Pembukuan Al Qur’an

December 25, 2008

al-quran3Di masa khalifah Utsman bin Affan ra, pemerintahan Islam telah sampai hingga ke Armenia dan Azerbaijan di sebelah timur dan Tripoli di sebelah barat. Maka dengan itu, kaum Muslimin telah tersebar ke seluruh wilayah Islam seperti ke Mesir, Syria, Irak, Persia dan Afrika. Kemana mereka pergi dan di mana mereka tinggal, Al-Quran tetap menjadi imam mereka, dan di antara mereka itu banyak yang hafal Al-Quran. Dan di antara mereka juga mempunyai naskah-naskah Al-Quran. Namun naskah-naskah yang mereka punyai itu tidak sama dari segi susunan surah-surahnya.

Di samping itu, di antara mereka itu terdapat perbedaan tentang bacaan (qiro’ah) Al Quran itu. Pada asalnya perbedaan bacaan ini ialah karena Rasulullah sendiri pun memberi kelonggaran kepada kabilah-kabilah Arab Islam yang berada di masanya untuk membaca dan melafazkan Al-Quran itu menurut lahjah (dialek) mereka masing-masing. Kelonggaran ini diberikan oleh Nabi Muhammad supaya mudah bagi mereka untuk menghafal Al-Quran itu.

Tetapi nampaklah tanda-tanda bahwa bila perbedaan tentang bacaan Al-Quran ini dibiarkan, akan mendatangkan perselisihan dan perpecahan yang tidak diinginkan dalam kalangan kaum Muslimin. Orang yang mula-mula memperhatikan hal ini ialah seorang sahabat yang bernama Huzaifah bin Yaman. Ketika beliau turut serta dalam pertempuran menaklukkan Armenia dan Azerbaijan. Dalam perjalanan, beliau pernah mendengar pertikaian kaum Muslimin tentang bacaan beberapa ayat Al-Quran, dan juga pernah mendengar perkataan seorang Muslim kepada temannya, yaitu “Bacaanku lebih baik dari bacaanmu”. Keadaan ini membuat Huzaifah gundah. Maka ketika beliau telah kembali ke Madinah, beliau menemui khalifah Utsman bin Affan ra dan beliau menceritakan apa yang dilihatnya mengenai pertikaian kaum Muslimin tentang bacaan Al-Quran itu.

Huzaifah berkata kepada Sayidina Utsman: “Susulilah umat Islam itu sebelum mereka berselisih tentang Al Kitab, sepertimana perselisihan Yahudi dan Nasara”.

Maka khalifah Usman r.a meminta kepada Hafshah binti Umar akan lembaran-lembaran Al-Quran yang telah dikumpulkan, yang ditulis di masa khalifah Abu Bakar ra, yang disimpan oleh Hafshah. Maka lembaran-lembaran tersebut diserahkan kepada khalifah Utsman ra oleh Hafshoh. Kemudian Khalifah Utsman membentuk satu panitia yang terdiri daripada Zaid bin Tsabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam. Panitia ini diberikan tugas untuk membukukan Al-Quran, yaitu menyalin dari lembaran-lembaran tersebut, seterusnya menjadi buku (dijilid). Dalam menjalankan tugas ini, khalifah Usman menasihatkan supaya:

1. Mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal Al-Quran.
2. Kalau ada pertikaian antara mereka tentang bahasa (bacaan, qiro’at), maka haruslah ditulis menurut dialek suku Quraisy, sebab Al-Quran itu diturunkan menurut dialek mereka.

Setelah tugas yang diamanahkan kepada panitia itu selesai, maka mushaf Al-Quran yang dipinjamkan daripada Hafshah itu dipulangkan semula kepada beliau. Al-Quran yang dibukukan itu dinamakan “Al-Mush-haf” dan seterusnya oleh panitia itu dituliskan lagi 5 buah Al Mush-haf. Empat buah di antaranya dikirimkan ke Mekah, Syria, Basrah dan Kuffah, agar di tempat-tempat tersebut disalin pula dari masing-masing mushaf itu. Sedangkan satu buah lagi ditinggalkan di Madinah, untuk Utsman sendiri, dan itulah yang dinamai dengan “Mush-haf Al-Imam”.

Setelah itu, khalifah Utsman memerintahkan semua lembaran-lembaran Al-Quran yang lain, yang ditulis (selain daripada Al Mush-haf) dikumpulkan dan dibakar. Maka dengan itu, dari mush-haf yang ditulis di zaman khalifah Utsman itulah, kaum Muslimin diseluruh pelosok menyalin Al-Quran itu.

Hingga sekarang masih ada kelainan bacaan karena bacaan-bacaan yang dirawikan dengan mutawatir dari Nabi Muhammad SAAW terus dipakai oleh kaum Muslimin. Namun bacaan-bacaan tersebut tidaklah berlawanan dengan apa yang ditulis dalam mushhaf-mushhaf yang ditulis dimasa khalifah Utsman. Dengan demikian, pembukuan Al-Quran di masa khalifah Utsman itu memberikan beberapa kebaikkan seperti :

1. Menyatukan kaum Muslimin pada satu bentuk mush-haf yang seragam ejaan tulisannya.

2. Menyatukan bacaan, walaupun masih ada kelainan bacaan, tetapi bacaan itu tidak berlawanan dengan ejaan mushhaf-mushhaf Utsman. Sedangkan bacaan-bacaan yang tidak bersesuaian dengan mushhaf-mushhaf Utsman tidak dibenarkan lagi. Karena Mush-haf Utsmani disusun berdasarkan riwayat-riwayat yang mutawatir. Artinya, ayat-ayat Al-Qur`an dan qiroat yang terkandung dalam Mush-haf Utsmani memang ayat-ayat Al-Qur`an seperti yang dihafal oleh mayoritas shahabat yang menerimanya langsung dari Rasulullah.

3. Menyatukan tertib susunan surah-surah, sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah. Susunan surat seperti sekarang ini adalah susunan surat yang digunakan oleh Rasulullah ketika beliau mengulangi bacaan Al-Qur`an di hadapan Jibril setiap bulan Ramadhan.

Akhirnya sampailah kepada kita sekarang dengan tidak ada sebarang perubahan sedikit pun dari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a w. Dalam pada itu, pada setiap masa dan zaman, Al Quran ini dihafal oleh jutaan umat Islam dan ini adalah salah satu inayah Tuhan untuk menjaga Al-Quran. Dengan itu, terbuktilah firman Allah.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya.” (Surah Al Hijr: 9)


Pengumpulan Al Qur’an

December 25, 2008

al-quran2Sesudah Nabi Muhammad wafat, umat Islam mengangkat Abu Bakar r.a menjadi khalifah. Pada awal masa pemerintahan beliau, beberapa perkara yang membawa kepada peperangan telah berlaku.

Di antara peperangan-peperangan yang hebat dan terkenal itu adalah peperangan Yamamah, di mana kebanyakkan tentara Islam yang ikut dalam peperangan ini adalah terdiri dari para sahabat penghafal Al-Quran. Dalam peperangan tersebut, 70 orang penghafal Al Quran telah gugur syahid. Sebelum itu pula, yaitu di zaman Nabi Muhammad, sebanyak jumlah yang sama juga telah gugur syahid para shahabat penghafal Al Quran dalam satu peperangan di sumur Ma’unah dekat Kota Madinah.

Oleh karena Umar bin Khattab ra merasa khawatir jika para shahabat penghafal Al-Quran yang masih hidup itu syahid dalam peperangan-peperangan yang selanjutnya, yang dapat membawa dampak buruk terhadap penjagaan Al-Quran, maka beliau pergi kepada Abu Bakar ra untuk memperbincangkan perkara tersebut. Dalam buku-buku Tafsir dan Hadits, perbincangan antara Abu Bakar ra, Umar Al-Khattab ra dan Zaid bin Tsabit mengenai pengumpulan Al Quran adalah diterangkan seperti berikut:

Umar berkata kepada Abu Bakar: “Dalam peperangan Yamamah, para sahabat yang telah hafal Al-Quran telah banyak yang gugur. Aku khawatir akan gugurnya para sahabat yang lain dalam peperangan selanjutnya. Maka shuhuf-shuhuf berisi ayat-ayat Al Quran itu perlu dikumpulkan.”

Abu Bakar menjawab: “Mengapa aku akan melakukan sesuatu yang tidak diperbuat oleh Rasulullah SAW?”

Umar menegaskan: “Demi Allah! Ini adalah perbuatan yang baik.”

Dan Umar ibnu Al-Khattab r.a berulang kali memberikan alasan-alasan kebaikan mengumpulkan Al-Quran ini, sehingga Allah membuka hati Abu Bakar r.a untuk menerima pendapat Umar bin Khattab ra itu. Kemudian Abu Bakar ra memanggil Zaid bin Tsabit dan berkata kepadanya : “Umar mengajakku mengumpulkan Al Quran.”

Lalu diceritakan oleh Abu Bakar ra segala perbincangannya dengan Umar Al Khattab r.a kepada Zaid bin Tsabit. Kemudian Abu Bakar berkata: “Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas yang aku percayai sepenuhnya. Dan engkau adalah seorang penulis wahyu yang selalu disuruh oleh Rasulullah. Oleh karena itu, maka kumpulkanlah ayat-ayat Al-Quran itu.”

Zaid menjawab: “Demi Allah! Ini adalah pekerjaan yang berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah lebih berat bagiku daripada mengumpulkan Al-Quran yang engkau perintahkan itu.”

Dan selanjutnya dia bertanya kepada Abu Bakar ra dan Umar ra: “Kenapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbuat oleh Nabi SAW?”

Abu Bakar ra menjawab: “Demi Allah! Ini adalah perbuatan yang baik.”

Lalu Abu Bakar ra memberikan alasan-alasan kebaikan mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran itu, sehingga menyadarkan Zaid akan kebaikan tersebut. Kemudian, Zaid mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran itu dari daun, pelepah kurma, batu tanah keras, tulang dan kulit unta atau kambing dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al-Quran. Dalam usaha mengumpulkan ayat-ayat Al Quran itu, Zaid bin Tsabit bekerja amat teliti. Sekalipun beliau adalah hafal Al-Quran seluruhnya langsung dari Rasulullah SAW, tetapi untuk kepentingan pengumpulan Al-Quran yang sangat penting bagi umat Islam itu, beliau masih memandang perlunya memadankan atau menyesuaikan hafalan atau catatan sahabat-sahabat yang lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Dengan demikian, ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan itu seluruhnya telah ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran, dan diikatkannya dengan baik dan benar, tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yangtelah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Kemudian Al-Quran tersebut diserahkan kepada Abu Bakar ra. Mushaf ini tetap berada di tangan Abu Bakar ra sampai beliau (Abu Bakar) meninggal dunia. Kemudian mushaf ini dipindahkan ke rumah Umar Al-Khattab dan tetap berada di sana selama pemerintahan beliau sebagai khalifah Islam. Sesudah Umar ibnul Khattab ra meninggal dunia, mushaf itu dipindahkan ke rumah Hafsah, anak perempuan Umar dan isteri Rasulullah sampai masa pengumpulan dan penyusunan Al-Quran di masa Khalifah Usman bin Affan r.a.


PENGHAFALAN DAN PENULISAN AL-QUR`AN

December 25, 2008

Pada permulaan Islam, kebanyakan orang bangsa Arab Islam adalah bangsa yang buta huruf, sangat sedikit di antara mereka yang tahu menulis dan membaca. Mereka belum mengenal kertas seperti kertas yang ada sekarang. Perkataan “al waraq” (daun) yang digunakan dalam mengatakan kertas pada masa itu hanyalah pada daun kayu saja. Kata “al qirthas” digunakan oleh mereka hanya merujuk kepada benda-benda (bahan-bahan) yang mereka pergunakan untuk ditulis seperti kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelepah tamar/kurma, tulang binatang dan sebagainya.
al-quran
Setelah mereka menaklukkan negeri Persia, yaitu sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW barulah mereka mengenal kertas. Orang Persia menamakan kertas itu sebagai “kaqhid”. Maka digunakan kata itu untuk kertas oleh bangsa Arab Islam semenjak itu. Sebelum Nabi Muhammad atau semasa zaman Nabi Muhammad kata “kaqhid” itu tidak ada digunakan di dalam bahasa Arab, atau pun dalam hadis-hadis Nabi. Kemudian kata “al qirthas” digunakan pula oleh bangsa Arab Islam ini kepada apa yang dinamakan “kaqhid” dalam bahasa Persia itu. Kitab atau buku tentang apapun juga belum ada pada mereka. Kata-kata “kitab” di masa itu hanyalah bermaksud dalam bentuk seperti sepotong kulit, batu atau tulang dan sebagainya. Begitu juga dalam arti kata surat seperti pada ayat 28 dari surah An Naml di bawah.

“Pergilah dengan surat saya ini, maka jatuhkanlah dia kepada mereka..”

Begitu juga “kutub” (jama kitab) yang dikirimkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada raja-raja di masanya untuk menyeru mereka kepada Islam.

Walaupun kebanyakkan bangsa Arab Islam pada masa itu masih buta huruf, namun mereka mempunyai ingatan yang sangat kuat. Pegangan mereka dalam memelihara dan meriwayatkan syair-syair dari pujangga-pujangga dan penyair-penyair mereka, ansab (silsilah keturunan) mereka, peperangan-peperangan yang terjadi di antara mereka, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dan kehidupan mereka tiap hari dan lain-lain sebagainya, adalah kepada hafalan semata-mata. Demikianlah keadaan bangsa Arab di waktu kedatangan Islam itu. Maka dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW suatu cara yang amali (praktis) yang selaras dengan keadaan itu dalam menyiarkan Al Quran dan memeliharanya. Tiap-tiap diturunkan ayat-ayat itu, Nabi Muhammad SAW menyuruh menghafalnya dan menuliskannya di batu, kulit binatang, pelepah tamar dan apa saja yang bisa disusun dalam sesuatu surat. Nabi Muhammad menerangkan tertib urut ayat-ayat itu. Nabi Muhammad mengadakan peraturan, yaitu Al Quran sajalah yang boleh dituliskan. Selain daripada Al Quran, Hadis-hadis atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Nabi Muhammad dilarang menuliskannya. Larangan ini bermaksud supaya Al Quran itu terpelihara, jangan campur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari Nabi Muhammad.
Nabi menganjurkan supaya Al Quran itu dihafal, selalu dibaca dan diwajibkannya membacanya dalam solat. Maka dengan itu banyaklah orang yang hafal Al Quran. Surah yang satu dihafal oleh ribuan manusia dan banyak yang hafal seluruh Al Quran. Dalam pada itu tidak ada satu ayatpun yang tidak dituliskan. Kepandaian menulis dan membaca itu amat dihargai dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad sehingga baginda bersabda, “Di akhirat nanti tinta ulama-ulama itu akan ditimbang dengan darah syuhada (orang-orang yang mati syahid)” Hal ini menunjukkan bahwa beliau ridho akan penulisan selain Al-Qur’an setelah beliau wafat. Maka tidaklah mengapa penulisan Hadits, ilmu fiqih, dan penulisan ilmu-ilmu lainnya setelah beliau SAW wafat.

Dalam peperangan Badar, orang-orang musyrikin yang ditawan oleh orang-orang Islam, yang tidak mampu menebus dirinya dengan uang, tetapi mempunyai pengetahuan dalam menulis dan membaca, masing-masing diharuskan mengajar sepuluh orang Muslim agar dapat menulis dan membaca sebagai ganti tebusan. Di dalam Al Quran pun banyak ayat-ayat yang mengutarakan penghargaan yang tinggi terhadap huruf, pena dan tulisan. Contohnya seperti ayat di bawah,

“Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam: 1)

“Bacalah, dan Tuhanmu amat mulia. Yang telah mengajar dengan pena. Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-’Alaq: 3, 4 dan 5)

Karena itu bertambahlah keinginan untuk belajar menulis dan membaca di kalangan orang-orang muslim, dan semakin bertambah banyaklah di antara mereka yang pandai menulis dan membaca dan semakin banyaklah orang yang menuliskan ayat-ayat yang telah diturunkan itu. Nabi Muhammad sendiri mempunyai beberapa orang penulis yang bertugas menuliskan Al Quran untuk baginda. Penulis-penulis beliau yang terkenal ialah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Mu’awiyah. Shahabat yang terbanyak menuliskannya ialah Zaid bin Tsabit.

Dengan demikian, di zaman Nabi Muhammad, terdapat 3 unsur yang tolong-menolong memelihara Al Quran yang telah diturunkan itu:

1. Hafalan dari mereka yang hafal Al-Quran.

2. Naskah-naskah Al-Qur’an yang ditulis atas perintah Nabi Muhammad.

3. Naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing.

Dalam pada itu, oleh Jibril diadakan ulangan bacaan sekali setahun. Di dalam ulangan bacaan itu, Nabi Muhammad disuruh mengulang memperdengarkan Al Quran yang telah diturunkan itu. Di tahun baginda wafat, ulangan bacaan itu diadakan oleh Jibril dua kali. Nabi Muhammad sendiri pun sering pula mengadakan ulangan bacaan itu terhadap sahabat-sahabatnya. Maka sahabat-sahabat itu disuruh oleh Nabi Muhammad membacakan atau memperdengarkan Al Quran itu di hadapannya. Ini untuk menetapkan atau memperbetulkan hafalan atau bacaan mereka.

Ketika Nabi Muhammad wafat, Al Quran itu telah sempurna diturunkan dan telah dihafal oleh ribuan manusia, dan telah dituliskan semua ayat-ayatnya. Ayat-ayat dan surah-surahnya telah disusun menurut tertib urut yang dipertunjukkan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka telah mendengar Al Quran itu dari mulut Nabi Muhammad berkali-kali, dalam solat, dalam pidato-pidato baginda, dalam pelajaran-pelajaran dan lain-lain, sebagaimana Nabi Muhammad SAW sendiri telah mendengar pula dari mereka. Dalam makna lain, Al Quran adalah dijaga dan terpelihara dengan baik, dan Nabi Muhammad telah mengadakan satu kaidah yang amat praktis untuk memelihara dan menyiarkan Al Quran itu, sesuai dengan keadaan bangsa Arab Islam ketika itu.


AL-QUR’AN BENAR-BENAR UNIK DALAM PENCATATANNYA

May 19, 2008

AL-QUR’AN BENAR-BENAR UNIK DALAM PENCATATANNYA

Di antara semua literatur agama yang masih ada di dunia, kitab suci Al-Qur’an benar-benar unik. Pencatatan dan pemeliharaannya adalah suatu mu’jizat! Karena Al-Qur’an sangat berbeda dengan pola penggambaran manusia biasa; Hanya pandangan dangkal dan bermusuhan yang mengatakan Al-Qur’an membingungkan dan tak pantas. Polanya benar-benar berbeda. Unik. Penuh Mu’jizat. Izinkan saya memperkuat pernyataan saya:
Gaya Bahasa Manusia
Setiap kitab agama lain dibangun pada pola: “pada suatu ketika…” atau “Rubah dan anggur… Serigala dan anak biri-biri,” dan lain-lain, yaitu:

1. a. Pada Mulanya (pada suatu ketika)
Allah menciptakan langit dan bumi… (Ditambah penekanan). (Injil – Kejadian 1:1)
b. Pada mulanya (pada suatu ketika)
Firman itu bersama-sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah… (Ditambah penekanan). (Injil -Yohanes 1:1)
c. Inilah silsilah (yang asli, pada mulanya) Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham … (Ditambah penekanan). (Injil – Matius 1: 1)
2. Sesudah Musa, hamba Tuhan itu mati (terjadi lagi, pada suatu ketika) berfirmanlah Tuhan kepada Yosua … (Ditambah penekanan). (Injil – Yosua 1: 1)
3. Sesudah Yosua mati, (terjadi lagi, pada suatu ketika) orang Israel bertanya kepada Tuhan …(Ditambah penekanan). (Injil – Hakim-hakim 1: 1)
4. Terjadi (terjadi lagi, pada suatu ketika) pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah … (Ditambah penekanan). (Injil – Rut 1: 1).
5. Ada seorang laki-laki (pada suatu ketika) dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim … (Ditambah penekanan). (Injil – l Samuel 1: 1).
6. Terjadi (terjadi lagi, pada suatu ketika) setelah Saul mati … (Ditambah penekanan). (Injil – 2 Samuel 1: 1 ).
7. Saat ini (pada suatu ketika) Raja Daud telah tua dan lanjut umurnya, dan biarpun ia diselimuti badannya tetap dingin. (Injil – l Raja-raja l: 1).
8. Saat ini (pada suatu ketika) pada tahun pertama zaman koresy, raja negeri Persia … (Ditambah penekanan). (Injil – Ezra 1: 1).
9. Terjadi (terjadi lagi, pada suatu ketika) pada zaman Ahasyweros… (Ditambah penekanan). (Injil – Ester l:1)
10. Terjadi (terjadi lagi, pada suatu ketika) pada tahun ketiga puluh dalam bulan yang ke empat, pada tanggal
lima bulan itu … (Ditambah penekanan). (Injil – Yehezkiel 1: 1)
Jika contoh-contoh ini tidak membingungkan Anda, maka tidak ada lagi yang akan membingungkan Anda! Tak terelakkan lagi Anda terpesona dengan sindrom “pada suatu ketika”. Anda telah diperkuat dengan kegemaran cerita buatan manusia, bahkan jika mereka benar. Gaya bahasa, pola, dan penggambaran ini adalah bagaimana manusia berfikir, berbicara dan menulis. Jangan salahkan mereka karena manusia akan bersifat manusia.
Semua keterangan di atas berasal dari Versi King James yang sudah direvisi (KJV= King James Version), versi yang paling populer di antara umat Kristen dunia. Anda harus memperhatikan bahwa setiap ayat dalam kutipan di atas adalah 1: l, 1: 1, berarti pasal pertama dan ayat pertama dari Injil. Yang mulai dengan “Saat ini, saat ini, saat ini!” Coba, lihat pada diri Anda sendiri berapa banyak lagi kata seperti pada mulanya dapat Anda temukan dalam “Books of Books,” Bagaimanapun saya harus memperingatkan Anda bahwa indeks Injil tidak akan menolong. Anda harus menomori halaman sama seperti yang saya lakukan.

Indeks Tidak Akan Menolong Saya mencari keterangan dari dua indeks Injil. Satu yang diterbitkan oleh Jehovah’s Witnesses (Saksi-saksi Yehovah) –Sekte Kristen yang paling cepat tumbuhnya dalam umat Kristen. Yang kedua adalah “Young’s Analytical Concordance to the Bible.” Kedua indeks ini masing-masingnya lebih dari 300.000 judul. Terakhir tidak kurang dari 277 daftar baru, tetapi tidak terdapat sebuah kata “Saat ini” (pada suatu ketika) dari contoh-contoh yang diberikan di atas. Anda dapat menebak alasannya!
Saya tidak ingin mengganggu kesabaran Anda lebih jauh. Saya sadar bahwa Anda menginginkan bukti. “Baiklah, sekarang, tolong ceritakan kepada kami tentang wahyu Al-Qur’an!:
“Saat itu malam ke l7 bulan Ramadhan Nabi Islam Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di dalam gua Hira, di pinggiran kota Makkah. Dia biasa menjauhkan diri ke gunung Hira untuk mencari kedamaian, ketenangan dan agar dapat merenung. Biasanya ia kuatir tentang masalah-masalah kaumnya –mabuk-mabukan, perzinahan, penyembahan berhala, peperangan, ketidakadilan dan kekejaman mereka. Begitu banyak sehingga Gibbon, sejarawan terkemuka, terpaksa mencatat dalam tulisannya “Decline and Fall of the Roman Empire” (Kemunduran dan Keruntuhan Kekaisaran Roma):
“Kebrutalan manusia (bangsa Arab), hampir tanpa perasaan, sangat sulit dibedakan dari dunia hewan yang lain.”
Petapa Hira tersebut sedang merindukan sebuah penyelesaian.

Dia biasa menjauhkan diri ke tempat pengasingan secara sendirian atau kadang-kadang dengan istri tercintanya Ummul Mu’minin (Ibu orang-orang beriman) Khadijatul-Kubra.
Seruan Pertama Suatu malam –Malam Lailatul-Qadr– (Malam kekuatan dan keunggulan) ketika dunia tenang dengan kedamaian Tuhan dan seluruh alam menghadap ke arah Tuhannya –pada pertengahan malam tersebut kitab Tuhan dibuka bagi jiwa yang dahaga. Jibril, malaikat Allah, tampak kepadanya, dan memerintahkan dalam bahasa daerahnya ‘iqra’ yang berarti “baca!” atau “bawakan” atau “latih” atau “nyatakan” dengan keras! Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sangat takut dan benar-benar tidak siap menghadapi kejutan ini. Ini bukanlah upacara kelulusan atau pemakaian jubah. Dalam ketakutan dan keragu-raguan bercampur takut ia berseru ‘Maa-ana beqaa-Ri’in (Saya tidak dapat membaca!)” Malaikat tersebut mengulangi perintah ‘iqra’ untuk yang kedua kali, dengan tanggapan yang sama dari Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jibril memeluknya dengan keras dan memerintahkannya untuk yang ketiga kali:
Bacalah ! Dengan (menyebut) Nama Tuhanmu, yang menciptakan ….
Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sekarang mengerti bahwa yang perlu ia lakukan adalah mengulang apa yang telah dikatakan, karena kata Arab ‘iqra’ berarti: baca., bawakan atau ulangi! Mengikuti ayat pertama Surat Al-’Alaq (Surat ke 96 dari Al-Qur’an) di atas. Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengulang dan membawakan empat ayat lagi pada seruan pertamanya dan kemudian ayat-ayat tersebut dicatat dalam bentuk tertulis pada kitab suci Al-Qur’an.
“Tunggu, Tuan Deedat!” saya hampir dapat mendengar jeritan Anda. Semua yang sedang Anda katakan kepada kami tentang wahyu Al-Qur’an ini tidak berbeda dengan sejumlah contoh lainnya yang harus Anda buktikan tentang adanya tangan manusia di dalamnya. Apakah semuanya berbuat keliru dan bukan bersifat ketuhanan?”
Tepat sekali! Saya senang Anda melihat dengan jelas bagaimana subyektifnya pikiran, perkataan dan pencatatan manusia. Sejak Anda meminta saya “tolong ceritakan pada kami tentang wahyu Al-Qur’an,” dan saya mulai memberi tanggapan –Saat itu malam ke 17 bulan Ramadhan ….” sampai– “dan kemudian dicatat dalam bentuk tertulis pada kitab suci Al-Qur’an” adalah kata-kata saya sendiri, meminjam dari kitab suci Al-Qur’an, dari kitab hadits, dan dari sejarah serta dari mulut orang-orang yang berpengetahuan yang saya dengar selama puluhan tahun lebih. Naskah Al-Qur’an ini tidak tercemar oleh tangan manusia. Inilah bagai-mana Al-Qur’an dijaga. Saya cantumkan di bawah ini
lima ayat pertama dari wahyu pertama Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, untuk pengamatan dan studi kritis Anda.
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,
3. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(QS. Al-’Alaq: 1-5)

Sebuah Catatan Unik
Setiap teks Al-Qur’an, dalam bahasa Arab atau dalam bentuk terjemahan dalam bahasa apa pun akan mengikuti pola ini. Tidak ada jika atau tetapi. Anda tidak akan menemukan dalam teks atau terjemahan bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam “berusia 40 tahun ketika menerima seruan pertamanya.” Anda tidak akan menemukan bahwa “ia di dalam gua gunung Hira.” Anda tidak akan menemukan bahwa “ia melihat malaikat Jibril” atau bahwa “ia ketakutan,” atau bagaimana reaksi dan tanggapannya terhadap perintah “Iqra’!” Bahwa ketika malaikat tersebut pergi setelah melengkapi 5 ayat pertama tersebut, “Muhammad berlari ke rumahnya sekitar 3 mil sebelah selatan Makkah menemui istri tercinta Khadijah dan mengatakan apa yang telah terjadi dan meminta sang istri menyelimutinya, menyelimutinya!” Semua ini apa yang saya namakan gaya bahasa “pada suatu ketika!” Kitab suci Al-Qur’an tidak menggambarkan apapun tentang ini,
benar-benar sebuah narasi dan pemeliharaan yang unik. Singkatnya ini mu’jizat!
Lebih jauh, tidak seperti usaha seni literatur manusia manapun, di mana segalanya mulai dengan yang permulaan: kata pertama dan ayat pertama wahyu Al-Qur’an bukanlah surat pertama dan ayat pertama dari Al-Qur’an –Ayat-ayat tersebut menduduki surat ke 96 dari Al-Qur’an, sebagai penulis ketuhanan (Tuhan Yang Maha Kuasa) telah mengajarkan utusan pilhan-Nya, Muhammad Shallallabu Alaihi wa Sallam. Tidak ada kitab agama di bumi ini yang mirip dengannya atau mengikuti pola ini, karena tidak ada wahyu yang (dinyatakan tanpa bukti) dipelihara keasliannya ketika diwahyukan!
Seorang Psikolog Canada Saya mendapat kehormatan berbagi pikiran tentang seruan pertama Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebagaimana termuat dalam 5 ayat pertama Surat Al-’Alaq (surat ke 96) seperti terlihat pada pembahasan sebelumnya, dengan seorang pemuda dari Canada. Saya sedang membawanya dalam sebuah tour ke masjid terbesar di belahan bumi bagian selatan. Selagi bercakap-cakap, saya menanyakan pekerjaannya. Dia mengatakan sedang mengambil kuliah master di bidang psikologi. “Psikologi?” saya berkata, dan dengan segera menarik perhatiannya pada 5 ayat pertama surat yang sedang didiskusikan. Saya menanyakannya bagaimana ia akan menerangkan tentang perintah suci dan pengalaman Muhammad yang berbicara tentang “Membaca, menulis dan belajar sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya,” sesuatu yang bukan masalahnya saat itu, bukan pula masalah kaumnya. Bagaimana pikiran seorang manusia yang subyektif dapat berlatih kata-kata ini. Saya berkata, “Terangkanlah!” Dia mengatakan tidak dapat dan mengakui sudah bergulat dengan persoalan itu. Saya berkata, “Dalam kasus ini kami seharusnya menerima perkataan manusia tersebut.” Dan, saya mengutip ayat pertama surat An-Najm:
“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang dia-jarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS. An-Najm: 1-5).
Dan, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berulang kali mengatakan kepada kaumnya:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa.” (QS. Al-Kahfi: 110).
Pemuda Canada tersebut dengan sopan memberi tanggapan; “Saya harus memikirkan masalah ini dengan serius.” Hanya jika kita membiasakan diri kita dengan fakta-fakta dari kitab suci Al-Qur’an, kita akan dapat membuka percakapan dengan ahli dalam pengetahuan apa pun.
Mu’jizat Jurnalistik
Sebagai pusat kegiatan, IPCI menarik banyak orang untuk berdialog dan berdiskusi, termasuk jurnalis dan wartawan. Segera setelah saya menyadari bahwa bidang kegiatan orang yang bertanya kepada saya adalah jurnalistik, saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan senang memperlihatkan kitab suci Al-Qur’an kepadanya sebagai sebuah “Mu’jizat jurnalistik”. Tak ada seorang pun menolak untuk mendengarnya. Saya memulai dengan cerita nabi suci Musa Alaihis-salam, dalam gaya bahasa dan pola “Pada suatu ketika” . Itu tidak dapat diberhentikan. Namun kami tidak dapat memberikan rincian tentang “Musa dan the Bulrushes” atau bahkan perincian masa kecilnya, ibu, dan saudara perempuannya,” (QS. Thaha: 38-40 dan Al-Qashash: 7-13). Kita harus melewati perincian tersebut. Saya memulainya dengan:
Kecelakaannya di Dalam Kota
Musa Alaihis-salam mendatangi dua pria yang sedang berkelahi, seorang berasal dari sukunya sendiri dan yang lainnya seorang musuh bangsanya. Dia menolong orang Yahudi menghadapi orang Mesir dan dalam perbantahan menampar orang yang kejam tersebut terlalu keras sehingga ia mati.
Musa Alaihis-salam kemudian melarikan diri dari negaranya menuju padang pasir Sinai dan mendapatkan dirinya di antara kaum Midianites. Di sini ia menolong dua orang gadis yang sedang kesukaran dan ditawari sebuah pekerjaan oleh ayah mereka Jethro. Setelah menyelesaikan perjanjian kerjanya selama 8 tahun lebih, Musa Alaihis-salam mulai bosan dengan kehidupan dusunnya. Bagi seorang manusia yang telah tumbuh besar dengan keluarga kerajaan, di tengah kesibukan dan ketergesaan kota, ia menjadi resah. Dia menginginkan perubahan dan meminta izin untuk memisahkan diri dari mertuanya. Jethro orang yang sangat rasional dan praktis. Dia mengizinkan Musa Alaihis-salam pergi.
Musa Mempelopori Sebuah Perjalanan
Musa Alaihis-salam pergi dengan istri dan anak-anaknya, bersama dengan domba dan kambing bagiannya yang biasa digembalakan untuk ayah mertuanya.
Setelah beberapa waktu ia dan keluarganya sampai di Sinai. Dia kehilangan arah dari kediaman terakhir tempatnya beristirahat. Dia kehabisan persediaan daging masak yang dibawanya. Masih terdapat cukup Matzos, roti kering Yahudi yang tidak beragi. Masalahnya adalah daging. Dia harus menyembelih seekor domba atau kambing. Itu mudah. Kesulitannya adalah membuat api yang merupakan tugas yang sulit, karena memerlukan waktu setengah hari menggosok dua materi yang berbeda. Tidak ada korek api atau geretan pada zaman itu. Dia menangguh-nangguhkan. Menunda segala sesuatunya untuk hari ini, atau besok dan masalah dagingnya akan terpecahkan, ia berpikir … “Mana mu’jizat yang dijanjikan!” Tuan Deedat?
Sejauh ini saya hanya memberikan latar belakang cerita tersebut. Mu’jizatnya adalah, untuk menyingkat semua hal dan banyak lagi (cerita) di atas hanya dalam 4 ayat pendek -4 kalimat pendek dalam prosa yang paling indah. Tetapi untuk menghargai prestasi tersebut, saya harus menarik perhatian Anda kepada sesuatu yang saya senang jika Anda memperhatikan apa yang bagi saya merupakan puncak jurnalistik.
Plakat-plakat Surat Kabar
Saya tinggal sekitar 30 km utara kota Durban, di mana kantor saya berada. Sebelum pembangunan N2 (jalan raya lintas) yang menghubungkan kota Durban, saya biasanya mengambil jalan pantai (pinggir laut) menuju Durban. Rute ini membuat saya melewati Amphiteater di depan pantai Durban. Pada perpotongan teater tersebut saya selalu mengamati penjual surat kabar yang sedang menawarkan koran pagi “The Natal Mercury,” untuk dijual. Dia mempunyai sebuah plakat harian dengan judul utama untuk menarik para pembeli. Setelah berulang-ulang membaca plakat tersebut saya memutuskan tidak membeli surat kabar hari itu, tetapi ketika memarkir mobil di central Durban sewaktu melewati penjual surat kabar yang lain, saya akhirnya membeli surat kabar tersebut.
Sesudah mengalami sejumlah perubahan keputusan seperti itu, saya mulai bertanya pada diri sendiri alasan perubahan pikiran saya tersebut. Saya menemukan plakat yang berbeda meski surat kabar yang ditawarkan sama. Plakat di depan pantai dibuat menyeru para pelanggan Eropa sebaliknya plakat di wilayah yang saya lalui ditujukan kepada komunitas Asia. Dengan perluasan plakat tersebut untuk wilayah Afrika dan kulit berwarna menyebabkan mereka membeli surat kabar yang sama.
Maka jurnalis yang pandai adalah orang yang dapat menciptakan plakat yang menyeru keempat kelompok ras utama setiap hari.
Itu akan menjadi karya agung jurnalistik! Para jurnalis tanpa ragu setuju dengan alasan ini. Marilah kita bersama-sama menganalisa Al-Qur’an berdasarkan alasan ini.
Seruan Yang Universal
Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, Nabi Islam berada di Madinah, dan dikelilingi oleh orang-orang Yahudi, Kristen, Islam, musyrik dan munafik di dalam kota. Nabi suci tersebut menyebarkan beritanya (wahyu Tuhan) untuk semua jenis masyarakat ini. Apa yang harus ditulis pada plakatnya untuk menarik perhatian setiap kelompok yang bermacam-macam ini? Dia disuruh menyatakan:
‘Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?’ (QS. Thahaa: 9).
Dapatkah Anda membayangkan kegemparan tersebut? Orang-orang Kristen dan Yahudi akan selalu menunggu untuk mendengar lebih jauh, mengharap Muhammad berbuat sebuah kebodohan sendiri, karena mereka bertanya-tanya dalam diri mereka sendiri, apa yang dapat diketahui orang Arab ini tentang Musa karena ia seorang ummi (tidak dapat menulis). Umat Islam haus pengetahuan, mereka akan terus merindukan –tolong katakan kepada kami segala sesuatu yang Anda dapat tentang Musa Alaihis-salam.
Orang-orang musyrik (politheis) dan munafik menikmati diskusi tiga sisi tentang Musa Alaihis-salam: antara umat Islam, Kristen dan Yahudi. Setiap orang benar-benar memperhatikan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melanjutkan:
“Lihatlah,
Dia melihat sebuah api!”
Dramatis! Anda hampir dapat memvisualisasikan adegan tersebut. Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang berbicara seperti telegrap. Memerlukan waktu sekitar 2 ribu tahun setelah kelahiran Yesus Kristus bagi bangsa Kristen dan Yahudi terbesar di bumi (Amerika Serikat yang kuat) untuk mencapai kesempurnaan yang tinggi dalam bidang periklanan untuk merumuskan slogan, dalam istilah Perusahaan Western Union Telegraph, “Jangan Menulis -(pakailah) Telegraph!” Sekolah jurnalistik mana yang diikuti Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk memimpin super American sizzlemanship? Dia disuruh meneruskan:
“… Lalu berkatalah ia kepada keluarganya: ‘Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.” (QS. Thahaa: 10).
Tulisan Cepat Yang Didiktekan
Silahkan bandingkan hal tersebut di atas dengan terjemahan Al-Qur’an berbahasa Inggris lainnya dengan teman atau lawan, dan Anda akan menemukan kata-kata dengan keringkasan dan keekonomisan yang sama. Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak sedang melakukan latihan apapun dalam tulisan ringkasnya. Dia hanya mengucapkan dengan jelas firman Tuhan sewaktu dibisikkan ke dalam hatinya melalui perantara malaikat Jibril. Kita harus mengingat bahwa tidak ada Injil berbahasa Arab, pada abad 6 M, ketika Nabi Muhammad didiktekan Al-Qur’an.
Sekarang tolonglah diri Anda sendiri. Silahkan bedakan wahyu Al-Qur’an ini dengan cerita Injil seperti isi dalam kitab kedua Injil, Kitab keluaran, pasal 1, 2, dan 3 yang mendiskusikan aspek kehidupan Nabi suci Musa Alaihis-salam yang sedang kita bicarakan ini. Saya mengutip permulaan cerita dari Injil:
“Sekarang inilah nama anak Israel yang datang ke Mesir bersama-sama dengan Yakub; mereka datang dengan keluarganya masing-masing. Ruben, Simeon, Lewi dan Yehuda; Isakhar; Zebulon dan Benyamin; dan serta Naftali, Gad dan Asyer. Seluruh keturunan yang diperoleh Yakub berjumlah tujuh puluh jiwa. Tetapi Yusuf telah ada di Mesir.” (Injil – Keluaran 1: 1-5).
Musa Memulai
Pemanasan sederhana! Inikah bagaimana Tuhan berbicara? Silahkan bandingkan 5 ayat Injil ini dengan 4 ayat Al-Qur’an yang disalin ulang di bawah ini.
Dalam penggambaran Al-Qur’an, Musa Alaihis-salam sangat membutuhkan dua hal sewaktu berfikir di Sinai dengan jamaah dan keluarganya. Dia menginginkan ‘api’ untuk memasak dagingnya, dan ‘petunjuk’ menuju beberapa komunitas yang ramah di padang pasir. Allah membentangkan rencananya. Musa Alaihis-salam dibuat ‘memulai’ misinya dari ilusi pembakaran batu bara menuju kenyataan tentang pembakaran api spiritual dalam jiwa manusia selama ribuan tahun dan sebuah petunjuk yang benar sebagai penuntun manusia.
‘Api’ yang dilihat Musa Alaihis-salam, bukanlah api biasa. Baginya berarti sebuah cahaya api miliknya sendiri yang mudah, api tersebut juga menunjukkan kehadiran manusia lain yang darinya ia dapat memperoleh informasi dan petunjuk.
“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil, ‘Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.” (QS. Tha-haa: 11-12).
Sejarah spiritual Musa Alaihis-salam berawal di sini dan ini merupakan kelahiran spiritualnya. Dalam istilah Injil –’Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini!’ Ini adalah bagaimana Tuhan berbicara kepada Daud Alaihis-salam tentang pertemuannya, pada kitab Mazmur 2: 7.
Keseluruhan bagian Al-Qur’an di atas penuh arti gaib yang paling tinggi, direfleksikan dalam ayat-ayat bersajak pendek dalam bentuk asli. Irama dan arti di dalam teks memberi kesan misteri tertinggi. Untuk mempermudah perbandingan ini saya menyalin ulang empat ayat tersebut bersama-sama:
“Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya, ‘Tinggallah kamu (disini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil, ‘Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa’…” (QS. Thahaa: 9-12).
Thuwa adalah lembah tepat dibawah Gunung Sinai, tempat dimana Musa Alaihis-salam selanjutnya menerima hukum. Dalam arti gaib yang sejajar, kita diseleksi dengan cobaan-cobaan dalam kehidupan yang sederhana ini, lembah yang suci dan menerima pujian Tuhan setinggi gunung (Tur) Sinai, kecuali jika kita mempunyai pengetahuan untuk dapat mengetahuinya. Dan, ‘terompah’ harus dilepas sebagai tanda penghormatan. Dalam arti gaib yang sama, Musa Alaihis-salam sekarang harus menyimpan semua keinginan dan keperluan duniawinya, ia telah dipilih oleh Tuhan Yang Maha Tinggi.
Apakah Keputusan Anda?
Bagaimana seseorang menjadi biasa untuk mendongeng cerita bohong untuk mengevaluasi obat mujarab dari Tuhan? Bahkan seorang pengeritik simpatik seperti Thomas Carlyle, seorang pemikir terbesar abad lalu; tak dapat mengerti keringkasan gaya yang tajam dan kejelasannya. Dia menyebut pembacaan Al-Qur’an:
“Menjemukan membingungkan tidak teratur, kasar, incondite; kebodohan yang tidak dapat didukung … “
Incondite berarti sebuah konstruksi literatur atau komposisi artistik yang buruk: ‘kebodohan yang tidak dapat didukung?’ Setelah membandingkan penggambaran Al-Qur’an dan Injil, bagaimana keputusan Anda? Saya telah mendatangi seorang jurnalis yang gagal mengenali kecemerlangan Muhammad (?) Shallallahu Alalhi wa Sallam; dalam mendiktekan fakta-fakta langsung, tanpa berusaha menganalisa atau menginterpretasikannya: dengan tepat seperti yang akan dilakukan seorang pemimpin jurnalis untuk suratkabar atau majalah saat ini. Hanya inilah yang bersifat mu’jizat! Anda setuju?
(sebelum, sesudah)
________________________________________
The Choice Islam and Christianity
Judul edisi Indonesia: Dialog Islam Kristen
Pengarang: Ahmeed Deedat
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Cetakan I: Juni 1999, Cetakan II: September 1999 (Revisi)
(Versi online dilakukan oleh mailto:jrm@detik.com?subject=Artikel Ahmed Deedat Online September 2000)
________________________________________
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Dirancang oleh MEDIA, 1997-2000.
Hak cipta © dicadangkan.