Injil Membantah Ketuhanan Yesus

October 11, 2009

Injil Membantah Ketuhanan Yesus

Injil Membantah Ketuhanan Yesus

Islam adalah satu-satunya agama yang menyatakan dan meyakini adanya Tuhan yang sempurna. Artinya, bahwa Dia tiada memiliki sekutu baik dalam tabiat maupun sifat-sifat-Nya. Seperti dalam firman-Nya

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlash: 1-4)

Baru-baru ini di Benoni, Afrika Selatan, ada seorang penginjil yang kurang mahir dalam ilmu agama, tapi ia suka mengagung-agungkan waham pribadinya. Dia menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Al Masih, yang ditugaskan Allah untuk mengkristenkan kaum Muslimin. Karena ia seorang advokat, tentu saja ia memiliki kemahiran dalam bersilat lidah. Ia malah berani menggunakan Al-Qur’anul Karim sebagai dalil khotbahnya, meskipun menyimpang dari tujuan dan pengertian yang sebenarnya.

Ia memang sama sekali tidak memahami sepatah katapun bahasa Arab. Ia ingin agar kaum muslimin mengimani bahwa Isa As adalah Tuhan juga, padahal ini suatu akidah yang amat buruk bagi kita, kaum muslimin. Akidah ini amat bertentangan dengan kesempurnaan Allah Ta’ala yang mutlak.

Dengan berbagai cara orang ini berupaya memutar-balikkan jalan kebenaran. Namun Allah Swt berfirman:

“Katakanlah (Muhammad): “Telah datang kebenaran (Islam) dan telah hancur kebatilan. Sesungguhnya yang batil Itu pasti akan hancur.” (A1-Isra: 81)

Dengan demikian jelaslah, segala daya upaya orang tidak akan berhasil, karena jalur kebenaran itu tidak dapat diputar-balikkan dan ini sesuai dengan janji Allah dalam firman-Nya.

Dua Alasan

Dalam memutar-balikkan ayat-ayat Allah, penginjil itu mengemukakan dua alasan mengenai pernyataannya tentang Isa Alaihissalam adalah Allah, yaitu:

1. Ketika kita mengatakan bahwa Isa itu Tuhan ( atau meskipun Dia adalah Allah yang sebenarnya), namun kita tidak akan menjadikan-Nya Tuhan Bapak! Ia adalah satu dengan Tuhan Bapak, karena itulah Dia bersekutu dalam tabiat-Nya.

2. Dia (Isa Alaihissalam) ditinjau dari berbagai sisi seperti Tuhan Bapak, tapi bukan Tuhan Bapak itu sendiri.

Alhasil, berdasarkan keterangan si advokat itu, Isa Alaihissalam adalah Allah, karena Dia bersekutu dalam tabiat Allah dan dari berbagai sisi seperti Allah.

Demikianlah ia mengemukakan kedua alasannya itu untuk membuktikan ketuhanan Isa Alaihissalam. Suatu alasan yang dangkal dan tidak layak dikemukakan oleh orang yang berprofesi sebagai advokat.

Di bawah ini akan kami paparkan beberapa bukti dari kitab sucinya sendiri untuk meyakinkan bahwa Isa As tidak bersekutu dengan tabiat Allah dan dilihat dari segala sisinya, ia tidak menyerupai Allah. Karena itulah Allah tidak mungkin diperilahkan.

Kami akan memberikan contoh-contohnya dari kitab suci mereka sendiri tanpa banyak komentar karena menurut anggapan umat Nasrani kitab itu merupakan bukti kebenaran dirinya!

Sesungguhnya perkataan yang mengatakan bahwa Isa Alaihissalam Itu adalah Allah, bukan hanya merupakan cemooh terhadap (salah satu) ketuhanan, tetapi merupakan bentuk terendah dari kekafiran, sekaligus penghinaan terhadap kecerdasan akal manusia!

Semua kutipan ayat-ayat dipetik dari kitab suci yang berlaku dan dinyatakan sah. Pada tiap kepala karangan dan isinya, sebutan nama Isa Alaihissalam sengaja kami beri lafdhul jalalah. Nama kebesaran Allah dalam kurung sebagai berikut (Allah), untuk lebih menarik perhatian orang yang sudi berpikir lebih jauh dan mendalam. Alangkah dangkalnya kotbah si advokat itu yang menyatakan bahwa Isa Alaihissalam adalah Allah!

Anda Bisa Membaca Buku Lengkapnya Disini

Sumber : Disini

Salam


AJARAN KRISTEN

September 27, 2009

Ajaran Kristen

Ajaran Kristen

Perjalanan dari Kenyataan ke Khayalan

Pengantar

Tokoh Yesus amatlah penting bagi dunia masa kini. Kepentingannya bukan saja bagi dunia Kristen. tetapi juga bagi agama-agama besar lain. khususnva Yahudi dan Islam. Jika agama-agama kuat ini menyatukan pandangan yang umum terhadap keadaan alami Kristus; tentang kedatangannya yang pertama, dan juga tentang kedatangannya yang kedua. niscaya . kesamaan pandangan seperti ini akan membawa kepada pemecahan banyak masalah yang sedang dihadapi umat manusia saat ini. Namun sayang, justru fakta-fakta yang paling mendasar sekalipun, tentang kehidupan Yesus, tujuan kedatangannya,. ajaran dan pribadinya. benar-benar telah keliru dipahami. Dalam persepsi mereka tentang aspek-aspek tersebut, agama-agama itu dengan kuat bertentangan satu sama lain, sehingga permusuhan di antara mereka pun tidak dapat dihindarkan lagi.

Jika kita melihat fakta-fakta pada peristiwa penyaliban, lalu mempertimbangkan apa yang telah terjadi, serta mengapa terjadi, demikian pula masalah penebusan dosa dan falsafah yang berkaitan dengannya. ‘ maka kita akan menemukan jawaban-jawaban yang saling bertentangan, yang berasal dari berbagai sumber awal. Saya telah memilih untuk menguraikan persoalan ini dari sudut pandang logika semata. Saya yakin. inilah dasar pijakan yang diterima oleh semua pihak, yang dapat digunakan untuk suatu dialog konstniktif yang bermanfaat. Tanpa itu. setiap pembahasan yang didasarkan hanya pada apa yang diungkapkan oleh Bible, dengan berbagai penafsirannya akan mengarah kepada suatu pertentangan yang akan sulit diluruskan.

Dua ribu tahun telah lewat. dengan hanya mendasarkan pada Bible semata. sejauh ini tidak ada pemecahan telah dicapai, yang secara seimbang dapat diterima oleh semua pihak. Inti persoalannya adalah, pernyataan-pernyataan tertentu dari Bible yang dapat dipercaya, telah dicemari oleh berbagai penjelasan menyimpang yang berasal dari mereka sendiri. Juga telah timbul berbagai kesulitan besar dari pemahaman-pemahaman penuh pertentangan yang tumbuh bertahap di seputar tokoh bersejarah Yesus Kristus. Gambaran dari sudut pandang sejarah, umumnya cenderung membingungkan dan tidak jelas. Dengan standar apa pun, jangka waktu 2000 tahun bukanlah hambatan biasa untuk membayangkan peristiwa-peristiwa sejauh yang terjadi pada zaman Yesus. Logika dan akal sehat manusia, dibantu oleh kebangkitan ilmu pengetahuan, tidak mengenal penda’ waan iman, warna kulit maupun agama. Logika itu sama bagi semua orang maupun semua agama. Logika dan logika sajalah yang dapat memberi kita suatu pijakan untuk bersepakat.

Saya akan coba menilik permasalahan ini dari berbagai sisi yang bermanfaat. Pertama-tama izinkan saya memulai dengan ajaran Kristen dan melihatnya sebagaimana umat Kristen memandangnya, lalu menganalisanya secara cermat menggunakan kaca pembesar .akal sehat. Akan tetapi saya harus tekankan di sini, bahwa dalam bentuk apa pun saya tidak bermaksud bersikap merendahkan terhadap orang-orang Kristen, atau pun. pribadi Yesus Kristus. Sebagai seorang Muslim, merupakan suatu unsur mendasar dalam keimanan saya untuk mengimani kebenaran Yesus Kristus; menerima beliau sebagai seorang rasul yang istimewa dan terhormat dari Allah, yang berkedudukan khusus di antara para nabi Bani Israil. Namun, ketika kebenaran menuntut. dalam kejujuran penuh terhadap logika, pikiran sehat dan pemahaman manusia, maka seseorang tidak dapat mengelak untuk tidak meninjau kembali pandangannya terhadap ajaran Kristen. Saya tidak bermaksud menimbulkan suatu j~urang pemisah antara orang-orang Kristen dengan Kristus. Sebaliknya, saya ingin menolong orang-orang Kristen untuk lebih dekat kepada kenyataan diri Yesus Kristus, dan menjauh dari mitos (dongeng khayalan) yang telah diciptakan di seputar beliau.

Zaman dapat mengubah suatu kenyataan menjadi mitos dan legenda. Pengaruh dari legenda-legenda semacam itu hanya akan menjauhkan orang dari kenyataan-kenyataan hidup. Sebagai akibatnya, keimanan berubah menjadi khayalan dan tidak nyata. Sedangkan keimanan sejati yang berakar pada keanekaragaman sejarah dan fakta-faktanya sangat nyata dan cukup mampu untuk menimbulkan perubahan-perubahan besar di kalangan masyarakat. Dalam upaya memahami keimanan dan ajaran-ajaran Yesus yang sejati adalah sangat penting untuk memisahkan kisah nyata dari kisah khayal, dan memisahkan kebenaran dari mitos. Pencarian kebenaran adalah tujuan utama dari pengkajian ini. Saya ber-harap anda dapat bertenggang rasa dengan saya dan memahami bahwa saya tidak bermaksud menyerang keimanan ataupun perasaan seseorang.

Suatu pendekatan kritis adalah penting untuk menyelamatkan dunia Kristen dari kemerosotan moral. yang patut disayangkan—suatu jalan yang sulit untuk kembali. Menurut analisa saya, generasi muda masa kini dengan cepatnya kehilangan kepercayaan terhadap Tuhan. Dahulu pernah ada suatu zaman ketika para ilmuwan mulai menjauh dari Tuhan karena mereka menganggap pemahaman Yahudi-Kristen tentang alam. seperti yang tergambar dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tidaklah sesuai dengan kenyataan. Pemahaman tentang dunia dan perkara-perkara samawi serta hal-hal yang berada di baliknya, sebagaimana yang terurai melalui suatu penelaahan terhadap Bible, terbukti jauh dari kenyataan-kenyataan penemuan ilmiah yang terungkap pada masa awal Renaissance (abad kebangkitan). Kesenjangan antara keduanya terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta pemahaman manusia tentang alam mengalami suatu perubahan revolusioner. Hal ini, disamping faktor-faktor lainnya, menimbulkan suatu gelombang fatal yang mengarah kepada ketidakpercayaan terhadap Tuhan di kalangan kelompok-kelompok ilmuwan dalam masyarakat. Selanjutnya, sejalan dengan berkembangnya pendidikan secara jauh dan luas, universitas-universitas besar dan lembaga-lembaga pendidikan berubah menjadi lahan perkembangbiakan Atheisme. Dilema pemahaman Yahudi-Kristen tentang alam semesta nampak dengan jelas adanya pertentangan antara firman Tuhan dengan perbuatan-Nya. Dalil yang menentang kepercayaan terhadap Tuhan, adalah sebagai berikut: jika Tuhan memang Pencipta alam raya dan seisinya, dan jika Dia merupakan Pencipta serta Pemelihara hukum-hukum alam, sebagaimana yang ditemukan oleh pemikiran manusia yang selalu mencari, maka bagaimana mungkin Dia sendiri benar-benar tidak menyadari kenyataan-kenyataan tersebut?

Apabila seseorang mempelajari penjelasan Bible, tentang bagaimana langit dan bumi telah diciptakan, dan bagaimana manusia dibentuk dari debu serta bagaimana Hawa telah diciptakan dari tulang rusuk Adam dan sebagainya (dua contoh dari sekumpulan besar ketidakcocokan yang membingungkan antara firman dan perbuatan Tuhan), orang akan terkejut dan tertegun menyaksikan pertentangan-pertentangan nyata antara asal-usul kehidupan di bumi dan penjelasan Bible yang tertera dalam Kitab Kejadian.

Ketidak-konsekwenan ini membuat Gereja mengambil sikap pemaksaan pada masa-masa itu, tatkala Gereja memiliki kekuasaan politik yang tak tertandingi. Sebuah contoh masyhur adalah perselisihan antara Gereja dan Galileo. Ketika Galileo (1564-1642) menerbitkan penemuan-penemuannya tentang tatasurya, hal itu membangkitkan kemarahan Gereja sebab penemuanpenemuannya bertentangan dengan pandangan Gereja mengenai tata-surya. Dengan tekanan yang sangat keras dia dipaksa untuk membatalkan penemuanpenemuan ilmiahnya itu di hadapan umum. Jika tidak, dia akan menghadapi kematian melalui penyiksaan. Demikianlah, dia dikenakan tahanan rumah sepanjang hidupnya. Pada tahun 1992, barulah Gereja memutuskan untuk mencabut hukuman yang telah dijatuhkan terhadap Galileo, setelah melalui pertimbangan panjang selama 12 tahun oleh sebuah komite yang dibentuk oleh Paus, Paulus Yohanes I1.

Bermula dampak pertentangan-pertentangan ini tidak masuk atau menembus kalangan masyarakat umum dan untuk beberapa masa tertentu hal itu tetap terbatas pada kalangan intelektual saja. Namun seiring dengan penyebaran cahaya ilmu sekular, maka sesuatu yang diistilahkan sebagai “cahaya kepercayaan agama” lambat-laun lenyap dalam kegelapan secara bertahap. Pada masa awal Renaisance (abad ke-15), kegiatan-kegiatan para ilmuwan umumnya terbatas pada kalangan mereka sendiri. Hubungan luas antara mereka dengan masyarakat umum, sebagaimana yang tampak pada masa sekarang, belum lagi terbentuk. Oleh karena itu, paham atheis mereka belum mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. Namun, ketika pendidikan universal telah tersedia bagi generasi muda bangsabangsa maju, segala sesuatu beralih dengan cepatnya ke arah yang salah bagi agama. Kemudian diikuti oleh era filsafat dan rasional. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, filsafatfilsafat tentang ilmu-ilmu sosial baru dan psikologi mulai berkembang secara cepat, khususnya di abad ke-19 dan ke-20. Dengan berbaurnya filsafat materialistis baru dengan perkembangan dan pemikiran sekuler (duniawi), mereka merusak dasar-dasar agama, yakni kepercayaan terhadap Tuhan.

Moral/akhlak senantiasa diatur dan dijaga oleh kepercayaan seseorang terhadap Tuhan. Bila kepercayaan ini lemah dan tidak sempurna atau sesuatu kekeliruan terjadi dalamnya, maka moral terpengaruh ke dalam kondisi yang sama. Jika, misalnya, kepercayaan terhadap Tuhan berlawanan dengan pemahaman duniawi tentang alam dan dengan dorongan-dorongan akal sehat, maka secara perlahan dan bertahap, mutu kepercayaan orang-orang terhadap Tuhan terkikis dibarengi dengan dampak negatif yang sama terhadap moral mereka. Guna mencapai segenap tujuan pengamalan semata, sebuah masyarakat kemudian berubah menjadi atheis (tidak bertuhan), walaupun masih ada orang-orang yang tetap percaya kepada Tuhan. Tidaklah sulit untuk menentukan pokok masalah ini dan untuk memastikan mutu kepercayaan sebuah masyarakat terhadap Tuhan. Semakin lemah kepercayaan tersebut atau semakin banyak kekurangan dalamnya, semakin Iemah kendalinya terhadap sikap moral suatu masyarakat. Kapan saja kedua kepentingan itu tabrakan, kepercayaan terhadap Tuhan akan memberikan jalan kepada dorongan-dorongan yang tidak bermoral.

Dengan menerapkan patokan ini terhadap masyarakat agama mana pun di dunia ini, kita senantiasa dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang benar dan dapat dipercaya. Dengan menguji suatu masyarakat yang mengaku dirinya Kristen, seseorang dengan mudah dapat menanyakan apakah nilai-nilai Kristen terdapat dalam masyarakat tersebut atau tidak. Misalnya, apakah mereka memperlakukan tetangga-tetangga mereka sebagaimana yang dimintakan oleh The Ten Commandements (Sepuluh Perintah Tuhan) kepada mereka? Apakah mereka, pada masa krisis nasional dalam suasana perang dan sebagainya, menerapkan kaidah-kaidah Kristen terhadap musuh mereka? Apakah para korban tak berdosa akibat serangan dan penganiayaan, menyerahkan pipi lainnya ketika satu pipi ditampar? Pertanyaannya adalah sejauh mana perbuatan seseorang dalam kehidupan ini menggambarkan kepercayaannya? Jika tidak tergambarkan, itulah tepatnya apa yang kami maksudkan dengan mengatakan bahwa kepercayaan terhadap Tuhan bertabrakan dengan keinginan-keinginan dan keperluan-keperluan manusia. Jika kepercayaan terhadap Tuhan tampil unggul, dan keinginan-keinginan serta keperluan- keperluan manusialah yang dikorbankan di atas altar kepercayaan tersebut, barulah seseorang secara benar dapat mengatakan bahwa apa pun bentuk kepercayaan tersebut, paling tidak itu adalah asli. jujur dan teguh.

Menyimak dunia Kristen sekarang ini, dan menerapkan pengujian tersebut untuk menilai mutu kepercayaan terhadap Tuhan, menjadi suatu pengalaman yang menyedihkan dan mengecewakan. Yang tampak secara umum adalah suatu pemberontakan terangterangan terhadap kepercayaan kepada Tuhan, dan kadang-kadang suatu penentangan pasif yang tidak diungkapkan dalam bentuk penolakan secara terbuka. Adalah pertentangan antara kepercayaan terhadap Tuhan dan amal perbuatan yang dilakukan oleh manusia secara pribadi yang menimbulkan kesan bagi seseorang tentang adanya suatu masyarakat beragama yang terdiri dari orang-orang yang beriman. sementara hakikat yang sebenarnya sangat jauh berbeda. Hal yang sama dalam skala besar berlaku terhadap seluruh masyarakat beragama lainnya. Namun. dalam setiap kasus tidak selamanya faktor yang sama menimbulkan hal yang serupa. Kasus masing-masing masyarakat harus diperlakukan sesuai pokok pernlasalahan tersebut. Itulah sebabnya suatu pengamatan dan analisis yang sungguhsungguh. tidak memihak. tidak gegabah terhadap hakikat pertentangan-pertentangan antara kepercayaankepercayaan manusia dan pengamalan-pengamatan mereka, menuntut hal penting tersebut.

Penting untuk dicatat, kadang-kadang kepercayaan itu sendiri tidak lurus dan tidak alami. Misalnya, beberapa bagian dari ajaran-ajaran Talmud mengenai orang-orang bukan Yahudi, dan ajaran-ajaran Manu Samarti dalam Hindu mengenai orangorang dari kasta terendah, adalah sedemikian, sehingga akan lebih baik apabila masyarakat tersebut tidak mengamalkannya. Kadang-kadang suatu kepercayaan itu sendiri baik dan bermanfaat apabila diamalkan, tetapi orangoranglah yang me.njadi rusak dan kepercayaan itu ditinggalkan sebab sangat sulit serta sangat menuntut untuk diterapkan secara sungguh-sungguh. Kembali kepada masalah Kristen, kami memaparkan bahwa kepercayaankepercayaan Kristen pada dasamya bertabrakan dengan kenyataankenyataan alam dan tidak sesuai dengan harapan manusia yang didasarkan pada pikiran dan akal sehat. Melalui sudut pandang ini adalah suatu yang alami bagi orang-orang Kristen secara bertahap menjauhi keseriusan dalam beragama dan dari membiarkan peran kepercayaan-kepercayaan itu untuk menata kehidupan mereka.

Penerbit

Download Ebook Disini


La Bible, le Coran et la Science (Bibel, Qur-an dan Sains modern)

September 27, 2009

La Bible, Le Coran et la Science

La Bible, Le Coran et la Science

Pengantar

Pada bulan Maret 1977 saya  mendapat  kesempatan  untuk menghadiri  konferensi  internasional  Islam-Kristen dikota Cordoba di Spanyol. Bepergian saya tersebut sangat berfaedah,  karena memberi gambaran kepada saya tentang masa gemilang umat  Islam  di  negeri  Spanyol.  MasjidKurtubah yang sudah berusia 12 abad (didirikan 786) itu masih berdiri dengan  megahnya,  wulaupun  sudah  tidak dipakai  untuk  sembahyang  dan  di  dalamnya didirikan sebuah Katedral.

Setelah selesai konferensi, saya mengunjungi Kota Paris untuk  mengenang masa muda saya, ketika pada tahun 1956 saya mempertahankan tesis saya di Sorbonne. Pada  suatu hari,  saya  mengunjungi  Masjid  Paris yang megah, dan secara tidak sengaja, saya  dapatkan  tempat  penjualan gamban-gambar Masjid, yang disukai oleh tourist-tourist asing. Di tempat itu saya ketemukan buku yang  berjudul La  Bible,  le  Coran  et la Science (Bibel, Qur-an dan Sains modern). Segera saya  membeli  satu  naskah,  dan terus pulang ke Hotel. Buku itu saya baca sampai tamat.

Buku  tersebut  telah  menarik hati saya. Seorang tabib ahli bedah berkebangsaan Perancis,  yaitu  Dr.  Maurice Bucaille  telah  mengadakan studi perbandingan mengenai Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) dan  Qur-an serta  Sains  modern.  Akhirnya  ia mendapat kesimpulan bahwa  dalam  Bibel  terdapat  kesalahan   ilmiah   dan sejarah,  karena  Bibel  telah ditulis oleh manusia dan mengalami perubahan-perubahan yang dibuat oleh manusia. Mengenai   Al   Qur-an   ia  berpendapat  bahwa  sangat mengherankan bahwa suatu wahyu yang diturunkan 14  abad yang  lalu, memuat soal-soal ilmiah yang baru diketahui manusia pada abad XX atau  abad  XIX  dan  XVIII.  Atas dasar  itu, Dr. Maurice Bucaille berkesimpulan bahwa Al Qur-an adalah wahyu Ilahi yang murni dan Nabi  Muhammad adalah Nabi terakhir.

Setelah  membaca  buku tersebut, saya merasa bahwa saya harus menyampaikan  isi  buku  tersebut  kepada  bangsa Indonesia,  yang selalu menunjukkan perhatiannya kepada agama. Maka saya terjemahkan  buku  tersebut,  dengan  harapan mudah-mudahan  isinya  dapat  dimanfaatkan  oleh mereka yang mencari  kebenaran  dan  mencari  pegangan  hidup, khususnya    para   cendekiawan   yang   tidak   sempat mempelajari Islam dari sumber-sumber yang memuaskan. Saya panjatkan syukur kepada Allah  s.w.t.  yang  telah memberi saya tenaga untuk melaksanakan terjemahan ini.

Jakarta 1 September 1978.

M. Rasjidi.

Download Ebook Disini