesungguhnya telah diakui sebagai agama yang paling berhasil menekankan prinsip toleransi. seorang sejarawan Barat, Max I Imont mengatakan:

“Selama lima ratus tahun pemerintahan Muslim di Spanyol, tiga  agama  tenteram-damai dalam satu tempat tidur;  Islam, Kristen dan Yahudi saling membagi dan mengisi peradaban”

Namun kita tentu tak bisa berdiam diri dalam situasi  yang  sudah  berbeda saat ini, dimana praktek  Kristenisasi  jelas  mewabah dan merajalela mengintai saudara-saudara kita  yang  pemahamannya  terhadap  studi  perbandingan  agama  mungkin  masih minim  sehingga gampang terbujuk dan terpengaruh. Untuk itu kita perlu mengetahui dasar dan inti keimanan yang  hendak mereka  bidikkan  pada kita umat Islam, dengan  mengetahui  dan  mengerti, kita akan faham bahwa ternyata apa yang mereka imani dan hendak  sebarluaskan  itu tidak mempunyai  dasar dan landasan apapun, kecuali persangkaan, khayalan, dusta, kepalsuan dan hasil asimilasi kultur Yahudi  dengan helenisme Yunani,  dimana iman yang mereka  yakini tersebut  penuh dengan berbagai macam ritual dan simbol yang kental dengan pengaruh Paganisme  penyembah banyak  dewa dan berhala  yang kafir.

Umat Kristen, tidak bisa disangkal, dalam meyakini imannya, seringkali bersikap bivalen atau mendua terhadap apa yang diimaninya.sebagai contoh, mereka meyakini Yesus sebagai Tuhan, namun ketika dihadapkan pada realitas manusiawi Yesus, mereka segera berdalih bahwa Yesus selain 100% Tuhan, namun juga 100% Manusia yang bisa takut, tidak tahu musim, tidak tahu kapan hari kiamat, lapar, haus, bakan juga digoda setan! doktrin tritunggal yang mereka yakini adalah bahwa Tuhan terdiri dari 3 oknum yang tak terpisahkan yakni, Tuhan Bapa,Tuhan Putera, dan Roh kudus. ketiganya adalah satu dan ketunggalan/keesaan Tuhan-bagi mereka-termanifestasikan dalam 3 oknum tersebut. Tidak adil bila saya sebagai Muslim mencoba memaparkan panjang lebar mengenai keyakinan mereka tersebut, karena itu akan saya kutipkan beberapa pendapat umat kristen sendiri tentang hal tersebut. Pendapat penulis buletin kristen BPK sinar kasih dalam sanggahannya terhadap sebuah buku berjudul ““Dialog Masalah KeTuhanan Yesus” antara Kyai Bahaudin Mudhary dengan seorang Kristen Antonius Widuri yang akhirnya memeluk Islam.

[Kristen]: Istilah Tritunggal tidaklah dalam pengertian tiga berserikat menjadi satu, dalam pengertian organisasi. Atau dengan istilah lain, bahwa Tritunggal tidaklah bermakna bahwa ada tiga wujud Allah bersatu…

[Kristen]: Tiga penyebutan yang berbeda itu hanya menunjukkan fungsionil Allah yang berbeda Allah itu disebut Bapa, dalam Kuasa fungsionilnya mencipta. Allah itu juga  disebut  Anak, dalam  Kuasa  fungsionil- nya  berfirman. Allah itu juga, bukan Allah yang lain lagi, disebut Rohulkudus, adalah Kuasa fungsionilnya memberi Taufik dan Hidayat, serta pertolongan yang dalam bahasa Ibrani disebut Parakletos

[Kristen]: Iman setiap orang Kristen mengakui  dengan  pasti,  bahwa: 1. Yesus adalah 100% manusia, yaitu yang nam- pak itu dari kepala sampai kekaki adalah memang  manusia.  Sebagai manusia,  Dia  juga  harus tidur,  makan,  minum,  tahu susah  dan  menderita, bahkan juga mati. 2.  Namun juga.  Yesus  adalah 100 % Allah yaitu Roh yang menguasai seluruh raganya itu, se- bagaimana diucapkan oleh Yesus sendiri “  Apa yang  Aku katakan  kepadamu, tidaklah  Aku  katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa yang di- am didalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaanNya.”

[Kristen]: Masih  banyak  nats  ayat-ayat  Alkitab  yang  menunjukkan bahwa Yesus itu adalah memang ma- nusia, anak manusia dilahirkan oleh seorang manusia yaitu Maria. Sebagai manusia, dia dapat merasakan lapar dan haus dan  karenanya Dia juga makan dan minum juga mengalami cape dan lelah, dan Dia juga sebagai manusia  tahu  mengantuk  dan  tidur, juga  mengalami  rasa  suka dan  sedih,  karenanya  dia  juga  berdoa  kepada  AllahNya   bahkan  juga  sebagai  manusia Dia mengalami ke- matian di Golgota. Ini semua menunjukkan tabeat kemanusiaannya 100 % manusia itu.

[Kristen]: Rahasia utamanya adalah harus dapat mengenal  dan membedakan  Yesus itu dalam 2  Qudrati, yaitu Qudrati  yang  manusiawi dan  Qudrati yang llahi. Saya   berikan  ilustrasi:  Jenderal  Sudirman  berkata:  “Angkat  senjata,  pergi  ke medan  perang.” Siapakah  sebenarnya yang  memerintahkan  Angkat senjata itu. Sudirmankah atau Jendralkah. Su- dah pasti yang memerintahkan angkat senjata itu adalah  Jendral,  meskipun  yang  berucap  itu kelihatannya  memang  Sudirman. Disini kita melihat adanya dua Qudrati dalam diri Sudirman itu Qudrati pribadi dan Qudrati Jendral. Demikianlah juga dengan Yesus. Kita harus dapat membedakan mana Qudrati yang manusiawi, dan mana Qudrati yang Ilahi.

[Kristen]: Haruslah dibedakan antara OKNUM dan KUASA. Oknumnya,  manusia Yesus. Kuasanya adalah Tuhan. Hayati makna: Jendral Sudirman. Sudirman adalah Oknum manusia-nya. Jendral adalah (oknum) KUASA-nya.

[Kristen]: Iman Kristiani seluruh dunia ini mengakui sesuai dengan  nats Alkitab, bahwa  Yesus itu adalah 100 % manusia, anak ma- nusia dilahirkan oleh seorang ibu keturunan ma nusia. Namun Dia juga sekaligus dinilai dan  diakui 100 % Allah. Yang dinilai manusia, ialah yang nampak, yang dapat dijamah, dari kepala hingga ke kaki, itu adalah  bernilai  manusia.  Sebagai   manusia,  hidupnya  bertabiat   manusia.  Sebagai manusia, ia  dapat  merasakan haus karenanya ia minum. Dia juga dapat   merasakan  lapar,  karenanya  ia  makan. Dia  juga   merasakan   ngantuk,  karenanya   dia   membutuhkan   tidur.  Dia  juga  dapat  merasakan   susah  dan  karenanya   iapun   juga   menangis   dan   bersedih. Dia   juga   dapat   merasakan  susah dan kuatir, karenanya  diapun  juga berdoa.  Bahkan sebagai puncak dari kemanusiaannya   sendiri   Iapun   juga   mengalami   kematian.  Kematian  sebagai  manusia. Baca  1 Petrus  3:18  ” Ia,  yang  telah  dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia …..” Yang dinilai sebagai Tuhan; Yesus  tidak dilahirkan  dari benih  manusia, melainkan  Roh Allah itu  sendiri yang  dikandung oleh Maria, hingga melahirkan Yesus.

=======================================

Kemudian saya juga akan mengutipkan apa yang dikatakan oleh Romo Drs.Henricus Pidyanto Gunawan seorang lulusan Insitut Biblicum, Roma(1982-1986), lulusan program doktoral Teologi Alkitabiah dari Universitas St.Thomas Aquino, Roma(1988-1990) yang juga pernah mengecap pendidikan seminari menengah Malang tahun 1967. Inilah komentarnya mengenai masalah kontradiksi Ketuhanan Yesus, dari bukunya: Umat Bertanya, Romo Pid menjawab vol.6 : hal,114

“Yesus sungguh2 Allah sekaligus sungguh2 manusia, justru karena Allah putra telah menjadi manusia dalam diri Yesus, maka dia terikat juga pada keterbatasan manusiawinya. sebagai manusia, Yesus tidak tahu kapan persisnya hari kiamat(Mat 24:36)namun keterbatasannya sebagai manusia sebenarnya tidak meniadakan keilahiannya, hal.18 “Adapun nabi segala nabi atau nabi yang paling sempurna adalah Yesus Kristus. mengapa? sebab ia adalah Allah putra sendiri yang menjadi manusia.

Komentar Dimitri A [YBT]

Semua komentar diatas pada intinya adalah sama, mereka percaya bahwa Yesus selain 100% manusia juga adalah 100% Tuhan. Baiklah mari kita kaji kembali apa yang mereka imani tersebut! Allah Tuhan Yang Maha Esa adalah pencipta dan pemelihara seluruh alam semesta beserta isinya. saya rasa baik dari umat Islam maupun Kristen tidak akan ada yang menyanggah pernyataan tersebut.lalu, sebagaimana diimani oleh mereka, bahwa Tuhan telah menjelma dalam diri Yesus, seorang manusia 100%, dimana ia adalah manusia dengan segala kelemahan dan ketidak mampuannya. maka berpikirlah! alam semesta,manusia,dan segala organisme dari yang kasat mata sampai tidak kasat mata adalah ciptaan Allah dan semuanya hidup dengan sebuah hukum yang telah ditetapkan dan dipelihara oleh Allah. Bumi berputar pada porosnya terus menerus, universe tunduk pada hukum yang sudah berketetapan, sehingga mereka tidak saling mendekati terlampau dekat dan bertabrakan satu sama lain, kelahiran manusia setiaB saat adalah kuasa Allah, begitu juga dengan hewan, tumbuhan dan berbagai mikroorganisme beserta segala proses yang mendukung kelangsungan hidupnya(sistem pernapasan,sistem pencernaan,dll) adalah kuasa Allah. kita semua tentu sepakat bahwa semuanya tidak terjadi dengan sendirinya tanpa ada aturan dan yang mengatur melainkan bahwa semuanya ada dalam kekuasaan dan pemeliharaan Allah.

Nah, sekarang bagaimana dengan pernyataan bahwa “Tuhan menjelma kedalam diri Yesus yang adalah 100% manusia dengan segala sifat manusiawinya?.umat Kristen tentu setuju bahwa Yesus dalam ujud manusianya 100% tidak dapat mengelak dari kodrati manusiawinya, dimana segala perilaku dan kelemahannya adalah sebagai akibat kemanusiawiannya itu!dimana “Tuhan” dalam wujudnya sebagai Yesus tidak membawa serta kekuasaan keIlahiannya, terbukti dari ketidak tahuan Yesus mengenai kapan hari kiamat tiba,digodanya Yesus oleh iblis,lapar,haus,dan takutnya Yesus,ketidak tahuannya akan musim,dll dll….pendek kata Yesus sebagai manusa dalam masa hidupnya yang pendek,33 tahun saja, adalah 100% manusia dan tidak berkuasa melakukan apapun yang bersifat keilahian termasuk mencipta dan memelihara alam semesta beserta isinya.jadi yesus sebagai manusia TIDAK BISA dalam waktu bersamaan merangkap sekaligus sebagai Tuhan yang mempunyai kekuasaan menciptakan dan memilhara segala isi alam semesta!kini fikirkanlah! bagaimana mungkin Yesus sebagai 100% manusia yang sudah jelas tidak memiliki kuasa untuk menciptakan dan memelihara alam semesta beserta isinya sehubungan dengan kemanusiawiannya sebagai manusia Yesus, dilain fihak diyakini juga sebagai 100% Tuhan???? Verifikasi hal2 berikut ini!

1. Dalam 33 tahun masa hidup Yesus, apakah kelahiran manusia menjadi terhenti??? Apakah tidak ada hewan yang dilahirkan baik melalui proses reproduksi maupun pembelahan diri?apakah tanaman berhenti tumbuh dan layu? karena Yesus sebagai manusia yang memiliki berbagai kelemahan manusiawi, tidak mungkin bisa menciptakan manusia dan juga mematikan manusia-yang merupakan kuasa Allah. bagaimana mau menciptakan manusia,hewan, dan tumbuhan serta mematikannya, bukankah Yesus membedakan musim saja tidak bisa? bukankah Yesus bisa lapar dan haus?tentu saja penciptaan manusia dan segala prosesnya merupakan tugas yang terlalu amat berat dan TIDAK MUNGKIN dapat dkerjakan Yesus! tapi sekali lagi!apakah dalam 33 tahun masa hidup Yesus, bayi-bayi berhenti lahir dan orang-orang tidak bisa mati? TENTU TIDAK! bayi-bayi tetap dilahirkan kedunia, hewan2 lahir dan mati, tanaman tumbuh dan layu, manusia-manusia tetap mati. semua proses itu sama sekali tidakberhenti selama masa hidup Yesus yang 33 tahun itu. lalu siapa yang melakukan dan memelihara proses itu semua?tentu tidak terjadi begitu saja tanpa ada yang mengatur bukan?dan karena Yesus dengan segala kelemahan manusiawinya tidak mungkin melakukan itu semua, lalu SIAPA? tentu saja Allah SWT yang tetap berkuasa dan memelihara setiap proses tersebut.bukan Yesus!karena itu Yesus Bukan Tuhan.Yesus memang adalah 100% manusia tapi tidak bisa diyakini sebagai juga 100% Tuhan!kenapa?karena ia tidak bisa menciptakan dan mematikan makhluk hidup serta memelihara segala prosesnya, yang melakukan itu semua hanyalah Allah SWT. Perhatikanlah Kitab Suci Al-Qur’an Firman Allah :

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (QS.AN-Nahl,16:17).

Perhatikanlah! sungguh sesat mereka yang mengatakan bahwa Yesus 100% manusia namun juga 100% Allah.

Premis Mayor : Allah Maha Pencipta dan Maha Pemelihara makhluk, alam semesta beserta segala isinya.

Premis Minor  : Yesus tidak menciptakan maupun memelihara makhluk, alam semesta beserta segala isinya.

Konklusi / Kesimpulan : Maka  Yesus tidak  sama dengan  Tuhan dan bukan  Tuhan,  karena itu  Yesus yang  100% manusia  itu, tidak  bisa disebut juga dengan 100% Tuhan, karena memang bukan Tuhan.

Firman Allah:

“Katakanlah: “Siapakah  yang ditanganNya  berada kekuasaan atas segala  sesuatu  sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab:  “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu? (QS.Al-Mu’minuun 89-90).

2. Dalam masa 33 tahun hidup Yesus didunia, apakah bumi berhenti berputar? apakah langit runtuh? apakah Matahari padam? apakah orbit setiap planet menjadi kacau sehingga satu sama lain saling bertubrukan? apakah Bumi terus diliputi siang tanpa malam dan juga sebaliknya?…..TIDAK! bumi tetap berputar pada porosnya, langit tetap teguh. Matahari tetap memancarkan sinarnya yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan, planet-planet beserta satelitnya tetap dalam orbitnya yang terjaga, siang tetap berganti malam,dan seterusnya….apakah Yesus yang 100% manusia yang dapat melakukan dan memelihara itu semua? apakah Yesus yang lapar, haus, ketakutan, tak tahu musim, dan dicobai setan yang dapat melakukan itu semua? SEKALI-KALI TIDAK! lalu siapa yang tetap memelihara semuanya dalam 33 tahun hidup Yesus kalau memang bukan Yesus?(pertanyaan ini untuk yang berasumsi dan menyatakan bahwa Yesus yang hidup selama 33 tahun adalah100% manusia dan 100% Tuhan). Apakah semuanya terjadi begitu saja dengan sendirinya? tentu tidak! Allah lah yang selalu menguasai dan memelihara semuanya itu.bukan Yesus! kalau Yesus yang manusia 100% harus menanggung semuanya, tentu sesaat setelah manusia Yesus lahir, segalanya akan kacau balau! karena Yesus yang 100% manusia dengan segala kelemahan manusiawinya tidak akan mungkin mampu menjalankan semua keseimbangan proses tersebut sekaligus bersamaan dengan kodrat pribadinya sebagai manusia.

Firman Allah:

“Yang telah  menciptakan tujuh langit  berlapis-lapis, kamu  sekali-kali tidak  melihat pada ciptaan  Tuhan yang  Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Karena itu lihatlah berulang-ulang adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk:3).

“Dan Dia telah menundukkan pula bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”  (QS.Ibrahim:33)

Subhanallah, Maha Suci Allah,  Maha Benar Allah  dengan segala  FirmanNya. Allah lah  yang   menjaga  keseimbangan alam semesta, menundukkan  matahari dan bulan yang terus menerus beredar dalam orbitnya. Allah lah yang menguasai dan memelihara segala proses tersebut, dan  BUKAN YESUS! karena  itu Yesus yang 100% manusia tidak bisa disebut juga sebagai Tuhan 100%.

Premis Mayor : Allah menguasai dan memelihara segala proses yang terjadi dalam alam semesta.

Premis Minor  : Yesus yang 100% manusia, TIDAK menguasai dan TIDAK memelihara segala proses yang terjadi dalam alam semesta.

Konklusi / Kesimpulan : Yesus  tidak  sama dengan Tuhan, karena Tuhan berkuasa dan memelihara sedangkan Yesus tidak.Yesus bukanlah Tuhan karena hanya Tuhan  yang  berkuasa dan  memelihara alam semesta, sedangkan  Yesus tidak.karena itu  Yesus yang 100%  manusia tidak bisa disebut sebagai juga 100% Tuhan. Sementara umat Kristen meyakini lain, saya kutipkan lagi BPK sinar kasih:

Tiga penyebutan yang berbeda itu hanya menunjukkan fungsionil Allah yang berbeda Allah itu disebut Bapa, dalam Kuasa fungsionilnya mencipta. Allah itu juga disebut Anak, dalam Kuasa  fungsionilnya  berfirman. Allah itu juga,  bukan Allah yang lain lagi,  disebut Rohulkudus,  adalah Kuasa  fungsionilnya  memberi Taufik dan Hidayat, serta pertolongan yang dalam bahasa Ibrani disebut Parakletos.

=============================

Pemisahan atau divisi fungsionil sebagaimana yang diyakini mereka sungguh merupakan suatu penafsiran yang mengada-ngada dan menyesatkan, sekali lagi,Yesus-sebagaimana diyakini mereka yang hanya memiliki kuasa fungsionil berfirman tentu tak mungkin dan tak akan mampu pada saat bersamaan juga memiliki kuasa fungsionil mencipta,lalu pada saat Yesus hidup? Siapa yang tetap konsisten menjalankan kuasa fungsionil mencipta-sesuai istilah mereka-tersebut? apakah ada yang lain lagi? kalau begitu, maka apa artinya satu dalam tiga , tiga dalam satu-nya Tritunggal? bukankah sudah jelas bahwa Yesus tidak berkuasa seperti Tuhan? berarti jelas….Tuhan adalah satu hal dan Yesus adalah hal lain lagi, oleh karena itu,Yesus yang 100% manusia tidak bisa diaggap sebagai 100% Tuhan juga, maka pecahlah penyatuan Bapa dan Putera sebagai bagian dari tiga oknum tersebut!

Kemudian, mengenai salah satu oknum Tritunggal lainnya, yakni Roh Kudus, sesuai kepercayaan Kristen adalah oknum tak terpisahkan dari Tuhan Bapa dan Tuhan Putera, sehingga sekali lagi Bapa, Putera dan Roh Kudus itu selalu bersama dan tak terpisahkan, namun benarkah demikian? apakah Yesus kurang terselubungi roh kudus sehingga masih harus dibaptis lagi oleh Yohannes sang pembaptis? lalu dengan apa Yohannes membaptis orang banyak sebelum Yesus lahir? bukankah dengan Roh Kudus??? maka berarti Roh Kudus tersebut telah ada sebelum Yesus lahir! bagaimana dengan Tritunggal? mengapa Roh Kudus sudah hadir sebelum Yesus? kalau kita memakai kerangka berpikir umat Kristen mereka akan menjawab, bahwa Yesus sebagai Tuhan itu sendiri telah ada sebelum Yesus dilahirkan dalam wujud manusia, tapi bila kita terapkan logika ini, dengan apa Yesus dibaptis? bukankah Roh Kudus sebagai salah satu oknum Tritunggal juga melekat dengan pribadi Yesus yang menurut versi Kristen adalah 100% manusia juga 100% Tuhan.(namun argumen tersebut telah kita patahkan sebelumnya!)

Lihatlah Perjanjian Baru Yohanes 16:7

“Namun benar  yang Kukatakan ini  kepadamu:  Adalah lebih berguna bagi kamu, jika aku Pergi. sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Bila  ditanyakan pada  umat Kristen,  “SIAPAKAH SANG PENGHIBUR ITU?” dengan  serentak  mereka  akan menjawab “ROH KUDUS!” bukankah roh kudus sebagai salah satu oknum tritunggal melekat juga pada diri Yesus? tapi bila kita menganggap sang penghibur adalah “Roh Kudus” dimana ia baru akan datang bila Yesus pergi,…berarti pada saat Yesus sedang mengatakan itu, sang penghibur (Roh Kudus menurut Kristen)  sedang tidak ada! karena ia belum datang! karena sang penghibur (“Roh Kudus”) itu baru akan  datang jika Yesus  pergi! ini berarti : Yesus adalah satu hal, dan sang penghibur (Roh Kudus ) adalah hal yang lain lagi! karena itu tidak bisa dikatakan bahwa Roh Kudus melekat pada diri Yesus yang menurut versi Kristen adalah 100% manusia dan 100% Tuhan

Premis Mayor : Sesuatu yang baru akan datang bila sesuatu lainnya telah pergi, tidaklah sama dan tidak melekat satu sama lain.

Premis Minor  : Roh Kudus baru akan datang bila Yesus telah Pergi

Konklusi / Kesimpulan : Roh Kudus tidaklah sama dan tidak melekat dengan diri Yesus.

Dengan  demikian  pecahlah sudah  keseluruhan  Doktrin Tritunggal : tiga dalam satu dan satu  dalam tiga, karena terbukti bahwa tidak ada keterkaitan yang bisa dibuktikan dalam ketiga oknum yang diyakini umat Kristen sebagai tritunggal tersebut, selain hanya persangkaan belaka! bila kita perhatikan argumen2 umat Kristen yang saya  kutipkan, sungguh  tidak ada dasar yang kuat bagi doktrin Tritunggal itu, bahkan BPK Sinar Kasih menyodorkan analogi konyol “Jenderal Sudirman” sebagai pendukungnya, sebagai berikut:

Jenderal Sudirman berkata: “Angkat senjata,  pergi ke medan  perang.”  Siapakah  sebenarnya yang  memerintahkan  Angkat senjata itu. Sudirmankah atau Jendralkah. Sudah pasti yang memerintahkan angkat senjata itu adalah Jendral, meskipun yang  berucap itu kelihatannya  memang Sudirman.  Disini kita melihat adanya dua  Qudrati dalam diri  Sudirman itu  Qudrati  pribadi  dan Qudrati  Jendral. Demikianlah juga dengan Yesus. Kita harus dapat membedakan mana Qudrati yang manusiawi, dan mana Qudrati yang Ilahi

==========================

Sungguh suatu analogi yang rendah dan buruk! penghormatan pasukan pada Jenderal Sudirman dikatakan sebagai penghormatan pada kodrati Jenderal dan bukan pada kodrati pribadi.tapi pertanyaanya : APAKAH DENGAN SERTA MERTA SUDIRMAN BISA MENGANGKAT DIRINYA SENDIRI JADI JENDERAL? TENTU TIDAK!!! JABATAN JENDERAL ITU TENTU DIBERIKAN OLEH OTORITAS YANG LEBIH TINGGI DARI SUDIRMAN, DAN BUKAN CIPTAAN DAN KARANGANNYA SENDIRI! JADI SUDIRMAN TIDAK PUNYA DAYA APA-APA TANPA KODRATI JENDERAL YANG DIBERIKAN OLEH OTORITAS DIATASNYA ITU. LALU SIAPA YANG LEBIH BERKUASA? YANG MEMBERI GELAR JENDERAL PADA SUDIRMAN,  ATAUKAH SUDIRMAN YANG TAK BERDAYA DAN TAK DIHORMATI TANPA KODRATI JENDERAL ITU YANG LEBIH BERKUASA? Kemudian kita juga mengetahui, bahwa sebagian umat Kristen juga meyakini bahwa Maria/Maryam mempunyai posisi yang divine dan juga mempunyai kodrat KeIlahian, sehingga berdo’a pun mereka memakai perantaraan Maria.dalam buku katekismus Katolik Roma terdapat pernyataan bahwa Bunda Maria adalah Ibu kandung Tuhan (???) bahwa patungnya mempunyai faedah dan manfaat bagi kita. kemudian dalam Litany diuraikan bahwa ia langsung dimohon sebagai perantara (mediator). Dan sejak Konsili Ephesus, gambar Bunda Maria dengan anaknya (Yesus) adalah seuatu tanda kesalehan. tentu saja keyakinan ini dapat dengan mudah dipatahkan! apa yang menyebabkan Maria dikategorikan sebagai immaculate atau divine, yang mempunyai kodrat keilahian? apakah dia mempunyai kuasa keilahian? TIDAK! apakah dia setara atau bahkan lebih besar dari Yesus yang diyakini “Tuhan” oleh umat Kristen? TIDAK! ia hanya seorang perempuan suci yang melahirkan bayi Yesus dengan kekuasaan Allah SWT, dan hal itu tidak dapat dijadikan dasar untuk mensejajarkan Maria sebagai oknum keilahian yang lain! Maria tidak kuasa menciptakan bahkan seekor lalat pun. Maria juga tidak bisa menguasai dan memelihara segala proses kehidupan makhluk dan seluruh alam semesta beserta isinya, hanya Allah yang berkuasa. Maria hanya melahirkan bayi Yesus yang adalah seorang manusia, 100% manusia, tidak lebih. lalu apa yang membuat Maria yang melahirkan seorang bayi manusia dapat dikategorikan sebagai salah satu oknum KeIlahian???

Firman Allah:

“Dan  (ingatlah)  ketika Allah berfirman:  “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan  kepada  manusia: “Jadikanlah  aku dan ibuku  dua orang Tuhan selain Allah?”. ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan  hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka  tentulah Engkau  telah mengetahuinya.  Engkau  mengetahui apa yang ada pada dirku dan aku tidak mengetahui apa  yang  ada  pada  diri  Engkau.  Sesungguhnya Engkau  Maha Mengetahui  perkara  yang  ghaib-ghaib”  Aku tidak  pernah mengatakan kepada mereka  kecuali  apa  yang  Engkau  perintahkan kepadaku  (mengatakan)nya yaitu:  “Sembahlah Allah,  Tuhanku  dan  Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau  wafatkan (angkat) aku,  Engkau-lah yang  mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (QS. Al-Maa’idah : 116-117)

Sesungguhnya telah jelas bahwa segala argumen dan analogi apapun tidak akan sanggup membantah bahwa sesungguhnya Yesus Bukan Tuhan, Maria/Maryam hanyalah seorang perempuan suci yang tunduk pada kekuasaan Allah dan tidak berdaya apa-apa, dan Doktrin Tritunggal tersebut tidak punya landasan apapun selain percaya dan yakin secara buta, sehingga gampang tersesat dan gampang dijerumuskan! Tapi aneh dan lucunya, masih ada beberapa oknum Kristen yang mencoba memutar balikkan ayat-ayat Qur’an yang mereka interpretasikan secara serampangan seolah-olah adalah justifikasi bagi ke-Tuhanan Yesus dan pembenaran Doktrin Tritunggal! padahal sudah amat jelas diterangkan melalui firman Allah dalam Al-Qur’an,…perhatikanlah!

Firman Allah:

“Sesungguhnya  kafirlah orang  yang  mengatakan: “sesungguhnya  Allah  ialah Al Masih Putra Maryam”,padahal Al Masih sendiri berkata : “Hai bani Israil,  sembahlah Allah  Tuhanku” sesungguhnya  orang  yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pastilah Allah mengharamkan kepadanya  surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada  bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang  mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari  yang  tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa.  Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka  mengapa  mereka tidak  bertaubat  kepada  Allah  dan  memohon  ampun kepada-Nya?  Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih  putera  Maryam  itu hanyalah seorang  Rasul  yang  sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul……”(QS. Al-Maidah: 72-75)

Ayat-ayat diatas hanyalah sebahagian saja dari keseluruhan ayat Al-Qur’an yang jelas-jelas menolak segala bentuk penyekutuan terhadap Allah. Trinitas atau Tritunggalnya umat Kristen itu sebetulnya bukanlah sesuatu yang baru dan orisinil. jauh sebelum lahirnya Yesus, telah terdapat kepercayaan2 pagan kafir terhadap Trinitas yang telah menyebar kepelosok dunia dan bersinkretisasi dan berinteraksi. sebagai contoh: agama Mesir kuno sudah mengenal Trinitas Osiris, Isis, dan Horus. kemudian Fir’aun sendiri mengaku sebagai Tuhan,maka diutuslah Musa padanya. lalu apakah Musa menyuruh Firaun untuk kembali menyembah Osiris, Isis dan Horus? atau apakah Musa AS menyuruh Firaun untuk menyembah suatu bentuk Trinitas lainnya? TIDAK! Musa AS mengajak Fir’aun yang sesat itu untuk menyembah hanya kepada Allah. Allah yang Esa dan Tunggal.bukan Trinitas,dan bukan tiga dalam satu, satu dalam tiga. Kemudian Hindu juga memiliki Trimurti dengan Wisnu, Brahma dan Syiwa-Nya, orang Arab masa Jahiliyah juga memiliki Uzza, Manna dan Latta. Sesungguhnya amat jelas bahwa sejak masa Nabi Adam AS s/d Nabi Nuh AS s/d Nabi Ibrahim AS s/d Nabi Musa AS s/d Nabi Isa AS s/d Nabi Muhammad SAW, semuanya menyeru kepada Tauhid, mengimani keEsaan Allah, hanya menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan apapun. Tidak ada diantara mereka yang mengajarkan Tritunggal, Trinitas, tiga dalam satu atau satu dalam tiga, hanya TAUHID!TAUHID!dan TAUHID! Sehingga jelaslah bahwa Trinitas-nya umat Kristen tak lebih dari bentuk sinkretisasi  paganisme kafir yang sudah berakulturasi dengan kultur judaisme dan helenisme yang masih bertahan hingga kini. lalu dimanakah posisi Doktrin Trinitas dalam injil? satu-satunya ayat yang menyinggung tentang Doktrin Trinitas adalah I Yohanes 5:7 dimana terdapat tanda kurung (…) yang meliputi ayat tersebut. apakah arti tanda (…) tersebut, untuk itu saya akan kutipkan tanya jawab antara seorang penanya kristen dengan Romo Pid dalam bukunya umat bertanya Romo Pid menjawab vol.6 :

Pertanyaan umat Kristen :

1. Apakah yang dimaksud dengan tanda (…) / tanda kurung yang terdapat pada Alkitab?

Jawaban Romo Pid :

Ada ayat2 tertentu dalam Alkitab yang dimasukkan diantara tanda (…) karena ayat-ayat itu sangat problematik dan hampir pasti tidak asli. Contoh pertama, Matius 6:13b yang berbunyi “Karena engkaulah yang mempunyai kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya, Amin”. Kalimat ini diletakkan diantara tanda (…) karena tidak terdapat pada manuskrip-manuskrip Yunani yang paling kuno dan penting. Selain itu, dalam komentar doa Bapa kami oleh para Bapa Gereja, ayat itu tidak pernah disinggung. Karena kedua alasan ini para ahli menyimpulkan bahwa Matius 6:13b itu tidak asli, melainkan tambahan kemudian yang dibuat oleh para penyalin injil berdasarkan praktek pada waktu itu. Contoh kedua, I Yohanes 5:7 yang berbunyi: “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (didalam surga:Bapa,Firman,dan Roh Kudus:dan ketiganya adalah satu.dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu” karena alasan2 yang sama dengan Mat 6:13b, kata-kata yang ada diantara tanda (…) pada I Yohanes 5:7 pun juga hampir pasti tidak asli.

=====================================

Saudara-saudara, ini adalah bukti nyata bahwa ternyata didalam Injil terdapat penambahan2 dan penyisipan kata yang telah diakui sendiri oleh para ahli dan sarjana Injil. Itupun kalau terlacak, tidak ada jaminan bahwa tidak ada lagi kalimat palsu dalam Injil selain yang sudah disinyalir tersebut. Kemudian mengenai I Yohanes 5:7, penting dicatat bahwa ayat dalam kurung tersebut adalah referensi Doktrin Trinitas, bila ayat tersebut memang tidak asli, lalu bagaimana nasib doktrin tersebut dalam Injil? jelas tak berdasar! maka, bagian pertama dari tulisan ini akan saya tutup dengan ayat dari Kitab Suci Al-Qur’an.

Firman Allah :

“Hai  Ahli  Kitab  marilah  kepada  suatu  kalimat   (ketetapan)   yang  tidak  ada  perselisihan  antara  kami  dan  kamu,  bahwa  tidak  kita  sembah kecuali  Allah  dan  tidak  kita  persekutukan  Dia   dengan   sesuatu pun  dan tidak  (pula)  sebagian  kita  menjadikan  sebagian  yang  lain  sebagai Tuhan selain  daripada  Allah,  jika  mereka  berpaling,  maka katakanlah   kepada mereka :  Saksikanlah,  bahwa  kami  adalah  orang-orang   yang menyerahkan diri kepada (kepada Allah)” (QS. Ali Imran 64)

Lalu bagaimana pendapat anda ? apakah masih percaya secara membabi buta dan emosi terhadap tritunggal ?

 


Penyaliban Fakta atau Fiksi [Video]?

November 18, 2009

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5


Apakah Alkitab Firman Tuhan [Video]?

November 18, 2009

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5

Bagian 6


Apakah Yesus Tuhan [Video]?

November 18, 2009

Debat Syehk Ahmad Deedat dengan Dr. Anis Shoroh mengenai Ketuhanan Yesus.

Bagian 1



Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5

Bagian 6


Haruskah Anda Percaya Tritunggal ?

November 14, 2009

Tritunggal

Tritunggal

Saksi Jehovah sebagai salah satu sekte Kristiani Unitarian menjelaskan akidah mereka: Menentang Trinitas yang dipercaya oleh Kristen mainstream.

Kebanyakan orang dalam usunan Kristen percaya. Bagaimanapun juga, selama berabad-abad itu merupakan doktrin utama dari gereja-gereja.

Mengingat hal ini, anda tentu berpikir bahwa tidak mungkin ada yang perlu diragukan mengenai Tritunggal. Namun ada, dan belakangan bahkan beberapa dari para pendukungnya telah menambah seru perdebatannya.

Mengapa pokok pembicaraan seperti ini harus mendapat lebih banyak perhatian? Karena Yesus sendiri berkata: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Jadi seluruh masa depan kita bergantung pada mengenal sifat yang sebenarnya dari Allah, dan hal itu berarti memeriksa sampai ke akar dari perdebatan mengenai Tritunggal. Maka, tidakkah sebaiknya anda mengujinya sendiri? Yohanes 17:3.

Ada berbagai konsep Tritunggal. Tetapi pada umumnya ajaran Tritunggal adalah bahwa didalam Keilahian ada tiga pribadi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus; namun, bersama-sama, mereka hanya satu Allah. Doktrin itu mengatakan bahwa ketiganya setara, mahakuasa, dan tidak diciptakan, telah ada kekal selama-lamanya dalam Keilahian.

Namun, orang-orang lain berkata bahwa doktrin Tritunggal itu palsu, bahwa Allah Yang Mahakuasa berdiri sendiri sebagai Pribadi yang terpisah, kekal, dan mahakuasa. Mereka mengatakan bahwa Yesus dalam keberadaannya sebelum menjadi manusia, adalah sama seperti para malaikat, pribadi roh yang terpisah yang diciptakan oleh Allah, dan untuk alasan ini ia pasti mempunyai permulaan. Mereka mengajarkan bahwa Yesus tidak pernah setara dengan Allah Yang Mahakuasa  dalam arti apapun; ia selalu tunduk kepada Allah dan masih tetap demikian. Mereka juga percaya bahwa roh kudus bukan pribadi tetapi roh dari Allah, tenaga aktif-Nya.

Para pendukung Tritunggal mengatakan bahwa ini didasarkan, tidak hanya pada tradisi agama tetapi juga pada Alkitab. Para pengritik doktrin tersebut mengatakan bahwa itu bukan ajaran Alkitab, sebuah sumber sejarah bahkan berkata: “Asal usul [Tritunggal] sama sekali kafir.”-The Paganism in Our Christianity.

Jika Tritunggal benar, akan merendahkan Yesus jika dikatakan bahwa ia tidak pernah setara dengan Allah sebagai bagian dari suatu Keilahian. Namun jika Tritunggal salah, akan merendahkan Allah Yang Mahakuasa, jika ada pribadi lain yang dikatakan setara dengan Dia, dan bahkan lebih buruk lagi untuk menyebut Maria sebagai “Bunda Allah.” Jika Tritunggal salah, sungguh tidak menghormati Allah untuk mengatakan, seperti ditulis dalam buku Catholicism: “Jika [orang] tidak menjaga Kepercayaan ini utuh dan tidak tercela, [mereka] pasti akan lenyap untuk selamanya. Dan Kepercayaan Katolik adalah: kita menyembah satu Allah dalam Tritunggal.”

Jadi, ada alasan-alasan yang baik mengapa anda seharusnya ingin mengetahui kebenaran mengenai Tritunggal. Tetapi sebelum memeriksa asal usulnya dan pengakuannya sebagai kebenaran, ada gunanya jika doktrin ini didefinisikan lebih terinci. Tepatnya, apa sebenarnya Tritunggal itu? Bagaimana para pendukungnya menjelaskan ajaran itu?

A. BAGAIMANA TRITUNGGAL DIJELASKAN?

GEREJA Katolik Roma berkata: “Tritunggal adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan doktrin utama agama Kristen… Jadi, dalam kata-kata Kredo Athanasia: ’sang Bapa adalah Allah, sang Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, namun tidak ada tiga Allah melainkan satu  Allah.’ Dalam Tritunggal ini… Pribadi-Pribadinya sama kekal dan setara: semuanya tidak diciptakan dan mahakuasa.”-The Catholic Encyclopedia.

Hampir semua gereja lain dalam Susunan Kristen menyetujuinya. Misalnya, Gereja Ortodoks Yunani juga menyebut Tritunggal “doktrin dasar dari Kekristenan,” bahkan mengatakan: “Orang Kristen adalah orang-orang yang menerima Kristus sebagai Allah.” Dalam buku Our Orthodox Christian Faith, gereja yang sama berkata: “Allah adalah suatu kesatuan tiga serangkai… Sang Bapa adalah Allah sepenuhnya. Sang Anak adalah Allah sepenuhnya. Roh Kudus adalah Allah sepenuhnya.”

Jadi, Tritunggal dianggap sebagai “satu Allah dalam tiga Pribadi.” Masing-masing dikatakan tidak mempunyai permulaan, ada dari kekal sampai kekal. Masing-masing dikatakan mahakuasa, dan masing-masing tidak lebih besar atau lebih kecil daripada yang lainnya.

Apakah gagasan demikian sukar dimengerti? Banyak orang beriman yang tulus merasa hal itu membingungkan, bertentangan dengan akal sehat, benar-benar sulit dipahami.

Bagaimana mungkin, sang Bapa adalah Allah, Yesus adalah Allah, dan roh kudus adalah Allah, namun tidak ada tiga Allah melainkan hanya satu Allah?

“Di Luar Jangkauan Akal Manusia”
KEBINGUNGAN ini tersebar luas. The Encyclopedia Americana mengatakan bahwa Tritunggal dianggap “di luar jangkauan akal manusia.” Banyak orang yang menerima Tritunggal menganggapnya demikian. Monsignor Eugene Clark berkata: “Allah itu satu, dan Allah itu tiga. Karena tidak ada ciptaan yang seperti ini, kita tidak dapat mengertinya, tetapi menerimanya saja.”

Kardinal John O’Connor berkata: “Kami tahu ini suatu misteri yang sangat dalam, yang sama sekali tidak kita mengerti.”
Dan Paus Yohanes Paulus II berkata mengenai “misteri yang tidak dapat dimengerti tentang Allah Tritunggal.” Jadi, A Dictionary of Religious Knowledge berkata: “Tepatnya apa doktrin itu, atau bagaimana hal itu harus dijelaskan, para penganut Tritunggal pun tidak mencapai kata sepakat di antara mereka sendiri.”

Maka, kita dapat mengerti mengapa New Catholic Encyclopedia berkata: “Hanya sedikit diantara guru-guru teologi Tritunggal di seminari-seminari Katolik Roma yang pada suatu waktu tidak dipojokkan oleh pertanyaan, ‘Tetapi bagaimana kita akan berkhotbah tentang Tritunggal?’ Dan jika pertanyaan itu merupakan gejala kebingungan di pihak para siswa, kemungkinan hal itu juga merupakan gejala kebingungan yang serupa di pihak guru-guru mereka.”

Kebenaran dari pernyataan di atas dapat dibuktikan dengan mengunjungi suatu perpustakaan dan memeriksa buku-buku yang mendukung Tritunggal. Tak terhitung banyaknya halaman yang ditulis dalam upaya untuk menjelaskannya. Namun, setelah bersusah payah memeriksa istilah-istilah teologi yang membingungkan dan penjelasannya, para peneliti masih tetap tidak puas.

Mengenai ini, imam Yesuit Joseph Bracken mengatakan dalam bukunya What Are They Saying About the Trinity?: “Para imam yang dengan cukup banyak upaya telah mempelajari… Tritunggal selama tahun-tahun mereka di seminari tentu saja ragu-ragu untuk menyampaikannya kepada jemaah mereka dari mimbar, bahkan pada hari Minggu.

Tritunggal… Untuk apa seseorang akan membuat umatnya bosan dengan sesuatu yang pada akhirnya pun tidak akan mereka mengerti dengan benar?” Ia juga berkata: “Tritunggal adalah soal kepercayaan formal, namun hal itu hanya sedikit atau tidak [berpengaruh] dalam kehidupan dan ibadat Kristen  sehari-hari.” Meskipun demikian, ini adalah “doktrin utama” dari gereja-gereja!

Teolog Katolik Hans Kung menyatakan dalam bukunya Christianity and the World Religions bahwa Tritunggal merupakan satu alasan mengapa gereja-gereja tidak berhasil membuat kemajuan yang berarti di kalangan orang bukan Kristen. Ia berkata: “Bahkan orang Muslim yang terpelajar, sama sekali tidak dapat mengerti, sebagaimana juga orang-orang Yahudi sebegitu jauh tidak dapat memahami, gagasan mengenai Tritunggal… Perbedaan yang dibuat oleh doktrin Tritunggal antara satu Allah dan tiga hypostase [zat] tidak memuaskan orang Muslim, yang bukannya merasa mendapat penjelasan, tetapi justru merasa bingung, oleh istilah-istilah teologi yang berasal dari bahasa Syria, Yunani, dan Latin.

Orang-orang Muslim menganggap ini semua permainan kata… Mengapa seseorang ingin menambahkan sesuatu kepada gagasan mengenai keesaan dan keunikan Allah yang hanya dapat mengencerkan atau meniadakan keesaan dan keunikan itu?”

“Bukan Allah yang Suka Pada Kekacauan”
BAGAIMANA doktrin yang begitu membingungkan seperti Tritunggal muncul? The Catholic Encyclopedia menyatakan: “Sebelum adanya penyingkapan Ilahi, diperlukan sebuah dogma yang misterius seperti itu.” Sarjana Katolik Karl Rahner dan Herbert Vorgrimler menyatakan dalam Theological Dictionary mereka: “Tritunggal… dalam arti yang sesungguhnya…, adalah suatu misteri yang tidak dapat dipahami tanpa wahyu ilahi, dan bahkan setelah disingkapkan tidak dapat dimengerti sepenuhnya.”

Tetapi, dengan berkukuh bahwa Tritunggal adalah misteri yang begitu membingungkan karena berasal dari wahyu ilahi, mereka menciptakan problem besar lain.

Mengapa? Karena dalam wahyu ilahi itu sendiri tidak ada pandangan demikian mengenai Allah: “Allah… bukan Allah yang suka pada kekacauan.”-1 Korintus 14:33, Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS).

Mengingat pernyataan itu, mungkinkah Allah akan mencetuskan doktrin mengenai diri-Nya sendiri yang begitu membingungkan sehingga bahkan para sarjana Ibrani,  Yunani, dan Latin tidak dapat menjelaskannya?
Selain itu, apakah orang-orang harus menjadi teolog untuk dapat ‘mengenal satu-satunya Allah yang benar dan Yesus Kristus yang telah Ia utus?’ (Yohanes 17:3)

Jika demikian halnya, mengapa begitu sedikit dari para pemimpin agama Yahudi yang terpelajar mengakui Yesus sebagai Mesias? Sebaliknya, murid-muridnya yang setia, adalah petani-petani, nelayan, pemungut cukai, ibu-ibu rumah tangga yang sederhana. Orang-orang sederhana tersebut begitu yakin dengan apa yang Yesus ajarkan tentang Allah sehingga mereka dapat mengajarkannya kepada orang lain dan bahkan rela mati demi kepercayaan mereka-Matius 15:1-9; 21: 23-32, 43; 23:13-36; Yohanes 7:45-49; Kisah 4:13.

Bersambung ke Bag.2

Sumber: Membongkar Kedok Kristologi on Facebook


Kisah Nabi Muhammad Bakal Difilmkan

November 12, 2009

Kisah perjalanan Nabi Muhammad dalam menegakkan agama Islam segera dituangkan dalam film layar lebar. Adalah Almoor Hodings, perusahaan media yang berbasis di Qatar, mendanai film yang akan diproduseri Barrie Osborne, yang pernah menggarap The Lord of the Rings dan The Matrix.

Rencana proyek senilai 150 juta dolar AS (Rp 1,4 triliun) ini diumumkan di Qatar, Minggu (1/11). Selain Osborne, acara ini dihadiri Dr Yousuf Al Qardawi, pengamat sejarah Islam terkemuka di Doha dan Ahmed Al Hashemi, Direktur Alnoor Holdings.

“Saya terinsiprasi dengan kesempatan yang diberikan untuk mengangkat kisah sejarah dan perjuangan sosok yang sangat diagungkan di dunia,” terang Osborne.

Qardawi sendiri yang akan memimpin penelitian perjalanan sejarah Nabi Muhammad. Ia sekaligus menjadi konsultan dalam film itu. Dana film ini berasal dari investor pribadi dan Alnoor Fund, yang dimiliki Alnoor Holdings. Rencananya film ini dibuat dalam versi Bahasa Inggris agar bisa dinikmati banyak kalangan.

Alnoor Holdings akan melibatkan tim produksi dan aktor internasional untuk film ini. Pengambilan gambar dilakukan mulai 2011 mendatang.

Al Hashemi menekankan pentingnya pembuatan film itu untuk seluruh dunia. “Ada lebih dari 1,5 miliar warga Muslim di dunia dan Islam merupakan agama dengan perkembangan terpesat. Kisah Nabi Muhammad memiliki hubungan besar bagi penduduk Muslim maupun non Muslim,” terangnya. pen/tel/tis

Sumber:

DOHA, KOMPAS.com


Berhentilah Merokok!

October 22, 2009

Kandungan Rokok

Kandungan Rokok

Apakah anda termasuk penggemar rokok? Baiklah, sebelum anda merogoh saku anda dan mengambil uang untuk membeli rokok marilah kita berbicara barang sejenak dengan akal yang jernih dan pikiran yang tenang mengenai hal ini. Jangan sampai anda melakukan sesuatu yang justru membahayakan diri anda dan juga orang-orang di sekitar anda.

Berbicara soal rokok, ada beberapa hal yang perlu kita pikirkan:

Pertama: Merokok itu tidak penting

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah satu tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak penting baginya.” (HR. Tirmidzi [2239] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi [2317] as-Syamilah). Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Kesimpulan tersirat dari hadits ini adalah orang yang tidak meninggalkan perkara yang tidak penting baginya adalah orang yang jelek keislamannya.” (ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 116).

Diriwayatkan dari Hasan al-Bashri rahimahullah, beliau mengatakan, “Salah satu tanda Allah telah berpaling meninggalkan seorang hamba adalah ketika Allah menjadikan dia sibuk dalam hal-hal yang tidak penting baginya.” (ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 115).

Menjaga kesehatan merupakan perkara penting bagi setiap muslim. Orang yang dengan sengaja merusak kesehatannya telah melakukan sesuatu yang tidak penting dan bahkan menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Padahal, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (Qs. al-Baqarah: 195)

Di sisi lain, orang yang merusak kesehatannya sendiri, maka dia telah menyia-nyiakan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah nikmat yang banyak manusia rugi karena tidak bisa menggunakannya yaitu; kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari [6412] dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma). Hadits ini menunjukkan bahwa kesehatan merupakan nikmat dari Allah, oleh sebab itu kita harus mensyukuri nikmat tersebut.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” (Qs. al-Baqarah: 152). Syukur adalah mengakui dengan hati kita bahwa nikmat tersebut berasal dari Allah, memuji Allah dengan lisan, kemudian menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan, bukan untuk kemaksiatan. Apakah merokok termasuk maksiat, nanti akan kita bicarakan! Yang jelas semua orang -yang masih sehat akalnya- bahkan para dokter dan pemerintah sekalipun mengakui bahwa merokok merugikan kesehatan.

Kedua: Merokok menyia-nyiakan harta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah membenci untuk kalian; menyebarkan berita yang tidak jelas, terlalu banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Muslim [3236] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, as-Syamilah). Yang dimaksud menyia-nyiakan harta adalah menggunakan harta untuk keperluan yang tidak dibenarkan oleh syari’at, demikian keterangan an-Nawawi rahimahullah (Syarh Muslim [6/144] as-Syamilah).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan tabdzir itu adalah saudara-saudara syaitan, sedangkan syaitan adalah makhluk yang senantiasa kufur kepada Rabbnya.” (Qs. al-Israa’ : 27). Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Tabdzir adalah membelanjakan harta bukan dalam perkara yang haq.” Ibnu Abbas juga mengatakan demikian. Qatadah mengatakan, “Tabdzir adalah membelanjakan harta untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala, untuk keperluan yang tidak benar atau untuk mendatangkan kerusakan.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/53)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa orang yang membelanjakan hartanya untuk keperluan yang sia-sia, menimbulkan kerusakan, atau dalam rangka bermaksiat pada hakikatnya sedang menjalin ukhuwah syaithaniyah. Padahal kita semua tahu bahwa syaitan adalah musuh kita, lalu bagaimana mungkin kita menjadikannya sebagai saudara? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syaitan adalah musuh kalian maka jadikanlah dia sebagai musuh. Sesungguhnya dia hanya mengajak kaum pengikutnya agar mereka menjadi penghuni-penghuni neraka.” (Qs. Fathir: 6)

Belum lagi kalau kita perhatikan di antara sekian banyak kasus kebakaran ternyata sumbernya adalah puntung rokok dari ’saudara syaitan’ yang tidak bertanggung jawab! Sungguh bijak para pengelola POM bensin, pemilik Rumah Sakit, dan takmir masjid yang dengan terus terang mengatakan kepada para pengunjung bahwa merokok itu dilarang, dan tidak ada seorang pegunjung pun yang memprotes mereka! Karena mereka sama-sama sepakat bahwa api rokok adalah sumber kebinasaan!

Ketiga: Bau menjijikkan dan asap yang mengganggu kesehatan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim yang baik adalah orang yang membuat kaum muslimin yang lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Sedangkan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan larangan Allah.” (HR. Bukhari [10] dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai bagi saudaranya (atau beliau mengatakan; tetangganya) sebagaimana yang dicintainya bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari [13] dan Muslim [45] dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu). Di dalam riwayat Nasa’i dengan tambahan keterangan yaitu, “[berupa] kebaikan.” (HR. Nasa’i [4931] as-Syamilah)

Menjelang wafatnya, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu berkhutbah di hadapan para sahabat, di antara isi ceramahnya, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian biasa memakan dua jenis tanaman yang tidak sedap baunya yaitu bawang merah dan bawang putih. Sungguh dahulu aku melihat apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati bau kedua tanaman itu pada [mulut] salah seorang yang ada di masjid maka beliau menyuruhnya untuk keluar ke Baqi’. Maka barangsiapa di antara kalian yang ingin memakannya hendaklah dia memasaknya terlebih dulu (agar berkurang baunya, pent).” (HR. Muslim [567] dari Ma’dan bin Abi Thalhah).

an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Sayuran ini -yaitu bawang dan semacamnya- adalah halal berdasarkan ijma’ para ulama yang diakui pendapatnya.” (Syarh Muslim [3/366]). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memakan jenis tanaman yang menjijikkan ini maka janganlah dia mendekati kami di masjid.” Setelah mendengar ucapan itu para sahabat mengatakan, “Makanan itu diharamkan, iya diharamkan.” Kemudian sampailah ucapan mereka itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun bersabda, “Hai umat manusia, sesungguhnya aku tidak berhak mengharamkan apa yang Allah halalkan untukku, hanya saja aku tidak menyukai bau tanaman itu.” (HR. Muslim [565] dari Abu Sa’id).

Nah, lihatlah wahai saudaraku, kalau sesuatu yang halal saja -seperti bawang- dapat memunculkan rasa tidak suka pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam gara-gara baunya yang tidak sedap, lantas bagaimana lagi dengan sesuatu yang membahayakan -yaitu rokok- yang menimbulkan bau tak sedap di mulut orang yang menghisapnya dan mengganggu orang dengan asapnya yang membuat orang terbatuk-batuk dan ‘terpaksa’ menyerap racun (baca: nikotin) ke dalam tubuh mereka?

Keempat: Merokok terbukti membahayakan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -yang tidak berbicara menuruti kemauan hawa nafsunya- bersabda, “Tidak boleh mendatangkan bahaya secara tak sengaja maupun disengaja.” (HR. Ibnu Majah [2331] dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [250])

Syaikh Dr. Muhammad Shidqi mengatakan, “Hadits ini merupakan landasan hukum yang tegas mengenai pengharaman mendatangkan bahaya, sebab penafian di sini menggunakan ungkapan yang mencakup segala objek dan menunjukkan haramnya segala jenis bahaya yang dilarang oleh syari’at. Hal itu disebabkan perbuatan mendatangkan bahaya termasuk dalam kezaliman, kecuali tindakan tertentu yang terdapat dalil yang mengecualikannya seperti hukuman had (potong tangan, dsb) dan dijatuhkannya berbagai bentuk hukuman…” (al-Wajiz fi Idhahi Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyah, hal. 252)

Fatwa Ulama

Dengan melihat realita dan bukti-bukti medis yang ada maka Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah dalam fatwanya menegaskan haramnya mengkonsumsi rokok (lihat al-Adillah wa al-Barahin ‘ala Hurmat at-Tadkhin). Demikian juga al-Lajnah ad-Da’imah (Komite tetap urusan fatwa Kerajaan Arab Saudi) menyatakan haramnya hal itu dalam Fatwanya (Fatawa Lajnah [7/283] pertanyaan kedua dari fatwa no 3623, as-Syamilah). Kita tidak menafikan adanya sebagian ulama yang menyatakan kebolehannya [dan anda telah melihat bahwa dalil-dalil yang ada dan bukti medis berseberangan dengan pendapat mereka], meskipun demikian mereka juga mengatakan bahwa meninggalkan rokok itulah yang lebih baik! (lihat Mathalib Uli an-Nuha fi Syarhi Ghayat al-Muntaha [18/212] as-Syamilah). Dan perlu diketahui bahwa mereka menyatakan bolehnya hal itu dengan alasan; [1] hukum asal segala sesuatu adalah halal, dan [2] tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa merokok dapat merusak kesehatan tubuh, sementara pada jaman sekarang bukti itu telah tampak bagi setiap orang!! Dan kita pun telah paham berdasarkan dalil yang ada bahwa segala sesuatu yang membahayakan adalah dilarang dalam agama. Bahkan, hal itu merupakan kaidah yang populer di kalangan para ulama.

Berpikirlah!

Saudaraku, sekarang tanyakanlah kepada dirimu sendiri, apakah rokok itu berbahaya bagi kesehatan? Jawabnya sudah sangat mutawatir bukan? Para produsen rokok pun mengakuinya. Merokok dapat merugikan kesehatan, menyebabkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan, dan janin. Itulah peringatan pemerintah kita, semoga kita mengindahkan peringatan ini dengan sebaik-baiknya. Kalau bukan karena rasa sayang pemerintah kepada rakyatnya tentu mereka tidak akan mengharuskan pabrik rokok untuk mencantumkan peringatan ini di dalam iklan-iklan dan bungkus rokok tersebut. Aduhai, alangkah indahnya negeri ini jika rakyatnya mau menaati pemerintahnya dalam hal ketaatan!

Ucapkanlah selamat tinggal untuk rokok, sekarang dan untuk selama-lamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (Disebutkan oleh as-Sakhawi dalam al-Maqashid al-Hasanah [1/214], as-Suyuthi dalam ad-Durrar al-Muntatsirah fi al-Ahadits al-Musytahirah [1/19] as-Syamilah, Syaikh al-Albani mengatakan, “Hadits ini merupakan bagian dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan sanadnya sahih”, Hijab al-Mar’ah wa Libasuha fi ash-Shalah, hal. 47. al-Maktab al-Islami, islamspirit.com)

[Tulisan ini disusun dengan inspirasi dari: al-Adillah wa al-Barahin ‘ala Hurmat at-Tadkhin karya Syaikh Ibrahim Muhammad Sarsiq. Penulis: Ari Wahyudi]

Sumber : Disini


Pendapat Para Ilmuwan Non-Muslim Tentang Bible & Al-Qur’an

October 15, 2009

Pendapat Toko-tokoh Non Muslim terhadap Kitab Bibel

Bible

Bible

1. Dr. Mr. D. N. Mulder dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Lama”, tahun 1963, page 12 dan 13, berkata sebagai berikut: “Buku ini dikarang pada waktu-waktu tertentu, dan pengarang-pengarangnya memang manusia juga, yang terpengaruh oleh keadaan waktunya dan oleh suasana di sekitarnya dan oleh pembawaan pengarang itu sendiri. Naskah-naskah asli dari Kitab Suci itu sudah tidak ada Iagi. Yang ada pada kita hanya turunan atau salinan. Dan salinan itu bukannya salinan langsung dari naskah asli, melainkan dari salinan dan seterusnya. Sering di dalam menyalin Kitab Suci itu terseliplah salah salin.”

2. Drs. M. E. Duyverman dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru”, tahun 1966, page 24 dan 25, berkata sebagai berikut: “Ada kalanya penyalin tersentuh pada kesalahan dalam naskah asli yang dipergunakannya, lalu kesalahan itu diperbaikinya, padahal perbaikan itu sering mengakibatkan perbedaan yang lebih besar dengan yang sungguh asli. Dan kira-kira pada abad keempat, di Antiochia diadakan penyelidikan dan penyesuaian salinan-salinan; agaknya terdorong oleh perbedaan yang sudah terlalu besar diantara salinan-salinan yang dipergunakan dengan resmi dalam Gereja.”

3. Dr. B. J. Boland dalam bukunya “Het Johannes Evangelie”, p. 9, berkata sebagai berikut: “Zijn ons de waarheden van het Evangelie van Jesus Christus in haar corspron-kelijken onvervalschen, zul veren vorm overgeleverd of zijn de door het intermediair van den Griek schen Geest, van de Griek sche reid, het laat stea an te nemen…dat de letter der Nieuw-Testament-ische boeken in de eerste eeuwen anzer jaartelling gewichtig wijzungen moet hebben ondergaan.”

Artinya: Apakah kebenaran-kebenaran dari Injil Jesus Kristus diserahkan kepada kita dalam bentuk murninya, asli dan tidak dipalsukan, ataukah telah dirubah melalui alam fikiran kebudayaan Gerika? Umumnya yang terakhirlah yang diterima oleh orang jaman kini… bahwa tulisan-tulisan Kitab Perjanjian Baru pada dua abad pertama perhitungan tahun kita, pasti telah mengalami perubahan besar.

4. Dr. A. Powel Daviesdalam bukunya “The meaning of the Dead Sea Scrolls The New American Library” tahun 1961 , p. 106, berkata: “The first three, or Synoptic Gospels tell much the same story. There are discrepancies; but it is impossible to a considerable extent to reconcile them. John’s Gospel, however, tells quit a different story from the other three. If John is right, then the other three are wrong; If the Synoptic are right, the John’s gospel must surely be in error.”

Artinya: Tiga Injil pertama, yaitu Injil Synoptik, membawakan cerita yang sama. Terdapat pertentangan-pertentangan di dalamnya, sehingga tidaklah mungkin sedemikian jauh untuk mendamaikan ayat-ayat ini. Namun Injil Johannes, menceritakan cerita-cerita yang amat berbeda dari ketiga Injil pertama itu. Bila Injil Johannes yang betul, maka ketiga Injil yang lain itu salah; bila ketiga Injil itu betul, maka Injil Johannes pasti salah.

5. Dr. G. C. Vari Niftrik dan Dr. B. J. Bolanddalam bukunya “Dogmatika Masakini”, cetakan ketiga; tahun 1978, p. 322, berkata sebagai berikut: “Kita tidak usah merasa malu bahwa terdapat pelbagai kekhilafan di dalam Al-Kitab; kekhilafan tentang angka-angka, perhitungan-perhitungan tahun dan fakta-fakta. Dan tak perlu kita pertanggungjawabkan kekhilafan-kekhilafan itu berdasarkan caranya isi Al-Kitab telah disampaikan kepada kita, sehingga dapat kita berkata: dalam naskah asli tentulah tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan-kekhilafan itu barulah kemudiannya terjadi di dalam turunan-turunan (salinan-salinan-pen) naskah itu.”

6. Herman Bakels (1871-1954) dalam bukunya “Nij Ketters? Ya.. Om deere Gods”, p. 119-120, lewat buku “Dialog antara Ahmadiyah dengan saksi-saksi Yehowa”, p. 83 dan 88 berkata sebagai berikut: “De andere ses Bijbels (Weda, Awesta, de boeken over Boedha, Tao-teking, Confusius boeken, Kor’an) ken ik niet genoeg…Van onzen Bijbel weet ik dit zeker. Ik heb hem dertig jaar lang van voren tot achteren doorploeterd. En ik zeg rondement; ik kan in Europa geen boek dat meer stikvol dingen-die-niet-waar-zijn zit dan de Bijbel.”

Artinya: Adapun enam buah kitab (Weda, Awesta, Kitab-kitab tentang Budha, Tao-teking, Kitab-kitab Confusius, Al-Qur’an) tidak begitu saya kenal. Akan tetapi Bijbel kita ini, pasti saya ketahui. Sudah 30 tahun lamanya saya mengincah Bijbel kita ini dari awal sampai akhir. Oleh karena itu terus terang saya katakan, bahwa di Eropa, saya belum kenal sebuah kitab yang lebih padat dengan hal-hal yang tidak benar dari pada Bijbel.

Dia juga berkata:
“Bijna alle koeken zijn er misleidend, nipseudepigra fisch. D.W.Z. niet geschreven door de auteurs op wier namen zestaan, maar wel later geschreven.”

Artinya: Hampir semua kitab-kitab dalam bibel itu menyesatkan, yakni memakai nama. palsu, yaitu tidak ditulis oleh pengarang-pengarang yang tercantum nama mereka di atasnya, melainkan ditulis jauh di belakang mereka.

7. Surat kabar di Ghana, yaitu Harian Times, 24 Juni 1964 yang dimuat oleh harian Mercusuar Yk. tertanggal 31-8-1968; Mr. RT. Payet, di dalam parlemen inggris tahun 1964 mengusulkan kepada Pemerintah Inggris dalam hal ini The British Home Secretary agar Injil dilarang beredar. Salah satu di antara sebabnya seperti yang ia katakan sebagai berikut: “I know of no book in history which could compare with the Bible as a source of brutality and sadistic conduct.

Artinya: Tidak ada di dalam sejarah satu buku yang merupakan sumber dari perbuatan-perbuatan yang brutal dan sadis selain Injil ini. (I. Sudibya Markus dalam buku “Dialog Islam-Nasrani dan Usul Pelanggaran Injil di Inggris”, terbitan Potrosari Ler. 28 Mgl.).

8. Prof. Herbert J. Muller dalam buku “The Uses of the Past, p. 168 lewat bukunya O. Hashem, “Marxiesme dan Agama”, tahun 1965, Japi Surabaya, p. 45, berkata: “Scholars regard this text ( I Johannes 5:7) as a later interpolation however, since it does not appear in the best manuscripts.”

Artinya:
Para sarjana menganggap bahwa naskah ini ( I Johannes 5:7) adalah suatu sisipan/tambahan kemudian, karena ayat seperti ini tidak diketemukan pada manuskrip-manuskrip terbaik.

9. Kata Herman Bakel dan Dr. A. Powel Davies, “Injil Matius 28:19 dan Injil Markus 16:9-19 adalah sisipan. Bacalah bukunya.” (Hashem, “Jawaban Lengkap Kepada Pendeta Dr. J. Verkuyl,” terbitan JAPI, Surabaya, tahun 1969, halaman 94).

10. George Bernard Shaw, pemikir dan dramawan besar Inggris, sewaktu membaca Kitab Suci Injil dengan teliti mengatakan bahwa kitab tersebut adalah “Kitab yang paling berbahaya di bumi. Jaga kitab tersebut dalam keadaan ter-kunci: larang anak-anak Anda membacanya.”

11. Majalah The Plain Truth, sebuah terbitan “World Church of Tomorrow,” dalam salah satu artikelnya mengatakan, “Banyak badan sensor akan memberi Injil rating X.”

Pendapat Toko-tokoh Non Muslim terhadap Al-Quran

Al-Qur'an

Al-Qur'an

1. Harry Gaylord Dormandalam buku “Towards Understanding lslam”, New York, 1948, p.3, berkata: “Kitab Qur’an ini adalah benar-benar sabda Tuhan yang didiktekan oleh Jibril, sempurna setiap hurufnya, dan merupakan suatu mukjizat yang tetap aktual hingga kini, untuk membuktikan kebenarannya dan kebenaran Muhammad.”

2. Prof. H. A. R. Gibb dalam buku “Mohammadanism”, London, 1953, p. 33, berkata sebagai berikut: “Nah, jika memang Qur’an itu hasil karyanya sendiri, maka orang lain dapat menandinginya. Cobalah mereka mengarang sebuah ungkapan seperti itu. Kalau sampai mereka tidak sanggup dan boleh dikatakan mereka pasti tidak mampu, maka sewajarnyalah mereka menerima Qur’an sebagai bukti yang kuat tentang mukjizat.”

3. Sir William Muir dalam buku “The Life of Mohamet”, London, 1907; p. VII berkata sebagai berikut: “Qur’an adalah karya dasar Agama Islam. Kekuasaannya mutlak dalam segala hal, etika dan ilmu pengetahuan…”

4. DR. John William Draper dalam buku “A History of the intelectual Development in Europe”, London, 1875, jilid 1 , p. 343-344, berkata: “Qur’an mengandung sugesti-sugesti dan proses moral yang cemerlang yang sangat berlimpah-limpah; susunannya demikian fragmenter, sehingga kita tidak dapat membuka satu lembaran tanpa menemukan ungkapan-ungkapan yang harus diterima olehsekalian orang. Susunan fragmenter ini, mengemukakan teks-teks, moto dan peraturan- peraturan yang sempurna sendirinya, sesuai bagi setiap orang untuk setiap peristiwa dalam hidup.”

5. DR. J. Shiddily dalam buku “The Lord Jesus in the Qur’an”, p. 111 , berkata: “Qur’an adalah Bible kaum Muslimin dan lebih dimuliakan dari kitab suci yang manapun, lebih dari kitab Perjanjian Lama dan kitab perjanjian Baru.”

6. Laura Vaccia Vaglieri dalam buku “Apologie de I’Islamism, p. 57 berkata: “Dalam keseluruhannya kita dapati dalam kitab ini, suatu koleksi tentang kebijaksanaan yang dapat diperoleh oleh orang-orang yang paling cerdas, filosof-filosof yang terbesar dan ahli-ahli politik yang paling cakap… Tetapi ada bukti lain tentang sifat Ilahi dalam Qur’an, adalah suatu kenyataan bahwa Qur’an itu tetap utuh melintasi masa-masa sejak turunnya wahyu itu hingga pada masa kini…Kitab ini dibaca berulang-ulang oleh orang yang beriman dengan tiada jemu-jemunya. Keistimewaannya pula, Qur’an senantiasa dipelajari/dibaca oleh anak-anak sejak sekolah tingkat dasar hingga tingkat Profesor. “

“Sebaliknya malah karena diulang- ulang ia makin dicintai sehari demi sehari. Qur’an membangkitkan timbulnya perasaan penghormatan dan respek yang mendalam, pada diri orang yang membaca dan mendengarkannya…. Oleh karena itu bukan dengan jalan paksaan atau dengan senjata, tidak pula dengan tekanan mubaligh-mubaligh yang menyebabkan penyiaran Isiam besar dan cepat, tetapi oleh kenyataan bahwa kitab ini, yang diperkenalkan kaum Muslimin kepada orang-orang yang ditaklukkan dengan kebebasan untuk menerima atau menolaknya adalah kitab Tuhan. Kata yang benar, mukjizat terbesar yang dapat diperlihatkan Muhammad kepada orang yang ragu dan kepada orang yang tetap berkeras kepala.”

7. Prof. A. J. Amberry, dalam buku “De Kracht van den Islam”, hlm. 38, berkata: “Qur’an ditulis dengan gaya tak menentu dan tidak teratur, yang menunjukkan bahwa penulisnya di atas segala hukum-hukum pengarang manusia.”

8. G. Margoliouth dalam buku “Introduction to the Koran” (kata pendahuluan untuk buku J. M. H. Rodwell), London, 1918, berkata: “Diakui bahwa Our’an itu mempunyai kedudukan yang penting diantara kitab-kitab Agama di dunia. Walau kitab ini merupakan yang terakhir dari kitab-kitab yang termasuk dalam kesusasteraan ini, ia tidak kalah dari yang mana pun dalam effeknya yang mengagumkan, yang telah ditimbulkannya terhadap sejumlah besar manusia yang telah menciptakan suatu phase kemajuan manusia dan satu tipe karakter yang segar.”

9. George Sale dalam buku “Joseph Charles Mardrus-Premilinary Discourse”, berkata: “Di seluruh dunia diakui bahwa Qur’an tertulis dalam bahasa Arab dengan gaya yang paling tinggi, paling murni….diakui sebagai standard bahasa Arab… dan tak dapat ditiru oleh pena manusia… Oleh karena itu diakui sebagai mukjizat yang besar, lebih besar daripada membangkitkan orang mati, dan itu saja sudah cukup untuk meyakinkan dunia bahwa kitab itu berasal dari Tuhan.”

10. E. Denisen Ross dari “Introduction to the Koran-George Sale”, p. 5, berkata: “Qur’an memegang peranan yang lebih besar terhadap kaum Muslimin daripada peranan Bible dalam agama Kristen. Ia bukan saja merupakan sebuah kitab suci dari kepercayaan mereka, tetapi juga merupakan text book dari upacara agamanya dan prinsip-prinsip hukum kemasyarakatan…..Sungguh sebuah kitab seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa-masa ini, di mana ruang dan waktu hampir telah dipunahkan oleh penemuan-penemuan modern.”

11. James A. Michener dalam “Islam the Misunderstood Religion Readers Digest”, Mei 1955, berkata sebagai berikut: “Berita Qur’an inilah yang mengusir patung-patung dewa, dan memberikan ilham kepada manusia untuk merevolusikan hidup dan bangsa mereka…. Kombinasi antara persembahan kepada Satu Tuhan ditambah dengan perintah prakteknya yang membuat Qur’an menjadi khas. Bangsa yang beragama di Timur yakin bahwa negara mereka hanya akan diperintah dengan baik apabila hukum-hukumnya sejalan dengan Qur’an.

12. W.E. Hocking dalam “Spirit of World Politics New York 32″, p. 461 , berkata: “…saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa Qur’an berisi amat banyak prinsip-prinsip yang diperlukan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa hingga pertengahan abad ke-13, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.”

13. Napoleon Bonaparte
a. Dari “Stanislas Cuyard-Ency des Sciences Religioses”, Paris, 1880, jilid IX, p. 501 berkata sebagai berikut: ” Selama abad-abad pertengahan, sejarah Islam peradaban sepenuhnya. Berkat keuletan kaum Musliminlah maka ilmu pengetahuan dan falsafah Yunani tertolong dari kebinasaan, dan kemudian datang membangunkan dunia Barat serta membangkitkan gerakan intelektual sampai pada pembaruan Bacon. Dalam abad ke-7 dunia lama itu sedang dalam sakaratulmauit. Muharnmad memberi kepada mereka sebuah Qur’an yang rnerupakan titik tolak ke arah dunia baru.”

b. Dari buku “Bonaparte et I’Islarn oleh Cherlifs, Paris, p. 105, berkata sebagai berikut: “I hope the time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the prinsiples of the Qur’an wich alone can lead men to happiness.

Artinya:
Saya meramalkan bahwa tidak lama lagi akan dapat dipersatukan semua manusia yang berakal dan berpendidikan tinggi untuk memajukan satu kesatuan kekuasaan yang berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam, karena hanyalah Qur’an itu satu-satunya kebenaran yang mampu memimpin manusia kepada kebahagiaan.*

*) Sumber terutama dari M. Hashem, “Kekaguman Dunia terhadap Islam”, cetakan pertama, Bandung,

Sumber : Disini, Disini

Wassalam