Pendapat Para Ilmuwan Non-Muslim Tentang Bible & Al-Qur’an

October 15, 2009

Pendapat Toko-tokoh Non Muslim terhadap Kitab Bibel

Bible

Bible

1. Dr. Mr. D. N. Mulder dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Lama”, tahun 1963, page 12 dan 13, berkata sebagai berikut: “Buku ini dikarang pada waktu-waktu tertentu, dan pengarang-pengarangnya memang manusia juga, yang terpengaruh oleh keadaan waktunya dan oleh suasana di sekitarnya dan oleh pembawaan pengarang itu sendiri. Naskah-naskah asli dari Kitab Suci itu sudah tidak ada Iagi. Yang ada pada kita hanya turunan atau salinan. Dan salinan itu bukannya salinan langsung dari naskah asli, melainkan dari salinan dan seterusnya. Sering di dalam menyalin Kitab Suci itu terseliplah salah salin.”

2. Drs. M. E. Duyverman dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru”, tahun 1966, page 24 dan 25, berkata sebagai berikut: “Ada kalanya penyalin tersentuh pada kesalahan dalam naskah asli yang dipergunakannya, lalu kesalahan itu diperbaikinya, padahal perbaikan itu sering mengakibatkan perbedaan yang lebih besar dengan yang sungguh asli. Dan kira-kira pada abad keempat, di Antiochia diadakan penyelidikan dan penyesuaian salinan-salinan; agaknya terdorong oleh perbedaan yang sudah terlalu besar diantara salinan-salinan yang dipergunakan dengan resmi dalam Gereja.”

3. Dr. B. J. Boland dalam bukunya “Het Johannes Evangelie”, p. 9, berkata sebagai berikut: “Zijn ons de waarheden van het Evangelie van Jesus Christus in haar corspron-kelijken onvervalschen, zul veren vorm overgeleverd of zijn de door het intermediair van den Griek schen Geest, van de Griek sche reid, het laat stea an te nemen…dat de letter der Nieuw-Testament-ische boeken in de eerste eeuwen anzer jaartelling gewichtig wijzungen moet hebben ondergaan.”

Artinya: Apakah kebenaran-kebenaran dari Injil Jesus Kristus diserahkan kepada kita dalam bentuk murninya, asli dan tidak dipalsukan, ataukah telah dirubah melalui alam fikiran kebudayaan Gerika? Umumnya yang terakhirlah yang diterima oleh orang jaman kini… bahwa tulisan-tulisan Kitab Perjanjian Baru pada dua abad pertama perhitungan tahun kita, pasti telah mengalami perubahan besar.

4. Dr. A. Powel Daviesdalam bukunya “The meaning of the Dead Sea Scrolls The New American Library” tahun 1961 , p. 106, berkata: “The first three, or Synoptic Gospels tell much the same story. There are discrepancies; but it is impossible to a considerable extent to reconcile them. John’s Gospel, however, tells quit a different story from the other three. If John is right, then the other three are wrong; If the Synoptic are right, the John’s gospel must surely be in error.”

Artinya: Tiga Injil pertama, yaitu Injil Synoptik, membawakan cerita yang sama. Terdapat pertentangan-pertentangan di dalamnya, sehingga tidaklah mungkin sedemikian jauh untuk mendamaikan ayat-ayat ini. Namun Injil Johannes, menceritakan cerita-cerita yang amat berbeda dari ketiga Injil pertama itu. Bila Injil Johannes yang betul, maka ketiga Injil yang lain itu salah; bila ketiga Injil itu betul, maka Injil Johannes pasti salah.

5. Dr. G. C. Vari Niftrik dan Dr. B. J. Bolanddalam bukunya “Dogmatika Masakini”, cetakan ketiga; tahun 1978, p. 322, berkata sebagai berikut: “Kita tidak usah merasa malu bahwa terdapat pelbagai kekhilafan di dalam Al-Kitab; kekhilafan tentang angka-angka, perhitungan-perhitungan tahun dan fakta-fakta. Dan tak perlu kita pertanggungjawabkan kekhilafan-kekhilafan itu berdasarkan caranya isi Al-Kitab telah disampaikan kepada kita, sehingga dapat kita berkata: dalam naskah asli tentulah tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan-kekhilafan itu barulah kemudiannya terjadi di dalam turunan-turunan (salinan-salinan-pen) naskah itu.”

6. Herman Bakels (1871-1954) dalam bukunya “Nij Ketters? Ya.. Om deere Gods”, p. 119-120, lewat buku “Dialog antara Ahmadiyah dengan saksi-saksi Yehowa”, p. 83 dan 88 berkata sebagai berikut: “De andere ses Bijbels (Weda, Awesta, de boeken over Boedha, Tao-teking, Confusius boeken, Kor’an) ken ik niet genoeg…Van onzen Bijbel weet ik dit zeker. Ik heb hem dertig jaar lang van voren tot achteren doorploeterd. En ik zeg rondement; ik kan in Europa geen boek dat meer stikvol dingen-die-niet-waar-zijn zit dan de Bijbel.”

Artinya: Adapun enam buah kitab (Weda, Awesta, Kitab-kitab tentang Budha, Tao-teking, Kitab-kitab Confusius, Al-Qur’an) tidak begitu saya kenal. Akan tetapi Bijbel kita ini, pasti saya ketahui. Sudah 30 tahun lamanya saya mengincah Bijbel kita ini dari awal sampai akhir. Oleh karena itu terus terang saya katakan, bahwa di Eropa, saya belum kenal sebuah kitab yang lebih padat dengan hal-hal yang tidak benar dari pada Bijbel.

Dia juga berkata:
“Bijna alle koeken zijn er misleidend, nipseudepigra fisch. D.W.Z. niet geschreven door de auteurs op wier namen zestaan, maar wel later geschreven.”

Artinya: Hampir semua kitab-kitab dalam bibel itu menyesatkan, yakni memakai nama. palsu, yaitu tidak ditulis oleh pengarang-pengarang yang tercantum nama mereka di atasnya, melainkan ditulis jauh di belakang mereka.

7. Surat kabar di Ghana, yaitu Harian Times, 24 Juni 1964 yang dimuat oleh harian Mercusuar Yk. tertanggal 31-8-1968; Mr. RT. Payet, di dalam parlemen inggris tahun 1964 mengusulkan kepada Pemerintah Inggris dalam hal ini The British Home Secretary agar Injil dilarang beredar. Salah satu di antara sebabnya seperti yang ia katakan sebagai berikut: “I know of no book in history which could compare with the Bible as a source of brutality and sadistic conduct.

Artinya: Tidak ada di dalam sejarah satu buku yang merupakan sumber dari perbuatan-perbuatan yang brutal dan sadis selain Injil ini. (I. Sudibya Markus dalam buku “Dialog Islam-Nasrani dan Usul Pelanggaran Injil di Inggris”, terbitan Potrosari Ler. 28 Mgl.).

8. Prof. Herbert J. Muller dalam buku “The Uses of the Past, p. 168 lewat bukunya O. Hashem, “Marxiesme dan Agama”, tahun 1965, Japi Surabaya, p. 45, berkata: “Scholars regard this text ( I Johannes 5:7) as a later interpolation however, since it does not appear in the best manuscripts.”

Artinya:
Para sarjana menganggap bahwa naskah ini ( I Johannes 5:7) adalah suatu sisipan/tambahan kemudian, karena ayat seperti ini tidak diketemukan pada manuskrip-manuskrip terbaik.

9. Kata Herman Bakel dan Dr. A. Powel Davies, “Injil Matius 28:19 dan Injil Markus 16:9-19 adalah sisipan. Bacalah bukunya.” (Hashem, “Jawaban Lengkap Kepada Pendeta Dr. J. Verkuyl,” terbitan JAPI, Surabaya, tahun 1969, halaman 94).

10. George Bernard Shaw, pemikir dan dramawan besar Inggris, sewaktu membaca Kitab Suci Injil dengan teliti mengatakan bahwa kitab tersebut adalah “Kitab yang paling berbahaya di bumi. Jaga kitab tersebut dalam keadaan ter-kunci: larang anak-anak Anda membacanya.”

11. Majalah The Plain Truth, sebuah terbitan “World Church of Tomorrow,” dalam salah satu artikelnya mengatakan, “Banyak badan sensor akan memberi Injil rating X.”

Pendapat Toko-tokoh Non Muslim terhadap Al-Quran

Al-Qur'an

Al-Qur'an

1. Harry Gaylord Dormandalam buku “Towards Understanding lslam”, New York, 1948, p.3, berkata: “Kitab Qur’an ini adalah benar-benar sabda Tuhan yang didiktekan oleh Jibril, sempurna setiap hurufnya, dan merupakan suatu mukjizat yang tetap aktual hingga kini, untuk membuktikan kebenarannya dan kebenaran Muhammad.”

2. Prof. H. A. R. Gibb dalam buku “Mohammadanism”, London, 1953, p. 33, berkata sebagai berikut: “Nah, jika memang Qur’an itu hasil karyanya sendiri, maka orang lain dapat menandinginya. Cobalah mereka mengarang sebuah ungkapan seperti itu. Kalau sampai mereka tidak sanggup dan boleh dikatakan mereka pasti tidak mampu, maka sewajarnyalah mereka menerima Qur’an sebagai bukti yang kuat tentang mukjizat.”

3. Sir William Muir dalam buku “The Life of Mohamet”, London, 1907; p. VII berkata sebagai berikut: “Qur’an adalah karya dasar Agama Islam. Kekuasaannya mutlak dalam segala hal, etika dan ilmu pengetahuan…”

4. DR. John William Draper dalam buku “A History of the intelectual Development in Europe”, London, 1875, jilid 1 , p. 343-344, berkata: “Qur’an mengandung sugesti-sugesti dan proses moral yang cemerlang yang sangat berlimpah-limpah; susunannya demikian fragmenter, sehingga kita tidak dapat membuka satu lembaran tanpa menemukan ungkapan-ungkapan yang harus diterima olehsekalian orang. Susunan fragmenter ini, mengemukakan teks-teks, moto dan peraturan- peraturan yang sempurna sendirinya, sesuai bagi setiap orang untuk setiap peristiwa dalam hidup.”

5. DR. J. Shiddily dalam buku “The Lord Jesus in the Qur’an”, p. 111 , berkata: “Qur’an adalah Bible kaum Muslimin dan lebih dimuliakan dari kitab suci yang manapun, lebih dari kitab Perjanjian Lama dan kitab perjanjian Baru.”

6. Laura Vaccia Vaglieri dalam buku “Apologie de I’Islamism, p. 57 berkata: “Dalam keseluruhannya kita dapati dalam kitab ini, suatu koleksi tentang kebijaksanaan yang dapat diperoleh oleh orang-orang yang paling cerdas, filosof-filosof yang terbesar dan ahli-ahli politik yang paling cakap… Tetapi ada bukti lain tentang sifat Ilahi dalam Qur’an, adalah suatu kenyataan bahwa Qur’an itu tetap utuh melintasi masa-masa sejak turunnya wahyu itu hingga pada masa kini…Kitab ini dibaca berulang-ulang oleh orang yang beriman dengan tiada jemu-jemunya. Keistimewaannya pula, Qur’an senantiasa dipelajari/dibaca oleh anak-anak sejak sekolah tingkat dasar hingga tingkat Profesor. “

“Sebaliknya malah karena diulang- ulang ia makin dicintai sehari demi sehari. Qur’an membangkitkan timbulnya perasaan penghormatan dan respek yang mendalam, pada diri orang yang membaca dan mendengarkannya…. Oleh karena itu bukan dengan jalan paksaan atau dengan senjata, tidak pula dengan tekanan mubaligh-mubaligh yang menyebabkan penyiaran Isiam besar dan cepat, tetapi oleh kenyataan bahwa kitab ini, yang diperkenalkan kaum Muslimin kepada orang-orang yang ditaklukkan dengan kebebasan untuk menerima atau menolaknya adalah kitab Tuhan. Kata yang benar, mukjizat terbesar yang dapat diperlihatkan Muhammad kepada orang yang ragu dan kepada orang yang tetap berkeras kepala.”

7. Prof. A. J. Amberry, dalam buku “De Kracht van den Islam”, hlm. 38, berkata: “Qur’an ditulis dengan gaya tak menentu dan tidak teratur, yang menunjukkan bahwa penulisnya di atas segala hukum-hukum pengarang manusia.”

8. G. Margoliouth dalam buku “Introduction to the Koran” (kata pendahuluan untuk buku J. M. H. Rodwell), London, 1918, berkata: “Diakui bahwa Our’an itu mempunyai kedudukan yang penting diantara kitab-kitab Agama di dunia. Walau kitab ini merupakan yang terakhir dari kitab-kitab yang termasuk dalam kesusasteraan ini, ia tidak kalah dari yang mana pun dalam effeknya yang mengagumkan, yang telah ditimbulkannya terhadap sejumlah besar manusia yang telah menciptakan suatu phase kemajuan manusia dan satu tipe karakter yang segar.”

9. George Sale dalam buku “Joseph Charles Mardrus-Premilinary Discourse”, berkata: “Di seluruh dunia diakui bahwa Qur’an tertulis dalam bahasa Arab dengan gaya yang paling tinggi, paling murni….diakui sebagai standard bahasa Arab… dan tak dapat ditiru oleh pena manusia… Oleh karena itu diakui sebagai mukjizat yang besar, lebih besar daripada membangkitkan orang mati, dan itu saja sudah cukup untuk meyakinkan dunia bahwa kitab itu berasal dari Tuhan.”

10. E. Denisen Ross dari “Introduction to the Koran-George Sale”, p. 5, berkata: “Qur’an memegang peranan yang lebih besar terhadap kaum Muslimin daripada peranan Bible dalam agama Kristen. Ia bukan saja merupakan sebuah kitab suci dari kepercayaan mereka, tetapi juga merupakan text book dari upacara agamanya dan prinsip-prinsip hukum kemasyarakatan…..Sungguh sebuah kitab seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa-masa ini, di mana ruang dan waktu hampir telah dipunahkan oleh penemuan-penemuan modern.”

11. James A. Michener dalam “Islam the Misunderstood Religion Readers Digest”, Mei 1955, berkata sebagai berikut: “Berita Qur’an inilah yang mengusir patung-patung dewa, dan memberikan ilham kepada manusia untuk merevolusikan hidup dan bangsa mereka…. Kombinasi antara persembahan kepada Satu Tuhan ditambah dengan perintah prakteknya yang membuat Qur’an menjadi khas. Bangsa yang beragama di Timur yakin bahwa negara mereka hanya akan diperintah dengan baik apabila hukum-hukumnya sejalan dengan Qur’an.

12. W.E. Hocking dalam “Spirit of World Politics New York 32″, p. 461 , berkata: “…saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa Qur’an berisi amat banyak prinsip-prinsip yang diperlukan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa hingga pertengahan abad ke-13, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.”

13. Napoleon Bonaparte
a. Dari “Stanislas Cuyard-Ency des Sciences Religioses”, Paris, 1880, jilid IX, p. 501 berkata sebagai berikut: ” Selama abad-abad pertengahan, sejarah Islam peradaban sepenuhnya. Berkat keuletan kaum Musliminlah maka ilmu pengetahuan dan falsafah Yunani tertolong dari kebinasaan, dan kemudian datang membangunkan dunia Barat serta membangkitkan gerakan intelektual sampai pada pembaruan Bacon. Dalam abad ke-7 dunia lama itu sedang dalam sakaratulmauit. Muharnmad memberi kepada mereka sebuah Qur’an yang rnerupakan titik tolak ke arah dunia baru.”

b. Dari buku “Bonaparte et I’Islarn oleh Cherlifs, Paris, p. 105, berkata sebagai berikut: “I hope the time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the prinsiples of the Qur’an wich alone can lead men to happiness.

Artinya:
Saya meramalkan bahwa tidak lama lagi akan dapat dipersatukan semua manusia yang berakal dan berpendidikan tinggi untuk memajukan satu kesatuan kekuasaan yang berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam, karena hanyalah Qur’an itu satu-satunya kebenaran yang mampu memimpin manusia kepada kebahagiaan.*

*) Sumber terutama dari M. Hashem, “Kekaguman Dunia terhadap Islam”, cetakan pertama, Bandung,

Sumber : Disini, Disini

Wassalam


Kristen-Kristen Akan Berbondong-bondong Meninggalkan Kristen

October 14, 2009

Kristen itu bukan pengampunan dosa, tapi peniadaan dosa. Dosa tidak ada lagi di dalam kristen. Sekali lagi, tidak ada lagi yang namanya dosa di dalam kristen. Begitu juga dengan makna pembatalan hukum atau peniadaan hukum itu. Dosa ada karena ada hukum, tidak ada hukum tidak ada dosa. sama kayak mengatakan banyak belajar banyak lupa, kalo gak mau lupa jangan belajar sama sekali

Ini adalah ide peniadaan hukum dalam kristen. Ada dosa ada hukuman. Di dalam yesus tidak ada lagi yang namanya hukuman itu. Siapa yang percaya pada kematian Yesus, dosa dan hukuman apapun tidak berlaku lagi baginya, di dunia ini dan setelah mati. Sayangnya kematian Yesus hanya isapan jempol.

Ketika seorang kristen melakukan suatu pelanggaran, kasarnya suatu kejahatan, tidak ada dosa dan tidak ada hukuman baginya di dalam yesus. Salah tidak bersalah, orang kristen tetep tidak bersalah. Itulah karunia buat mereka di dalam yesus. Berbuat jahat atau tidak, di dalam kekristenan sama saja. Paling-paling hukuman itu hanya ada dalam hukum masyarakat (hukum manusia), di dunia ini saja. Kalau seorang kristen tidak ingin dihukum karena hukum manusia, jangan coba-coba ia melawan hukum manusia. Itu saja. Kalau ia melanggar hukum manusia, sengaja atau tidak, tetapi ia tidak ingin dihukum, dia harus licin kayak ular supaya tidak terkena oleh hukuman.

Tapi bagi orang-orang benar, semua yang baik datangnya dari Tuhan. Melakukan peraturan-peraturan yang baik itu, sekalipun itu hasil musyawarah manusia, merupakan suatu kesalehan di mata Tuhan. Ada ganjaran baiknya di dunia dan di akherat.

Memahami secara mendalam makna pengampunan dosa ini, menerima hukuman adalah kebodohan bagi seorang kristen, sekalipun ia memang bersalah. Kasarnya sekalipun ia mencuri, sekalipun ia memperkosa, sekalipun ia merampok, tidak akan ada dosa baginya. Ini benar-benar mengejutkan. Doktrin ini hanya cocok untuk orang-orang yang belum berbudaya, atau kalau di zaman sekarang, hanya cocok untuk orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, yang tidak percaya kepada kehidupan setelah mati. Atau orang-orang atheis.

Mungkin orang atheis masih mending. Orang atheis masih bisa melihat kepada ajaran kemanusiaan untuk menjadi orang baik. Juga masih bisa melihat kepada science (ilmu pengetahuan). Kekristenan tidak bisa melihat kepada kemanusiaan, karena doktrinnya memusuhi manusia dan merubah bentuk manusia. Tidak bisa melihat kepada science, karena ia tidak mentaati akal budi. Menjadi manusia adalah negatif bagi kekristenan. Akal budi tidak berguna dan kebodohan. Agama kristen bukan untuk menjadi orang baik, tapi untuk merasa nyaman menjadi orang yang tidak baik.

Kekristenan mempunyai akal tersendiri yang bisa menyelesaikan masalah umatnya. Akal-akalan kali ye? Sebenarnya tuntutan menjadi orang baik di dalam keristenan hanya basa-basi. Kasih yang dibanggakan oleh doktrin kristen bukan memberi dan berkorban, tapi kasih diberi dan memperoleh. Bukan aktif keluar, tapi pasif kedalam. Apa gunanya itu bagi kehidupan bersama? Itu hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Sebaiknya orang kristen yang masih setia pada kekristenan tinggal di hutan atau di goa-goa seperti zaman purbakala.

Bagi seorang kristen yang benar-benar mendalam ilmu alkitabnya, hukum manusia tidak wajib dihormati, oleh karenanya orang kristen tidak merasa ada kehormatan di dalam melakukan hukum dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah ataupun masyarakat yang dikeluarkan dari hasil musawarah dan mufakat. Bahkan termasuk juga peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Tuhan dan para nabi. Kristen bilang, orang tidak dibenarkan karena melakukan hukum Taurat (Roma 3:20).

Kehormatan di dalam kristen adalah semata-mata menyelamatkan diri sendiri. Sebenarnya ia adalah agama kepentingan sendiri. Kita lihat saja dalam doktrin keselamatannya, seseorang selamat bukan karena besar kecil perbuatan baiknya, tapi oleh adanya suatu penyelamatan yang tidak mempertimbangkan perbuatan apapun. Suatu keselamatan yang didapat dengan cara membantali orang lain. Dan mereka amat bangga dengan kemalasan dan sikap tak bertanggugnjawab itu. Supaya hebat, yang dibantali adalah anak tuhan. Selamat dengan membantali orang lain adalah keselamatannya para pendusta. Tidak ada bedanya selamat dengan cara memfitnah. Para penjahat lolos dari hukuman dengan cara seperti itu.

Agama kristen bukan untuk mengelola perbuatan supaya hanya mengarah kepada kesalehan demi kehidupan bersama yang lebih baik dan hidup benar di mata Tuhan. Tapi ia adalah agama untuk memberi rasa bebas kepada para pendosa supaya pikiran mereka tidak dibebani rasa bersalah oleh perbuatan mereka sendiri. Sehingga kalau kata kasih dan kata cinta yang selalu digembar-gemborkan di dalam kristen itu dikaitkan dengan sikap memberi dan berkorban maka akan terjadi konflik yang sulit dipecahkan. Ingat, perbuatan baik di dalam kekristenan tidak ada kelebihannya apa-apa dari perbuatan jahat. Sama sekali. Itulah makna dari tidak ada penghakiman di dalam yesus yang sebenarnya (roma 8:1-2). Ini benar-benar bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh yesus sendiri yang disebut akan memaklumkan hukum sepada bangsa-bangsa.

Jelas sekali sekarang bahwa kekristenan merupakan jalan yang dipersiapkan bagi kekuasaan Iblis di muka bumi. Sungguh mengerikan. Sangat wajar kalo Yesus mengatakan di akhir zaman: Aku tidak pernah mengenal kalian. Enyah kalian! Kalian pembuat kejahatan…

Mt 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Orang-orang kristen yang masih manusiawi, yang masih setia pada kebaikan dan kesalehan serta suka berfikir luas, pasti akan ribut-ribut selalu di dalam hati mereka. Karenanya suatu ketika orang-orang kristen banyak yang akan berbondong-bondong meninggalkan kekristenan. Mereka pada pindah ke agama-agama tua seperti Buddha, Hindu, Tao (sambil menghindari islam), dan menjadi juga agnostik. Tapi pada akhirnya akan ada gelombang mereka berbondong-bondong masuk Islam. Setelah gelombang itu, masyarakat dunia akan menuntut kekristenan dan juga menuntut bangsa yahudi yang merupakan biang kerok dari semua kejadian ini. Bendera “anak-anak allah” nya kristen dan yahudi akan diturunkan dengan paksa oleh masyarakat dunia. Inilah pertama kali dalam sejarah, agama dihapuskan secara paksa oleh massa.

Quran 5:18 Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).

Kristen dan yahudi masuk ke lubang yang mereka siapkan sendiri untuk agama islam melalui fitnah-fitnah keji mereka.

Setelah itu di terjadi perubahan besar dari barat sampai ke timur. Dunia pun menjadi aman dan damai. Kesejahteraan berkembang dengan pesat. Banyak hal-hal yang tidak pernah terpikir sebelumnya dan luar biasa pada bermunculan. Kehidupan manusia mengalami kemajuan yang luar biasa. Science dan spiritualitas berkembang sungguh mengagumkan secara berdampingan. Nah, kita akan lihat bagaimana kristen dan yahudi akan memperlambat semua itu lantaran ketakutan mereka sendiri. Pasang mata pasang telinga. Yang pasti akan banyak fitnah-memfitnah dan pengerusakan, sebagiannya sudah kita saksikan. Mari kita tonton aksi mereka. semoga para pemimpin tidak salah dalam mensikapi para dajjal pendusta.

Sumber : id.Punisher


Kumpulan Fakta Pendeta Mengedit Alkitab III

October 12, 2009

Postingan Sebelumnya tentang Kumpulan Fakta Pendeta Ngedit Alkitab I, Alkitab II

Pendeta Kristen Ngedit Habakuk 3:3
“Holy One” diedit menjadi “Holy God”

(KJV) God came from Teman, and the Holy One from mount Paran. Selah. His glory covered the heavens, and the earth was full of his praise.

Bandingkan Dengan

(GNB) God is coming again from Edom; the holy God is coming from the hills of Paran. His splendor covers the heavens, and the earth is full of his praise.

Pendeta Kristen ngedit Mazmur 104:2
“curtain” menjadi tenda

(KJV) Who coverest thyself with light as with a garment: who stretchest out the heavens like a curtain:

Bandingkan Dengan

(TB) yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda,

Pendeta Kristen ngedit Mazmur 1:4
Menyisipkan kalimat palsu “from the face of the earth”

(KJV) The ungodly are not so: but are like the chaff which the wind driveth away.

Bandingkan Dengan

(DRB) Not so the wicked, not so: but like the dust, which the wind driveth from the face of the earth.

Pendeta Kristen ngedit Kejadian 21:9
Menyisipkan kalimat palsu “dengan Ishak, anak Sara”

(KJV) And Sarah saw the son of Hagar the Egyptian, which she had born unto Abraham, mocking.

Bandingkan Dengan

(BIS) Pada suatu hari, Ismael, anak Abraham dan Hagar wanita Mesir itu, sedang bermain-main dengan Ishak, anak Sara.

(GNB) One day Ishmael, whom Hagar the Egyptian had borne to Abraham, was playing with Sarah’s son Isaac.

Pendeta Kristen ngedit Ulangan 18:18
“orang kudus” diedit menjadi “malaikat”

(KJV) And he said, The LORD came from Sinai, and rose up from Seir unto them; he shined forth from mount Paran, and he came with ten thousands of saints : from his right hand went a fiery law for them.

Bandingkan Dengan

(BIS) “TUHAN datang dari Gunung Sinai; Ia terbit di atas Edom laksana matahari dan dari Gunung Paran Ia menyinari umat-Nya. Ia disertai sepuluh ribu malaikat ; api menyala di sebelah kanan-Nya.

(GNB) The LORD came from Mount Sinai; he rose like the sun over Edom and shone on his people from Mount Paran. Ten thousand angels were with him, a flaming fire at his right hand.

Pendeta Kristen ngedit Kejadian 21:12
“ngeri” diedit menjadi “sebal hati”

(KJV) And God said unto Abraham, Let it not be grievous in thy sight because of the lad, and because of thy bondwoman; in all that Sarah hath said unto thee, hearken unto her voice; for in Isaac shall thy seed be called.

Bandingkan Dengan

(TB) Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.

di Bible 1John, dalil Trinitas yang digunakan pada jaman KJV dihapus.

KJV)
[6] This is he that came by water and blood, even Jesus Christ; not by water only, but by water and blood. And it is the Spirit that beareth witness, because the Spirit is truth.
[7] For there are three that bear record in heaven, the Father, the Word, and the Holy Ghost: and these three are one.
[8] And there are three that bear witness in earth, the spirit, and the water, and the blood: and these three agree in one.

(RSV)
[6]This is he who came by water and blood, Jesus Christ, not with the water only but with the water and the blood.
[7] And the Spirit is the witness, because the Spirit is the truth.
[8] There are three witnesses, the Spirit, the water, and the blood; and these three agree.

Para EDITOR ternyata MENTEORIKAN beragam kesalahan tersebut :

MENGUJI KEORISINAL ALKITAB
Oleh Dr. Eddy Peter P., Ph.D.

Mungkinkah bisa Terjadi Kesalahan dalam Penyalinan Perjanjian Baru?

Sejak manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan mungkin saja waktu menyalinnya ada kesalahan yang ia buat. Kesalahan tersebut bisa terdiri dari dua kemungkinan:
(1) Kesalahan yang disengaja[b] :hihi:, yaitu ketika bidat-bidat Kristen yang muncul di abad permulaan menyalin Alkitab mereka mengadakan penghapusan dan pengubahan kata-kata yang bertentangan dengan doktrin mereka.
(2) Kesalahan yang tidak disengaja, yaitu kesalahan yang disebabkan oleh:

a. [b]Salah memenggal kata: Dalam salinan Alkitab mula-mula tidak ada spasi, jadi ketika disalin dengan memberi spasi mungkin saja terjadi kesalahan dalam memenggal kata. Misalnya perhatikan kata berikut ini HAVEYOUSEENABUNDANCE (sebelum disalin) dan setalah di salin menjadi HAVE YOU SEEN ABUNDANCE mungkin saja bisa salah kerena yang dimaksud adalah HAVE YOU SEEN A BUN DANCE. Contoh lain kata GODISNOWHERE (sebelum disalin) dan setelah disalin men-jadi GOD IS NOWHERE mungkin saja salah karena sebenarnya yang dimaksud adalah GOD IS NOW HERE.
b. Tertukar dengan huruf yang mirip, misalnya dalam bahasa Yunani ada huruf A dan 3I, 9 dan 77. Huruf-huruf tersebut bisa tertukar dalam penyalinan.
c. Salah menafsirkan karena teks yang disalinnya tidak otentik[b]. Dalam penulisan Alkitab bahasa Yunani ada kata-kata singkatan, misalnya kata E1 yang berarti “Allah” bisa dianggap E? yang berarti “Dia”. Kasus ini terjadi dalam 1 Timotius 3:16.
d. [b]Dalam penyalinan mungkin saja kata atau kalimat yang sudah disalin bisa disalin kembali tanpa sengaja
.
e. Salah dengar ketika didiktekan :hihi:

Alkitab Perjanjian Baru Bahasa Yunani dari Alexandrian type/ Minority Text yang kemudian diedit oleh Westcott dan Hort menjadi Critical Text kini diterbitkan kembali oleh United Bible Society, yaitu United Bible Societies’ Greek New Testament (UBSGNT), yang juga diterbitkan ulang dalam dwibahasa Yunani-Indonesia oleh Lembaga Alkitab Indonesia. Edisi lainnya adalah edisi Nestle dan Aland, yaitu Nestle Aland Greek New Testament (NAGNT). Dan semua Alkitab bahasa Inggris terbitan United Bible Society atau pasca King James Version/AV1661, misalnya English Revised Version (ERV) 1881, American Standard Version (ASV) 1900-1901, Revised Standard Version (RSV) 1952, New English Bible (NEB) 1970, New American Standard Bible (NASB) 1971, New International Version (NIV) 1978, New Revised Standard Version (NRSV) 1990 diterjemahkan dari Westcott dan Hort Text ini. Begitu juga Alkitab Bahasa Indonesia terbitan LAI lebih mendekati teks Westcott dan Hort dari pada Textus Receptus.

Naah…edisi yang di edit Wescot dan Hort ini di pakai di indonesia, TERNYATA EDITORNYA BERMASALAH… :hihi: ( 10×10=cepeek deeh )

Siapakah Westcott dan Hort ini?

Westcott dan Hort itu adalah bapa dari liberalisme. Mereka tidak percaya bahwa Alkitab sepenuhnya diinspirasikan oleh Allah. Westcott dan Hort adalah bagian dari team yang menerjemahkan Alkitab P.B. dari English Revised Version (RV). Mereka mempertanyakan doktrin inspirasi Alkitab melalui menerjemahkan 2 Timotius 3:16 sebagai berikut, “Every Scripture inspired of God is also profitable…” (Segala tulisan yang diinspirasikan – ada yang tidak diinspirasikan? – bermanfaat…”). Dengan meletakan kata Bantu “is” setelah kata “inspired of God”, klausa ini memberi arti bahwa tidak seluruh Alkitab diinspirasikan oleh Allah[b]. Hanya bagian-bagian tertentu yang diinspirasikan, yaitu yang “bermanfaat…” Namun King James Version meletakan kata kerja bantu “is” setelah kata “all Scripture”,”All Scripture is given by inspi-ration of God and is profitable…” (Segala tulisan (Alkitab) diberikan Allah melalui inspirasi dan bermanfaat…). KJV memberikan pandangan absolut inerrancy (ketanpasalahan Alkitab secara mutlak), tetapi RV yang dihasilkan oleh Westcott & Hort memberikan pandangan limited inerrancy [b](ketiadasalahan Alkitab yang terbatas).

Pandangan Westcott dan Hort tetang inspi-rasi dan otoritas Alkitab yang sangat lunak adalah bukti penolakan mereka terhadap Biblical Creation-isme (Penciptaan menurut Alkitab). Hort dengan jelas percaya dan mendukung teori evolusi Darwin. Ia berkata;

“Tetapi buku yang sangat mengesankan adalah karya Darwin. Apapun yang diajarnya, ini adalah satu-satunya buku yang patut dibanggakan di masa kini… Perasaan saya kuat bahwa teori ini tidak dapat disangkal.” [xiii]

Westcott menganggap penciptaan yang tercatat dalam Alkitab hanyalah sebuah dongeng. Ia menulis surat kepada Archibishop dari Canterbury, 4 Maret 1890;

“Saya kira tidak seorangpun yang saat ini membaca tiga fasal pertama dari kitab kejadian merupakan sejarah yang literal. Saya tidak pernah mengerti bagaimana seorang membacanya dengan mebuka mata dapat berfikir bahwa itu benar-benar terjadi.” [xiv]

Westcott dan Hort tidak hanya mengingkari Firman Allah, tetapi juga mengingkari karya kese-lamatan oleh Kristus. Mereka tidak percaya bahwa Kristus adalah Sole Mediator (perantara tunggal) dan satu-satunya pribadi yang harus dimuliakan dan disembah. Hort adalah seorang pemuja Maria. Ia mengaku,

“Saya telah yakin selama bertahun-tahun bahwa penyembahan kepada Maria dan penyem-bahan kepada Yesus sangat banyak kesamaan dalam kasus dan hasilnya.” [xv] Westcott pernah menulis kepada Archibishop Benson, pada tanggal 17 November 1865, “Saya berharap dapat melihat kebenaran penyembahan kepada Maria yang telah dilupakan itu diberikan kesaksian.” [xvi]

Kutipan Dr. Timothy Tow berikut ini pen-ting untuk kita perhatikan:
“Dr. D.A. Waite mengatakan bahwa Westcott dan Hort mengingkari doktrin-doktrin fundamental kekristenan, sedikitnya ada sembilan doktrin yang diingkari oleh mereka; ( EDITOR YANG MENGINGKARI 9 DOKTRIN :hihi: )

1. Doktrin inspirasi Kitab Suci
2. Catatan Kitab Kejadian tentang penciptaan dan kejatuhan manusia
3. Keilahian Tuhan kita Yesus Kristus, pre-eksistensi dan keilahianNya, sifat ke-MesiasanNya dan ketanpa-dosaan Kristus
4. Penggantian penebusan oleh Kristus dan penebusan melalui darahNya.
5. Kebangkitan tubuh jasmani Kristus
6. Kedatangan Kristus yang kedua kali
7. Doktrin tentang kehidupan yang kekal
8. Realitas Sorga dan Neraka
9. Pribadi setan

Di samping penolakan Westcott dan Hort terhadap doktrin fundamental di atas, mereka juga memiliki kepercayaan-kepercayaan sebagai berikut;
1. Manusia memiliki sifat ilahi dan kesempurnaan
2. Teori Evolusi dari Darwin
3. Sifat Kebapaan Allah secara universal (maksudnya Allah adalah bapa dari semua orang, baik yang sudah selamat maupun belum selamat)
4. Baptisan air bisa menyelamatkan.” [xvii]

Apakah Bukti-Bukti Westcott & Hort Text adalah Teks yang Rusak?

Berikut ini adalah bukti-bukti yang dapat kita pertimbangkan dan untuk lebih jelasnya anda dapat membaca buku Dr. D.A. Waite, Defending the King James Bible, terbitan Bible For Today.

1. L Westcott and Hort Text Mengubah Textus Receptus Lebih dari 5.600 Tempat
Dalam Scrivener’s Greek New Testament, Westcott dan Hort mengubah sebanyak 5.604 kali dalam teks Yunani P.B. barunya. Dari 5.604 perubahan ini, Dr. D.A Waite menemukan 1.957 yang dihilangkan/dihapus (35%), 467 ditambah (8%), dan 3.183 yang diubah (57%).

2. L Westcott and Hort Text Menghapus Pericope De Adultera – Yoh. 7:53-8:11

3. L Westcott and Hort Text Meragukan Dua Belas Ayat Terakhir Injil Markus – Markus 16:9-10

4. L Westcott and Hort Text Menyangkal Johannine Comma – I Yohanes 5:7b-8a

Apakah ada bukti yang jelas dari Alkitab tentang doktrin Trinitas? Ada. Yaitu dalam I Yohanes 5:7b-8a;
“En too ouranoo, ho pater, ho logos, kai to agion pneuma kai outos hoi treis eisi. Kai treis eisi hoi marturountes en te ge.”
(Di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi;)

Penggalan dua ayat di atas disebut Johannine Comma (Yunani Koptein yang berarti “dipotong dari”). Bagian ini adalah satu-satunya dalam Alkitab yang menunjukkan ke-Tritunggal-an Allah yang jelas[b]. Namun sayang justru [b]bukti otentik ini berusaha dihancurkan oleh orang Kristen sendiri. :hihi: Sebagai contoh adalah ayat di atas dihapus dalam Criticl Text dan para sarjana liberal menolak untuk mengakuinya sebagai bagian dari firman Tuhan yang ditulis oleh Rasul Yohanes dalam inspirasi Roh Kudus. Dalam Alkitab bahasa Indonesia TB-LAI teks tersebut ada dalam kurung. Sementara itu banyak Sekolah Theologi di Indonesia mengajarkan bahwa ayat-ayat yang dikurung dalam Alkitab bahasa Indonesia tidak ada dalam teks aslinya.

The New International Version Study Bible, mengkomentari bahwa I Yoh. 5:7 tidak ditemukan dalam manuscript-manuscript Yunani ataupun dalam terjemahan-terjemahan P.B. sebelum abad ke-16. Dr. A.T. Robertson dalam commentary-nya, “Word Pictures in New Testament” juga meragukan eksistensi ayat ini dan menjelaskan bahwa ayat tersebut hanya ada dalam terjemahan bahasa Latin Vulgate, yang kemudian diambil oleh Erasmus untuk melengkapi Textus Receptus. Dan menurut Robertson teks tersebut tidak ditemukan dalam manuscript-manuscript Yunani. Dalam edisi pertama teks Erasmus ayat tersebut tidak ada hingga akhirnya ditambahkan dari Vulgate.

“Para penerjemah yang tidak bertanggung jawab menghapus kesaksian ini (I Yoh. 5:7b-8a) dalam codex-codex Yunani.” [xxii]

[ii] Jeffrey Khoo, Keep Pure in All Ages. Singapore: Far Eastern Bible College Press, 2001, hal. 21.
[iii] Ibid.
[iv] Charles C. Ryrie, A Survey of Bible Doctrine. (Chicago: The Moody Bible Institute Press, 1972), hal. 46.
[v] Dr. D.A. Waite, Defending the King James Bible. Hal. 24-26.
[vi] Ibid hal. 54.
[vii] Ibid hal. 55.
[viii] Ibid, hal. 55.
[ix] Ibid, hal. 6.

* Ibid., hal. 47

[xi] Seet, Charles. “The Inside Story of Westcott and Hort”, dalam “The Burning Bush: Journal Far Eastern Bible College Singapore, (4/1, January) 1998, hal. 34.
[xii] John William Burgon, The Revision Revised: A Refutation of Wetcoot & Hort’s False Greek Text and Theory. (Collings-wood: Dean Burgon Society Prees) hal. 16.
[xvi] Westcott, Life of Westcott, II:50
[xvii] Timothy Tow & Jeffrey Khoo, A Theolgy for Every Chris-tian. Book I: Knowing God and His Word. (Singapore: Far Eastern Bible College Press, 1998), hal. 72.
[xx] The King James Version Defended, hal. 161-162
[xxi] D.A. Waite op.Cit.
[xxii] Dr. Timothy Tow & Dr. Jeffrey Khoo, op. Cit. hal. 61

Note : jadi bukan sekedar fakta bahkan sudah menjadi PENGAKUAN TANPA MALU… 8-)

Semoga Allah.SWT senantiasa memberkahi kita semua dengan petunjuk…Amin.

Sumber : Disini


Kebangkitan Al-Masih

October 11, 2009

A. Tidak Ada “Tanda”
Hanya Satu Tanda Untuk Yahudi!

Namun Yesus menjawab permintaan orang Yahudi itu dengan keras dan kasar. Ia berucap,

“Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” (Matius 12:339-40).

Dari perkataan di atas terlihat, Yesus tidak berusaha bersikap baik dan lemah lembut kepada orang Yahudi dengan menunjukkan bukti-bukti yang pernah diberikan selama itu, misalnya:

a. Mukjizat memulihkan penglihatan seorang pengemis buta yang bernama Bartimeus. (Markus 10:46-52) dan (Lukas 18:35-43)

b. Mukjizat menyembuhkan penyakit pendarahan wanita yang dideritanya selama dua belas tahun, sehingga sampai menghabiskan semua miliknya. Yesus melakukan itu hanya dengan menjamah jubahnya. (Markus 5:25-34)

c. Mukjizat mengeluarkan roh jahat ke dalam tubuh kawanan babi yang berjumlah lebih dari dua ribu ekor. (Markus 5:1-20) d. Mukjizat memberi makan kepada lima ribu orang yang mengikutinya. (b:l-15)

Namun sayang, terhadap orang Yahudi Yesus tidak mengingatkan mereka. Yesus tidak berusaha mengingatkan orang Yahudi agar tidak menuntut hal-hal baru dan mengajak mereka merenungi kembali tanda dan mukjizat yang sudah pernah ia berikan. Di sini Yesus malah menyatakan dengan keras dan kasar kepada mereka: “Tidak akan diberikan tanda, (kecuali satu tanda), seperti tanda nabi Yunus

B. Yunus Melarikan Diri Dari Tugas Da’wah.

Lantas apa sebenarnya ayat (mukjizat) Yunus Alaihissalam itu?

Untuk menemukan jawabannya terlebih dulu kita harus membaca surat Yunus dalam Perjanjian Lama. Menurut kitab itu, Allah telah memerintahkan kepada Yunus agar pergi ke kota Niniwe untuk memperingatkan penduduk kota itu agar segera bertobat dan insaf dari segala tingkah lakunya yang jahat. (Yunus 3:8)

Namun ternyata Yunus enggan pergi ke Niniwe. Ia malah melarikan diri ke Yafo. Di sana ketika ia melihat sebuah perahu yang akan berlayar, dengan cepat ia naik untuk melarikan diri dari perintah Allah.

Ketika perahu berada di tengah laut, tiba-tiba datang angin topan dan gelombang besar yang menakutkan. Melihat kejadian ini si nakhkoda berkeyakinan bahwa di antara penumpangnya pasti ada salah seorang yang telah berbuat durhaka. Si nakhkoda kemudian berembuk dengan para penumpangnya untuk mengatasi masalah ini. Kemudian mereka berkata, “Marilah kita undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini.” (Yunus 1:7)

Meskipun Yunus merasa enggan memenuhi perintah Allah untuk pergi berdakwah, tapi setelah kalah dalam undian, dengan gagah berani ia menawarkan diri untuk melaksanakan hukuman itu. Katanya, “Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu.” (Yunus 1:12)

C. Hidup Atau Matikah, Yunus?

Dengan gagah berani nabi Yunus Alaihissalam menyerahkan dirinya untuk dijadikan tumbal dan korban. Dengan sendirinya, sebelum dilemparkan ke dalam laut, ia tidak usah dipenggal atau ditikam terlebih dahulu. Dengan sukarela ia sudah menyatakan kesiapannya untuk dilempar ke dalam laut. Seraya berkata, “Campakkanlah aku ke dalam laut! “

Kini timbul pertanyaan, “Apakah ketika dilemparkan ke dalam laut Yunus Alaihissalam dalam keadaan mati atau hidup?”

Semua anak-anak Nasrani yang mengikuti pelajaran hari Minggu akan menjawab tanpa pikir panjang lagi: “Dalam keadaan hidup! Setelah itu barulah gelombang laut dan angin ribut reda!”

Apakah hanya secara kebetulan saja ia ditelan ikan? Di dalam perut ikan itu, apakah Yunus dalam keadaan hidup atau mati?

Dengan serentak anak-anak Nasrani pasti akan menjawab, “Dalam keadaan hidup!”

Kalau begitu apa buktinya?

Mereka akan menjawab dengan serentak, “Yunus berdoa kepada Tuhan Allahnya di dalam perut ikan itu. Katanya, “Dalam kesusahan aku berdoa kepada Tuhan dan Ia menjawab aku.” (Yunus 2:1-2) Selanjutnya anak-anak itu akan menjawab lagi, “Yang jelas di dalam perut ikan itu Yunus hidup, karena orang mati tidak berseru dan berdoa!”

Lantas apakah selama tiga hari ikan itu membawanya mengarungi lautan, Yunus dalam keadaan mati atau hidup?

Jawaban mereka pasti tidak akan berubah: “Hidup!”

Apakah Yunus mati atau hidup, ketika ikan itu memuntahkannya ke pantai (setelah tiga hari)?

]awaban mereka tetap tidak berubah: “Hidup!”

Jawaban anak-anak Nasrani itu bisa diterima oleh semua golongan agama, baik Yahudi, Nasrani, maupun Islam.

D. Persepsi Kaum Masehi

Terhadap Yesus, Bertentangan Dengan Peristiwa Yunus

Jika dikatakan Yunus hidup selama tiga hari tiga malam, maka seharusnya Yesus juga hidup di dalam kuburnya, seperti yang diramalkannya sendiri.

Kaum Nasrani bergantung kepada benang lapuk. Mereka menyatakan “Yesus mati”. Sebenarnya hal ini dilakukan demi untuk mengabdikan pada “idee” juru selamat. Karena itulah, tidak bisa tidak; harus dijawab bahwa Yesus mati selama tiga hari tiga malam dalam kuburnya. Pernyataan ini jelas amat berbeda dengan apa yang diucapkan Yesus dalam ramalannya. Yunus tetap hidup selama tiga hari tiga malam, tetapi Yesus telah mati selama tiga hari tiga malam. Pernyataan ini juga dikemukakan oleh kaum Masehi.

Pernyataam kaum Nasrani ini amat berbeda dengan peristiwa yang telah terjadi terhadap Yunus padahal Yesus telah berkata: “Seperti Yunus”. Ia tidak berkata: “Berbeda dengan Yunus!” Pernyataan kebenaran ini merupakan kebenaran ukuran Yesus yang diberikan kepada dirinya sendiri. Yesus juga mengatakan bahwa ia bukan Mesias bangsa Yahudi yang sebenarnya.

Bila yang ditulis dalam Injil yang asli itu benar demikian, maka kenapa kita mencela penolakan bangsa Yahudi terhadap “Almasih”?

Tiga hari + tiga malam = 72 jam?!

Seorang doktor ketuhanan dan profesor dalam ilmu theologi berbicara tentang masalah paragraf (Matius 12:40) yang diperselisihkan itu. la mengatakan bahwa penekanannya lebih dititik-beratkan pada masalah faktor waktu: “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga anak manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.”

Profesor ini juga menambahkan. Katanya, “Saya meminta perhatian anda pada kata “tiga” yang diulang-ulang sebanyak empat kali untuk membuktikan bahwa Yesus merealisasikan ramalannya yang berkenaan dengan “lamanya waktu” yang akan dilaluinya di dalam kubur. lni bukan “seperti Yunus” yang berkenaan dengan keadaan hidup atau mati selama masa itu.”

Bila yang ditekankan Yesus di sini hanya fakxor waktunya saja, baiklah kita bertanya kepada sang profesor itu, “Apakah Yesus sudah merealisasikan janjinya kepada orang Yahudi? Maka si Nasrani yang dogmatis akan menjawab dengan lantang: “Sudah!”

E. Kapan Yesus Disalib?

Kini timbul pertanyaan: “Kapan Almasih disalib? Seluruh dunia Masehi akan mengatakan: “Pada hari jumat!”

Peristiwa inilah yang menyebabkan timbulnya pesta peringatan yang disebut “Good Friday” (hari jumat yang baik). Seluruh umat Masehi di Amerika hingga ke Zambia, di Afrika Selatan, dari Ethiopia sampai ke Zaire semua mengadakan hari besar resmi pada hari “jumat” yang mendahului hari raya Paskah.

Timbul pertanyaan, “Apa yang membuat “Good Friday” mempunyai tempat yang begitu terhormat di kalangan kaum Nasrani?”
Seluruh umat Masehi akan serempak mengatakan: “Karena kematian Almasih di atas kayu salib pada hari ini untuk membersihkan dosa-dosa kita.”

Tapi benarkah Yesus telah dibunuh di atas kayu salib pada hari jumat 1950 tahun yang lalu? Umat Masehi akan serentak menjawab: “Benar!”

Berdasarkan keterangan singkat yang ada di Injil, kami berkesimpulan kaum Yahudi sudah kegerahan benar ingin cepat-cepat membersihkan negerinya dari Yesus. Oleh karena itu, begitu Yesus tertangkap, ia langsung diadili secara kilat di tengah malam buta. Di pagi buta, pengadilan langsung mengirimkan Yesus dan menyerahkannya kepada Pilatus, wali negara itu.

Kami juga berkesimpulan, orang yang menangkap Yesus sebenarnya merasa takut, karena mereka tahu Yesus bukan saja dipandang sebagai pahlawan, tapi juga dipandang sebagai orang yang baik dan benar. Tapi sebaliknya, musuh-musuhnya sangat muak dan ingin cepat-cepat membunuhnya.

Musuh-musuhnya berhasil memaksa penguasa setempat untuk menyalibnya. Mereka jugalah yang ingin cepat-cepat menurunkan Yesus dari kayu salib sebelum matahari Jumat terbenam. Ini dilakukan demi menghormati hari Sabtu yang kudus bagi mereka (orang Yahudi). Bagi mereka hari Sabtu yang kudus dimulai sekitar pukul enam sore hari Jumat.

Untuk ini bangsa Yahudi sudah diperingatkan dalam Kitab surat Ulangan 21:23. Mereka dilarang menggantung mayat orang yang disalib yang dikutuk Allah (semalam suntuk) di atas kayu salibnya. Mayat itu harus segera dikuburkan pada hari itu juga supaya bumi Allah-tidak terkena najis.

Begitu besar perhatian mereka pada hari Sabtu. Demi mensucikan hari Sabtu maka mayat Yesus segera diturunkan dari atas kayu salibnya.

Demikianlah yang telah dilakukan oleh murid-murid rahasia Yesus kepada Pilatus. Mereka meminta agar diperbolehkan menurunkan mayat Yesus dan menguburkannya menurut adat bangsa Yahudi. Mereka memandikannya, mengafaninya dengan kain lenen dan membubuhinya dengan rempah-rempah sesuai tradisi bangsa Yahudi (Yohanes 19:39). Setelah itu mereka memasukkan mayat yang sudah dikafani itu ke dalam tanah galian kuburan menjelang malam.

Di antara berbagai golongan dan mazhab yang beraneka ragam dalam agama Masehi terdapat banyak perselisihan dan perbedaan. Namun untuk mengatasi perselisihan itu mereka telah bersepakat untuk menduga bahwa Yesus berada dalam kubur pada Jumat malam, seperti dugaan mereka Yesus masih berada di dalam kuburnya pada pagi hari Sabtu. Mereka juga menduga Yesus masih di dalam kuburnya pada Sabtu malam. Mengenai dugaan ini umat Masehi telah bersepakat dengan sepenuh hati.

Kami sengaja mengulang-ulang kata “menduga atau dugaan” hingga tiga kali, karena terhadap kejadian ini semua Injil hanya berdiam diri terutama dalam menetapkan kepastian waktu Yesus ke luar dari kuburnya.

Ada kemungkinan Yesus telah dibawa pergi oleh “murid-murid rahasianya” pada malam Jumat ke suatu tempat yang lebih aman. Tapi dalam hal ini kami tidak mempunyai hak untuk berprasangka terhadap para pengarang Injil. Oleh karena itulah saya sengaja mengulang kata “menduga dan dugaan” sampai tiga kali.

Sekarang marilah kita melihat pemecahan terakhir tentang kebenaran Yesus (telah tinggal) dalam kuburnya selama tiga hari tiga malam.

Perhitungan Hari Kebangkitan Yesus

Perhitungan Hari Kebangkitan Yesus

Dalam kitab suci umat Nasrani sendiri dikatakan bahwa Yesus dikubur sore hari jumat menjelang matahari terbenam, dan sudah tidak diketemukan lagi mayatnya dalam kubur pada pagi hari Ahad sebelum matahari terbit (lihat uraian dalam tabel). Dengan demikian jelaslah, Yesus tinggal di dalam kuburannya bukan tiga hari tiga malam (seperti yang dikatakan para penginjil), tetapi hanya sehari dua malam!

Dari pengamatan terhadap keterangan kitab suci kaum Masehi itu kita melihat untuk kedua kalinya Yesus telah gagal “membuktikan janjinya”. Pertama, ketika Yesus berbeda dengan Yunus. Yunus berada dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam dalam keadaan hidup. Tapi Yesus sebaliknya. la mati kemudian bangkit dari tengah-tengah orang mati itu.

Kedua, ketika terungkap bahwa tiga hari tiga malam yang dinyatakan dengan tegas oleh semua Injil itu setelah diselidiki ternyata hanya sehari dua malam. Maria Magdalena pergi ke kuburannya menjelang fajar menyingsing pagi hari ahad, tetapi Yesus sudah tidak ada lagi di kuburannya.

Keluarga Armstrong telah mengeksploitasi seluruh dunia Masehi. Tampaknya keluarga itu telah mempelajari ilmu hitung dengan baik.

Dalam majalah “Plain Truth”, Mr. Robert Fahey menguraikan ceramahnya sewaktu di hotel Holiday inn di Durban. Dalam ceramahnya itu Mr. Robert Fahey berusaha meyakinkan para pendengarnya yang kristen, bahwa Yesus disalib pada hari Rabu bukan hari jumat, seperti yang diduga kaum Masehi Orthodoks selama dua ribu tahun yang lalu.

Berdasarkan pengamatan dan anggapannya itu, ia mengemukakan bahwa kalau seseorang menghitung mundur dari pagi hari Ahad, maka akan ditemukan tiga hari tiga malam. Karena itu, penyaliban harus ditetapkan hari Rabu bukan Jumat.

Saya mengucapkan selamat kepada Mr. Robert Fahey atas kemahirannya. Lantas saya bertanya kepadanya, “Bagaimana dengan upacara “Good Friday” yang telah dirayakan kaum Masehi sejak dua ribu tahun yang lampau, apakah akan ditukar dengan “Good Wednesday”? Tapi bagaimana mungkin. Dewasa ini hampir di seluruh dunia kaum Masehi yang berjumlah lebih dari 2,2 milyar tidak mengetahui waktu yang sebenarnya Yesus disalib. Ini berarti gereja kaum Katolik yang mengaku memiliki rangkaian tidak terputus dalam kepausan sejak Petrus sampai hari ini berdasarkan pengakuan atau penemuan Mr. Fahey semuanya telah tersesat.

F. Siapa Yang Menyesatkan Kaum Maselii?

Timbul lagi pertanyaan: “Siapa yang telah menyesatkan kaum Masehi selama dua ribu tahun yang lalu, Allah atau Setan?

Mr. Robert Fahey menjawab dengan tegas: “Setan!”

Lantas saya berkata lagi kepada Mr. Fahey, “Begitu mudahnya setan mengaburkan hal-hal yang prinsip dalam akidah mereka. Perayaan yang sudah beribu tahun mereka namakan “Good Friday” dengan segera dapat diganti dengan “Good Wednesday. Kalau begitu, sudah sejauh mana upaya penyesatan terhadap kaum Masehi di sekitar hakikat keesaan Allah, baik ketuhananNya maupun kekuasaanNya, yang tampaknya jauh lebih mudah dilakukan?

Mendengar pertanyaan saya ini, Mr. Robert Fahey tidak memberi komentar apa-apa. Ia malah berlalu dan pergi.

Kalau demikian rupa keimanan guru akidah Masehi dunia dewasa ini, apakah tidak pada tempatnya bila kita mengajukan pertanyaan lagi: “Apakah ini bukan suatu tipu daya. terbesar dalam sejarah?”

Sumber : Disini


Kumpulan Fakta Pendeta Mengedit Alkitab II

October 10, 2009

Postingan Sebelumnya tentang Kumpulan Fakta Pendeta Ngedit Alkitab I, bisa anda lihat Disini , Untuk Fakta ke III, bisa anda lihat Disini

Pendeta Kristen Ngedit Yohanes 2:4
mengedit kata “wanita” menjadi “ibu”

(KJV) Jesus saith unto her, Woman, what have I to do with thee? mine hour is not yet come.

Bandingkan Dengan

(CEV) Jesus replied, “Mother, my time hasn’t yet come! You must not tell me what to do.”

(BIS) Yesus menjawab, “Ibu, jangan menyuruh Aku. Belum sampai waktunya Aku menyatakan diri.”

Pendeta Kristen Ngedit 2 Korintus 12:16
menyisipkan kalimat palsu “may be”; “you say”; “someone will say”; “ada yang berkata”.

(KJV) But be it so, I did not burden you: nevertheless, being crafty, I caught you with guile.

Bandingkan Dengan

(CEV) You agree that I wasn’t a burden to you. Maybe that’s because I was trying to catch you off guard and trick you.

(ESV) But granting that I myself did not burden you, I was crafty, you say, and got the better of you by deceit.

(GNB) You will agree, then, that I was not a burden to you. But someone will say that I was tricky, and trapped you with lies.

(BIS) Nah, kalian setuju bahwa saya tidak pernah menyusahkan kalian. Namun ada yang berkata bahwa saya ini licik; bahwa saya mendapat keuntungan dari kalian karena tipu daya saya.

Pendeta Kristen Ngedit Lukas 24:42
menghapus kalimat “and a honeycomb” (dan sebuah sarang madu)

(KJV) And they gave him a piece of a broiled fish, and of an honeycomb.

Bandingkan Dengan

(CEV) They gave him a piece of baked fish.

(ESV) They gave him a piece of broiled fish,

(GNB) They gave him a piece of cooked fish,

(BIS) Mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.

Pendeta Kristen Ngedit Matius 12:18
mengedit kata “gentiles” (nonYahudi) menjadi “nations” (bangsa-bangsa)

(KJV) Behold my servant, whom I have chosen; my beloved, in whom my soul is well pleased: I will put my spirit upon him, and he shall shew judgment to the Gentiles.

Bandingkan Dengan

CEV) “Here is my chosen servant! I love him, and he pleases me. I will give him my Spirit, and he will bring justice to the nations.

(BIS) “Inilah utusan-Ku yang Kupilih, Orang yang Kukasihi dan yang berkenan di hati-Ku. Roh-Ku akan Kuberikan kepada-Nya, keadilan-Ku akan diwartakan-Nya kepada bangsa-bangsa.

Pendeta Kristen Ngedit Mazmur 84:5
Menyisipkan kalimat palsu “ke Gunung Sion”

(KJV) Blessed is the man whose strength is in thee; in whose heart are the ways of them.

Bandingkan Dengan

(BIS) Bahagialah orang yang mendapat kekuatan daripada-Mu, dan yang berhasrat mengadakan ziarah ke Gunung Sion.

(GNB) How happy are those whose strength comes from you, who are eager to make the pilgrimage to Mount Zion

Bersambung…


MENYELAMATKAN JURU SELAMAT

September 29, 2009

Janganlah menyembah jikalau tdk mengetahui siapa yg disembah,jika engkau tdk mengetahui siapa yg disembah akhirnya cuma menyembah ketiadaan, suatu sembahan yang sia-sia. (Syekh Siti Jenar)

A. Pengertian Juruselamat
001. TANYA:
Apa arti kata “Juruselamat”?

JAWAB:
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1988, Juru Selamat berarti: 1) orang yang menyelamatkan atau bertindak sebagai penolong dalam kesukaran; 2) penyelamat
002. TANYA:
Apa yang dimaksud dengan “Juruselamat” dalam ajaran Kristen?

JAWAB:
Penyelamatan manusia melalui kematian atau darah Kristus, berdasarkan ajaran Paulus dan diperkuat oleh para pemimpin Gereja sesudahnya.

a. Paulus menyatakan bahwa semua orang berdosa.
“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dunia oleh satu orang, dan oleh dosa Itu juga maut, begitulah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”
(Roma. 5:12).

b. Manusia dikuasai dan dikontrol oleh setan, sebagaimana dijelaskan oleh Minard J Erickson dalam bukunya “Christian Theology”, halaman 793.
“Satan established control over man… Satan now is the governing power in the world. As world ruler, his right can not simply be set aside.”

(Setan menguasai manusia… Saat ini setan adalah yang berkuasa memerintah di dunia. Sebagai penguasa dunia, dia memiliki hak-hak yang tidak bisa dianggap sepele)

c. Setan hanya mau membebaskan manusia kalau ditebus dengan darah Kristus. Perhatikan pernyataan Paulus dalam Suratnya kepada jemaatnya di Efesus.
“Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu penebusan dosa” (Efesus 1:7)

Origen dalam “Commentary on Matthew 13:28″ menjelaskan bagaimana setan menuntut darah Kristus sebagai tebusan untuk membebaskan manusia yang dia kurung.

“Now it was the devil that held us, to whose side we had been drawn away by our sin. He asked, therefore, as our price the blood of Christ”

(Sekarang setanlah yang membelenggu kita, dimana kita telah terasing jauh gara-gara dosa-dosa kita. Oleh karena itu dia menuntut darah Kristus sebagai tebusan kita).

d. Allah mencintai dan ingin menyelamatkan manusia.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Perhatikan pernyataan Paulus kepada jemaatnya di Korintus tentang bagaimana “taatnya” Allah kepada tuntutan Setan.

“Sebab kamu telah dibeli (oleh Allah) dan harganya telah lunas dibayar (kepada setan dengan darah Kristus): Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (I Korintus 6:20)

Dukungan Origen terhadap pernyataan Paulus tentang ketaatan Allah memenuhi tuntutan Setan ini dapat dilihat dalam komentarnya terhadap Matius 13 :28 dalam buku Christian Theology halaman 793:

“To whom this ransom paid? Certainly not to God. He would not pay a ransom to himself. Rather, it must have been paid to the evil one, for it was he who held us captive until the ransom, namely, the soul of Jesus, was paid… So the ransom was detemined by, paid for, and accepted by Satan”

(Kepada siapa tebusan ini dibayar? Sudah tentu bukan kepada Allah. Dia tidak mungkin membayar tebusan kepada dirinya sendiri. Akan tetapi ia haus dibayar (oleh Allah) kepada kejahatan. karena dialah yang membelenggu kita sampai tebusan, yakni nyawa Yesus, dibayar… Oleh karena itu tebusan ditetapkan, dibayarkan kepada dan diterima oleh Setan)
003. TANYA:
Dari mana Paulus mendapatkan ajaran penebusan dosa dengan darah Kristus ini?

JAWAB:
Paulus dilahirkan di Tarsus. Tarsus merupakan Pusat penyembahan Dewa. Mithra seperti yang dijelaskan oleh A.N. Wilson dalam bukunya “Paul the Mind of the Apostle” halaman 25:

“Archeologists show that Tarsus was a centre of keen Mithraic worship until the downfall of the Empire. The most distinctive feature of Mithraic worship is that the initiates either drank the blood of the sacred bull or drank a chalice of wine as a symbol representation of blood”

(Arkeolog memperlihatkan bahwa Tarsus adalah pusat kegiatan Penyembahan Dewa Mithra sampai dengan keruntuhan Kerajaan (Romawi). Ciri yang paling jelas dari penyembahan Dewa Mithra adalah upacara meminum darah sapi atau meminum secangkir anggur yang melambangkan darah).

Kalaupun orang tua Paulus adalah orang Yahudi yang mengharamkan darah, tetapi karena Paulus sejak kecil sudah terbiasa dengan upacara penyembahan berhala ini, sehingga baginya, darah sudah merupakan sumber kekuatan dan penebus dosa sesuai dengan ajaran penyembah Dewa Mithra dan Dewa Herakles.

Ini dapat kita saksikan dalam Suratnya kepada Jemaat di Korintus:

“Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kitapecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1 Korintus 10:16)

“Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” (Lukas 22: 19-20)

Ajaran ini sedemikian di dramatisasi sehingga Gereja tidak memberi peluang kepada mereka yang ingin menafsirkannya secara simbolis. Ini dapat dilihat dari keputusan Sidang Gereja di Trent sebagaimana dikutip Ralph Edward Woodrow dalam bukunya Babylon Mystery Religion, halaman 166, yang menyatakan sebagai berikut:

“The Council ordered pastors to explain that not only did the elements of the Mass contain flesh, bones and nerves as part of Christ, but also a whole Christ”

(Sidang Gereja memerintahkan para pastor untuk menjelaskan kepada jemaat bahwa dalam Misa, bukan hanya mengandung daging, tulang dan syarafnya Kristus, tetapi keseluruhan Kristus)
Dewa Herakles menyembelih sapi. Darahnya melambangkan kehidupan baru sesudah mati. (bangkit dari antara orang mati) Ajaran ini mirip dengan penyembah dewa Adonis di Siria, dewa Thammuz di Babilonia dan dewa Osiris di Mesir.

Setiap musim gugur, remaja Paulus menyaksikan upacara menyambut kematian dewa Mithra (dewa Matahari) yang akan mati selama musim dingin, dan kemudian akan hidup kembali pada tanggal 25 Desember setelah matahari mulai bergerak naik dari Garis Balik Selatan menuju musim semi. Dari prasasti purbakala yang ditemukan di Tarsus memperlihatkan bahwa Dewa Herakles yang mati dan bangkit kembali dianggap sebagai Juruselamat.
004. TANYA:
Apakah Allah mewahyukan ajaran Juruselamat kepada Yesus?

JAWAB:
Benar, Allah mengajarkan kepada Yesus tentang satu-satunya Juruselamat, yakni Allah sendiri, bukan diri Yesus.

“Beginilah firman Tuhan, Raja dan Penebus Israel, Tuhan semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.” (Yesaya 44:6)

“Beginilah firman Tuhan, Penebusmu,…” (Yesaya 44:24)

“Tidak ada yang lain, tidak ada Allah (Tuhan) selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku ” (Yesaya 45:21)

“Bukan setiap yang berseru kepada-Ku: Tuhan (Tuan), Tuhan (Tuan)! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku (Allah) di sorga ” (Matius 7:21)

“Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” (Matius 19:17)
005. TANYA:
Apakah Yesus pernah mengajarkan kepada murid-muridnya atau mengkhotbahkan kepada umatnya Israel bahwa dirinya telah dinobatkan sebagai Juruselamat umat manusia?

JAWAB:
Yesus tidak akan mungkin mengajarkan kepada murid-muridnya maupun kepada umatnya bahwa Allah telah menobatkannya sebagai Juruselamat dan bahwa darahnya akan dibayarkan oleh Allah kepada setan sebagai penebus dosa manusia. Yesus adalah guru/ustadzYahudi. Dia mengajarkan hukumTaurat kepada murid-muridnya maupun umatnya. Diantara ajaran tersebut adalah mengharamkan darah sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Imamat.

“Demikian juga janganlah kamu memakan darah apapun di segala tempat kediamanmu, baik darah burung-burung, ataupun darah hewan. Setiap orang yang memakan darah apapun, nyawa orang itu haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya ” (Imamat 7:26-27)

Baik murid-murid maupun umatnya Yahudi, tidak pernah berkeyakinan bahwa mereka telah jatuh ke dalam dosa abadi dan bahwa hanya Yesuslah satu-satunya yang akan menyelamatkan mereka melalui darahnya di tiang salib
006. TANYA:
Apakah Allah pernah mewahyukan kepada para nabi sebelum Yesus bahwa semua manusia termasuk para nabi yang dilahirkan ke dunia ini sebagai anak cucu Adam, terbelenggu dalam dosa waris, yang hanya dapat ditebus dengan darah Yesus?

JAWAB:
Tidak pernah. Sebelum hadirnya Paulus dimuka bumi ini, tidak satu pun Nabi mulai dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Isa as. yang mengajarkan kepada Bani Israil bahwa akan datang manusia bernama Yesus akan menjadi Juruselamat, menebus dosa manusia.
Orang Israel memahami satu-satunya Juruselamat adalah Allah SWT. Kalau kemudian orang Israel menyembelih domba untuk penebusan dosa, karena sesuai dengan firman Allah dalam Kitab Imamat

“Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus menga-dakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan berpuasa dan mempersembahkan korban api-apian kepada Tuhan.” (Imamat 23:27)
007. TANYA:
Apakah Allah pernah mewahyukan kepada para nabi sebelum Yesus bahwa semua manusia termasuk para nabi yang dilahirkan ke dunia ini sebagai anak cucu Adam, terbelenggu dalam dosa waris, yang hanya dapat ditebus dengan darah Yesus?

JAWAB:
Tidak pernah. Sebelum hadirnya Paulus dimuka bumi ini, tidak satu pun Nabi mulai dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Isa as. yang mengajarkan kepada Bani Israil bahwa akan datang manusia bernama Yesus akan menjadi Juruselamat, menebus dosa manusia.

Orang Israel memahami satu-satunya Juruselamat adalah Allah SWT. Kalau kemudian orang Israel menyembelih domba untuk penebusan dosa, karena sesuai dengan firman Allah dalam Kitab Imamat

“Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus menga-dakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan berpuasa dan mempersembahkan korban api-apian kepada Tuhan.” (Imamat 23:27)
008. TANYA:
Siapa yang pertama mengeluarkan ide dan mengumumkan bahwa Yesus adalah Juruselamat?

JAWAB:
Paulus. Dialah yang pertama menyampaikan kepada orang-orang Yahudi maupun orang-orang Romawi bahwa Yesus mati untuk menebus dosa manusia.

“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat.” (Galatia 3:13)
“Sebab di dalam dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa…” (Efesus 1:7)
009. TANYA:
Dari mana bibit ide bahwa Yesus adalah Juruselamat?

JAWAB:
Ketika Paulus mendengar cerita tentang penyaliban Yesus, yang “katanya” mati, yang “katanya” bangkit kembali, dia yakin bahwa inilah “Kristus Baru” yang ‘bangkit dari antara orang mati.’ persis seperti dewa Herakles dan dewa Mitra yang dia puja. Paulus dengan cerdik menghubungkan penyaliban Yesus dengan mitos Dewa Herakles yang mengorbankan sapi agar darahnya menjadi penebus dosa dan memberikan kehidupan baru. Perhatikan pemyataan Wilson berikut dalam buku yang sama halaman 27:

“Paul was to develop into a richly imaginative, but confused, religious genius who was able to draw out a mythological and archetypical significance from the death of Jewish hero, Jesus of Nazareth”

(Paulus menciptakan dengan kekayaan berkhayal, namun membingungkan, keahlian reliji yang memungkinkannya mengaitkan kematian Pahlawan Yahudi, Yesus dari Nazaret, dengan mitos dan model (dewa-dewa Penyembah Berhala).

Kemahiran Paulus memainkan kiasan-kiasan untuk menyelipkan ajaran penyembah berhala kedalam kisah kehidupan Yesus, disentil oleh Allah dalam Surah Muhammad:

“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dan kiasan-kiasanperkataan mereka,..” (Muhammad 47:30)
010. TANYA:
Apakah orang Yahudi menerima Yesus sebagai Juruselamat?

JAWAB:
Dari peristiwa penyaliban Yesus orang-orang Yahudi merasa sangat sedih dan kehilangan dengan hukuman penyaliban atas tokoh dan pahlawan mereka. Yesus adalah tokoh dan pemimpin yang diharapkan akan membebaskan Yahudi dari penjajahan Romawi. Mereka merindukan Yesus untuk menjadi Raja sekaligus pemimpin agama. Namun kenyataan pahit yang mereka hadapi ialah bahwa Yesus ditangkap dan dihukum mati dengan penyaliban. Pada saat itu golongan Yahudi terpecah menjadi 2 (dua) golongan :

1) Mereka yang menganggap Yesus sebagai Mesias Palsu, karena dia tidak berhasil duduk ditahtaDaud sebagai Raja Israel, malah sebaliknya di ditangkap oleh penguasa Romawi dan dihukum salib

2) Mereka yang menganggap Yesus sebagai pahlawan yang membela rakyatnya. Oleh karena itu Yesus pantas dihormati dan dihargai sebagai pahlawan.

Golongan Yahudi ini berpandangan sebatas Yesus sebagai Juruselamat yang ingin menyelamatkan umatnya dari penjajah Romawi. Namun disayangkan usahanya gagal dan kandas di tengah jalan. Jadi dalam pemahaman ini, Yesus dianggap “Juruselamaf Yahudi, bukan Juruselamat umat manusia.

“Hosana! Diberkati Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel.” (Yohanes 12:13)
011. TANYA:
Lalu kalau demikian, siapa yang menafsirkan penyaliban Yesus sebagai penyelamatan umat manusia?

JAWAB:
Ini adalah pekerjaan Paulus, Pauluslah yang menafsirkan penyaliban Yesus sebagai penyelamat manusia. Menurutnya darah Yesus di tiang salib mirip dengan darah sapi yang menyelamatkan menurut para penyembah dewa Mithra. Wilson dalam bukunya yang sama halaman 166, mengatakan:

“Paul’s invention of the Christian Eucharist, as an addition to the ‘agape meal’ or love-feast practiced by all Christians, is of apiece with his understanding of the sacrificial nature of Christ death, which he saw in the same light that the followers of Mithra saw the death of the sacrificial bull. This would have had a powerful appeal to the pagan in Corinth, though it would have been meaningless, and highly distasteful, to the Jews.”

(Sakramen dalam agama Kristen yang diciptakan oleh Paulus sebagai pelengkap dari ‘agape meal’ yang dilaksanakan oleh seluruh umat Kristen, sejalan dengan pengertiannya tentang kematian Kristus untuk menebus dosa, yang dia pandang serupa dengan para penyembah dewa Mithra menafsirkan kematian sapi (korban). Ini akan memiliki daya tarik yang kuat bagi para penyembah berhala di Korintus, walaupun ini tidak memiliki arti apa-apa, malah menjijikkan bagi orang-orang Yahudi)
012. TANYA:
Apakah ide Paulus ini diterima oleh umat Yahudi (umat Yesus)?

JAWAB:
Pendapat ini mendapat tantangan dari umat Yahudi dimana-mana. Untuk lebih mengenal ciri khas Yahudi, perhatikanlah penjelasan Henry Chadwick, Religious Professor di Oxford dan Cambridge University, dalam bukunya The Early Church, hal. 18-19:

“In the ancient world every one knew at least three things about the Jews; they would not be associated either directly or indirectly with any pagan cult (which seem anti social), they refuse to eat not only meat that had been offered in sacrifice to the gods but also all pork (wich seemed rediculous), and they circumcised their male infant”

(Di zaman dahulu setiap orang tahu setidak-tidaknya tiga hal tentang orang Yahudi; mereka tidak akan terlibat langsung ataupun tidak langsung dengan para penyembah berhala (yang dapat dipandang anti sosial), mereka bukan hanya tidak akan makan daging sesajen untuk para dewa, tetapi segala macam daging babi (yang dianggap lucu), dan mereka menyunatkan anak laki-laki mereka).

Murid-murid Yesus yang diantaranya masih hidup ketika Paulus berkampanye tentang Yesus, tidak percaya kepadanya sedikit pun. Hal ini dijelaskan John Davidson, dari Cambridge University dalam bukunya The Gospel of Jesus, halaman 812-813:

“Paul was active in 50s and 60s AD when many of Jesus’ direct disciples were still alive, both in Palestine and elsewhere, and they would never have believed Paul in preference to their own Master. Amongst the disciple of Jesus, Paul’s position always seem to have been that of an outsider”

(Paulus aktif (menjalankan misi Kristen) di tahun 50an sampai 60an ketika murid-murid Yesus masih hidup, baik di Patestina maupun di tempat lain, dan mereka tidak akan pernah mempercayai keterangan Paulus tentang Tuan mereka (Yesus). Bagi murid-murid Yesus, posisi Paulus selalu dianggap sebagai orang luar.)
Oleh karena itu tidak mengherankan bila mereka sangat jengkel dan sakit hati atas perbuatan Paulus mencampur adukkan ajaran Tauhid Yahudi dengan ajaran penyembah berhala.

“la ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat.” (Kisah Para Rasul 18:13)

“Akan tetapi Paulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias.” (Kisah Para Rasul 9:22)

“Hai orang-orang Israel, tolong! Inilah orang yang di mana-mana mengajar semua orang untuk menentang bangsa kita dan menentang hukum Taurat dan tempat ini! Dan sekarang ia membawa orang-orang Yunani pula ke dalam Bait Allah dan menajiskan tempat suci ini!” (Kisah Para Rasul 21:28)

“Dan setelah hari siang orang-orang Yahudi mengadakan komplotan dan bersumpah dengan mengutuk diri, bahwa mereka tidak akan makan atau minum, sebelum mereka membunuh Paulus.” (Kisah Para Rasul 23:12)

“Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani. (Kisah Para Rasul 24:5)

Kekacauan yang diciptakan Paulus terhadap mu-rid-murid dan pengikut-pengikut Yesus di mana-mana dapat disimak pula dari penjelasan Davidson sebagai berikut:

“Where ever he went, Paul seemed to stir up new trouble. The disciples living in Jerusalem had never previously encountered such extreme difficulties”

(Kemana saja dia pergi, nampaknya Paulus menjadi provokator kerusuhan baru. Para murid Yesus di Yerusalem tidak pernah merasakan persoalan serumit ini sebelumnya.)

Dua orang pakar Alkitab dan Naskah Laut Mati, Michael Baigent dan Richard Leigh dalam buku mereka The Dead Sea Scroll Deception, halaman 266 dan 321 malah mencap Paulus sebagai orang kafir pertama yang mengkhianati ajaran Yesus:

“Paul is in effect the first ‘Christian’ heretic, and that his teachings – which become the foundation of later Christianity – are a flagrant deviation from the ‘original’ and ‘pure’ form extolled by the leadership… What had been heresy within the framework of Judaism was now to become the orthodoxy of Christianity.”

(Paulus pada hakekatnya adalah orang kafir ‘Kristen’ pertama, dan ajarannya – yang kemudian menjadi landasan ajaran Kristen – adalah penyim-pangan yang keji dari ajaran ‘asli’ dan ‘murni’ yang dimuliakan oleh para pemimpin (Gerakan Yesus). Apa yang sejak dahulu dianggap syirik dalam ajaran Yahudi (Yesus), saat ini menjadi ajaran Kristen.)
Bahkan sejak tahun 85, menurut Chadwick, orang-orang Yahudi akan mengutuk para pengikut Paulus dalam doa mereka:

“Semoga orang-orang Kristen dan orang-orang kafir hancur dan musnah.”
B. Paulus Menghapus Hukum Taurat
013. TANYA:
Mengapa Paulus berusaha menghapuskan hukum Taurat?

JAWAB:
Ini yang jarang diketahui orang. Paulus berusaha menghapuskan hukum Taurat karena persaingan. Jika dia mengkhotbahkan ajaran Penyembah berhala murni, dia tidak akan mendapat sambutan dari kalangan para penyembah berhala, karena mereka sendiri sudah tidak terlalu tertarik kepada ajaran mereka. Dibandingkan dengan agama Yahudi, ajaran Penyembah berhala dianggap lebih rendah, apalagi karena mereka tidak memiliki kitab suci sebagaimana pengikut agama Yahudi yang menganggap bahwa Kitab Taurat adalah satu-satunya Kitab Suci yang diwahyukan Allah kepada Rasulnya di dunia.
Sementara bagi Paulus untuk mengkhotbahkan Reformasi Yahudi sebagaimana yang diajarkan murid-murid Yesus, dia tidak diterima, karena fahamnya dianggap tercemar oleh ajaran penyembah berhala. Inilah yang mendorong Paulus menciptakan agama Kristen untuk merebut para penyembah berhala di kerajaan Romawi dengan menghapuskan hukum Taurat yang selama ini menjadi penghambat orang-orang Romawi untuk menganut agama Yahudi. Dalam agama Kristennya, Paulus sekaligus mengganti Kristus-Kristus para penyembah berhala yang sudah uzur dengan Kristus Yesus, yang cerita kematian dan kebangkitannya masih segar di kepala Paulus. Kecerdikan Paulus ini diterangkan oleh Frank Thielman dalam bukunya Paul and the Law, hal 35:

“Paul’s argument against the law: he was convinced that salvation could not come by means of the law because if it did, (I) Gentiles would be excluded and (2) Christ’s death would be in vain”

(Alasan Paulus untuk menghapus hukum Taurat: dia percaya bahwa keselamatan tidak akan tercapai dengan mentaati hukum Taurat karena kalau demikian, (1) Orang-orang Romawi non-Israel tidak akan termasuk dan (2) kematian Kristus akan sia-sia)

Oleh karena itu satu-satunya taktik yang digunakan Paulus untuk memuluskan menggiring para penyembah berhala masuk ke ajaran Kristennya, dia harus menyingkirkan hukum Taurat yang dianggap menjadi penghambat.
014. TANYA:
Kalau umat Yahudi menolak ide ini mengapa ajaran ini tersebar kemana-mana?

JAWAB:
Paulus beberapa kali berusaha merayu para pemimpin Gerakan Yesus di Yerusalem agar dia diterima masuk dalam gerakan tersebut untuk memberitakan ajaran Yesus kepada umat Yahudi di perantauan serta kepada orang-orang Romawi, Namun keinginannya ini selalu kandas, karena Pemimpin Gerakan Yesus di Yerusalem, Yakobus (adik Yesus), tahu persis bahwa kalau Paulus diterima dalam gerakan ini akan mencemari ajaran Taurat dengan ajaran penyembah berhala.

“Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa: Sebab engkau mengatakan supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat-istiadat kita.” (Kisah Para Rasul 21: 21)

Ini dipertegas oleh pernyataan Max I. Dimont, Professor Sejarah Yahudi di Amerika Serikat dan Kanada dalam bukunya “Jews, God and History” pada halaman 146.

“Twice he had appealed to the Apostolic Church in Jerusalem to make him an apostle, and twice it had refused him this honor. Then he had a quarrel with James, the brother of Jesus, about the procedure in converting pagans”

(Dua kali dia (Paulus) memohon kepada Pemimpin Jemaat (Yakobus) di Yerusalem agar dia diterima menjadi rasul, dan kedua-duanya ditolak. Kemudian dia juga bertengkar dengan Yakobus, saudara Yesus, tentang prosedur menerima para penyembah berhala masuk dalam Gerakan Yesus).
Namun ternyata Paulus tidak patah hati dengan kegagalan menghadapi umat Yahudi dan para pemimpin Gerakan Yesus di Yerusalem. Targetnya kemudian diarahkan kepada para penyembah berhala di kerajaan Romawi dengan memodifikasi Gerakan Yesus untuk orang Yahudi, menjadi Gerakan Kristen untuk para penyembah berhala di kerajaan Romawi. Perhati-kan penjelasan Dimont selanjutnya di halaman 147:

“Since the Jews would not have Christianity, Paul took it to the pagans To make it easier for them to join his new religion, he make a second decision, that of abandoning Jewish dietary laws and the rite of circumcision. His third decision was to substitute Christ for the Torah, and this was the most crucial one, for it cause the final and unalterable break between the Father and the Son Religion.”

(Karena orang Yahudi tidak memiliki ajaran Kristen (yang diajarkan Paulus), Paulus kemudian membawanya kepada penyembah berhala. Untuk memudahkan mereka bergabung dalam agama barunya ini, dia membuat keputusan kedua, yakni menghapuskan hukum Taurat yang (mengharamkan babi) serta keharusan bersunat. Keputusannya yang ketiga adalah menggantikan hukum Taurat dengan diri Yesus, dan ini merupakan keputusan yang sangat genting, karena menyebabkan pemisahan abadi dan tidak tergoyahkan antara agama yang menyembah Bapa – Allah SWT – dan agama yang menyembah Anak – Yesus Kristus).
Kejahatan seperti yang dilakukan Paulus ini dijelaskan oleh Al Qur’an berikut ini.

“Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka.” (Al-Baqarah 2:59)

Karena Paulus saat itu mengabdi untuk orang-orang Romawi, sehingga Injil yang dia tulis bukan untuk orang-orang Yahudi, tetapi untuk menyenangkan para penyembah berhala di Kerajaan Romawi. Dimont menambahkan di halaman yang sama dari bukunya:

“The account of the history of Christianity in the Pauline Epistles and the Gospels, especially as the latter relate to the trial of Christ, become understandable now that we realize they were written not for the Jews but for the pagans. . . It is understandable that neither Paul nor the Gospel writers would want to antagonize those whom they were seeking to convert or anger the rulers whom they had to mollify, especially since they could be punished for such ofenses by being thrown to the lions or being crucified head down”

(Cerita tentang sejarah Kristen dalam Surat-surat Paulus dan Injil, terutama yang terakhir sehubungan dengan penangkapan Kristus (Yesus), menjadi jelas dan kita sadari sekarang bahwa (Surat-surat dan Injil-injil) tersebut bukan ditulis untuk orang-orang Yahudi, tetapi untuk para penyembah berhala. . . Dapat dipahami bahwa baik Paulus maupun para penulis Injil tidak ingin menentang (ajaran) mereka yang ingin dipengaruhi (para penyembah berhala), atau membuat marah para penguasa (Romawi) yang ingin mereka rayu, terutama karena mereka dapat dihukum bila (mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan kepercayaan penyembah berhala) yang dapat berakibat mereka dijadikan mangsa bagi singa atau disalib dengan kepala terbalik).
015. TANYA:
Apakah pada saat Yesus disalib, murid-murid dan para pengikutnya berpikir bahwa Yesus disalib untuk menebus dosa manusia.

JAWAB:
Tidak pernah. Mereka benar-benar shok melihat pemimpin yang mereka agung-agungkan, dan akan tampil sebagai Mesias baru, yang akan membebaskan bangsa Israel harus menerima nasib yang sangat tragis. Mereka benar-benar terpukul mendengar pemimpin mereka dihukum sebagai seorang kriminal oleh penguasa Romawi. Robert Funk, Pakar Alkitab danan Direktur Westar Institute di Santa Rosa California, dalam bukuriya “Honest to Jesus” halaman 40 mengatakan:

“The crucifixion of Jesus must have been a disappointment to his first followers. It certainly frightened them, to judge by their response. With his arrest and crucifixion they fled from Jerusalem, return to Galilee, and resumed their humble lives as fishermen and peasants. To die as ignominiously as Jesus did was not the fate a true Davidic Messiah ought to suffer, since David’s successor was supposed to restore the Kingdom of Israel”

(Penyaliban Yesus pasti mengecewakan para pengikut utamanya. Ini benar-benar mengerikan mereka, seperti terlihat pada tindakan mereka. Dengan tertangkap dan disalibnya Yesus, mereka melarikan diri meninggalkan Yerusalem menuju Galilea, kembali bekerja sebagai nelayan dan petani. Mati terhina sebagaimana yang dialami Yesus bukanlah nasib yang harus diterima oleh Mesias keturunan Daud, karena keturunan Daud seharusnya membangun kembali kerajaan Israel).
C. Penebusan Dosa Atau Berqurban?
016. TANYA:
Apakah ada konsep penebusan dosa dalam agama Yahudi?
Apakah Yahudi mengimani bahwa dosa Adam selalu diwariskan mulai kepada anak Adam yang pertama sampai ke generasi kita yang hidup di akhir zaman?

JAWAB:
Dalam agama Yahudi mereka percaya bahwa keselamatan akan dicapai jika mereka sanggup mentaati hukum Taurat dalam 24 jam kehidupan sehari. Seorang Yahudi, dalam hidupnya sehari-hari, diharapkan akan mampu mentaati secara penuh tanpa cacat kesemua hukum-hukum Taurat yang diwahyukan Allah kepada Nabi Musa as. Namun kenyataannya seorang Yahudi sangat sulit untuk mentaati hukum tersebut tanpa cacat. Dengan demikian setiap orang Yahudi menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu saja ada cacat atau lubang dalam upaya mentaati setiap perintah hukum Taurat. Untuk itu mereka perlu berkorban untuk memohon ampun atas dosa-dosa yang mereka telah perbuat.
017. TANYA:
Bagaimana bentuk ibadah pengorbanan tersebut?

JAWAB:
Hari yang ditentukan untuk ibadah memohon ampun atas dosa mereka yang tidak mampu mentaati hukum Taurat secara sempurna dilakukan pada hari Yom Kippur. Mereka yang merasa pernah melakukan dosa karena tidak mentaati seluruh hukum Taurat, harus mengakui dosa-dosa mereka di atas kepala seekor kambing. Kambing yang telah “dibebani dengan dosa-dosa” seseorang ini, kemudian akan dilepas ke padang gurun sebagai “kambing hitam” (scape goat) sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Imamat.

“Dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun… Dengan demikian kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan ke padang gurun.” (Imamat 17:21-22)

Selanjutnya dalam pandangan agama Yahudi, setelah dosa seseorang telah dilemparkan ke kambing hitam, urusannya belum selesai. Dalam perayaan Yom Kippur, selanjutnya seorang yang menginginkan pengampunan dosa harus mengorbankan seekor domba yang tidak bercacat.

“Tuhan berfirman kepada Musa: ‘Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan berpuasa dan mempersembahkan korban api-apian kepada Tuhan.” (Imamat 23 :27)
018. TANYA:
Mengapa harus tanpa cacat?

JAWAB:
Karena Tuhan itu sempurna sehingga korban yang diserahkan pun harus sempurna fisik maupun mentalnya. Karena domba adalah binatang yang dianggap berguna dan praktis tidak pernah merugikan orang atau binatang lainnya sehingga secara mental dianggap sempurna karena tidak pemah melakukan dosa.

“Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela,…” (Keluaran 12:5)
019. TANYA:
Apakah para murid dan pengikut Yesus pernah berpikir bahwa manusia dapat dikorbankan untuk menebus dosa mereka sesuai semangat Yom Kippur?

JAWAB:
Mengorbankan manusia untuk dewa-dewa atau untuk binatang buas bukan ajaran Yahudi, tetapi ajaran penyembah berhala. Demikian pula mengorbankan (melemparkan) manusia ke kawanan singa untuk ditonton merupakan pertunjukan para penyembah bsrhala yang tidak mungkin dilakukan oleh umat nabi-nabi Allah. Apalagi meminum darah Yesus, Rasul Allah sebagai rasa cinta. Wilson menjelaskan penolakan orang-orang Yahudi untuk mengorbankan darah manusia dalam bukunya yang sama di halaman 26:

“they would have been disgusted by the idea of the cult of Mithras, since the drinking of blood is one of the most fundamental taboos in Jewish life”.

(Orang-orang Yahudi akan jijik dengan pandangan penyembah dewa Mithra, karena meminum darah merupakan sesuatu yang paling pantang dalam kehidupan orang-orang Yahudi).
020. TANYA:
Apakah pengertian jatuh ke dalam dosa dalam agama Yahudi?

JAWAB:
Pengertian jatuh ke dalam dosa adalah jika mereka gagal mentaati hukum Taurat dalam kehidupan mereka sehari-hari.
021. TANYA:
Apakah Yesus disalib untuk menebus dosa manusia karena Adam jatuh ke dalam dosa yang diwariskan ke seluruh umat manusia secara turun temurun sesuai kitab Kejadian?

JAWAB:
Justru sebaliknya. Setelah peristiwa penyaliban Yesus, barulah Paulus memeras otak menafsirkan kembali Kitab Kejadian sesuai yang diinginkan, sebagai sarana membenarkan dan memberikan makna bagi penyaliban Yesus. Kerja keras Paulus untuk memanipulasi kitab Perjanjian Lama membuahkan hasil. Dia pun menafsirkan Adam dan Hawa yang makan buah terlarang telah jatuh ke dalam dosa, yang kemudian diwariskan kepada seluruh keturunannya. Padahal sebelum penyaliban Yesus, Paulus tidak pemah mengajarkan bahwa kitab Kejadian adalah cerita tentang “dosa waris” yang akan ditebus oleh darah Yesus kelak. Kecerdikan Paulus dan Gereja ini dengan jelas diterangkan oleh Funk dalam bukunya yang sama halaman 223:

“It is dear that the authors of the passion narrative had searched the scriptures for clues to the meaning of Jesus’s death and had allowed those clues to guide them in framing the story: event was made to match prophecy”

(Jelas kelihatan bahwa para penulis cerita kematian Yesus berusaha mencari ayat-ayat kitab Perjanjian Lama untuk memberi arti pada kematian Yesus, dan mengandalkan penafsiran-penafsiran (baru) tersebut sebagai pendukung untuk merangkai cerita (tentang kematian Yesus): artinya cerita tentang peristiwa diciptakan seakan-akan sudah diramalkan akan terjadi).
Paulus sama sekali tidak menyaksikan dan tidak tahu persis, apakah Yesus benar-benar disalib, kalau Yesus disalib apakah Yesus benar-benar mati di tiang salib. Paulus pun tidak tahu, kapan Yesus disalib, dimana, dan bagaimana. Untuk membangun cerita tentang proyek penyelamatan umat manusia melalui darah Yesus, Paulus dan pendukung-pendukungnya kemudian memetik ayat-ayat Perjanjian Lama untuk menyusun cerita kehidupan Yesus. Toh, para pembacanya bukan orang-orang Yahudi di Yerusalem, tetapi orang-orang Romawi dan orang-orang Israel di perantauan, yang praktis tidak tahu kehidupan Yesus di Galilea.
Kelicikan ini diterangkan oleh Professor Alvar Ellegard, dalam bukunya Jesus One Hundred Years Before Christ, halaman 192-193:

“The Gospel writers chose instead to go in the opposite direction, using the known (the Old Testament) to prove the unknown (largely the life of Jesus).”

(Para penulis Injil justru menempuh cara yang terbalik, dengan menggunakan yang diketahui (kitab Perjanjian Lama) sebagai bukti dari yang tidak diketahui (kehidupan Yesus).
Kenyataan ini didukung pula oleh Prof. DR E.P. Sanders, Guru Besar Agama Kristen di Cambridge University, dalam bukunya The Historical figure of Yesus, halaman 254:

“It is possible to think either that the prophecy created the event or that the prophecy created the story and that the event never occured”
(Mungkin saja terjadi apakah ramalan menciptakan kejadian, atau ramalan menciptakan cerita, sehingga tidak ada sesuatu yang terjadi).
022. TANYA:
Mengapa Paulus tertarik kepada Yesus yang disalib, padahal sebelumnya dia begitu getol menyiksa dan membunuh para pengikut Yesus?

JAWAB:
Memang, Yesus yang mengajarkan Tauhid, yang menegaskan bahwa tidak ada yang wajib disembah selain Allah, adalah musuh besar Paulus. Ketika Yesus mengajarkan bahwa darah itu haram, sebaliknya Paulus memandang darah sebagai sajian suci yang wajib diminum untuk memberikan kehidupan yang baru.

“Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” (I Korintus 10:16)

Paulus dibesarkan di Tarsus, dimana masyarakat menyembah dewa Herakles yang mengorbankan sapi, yang darahnya diminum untuk memberikan kehidupan yang baru (bangkit dari antara orang mati). Herakles adalah dewa. yang mati lalu bangkit kembali dan dianggap sebagai Juruselamat, sebagaimana dijelaskan Wilson dalam bukunya yang sama halaman 26:

“From the inscription in Tarsus we know Herakles, in his dying and descent into Hades was regarded as a divine savior”

(Dari prasasti yang ditemukan di Tarsus, mengetahui bahwa Herakles, yang mati turun ke Hades dianggap sebagai Juru.selamat). Ketika Paulus mendengar rumor yang “katanya” Yesus mati, yang “katanya” dia bangkit dari kubur, maka dengan serta merta Paulus putar haluan 180 derajat. Kalau sebelumnya Paulus menganiaya kelompok Yesus karena dianggapnya menghalangi ajaran penyembah berhala yang dia anut dan promosikan, maka setelah rumor tersebut tiba ke telinganya, Paulus merasa berdosa bahwa ternyata yang dia aniaya ini adalah Kristus, Tuhan, Anak Allah, Penebus dosa dan Juruselamat umat manusia. Dengan demikian, Paulus menemukan “Kristus Baru” dari orang Yahudi, sekaligus dipromosikannya ke orang-orang Romawi sebagai pengganti para Kristus Zeus, Mithra, Adonis, Thammuz, Osiris dan lain-lainnya yang dianggap sudah uzur.
023. TANYA:
Mana buktinya bahwa Paulus adalah orang pertama yang mengajarkan tentang Yesus sebagai penebus dosa?

JAWAB:
Silahkan baca Surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus

“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita.” (1 Korintus 15:3)

Surat ini ditulis disekitar pertengahan tahun 50an untuk orang-orang Korintus. Daerah ini terkenal sebagai kota metropolitan yang bergelimang dosa oleh pelacuran dan kebobrokan moral yang merajalela. Pada saat surat ini dibuat, belum ada satu pun Injil yang ditulis, serta belum ada seseorang pun baik murid-murid Yesus maupun pengikut-pengikutnya yang mengatakan atau mengajarkan bahwa Yesus mati untuk menebus dosa manusia.
024. TANYA:
Bagaimana tanggapan orang-orang Romawi di Korintus terhadap surat Paulus ini?

JAWAB:
Orang-orang Korintus menyambutnya dengan gembira dan bersemangat. Mereka ingin segera mengenal Yesus Kristus yang masih segar kematiannya serta merindukan pengalaman rohani yang baru dengan “Kristus baru” yang diperkenalkan Paulus.
Ketertarikan mereka ini dilukiskan pula bleh Burton L. Mack dalam bukunya Who Wrote the New Testament, halaman 126:

“They were impressed rather with the chance to experience the spirit of the new god called Christ and to manifest the spiritual sign that proved they had enter his kingdom.”

(mereka justru lebih tertarik pada kesempatan untuk mendapatkan pengalaman rohani dari tuhan baru yang disebut Kristus (Yesus) serta menyatakan tanda-tanda rohani yang membuktikan bahwa mereka telah memasuki kerajaannya).
Mereka sudah bosan dengan Kristus-kristus mereka yang lama dan sudah uzur, karena dianggap sudah tidak mampu lagi mengatasi persoalan mereka. Hal ini dinyatakan oleh Calvin J. Roetzel dalam bukunya The Letters of Paul, halaman 31:

“The decline of social institution and the rise of a spirit of skepticism virtually destroyed the old religions. To be sure, certain primitive form of religion and new religions remained. But even though people still stood in awe of the power and mistery of certain primal forces, belief in the old gods – Zeus, Aphrodite, Apollo etc. -was on the wane.”

(Melemahnya lembaga sosial dan bangkitnya semangat skeptis, merusak agama-agama yang sudah ada. Namun, agama-agama primitif tertentu dan agama-agama baru masih tetap ada. Tetapi walaupun masyarakat masih mengagumi kekuatan dan misteri penguasa alam tertentu, namun kepercayaan kepada dewa-dewa lama – Zeus, Aphrodite, Apollo dll. – sudah mulai luntur).
Pengalaman rohani dengan Kristusnya yang baru ini, diperkenalkan oleh Paulus kemana-mana sebagaimana yang dapat kita lihat dalam Suratnya kepada jemaat di Galatia:

“Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?” (Galatia 3:1)
D. Merekayasa Dalil
025. TANYA:
Bagaimana pandangan Yahudi tentang Yesus sebagai Penebus dosa?

JAWAB:
Umat Yahudi tidak segera menerima ide tersebut. Kalau domba yang dikorbankan untuk menebus dosa yang mereka perbuat sudah lumrah dan dianut umat Yahudi terus-menerus. Tetapi kalau manusia yang dikorbankan untuk keselamatan orang per orang tentu sangat tidak mungkin dan tidak manusiawi.
Sementara itu praktek para penyembah berhala yang mengorbankan manusia kepada Dewa atau Tuhan untuk mencegah kemarahannya, tidak dikenal dalam hukum Taurat maupun ajaran para Nabi. Memang dalam Kitab Ulangan diceritakan bahwa untuk menghindarkan umat Yahudi dari perbudakan, Tuhan mengutus malaikat kematian untuk membunuh semua anak sulung di Mesir. Namun pengorbanan anak ini, selanjutnya sudah digantikah dengan domba paskah.
026. TANYA:
Lalu apa yang dilakukan Paulus untuk mempengaruhi umat Yahudi?

JAWAB:
Paulus berangkat dari asumsi Yahudi bahwa karena sedemikian sulitnya mentaati hukum Taurat secara sempurna sehingga setiap orang Yahudi, dan begitu pula manusia lainnya, semuanya berdosa.

“Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?” (Roma 2:23)
027. TANYA:
Bagaimana asumsi ini dikuatkan?

JAWAB:
Paulus melihat peluang dengan mengarahkan kitab Kejadian dalam Perjanjian Lama menjadi titik tolak jatuhnya umat manusia kedalam dosa abadi turun temurun.
Dalam kitab kejadian dikatakan bahwa Tuhan menciptakan jagad raya. Sebagai klimaks dari penciptaan berbagai benda di jagad raya adalah penciptaan manusia Adam dan Hawa. Manusia hidup rukun dengan Tuhan di surga.
Dalam surga ada pohon yang buahnya (buah pengetahuan) tidak boleh disentuh apalagi dimakan oleh manusia, karena kalau mereka memakannya, mereka akan mengetahui yang baik dan yang buruk. Sebagai manusia, larangan ini justru merangsang keingin-tahuan mereka.
Lalu kata cerita ini selanjutnya, Iblis menjelma menjadi ular dan menggoda Hawa. Wanita ini kemudian memetik buah itu dan memakannya lalu memberikannya kepada Adam. Dengan perbuatan ini, menurut Paulus, mereka telah melanggar perintah Tuhan dan jatuh dalam dosa, dan sebagai konsekwensinya, Adam dan seluruh manusia jatuh ke dalam dosa waris.

“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, Sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati… Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati’… Lalu Tuhan Allah mengusir dia dari taman Eden,… (Kejadian 2:11; 3:4,23)

Dengan demikian Paulus berhasil menemukan “dalil” dari kitab Taurat Musa untuk mempengaruhi orang-orang Yahudi bahwa seluruh manusia termasuk orang Israel telah jatuh kedalam dosa warisan “sesuai kitab Suci mereka”. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh para nabi maupun umat Israel sebelum datangnya Paulus. Jangankan Nabi .Ibrahim, Musa, atau Daud as. Yesus sendiri mengajari umatnya agar langsung memohon ampun pada Allah, tanpa harus menjadikan dirinya sebagai tumbal untuk mati di tiang salib.

“Karena itu herdoalah demikian: Bapa kami (Allah) di Sorga, dikuduskan namaMu… ampunilah kami atas kesalahan kami… (Matius 6:9,12)

“Sejak wakiu itu Yesus memberitakan: ‘Bertobat-lah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat! ” (Matius 4: 17)
028. TANYA:
Lalu apa hubungan cerita kitab kejadian ini dengan penyaliban Yesus?

JAWAB:
Karena semua manusia telah jatuh kedalam dosa, mereka sudah menjadi fana dan tidak sempurna, sehingga tidak dapat lagi berhubungan dengan Tuhan yang sempurna, mulia dan baka untuk pengampunan dosa. Disini filsafat Yunani mulai memainkan peran. Untuk menyelamatkan manusia yang jatuh dalam dosa selama bermilyar-milyar tahun, menurut Paulus, Tuhan memilih Yesus yang serupa dengan Allah untuk mati di tiang salib menebus dosa manusia

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:5-7)
029. TANYA:
Mengapa jutaan manusia harus menunggu mati bergelimang dosa selama milyaran tahun, baru kemudian Allah menetapkan Yesus sebagai penebus dosa?

JAWAB:
Inilah pertanyaan yang tidak dijelaskan oleh Paulus, serta tidak diterangkan oleh gereja selama 2000 tahun.
030. TANYA:
Apakah dengan demikian orang Yahudi sudah dapat menerima Yesus sebagai korban pengganti domba yang setiap tahun mereka sembelih? .

JAWAB:
Ajaran aneh yang baru diperkenalkan Paulus ini, bagi umat Yahudi memiliki beberapa kelemahan :

1) Bahwa Tuhan harus memaku anaknya ditiang salib untuk menebus dosa manusia adalah bertentangan dengan pikiran sehat rasa kemanusiaan dan rasa keadilan.
Saat ini pun kalau ada seorang ayah yang memaku anaknya sampai mati, apalagi anak yang baik hati, bukannya mendapat pujian, malah akan dijebloskan ke penjara.

2) Domba yang dikorbankan umat Israel adalah domba yang diperiksa dan diyakini sehat tanpa luka juga tanpa cacat

“Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela.” (Keluaran 12:5)

Sementara mereka tidak pernah mengetahui dan memeriksa apakah Yesus pernah cedera atau patah tulang. Yang jelas, sebelum disalib, Yesus terlebih dahulu mendapat siksaan yang berat. Malah di tiang salib masih dilukai perutnya.

“Tetapi seorang dari antaraprajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak. dan segera mengalir keluar darah dan air.” (Yohanes 19:34)

3) Domba yang dikorbankan adalah binatang yang tidak pernah berbuat dosa. Sementara Yesus yang hidup sebagai seorang Yahudi dan taat pada hukum Taurat dianggap tidak luput dari dosa, sebagaimana doanya setiap hari dalam Injil Matius.

“Dan ampunilah kami akan kesalahan kami,…. (Matius 6:12)

“… hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa,… (Timotius 1:9)

4) Sesuai ajaran Kitab Nabi Yesaya, hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa manusia, sedangkan seseorang tidak punya kuasa untuk mengampuni dosa orang lain.

“Beginilah firman Tuhan, Penebusmu…, (Yesaya 44:24)
031. TANYA:
Bagaimana Paulus dan pengikut-pengikutnya menghadapi kenyataan ini?

JAWAB:
Bukanlah bernama Paulus kalau dia tidak mampu mencarikan alasan untuk membenarkan ajaran barunya

1) Untuk mempertahankan bahwa Yesus adalah sempurna tidak bercacat, Paulus menemukan ayat 46 pasal 12 dari kitab Keluaran sebagai pendukung:
… Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikit pun dari daging itu keluar rumah; satu tulang pun tidak boleh kamu patahkan.,. (Keluaran 12:46)

Kalau kita memperhatikan, tidak ada hubungan antara kitab Keluaran 12:5 dengan Keluaran 12:46. Mematahkan tulang domba yang sudah dibakar dan membawanya keluar rumah di Kejadian 12:46, tidak ada hubungannya dengan kesempurnaan domba yang akan dikorbankan di Kejadian 12:5.
Jadi cerita tentang Yesus yang tidak dipatahkan kakinya dalam Injil Yohanes 19:36 agar sesuai dengan Keluaran 12:5, adalah merupakan contoh bagaimana Paulus dan para pendukungnya, berusaha mencari pembenaran ajaran mereka dari kitab Perjanjian Lama baik selaras maupun mustahil.

2) Untuk meyakinkan umat Yahudi bahwa Yesus adalah manusia yang suci dan pantas menggantikan fungsi domba korban, pendukung Paulus yang menulis Injil Lukas membuat cerita tentang kelahiran Yesus sebagai Anak Allah.

“Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah.” (Lukas 1 :35)

Namun anehnya, Paulus dalam suratnya kepada Timotius menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi yang taat pada hukum Taurat, termasuk Yesus, adalah orang berdosa.

“…hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa,.” (Timotius 1 :9)

3). Ketika Paulus menulis suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, dia belum memikirkan pentingnya ucapan Yesus sebagai otoritas untuk mendukung kedudukannya sebagai Juruselamat. Untuk mendukung hal ini, pengikut Paulus yang menulis Injil Lukas menggambarkan bahwa Yesus berkuasa mengampuni dosa seseorang, tanpa memahami pengertian sesungguhnya

“Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah la: ‘Hai saudara, dosamu sudah diampuni” (Lukas 5:20)

Dengan ayat ini Paulus dan orang-orang Romawi pendukungnya memproklamirkan bahwa Yesus telah mendapat limpahan kuasa penuh dari Allah untuk mengampuni dosa manusia. Dengan ayat ini, Yesus “katanya” mengumumkan ke seluruh pelosok dunia bahwa dirinya adalah Juruselamat.
Namun sangat disayangkan karena para pendukungnya tidak memahami ucapan Yesus ini, serta pengertian “dosa” dalam agama dan tradisi Yahudi. Hampir seantero dunia saat itu, baik orang-orang Yahudi maupun bangsa-bangsa lainnya, menghu-bungkan penyakit yang menimpa seseorang dengan dosa yang mereka lakukan. Silahkan perhatikan penjelasan penulis Injil Yohanes atas hal ini:

“Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (Yohanes 5:14)

Uskup John Shelby Spong dari New Jersey, Amerika Serikat dalam bukunya Why Christianity Must Change or Die di hal. 6-7, mengkritik para pemimpin Gereja yang masih mempertahankan mati-matian kekeliruan ini

“For many biblical assumptions are today dismissed as quite simply wrong. Sickness for example, does not result from sin being punished.”

(Sekian banyak penafsiran Alkitab yang saat ini harus disingkirkan karena ternyata salah. Penyakit, misalnya, bukan disebabkan oleh hukuman karena berdosa)

Dengan demikian menjadi sangat jelas bahwa dari konteks pengertian dosa, telah terjadi kekeliruan baik di kalangan Yahudi maupun Kristen.

a. Kekeliruan umat Yahudi adalah menganggap penyakit merupakan hukuman Tuhan atas dosa yang diperbuat manusia. Sehingga kalau seseorang disembuhkan, berarti dosanya sudah diampuni oleh Allah.

“Kuasa Tuhan (Allah) menyertai Dia (Yesus), sehingga dia dapat menyembuhkan orang sakit”… (Lukas5:17)

Dari ayat-ayat di atas, jelas terlihat ada dua pihak yang memainkan peran. Pihak pertama adalah Yesus yang meyembuhkan penyakit, dan pihak kedua adalah Allah yang mengampuni dosa seseorang dengan kesembuhan.

b. Sementara kekeliruan umat Kristen, lebih parah lagi, yakni selain memandang penyakit sebagai hukuman atas dosa, juga menganggap bahwa Yesus yang menyembuhkan penyakit seseorang, sekaligus sebagai penguasa yang mengganti kedudukan Allah sebagai pemberi ampun atas dosa seseorang.
Padahal dalam ayat Injil di atas, Yesus menggunakan kata kerja pasif:

“Dosamu sudah diampuni (oleh Allah).”

bukan:
“Dosamu sudah “ku”ampuni” atau,
“Aku (Yesus) sudah mengampuni dosamu.”
032. TANYA:
Apakah dengan kenyataan ini pengikut-pengikut. Paulus menjadi patah hati?

JAWAB:
Tidak. Setelah gagal meyakinkan umat Israel dengan penafsiran yang keluar dari konteks, salah seorang pengikut Paulus, tanpa rasa takut berdosa, menambahkan 5(lima) ayat palsu di akhir Injil Matius (Matius 28:16-20)

“Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu- ragu. Yesus mendekati mereka dan, berkata: ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:16-20)

Inilah ajaran Kristen yang dipromosikan Paulus dan para pengikutnya. Kalau memanipulasi pengertian ayat-ayat kitab Perjanjian Lama masih dianggap tidak mempan, mereka tidak segan-segan menciptakan ayat-ayat palsu, kemudian disuapkan kemulut Yesus untuk diucapkan.

Selama hampir 2000 tahun, Gereja berhasil menutup-nutupi kepalsuan ayat-ayat ini. Namun para pakar Alkitab dan Sejarawan Kristen tidak tinggal diam dan akhirnya mengungkapkannya kepada umum (Paul Tillich, 1968; Robert W. Funk, 1993 dan Hugh J. Schonfield, 1998).

Ayat-ayat di atas sesungguhnya bukan bermaksud untuk menyatakan bahwa Yesus, yang sekarang adalah maha kuasa, mampu menciptakan satu matahari lagi atau empat buah bulan lagi agar setiap malam menjadi purnama, tetapi semata-mata diarahkan untuk mendukung pendapat bahwa sesungguhnya Yesus telah diberi kuasa oleh Tuhan untuk mengampuni dosa manusia. Ayat palsu ini sangat dibutuhkan, karena Paulus ingin membelenggu pengikut-pengikutnya yang ketakutan di bawah bayang-bayang dosa warisan untuk tetap menggantungkan harapan mereka kepada Anak Allah sebagai satu-satunya Juruselamat.

Kita semua telah berdosa menurut Paulus. Agar kita bebas dari belenggu dosa, maka kita membutuhkan kematian seseorang yang ilahi untuk menebus dosa seluruh manusia. Seseorang yang ilahi ini menurut Paulus dan pendukung-pendukungnya adalah Yesus, karena manusia biasa tidak dapat menebus dosa seluruh umat manusia.
Pendapat ini kemudian didukung oleh pengikut Paulus yang menulis Injil Markus dengan mengatakan bahwa Yesus adalah penebus dosa manusia.

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45)

Penulis Injil Markus dengan cerdik menciptakan cerita penyaliban Yesus dalam konteks festival memperingati pembebasan Yahudi dari perbudakan di Mesir. Sehingga umat Israel akan segera teringat dan mengaitkan penyaliban Yesus dengan domba paskah yang disembelih. Padahal Paulus sendiri tidak pernah menghubung-hubungkan saat kematian Yesus dengan Passover (Paskah).

Sedemikian rapinya Gereja mengemas cerita Tuhan yang terpaksa harus mengorbankan anaknya untuk mati di tiang salib menebus dosa seluruh umat manusia, sehingga kebanyakan orang terlena dan melupakan bahwa cerita ini sangat kejam dan bertentangan dengan akal sehat.
033. TANYA:
Bagaimana upaya Paulus dan pendukung-pendukungnya untuk meyakinkan orang-orang Yahudi bahwa Yesus tidak berdosa sementara dia adalah manusia biasa seperti mereka yang tidak luput dari dosa?

JAWAB:
Untuk mengatasi hal ini Paulus memiliki jurus mengangkat Yesus menjadi manusia ilahi dengan mengumumkan kepada umat Israel bahwa Yesus adalah Anak Allah. Karena Yesus Anak Allah, dengan demikian dia ilahi tanpa dosa,

“Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.” (Kisah Para Rasul 9:20)

Selanjutnya bukan hanya Paulus. Para pendukung Paulus termasuk Roh jahat pun ikut-ikutan latah mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah,

“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” (Markus 1:1)

“Kata Natanel kepada-Nya: ‘Rabbi (Tuan Guru). Engkau adalah Allah, Raja orang Israel” (Yohanes I: 49)

“Yesus mengatakan kepadanya: “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” dengan keras ia (roh jahat itu) berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” (Markus 5: 8,7)
034. TANYA:
Apakah umat Yahudi dapat menerima peningkatan status Yesus dari anak Maria (Maryam) menjadi Anak Allah?

JAWAB:
Tidak bisa. Umat Yahudi memang mengaku sebagai anak-anak Allah, umat pilihan Allah, tetapi kalau anak Allah secara individu tidak lazim bagi mereka. Oleh karena itu ketika Paulus mengumumkan bahwa Yesus adalah Anak Allah, mereka menolak dan menentangnya, Ini dijelaskan oleh Paul Tillich dalam bukunya A History of Christian Thought:

“Son of God is very familiar pagan concept, The pagan Gods propagated sons on earth. Because of this the words only begotten were added.”

(Anak Allah adalah istilah yang sangat umum dalam ajaran Penyembah Berhala. Tuhan-tuhan Penyembah Berhala beranak pinak di bumi. Oleh karena itu, mereka menambahkan istilah anak tunggal).

Allah mengutuk ajaran tentang Allah mempunyai anak:

“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak, Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” {Maryam 19:88-92)

Allah malah menyentil mereka dengan pertanyaan:

“Bagaimana Dia (Allah) mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri.” (Al-An’am 10:101)
035. TANYA:
Bagaimana dengan para penyembah berhala di kerajaan Romawi?

JAWAB:
Mereka sangat senang Anak Tuhan merupakan figur yang penting dalam Struktur Ketuhanan Penyembahan Berhala dalam filsafat Yunani. Anak Allah inilah yang akan mewakili Allah menyelamatkan manusia di dunia dengan menunjukkan kepada manusia kode-kode dan rambu-rambu yang tepat untuk dapat kembali dengan selamat bersatu dengan Allah (Similitude).
Ajaran ini kemudian dianut oleh para pemimpin Gereja dan dijadikan landasan ajaran Kristen.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal… “.(Yohanes 3:16)

Perbuatan orang-orang Kristen yang mengikuti ajaran orang-orang kafir untuk mengangkat Yesus sebagai Anak Allah telah diterangkan oleh Allah hampir 1.400 tahun sebelum para pakar Alkitab membeberkannya.

“Orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? ” (At Taubah 9:30)
E. Wanita Sumber Dosa
036. TANYA:
Mengapa Paulus dapat menjamin bahwa Yesus tanpa dosa sementara Maria yang dihamili oleh Allah (Roh Kudus) adalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa?

JAWAB:
Memang menurut pandangan Kristen, wanita adalah sumber dosa atau awal dosa yang menimpa manusia. Wanitalah yang menggoda laki-laki untuk ikut tenggelam dalam dosa awal. Wanita pulalah yang mengabadikan dosa warisan turun temurun melalui setiap anak yang dia lahirkan. Ini dijelaskan oleh Santo Agustinus, pemimpin gereja dari Hippo yang dikutip oleh Karen Armstrong dalam bukunya A History of God, halaman 144-145

“Banished (from Paradise) after his sin, Adam bound his offspring also with penalty of death and damnation, that offspring which by sinning he had corrupted in himself, as in a root, so that what ever progeny was born (through carnal concupiscence, by which a fitting retribution for his disobedience was bestowed upon him) from himself and his spouse – who was the cause of his sin and the companion of his damnation – would drag through the ages the burden of Original Sin, by which it would itself be dragged through manifold er rors and sorrows, down to that final and never-ending torment with the rebel angels .”

( Terusir (dari sorga) setelah berbuat dosa, Adam mengikutkan pula seluruh keturunannya dalam hukuman kematian dan kutukan, dimana keturunan yang oleh karena dosa yang dia lakukan terhadap dirinya, adalah seperti akar; sehingga setiap keturunan yang dilahirkan (melalui nafsu birahi manusia dimana hukuman yang setimpal atas pelanggarannya ditimpakan kepadanya) dari hubungannya dengan isterinya – yang merupakan penyebab dosanya dan pendamping kutukannya – akan memikul dari zaman ke zaman beban dosa warisan yang kemudian akan dipikulkan seterusnya melalui kesalahan-kesalahan dan penderitaan yang berlipat ganda serta siksaan yang tidak berakhir….)
Bagaimana malang dan sialnya menjadi seorang wanita dalam Kristen, dapat kita simak dari buku yang sama. Pernyataan tegas Tertullian, pemimpin Gereja yang memvonis wanita sebagai jelmaan setan yang menjadi penyakit abadi di tengah-tengah umat manusia.

“Do you not know that you are each an Eve? The sentence of God on this sex of yours lives in this age: the guilt must of necessity live too. You are the devil gate way, you are unsealer of the forbidden tree; you are the first deserter of the divine law; you are she who persuade him whom the devil was not valiant enough to attack. You so carelessly destroyed man, God’s image. On account of your desert, even the Son of God had to die.

(Tidakkah engkau ketahui (hai wanita) bahwa masing-masing kamu adalah Hawa? Hukuman Tuhan menimpa golonganmu wanita, sampai saat ini. Kesalahan terpaksa harus berlangsung terus. Engkau adalah gerbang masuknya setan. Engkaulah yang menjangkau buah terlarang; engkaulah yang pertama merusak hukum Tuhan. Engkau, wanita yang menggoda laki-laki yang sebenarnya sulit untuk ditaklukkan oleh setan. Tanpa perasaan, engkau merusak laki-laki yang merupakan gambaran Tuhan. Oleh karena pelanggaranmu, sehingga Anak Allah pun harus mati.

Betapa rendahnya wanita di mata para pemimpin Gereja. Berdasarkan pandangan mereka, wanita yang berhubungan dengan suaminya, akan menyebarkan dosa-dosa turunan yang berlipat ganda atas seluruh umat manusia melalui setiap kehamilan dan kelahiran anak, laksana WTS yang menyebarkan penyakit Sypilis dan AIDS di masyarakat.

Namun karena menurut pandangan Paulus, bibit yang bakal menjadi manusia adalah sepenuhnya 100% dari sperma laki-laki sehingga baginya, wanita hanya berfungsi untuk menyimpan dan menyuburkan sperma agar tumbuh menjadi manusia sempurna.

Dengan demikian, kalau bapaknya Yesus adalah Tuhan, maka otomatis Yesus menjadi ilahi, karena Maria, ibunya, tidak punya peran apa-apa. Pandangan seperti ini sesungguhnya merupakan penghinaan Gereja terhadap kaum ibu yang dianggap sama sekali tidak punya andil dalam kejadian seorang janin.
Menurut Santo Agustinus, Yesus yang memainkan peranan Juruselamat sama sekali tidak boleh tercemar oleh dosa manusia. Oleh karena itu peranan perawan Maria yang tidak dihamili manusia tetapi oleh Allah (Roh Kudus}, memberikan jaminan 100% bahwa Yesus adalah Anak Allah yang tidak dicemari oleh dosa warisan sehingga dia siap untuk menjalankan tugas Juruselamat.
037. TANYA:
Tetapi bagaimana dengan pernyataan Nabi Muhammad saw ketika ditanyai oleh orang Yahudi 14 abad yang lalu tentang asal usul kejadian manusia:

“Rasulullah ditanya oleh seorang Yahudi: ‘Hai Muhammad; katakanlah kepadaku. Dari apa manusia itu diciptakan?’ Rasulullah saw menjawab: ‘Hai Yahudi, Manusia tercipta dari nutfah laki-laki dan nutfah perempuan.” (Hadith diriwayatkan oleh Ibnu Hambal)

Pernyataan ini kemudian dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, 13 abad kemudian oleh para pakar kedokteran di abad ke 19. Bukankah pernyataan Rasulullah dan penemuan para pakar kedokteran ini melemahkan, malah meruntuhkan kesucian Yesus?

JAWAB:
Jangan membayangkan Gereja akan sedemikian mudah menyerah! Sekali lagi bagi mereka tidak ada masalah. Dalam perjalanan sejarah Kristen, urusan bongkar-pasang keputusan Sidang Gereja tentang keimanan, bukan suatu pekerjaan yang sulit. Jika Gereja terperangkap dalam suatu kenyataan bahwa mereka telah mengeluarkan keputusan dogma yang terbukti keliru, tinggal undang para uskup untuk bersidang. Berdasarkan pengalaman, untuk mengatasi permasaalahan seperti ini, inisiatif untuk mengundang para uskup datang baik dari Paus, Uskup Agung atau Kaisar Romawi. Biasanya, terutama di zaman Kerajaan Romawi, konsep SKnya sudah ada, tinggal menunggu kedatangan para uskup untuk tanda tangan. Dalam sidang, para uskup yang mayoritas atau yang didukung Kaisar, atau Paus, akan memutuskan untuk mengutuk atau membatalkan keputusan lama yang pernah diagungkan sebagai wahyu Allah, kemudian menggantinya dengan keputusan “wahyu Allah” yang baru, dan, beres!
Edward Gibbon, pakar sejarah yang terkenal, mengutip pemyataan Hilary, melukiskan kesibukan Gereja membongkar pasang keimanan Kristen dalam setiap Sidang Gereja, dalam bukunya The Decline and Fall of the Roman Empire, halaman 397:

“It is a thing equally deplorable and dangerous, that there are as many creeds as opinion among men, as many doctrines as inclination, and as many sources of blasphemy as there are faults among us; because we make creeds arbitrarily and explain them as arbitrarily. The Homoousion is rejected, and received, and explained away by successive synods. The partial or total resemblance of the Father and of the Son is a subject of dispute for these unhappy times. Every year, nay, every moon, we make new creeds to describe invisible mysteries. We repent of what we have done., we defend those who repent, we anathematize those whom we defended. We condemned either the doctrine of others in ourselves, or our own in that of others; and, reciprocally tearing one another to pieces, we have been the cause of each other ruin”

(Ini merupakan hal yang tercela dan berbahaya dimana demikian banyak kredo (deklarasi keimanan) seperti banyaknya pendapat manusia, demikian banyaknya ajaran (Kristen) seperti banyaknya keinginan, dan sedemikian banyaknya sumber kemusyrikan seperti banyaknya kesalahan yang kita perbuat karena kita menciptakan deklarasi keimanan secara asal-asalan saja dan menjelaskannya secara asal-asalan pula. Homoousian (Allah satu zat dengan Yesus) mula-mula kita tolak, setelah itu kita terima (lagi), lalu kita hapuskan lagi pada sidang- sidang Gereja selanjutnya dengan berbagai alasan. Keserupaan antara Bapa (Allah) dengan Anak (Yesus), baik sebagian maupun keseluruhan merupakan sumber percekcokan di hari-hari yang suram ini. Bukannya setiap tahun, tetapi malah setiap bulan, kita membuat deklarasi keimanan yang baru untuk menjelaskan misteri yang tidak nampak. Kita minta ampun atas apa (kekeliruan) yang pernah kita perbuat, kita mempertahankan mereka yang bertobat, (tetapi kemudian) kita mengkafirkan mereka yang pernah kita pertahankan. Kita mengutuk baik ajaran orang lain yang ada pada kita, atau ajaran kita pada orang lain, dan secara timbal balik kita saling menghancurkan antara satu dengan yang lain, dan masing-masing kita menjadi penyebab keruntuhan lainnya)
Selanjutnya dalam bukunya yang sama di halaman 695, Gibbon melukiskan bagaimana perasaan Petrus dan Paulus bila mereka menyaksikan perubahan-perubahan ajaran Kristen saat ini.

“If the Christian apostles, St. Peter or St. Paul, could return to the Vatican, they might possible inquire the name of the Deity who is I worshipped with such mysterious rites in the magnificent temple”

(Seandainya rasul-rasul Kristen, Santo Petrus atau Santo Paulus, dapat kembali ke Vatican (saat ini), mereka mungkin akan menanyakan, siapakah nama Tuhan yang disembah (orang-orang Kristen) dalam upacara yang sedemikian aneh dalam Katedral yang besar-besar itu).

Selanjutnya dalam bukunya yang sama di halaman 695, Gibbon melukiskan bagaimana perasaan Petrus dan Paulus bila mereka menyaksikan perubahan-perubahan ajaran Kristen saat ini.

“If the Christian apostles, St. Peter or St. Paul, could return to the Vatican, they might possible inquire the name of the Deity who is I worshipped with such mysterious rites in the magnificent temple”

(Seandainya rasul-rasul Kristen, Santo Petrus atau Santo Paulus, dapat kembali ke Vatican (saat ini), mereka mungkin akan menanyakan, siapakah nama Tuhan yang disembah (orang-orang Kristen) dalam upacara yang sedemikian aneh dalam Katedral yang besar-besar itu).

Namun untuk hal ini, Tuhan “tidak akan marah”, karena yang duduk bersidang ini adalah wakil-wakilnya di dunia yang walaupun sekali-sekali keliru tetapi dijamin tidak bersalah. Jaminan ini diberikan oleh “Wakil Tuhan” di Dunia, Santo Ignatius, dalam suratnya ke Jemaat Kristen di Smyrna yang dikomentari oleh Paul Tillich dalam bukunya A History ofChrstian Thought, halaman 19:

“Where the bishop is, the congregation should be. Prophet who appears may be right or wrong, but the bishop is right. The bishops were representatives of true doctrine.”

(Apa yang dikatakan uskup, jemaat harus tunduk. Nabi boleh salah atau benar, tetapi uskup selalu benar. (Karena) uskup adalah pembawa ajaran yang benar). Ketika Nabi Muhammad saw memberikan pernyataan tentang peranan laki-laki dan perempuan dalam pembentukan janin manusia, Gereja tidak ambil pusing. Walaupun Hadis Rasulullah ini dicatat oleh para perawi Hadis, namun dampak ilmiahnya belum terasakan, karena pandangan Gereja masih dikuatkan oleh pendapat Hartsoeker (1694) yang mengatakan bahwa janin 100% tercipta dari sperma laki-laki.

Namun gelombang penemuan-penemuan baru di bidang embriology yang dirintis oleh Pander (1817), Prevost dan Dumas (1824) dan Van Baer (1829), sebagaimana dikemukakan oleh Dr. Mohammad Ali Albar dalam bukunya Human Development, halaman 53, mengarah kepada penyangkalan teori-teori sebelumnya. Ketika dunia mengetahui bahwa temyata laki-laki dan perempuan. sama-sama berperan dalam terciptanya janin dalam kandungan seorang ibu, orang mulai berfikir bahwa Yesus tidak akan bebas dari dosa, karena ibunya adalah keturunan Hawa yang ikut memberikan andil mencemari Yesus dengan dosa warisan.

Para pemimpin Gereja terperanjat. Untuk mengatasinya Paus bergegas melakukan sidang untuk meralat keimanan tentang Bunda Maria agar Yesus tetap terjaga kesuciannya. Pada saat itu, 18 abad setelah Yesus tiada, Gereja kemudian meralat keimanan umat dengan menetapkan ajaran yang baru bahwa bunda Maria tidak berdosa, sehingga pada waktu dia melahirkan Yesus, dosa warisan turun temurun dari Adam tidak mencemarinya.
Akhirnya pada tahun 1854, dengan campur tangan Tuhan, Paus Pius IX mengeluarkan SK yang menetapkan bahwa Bunda Maria tidak tercemar oleh dosa warisan (Immaculate conception). SK ini sebagian dikutip oleh Tony Lane dalam bukunya Christian Thought halaman 211:

“We declare, pronounce and define that the most blessed Virgin Mary, at the first instant of her conception was preserved immaculate from all stain of original sin, by the singular grace and privilege of the Omnipotent God, in the virtue of the merits of Jesus Christ, the saviour of mankind, and that this doctrine was revealed by God and therefore must be believed firmly and constantly by all the faithful”

(Kami menyatakan, mengumumkan, dan menyimpulkan bahwa Perawan Maria yang paling diberkati, pada kelahirannya terlindung/suci dari segala pencemaran dosa warisan, melalui rahmat dan keistimewaan satu-satunya dari Tuhan Yang Maha Kuasa, atas kebajikan jasa-jasa Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia, dan bahwa doktrin ini, diwahyukan oleh Allah sehingga dengan demikian harus diyakini dengan teguh dan abadi oleh semua yang beriman).

Dengan demikian, Paus sebagai wakil Tuhan di dunia telah berhasil menyelamatkan keimanan umat yang mulai goyah. Dengan menerbitkan SK, Paus berusaha meyakinkan umatnya bahwa Yesus sudah disucikan lagi, karena Maria yang pernah dianggap berdosa sejak tahun 50an – berdasarkan ajaran Paulus dan pemimpin Gereja seperti Tertullian – sudah disucikannya dengan SK Ineffabilis Deus yang baru terbitkan 1800 tahun kemudian dengan “mengatas-namakan Allah”.
Perbuatan Paus Pius IX yang mengklaim SK ini sebagai wahyu Allah sangat dikutuk oleh Allah dalam Surah Al-An’am:

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya,…” (Al-An’am 6:93)

Wahyu Allahnya yang baru, digunakannya untuk merevisi Wahyu Allah yang lama dalam Surat Paulus kepada Timotius dan kepada Jemaat Kristen di Roma yang menyatakan bahwa semua orang (termasuk Bunda Maria) berdosa.

“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12)

“Lagi pula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.” (I Timotius 2:14)

Seharusnya, SK Paus Pius IX ini batal demi hukum, karena SK Paus yang lebih rendah, bertentangan dengan “SK Allah” yang lebih tinggi. Namun umat Kristen sudah tidak memperdulikan hal ini lagi, karena kalau mereka tidak mau menerima SK ini, konsekwensinya adalah: Yesus otomatis batal menjadi Juruselamat!.
Ketergantungan umat Kristen terhadap sembahan / Juruselamat selain Allah ini, dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an:

“Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka.” (Maryam 19:81)
038. TANYA:
Siapa Juruselamat menurut Yesus?

JAWAB:
Juruselamat satu-satunya menurut Yesus adalah Allah, dan agar kita selamat, menurut Yesus kita harus taat pada perintah Allah (bertaqwa). Kalau Yesus mengajarkan “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, “Ikutilah perintah Allah”, “Cintailah Allah dengan sepenuh hatimu, dengan sepenuh jiwa ragamu dan dengan sepenuh kekuatanmu, bukan untuk sekedar pamer, tetapi benar-benar menegaskan bahwa satu-satunya Juruselamat adalah Allah.” Perhatikan ayat-ayat Injil berikut ini:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (taqwa).” (Matius 7:21)

“Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” (Yohanes 12:49-50)

“Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu,” (Lukas 3:3)

“Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” (Matius 19:17)
039. TANYA:
Kalau demikian apakah Yesus sama sekali tidak dianggap sebagai Juruselamat?

JAWAB:
Ini yang perlu dijelaskan dan ditegaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal juru yang berarti salah seorang yang melakukan tugas sebagaimana dijelaskan.

Juru Rawat berarti salah seorang yang melakukan tugas perawatan.
Juru Mudi berarti salah seorang yang melakukan tugas mengemudi.
Kalau juru selamat diartikan salah seorang yang menyelamatkan, berarti Yesus dapat dianggap juru selamat, karena beliau adalah salah seorang Nabi yang diutus untuk Bani Israel dengan ajaran untuk menyelamatkan.
Kalau pengertian ini yang kita anut, berarti siapa saja yang melakukan tugas-tugas menyelamatkan orang lain adalah juruselamat, termasuk semua nabi terhadap umatnya, para dokter terhadap pasiennya, petugas pemadam kebakaran terhadap penghuni rumah yang terbakar, dan lain-lain.
040. TANYA:
Bagaimana sikap umat Kristen terhadap ajaran tentang Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat?

JAWAB:
Umat Kristen terlalu diliputi rasa takut akan bayang-bayang dosa waris.
Santo Agustinus sedemikian hebat mendramatisir ajaran tentang dosa warisan. sehingga umat Kristen merasa bahwa keberadaan mereka di dunia ini, sebagai laki-laki, apalagi sebagai perempuan, merupakan keberadaan maupun tindakan-tindakan yang hanya melipatgandakan dosa-dosa yang sudah ada.
Ajaran Paulus dan pengikut-pengikutnya demikian hebat membelenggu pemikiran umat Kristen. Dan ajaran dosa warisan, hukum Taurat tinggal menjadi pajangan yang tidak punya arti apa-apa.

“Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”

Dengan dihapuskannya hukum Taurat, bayangan Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Bijaksana serasa ikut pupus, digantikan dengan Yesus, “Anak Allah, Tuhan dan Juruselamat”

“Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.” Galatia 2: 16)

“Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? (Galatia 3:1)

Berbagai pertanyaan pun datang menghantui
a. Bagaimana mereka harus mengatasi rasa takut?
b. Bagaimana manusia yang sudah terkutuk ini diperbaiki?
c. Bagaimana manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini diselamatkan?

Ketakutan seperti inilah yang ditunggu-tunggu oleh Gereja dan untuk itu mereka sudah menyiapkan jawabannya beserta tenaganya. Resep satu-satunya yang mereka sodorkan sebagai jawaban untuk mengatasi rasa takut dan khawatir adalah dengan menggantikan kedudukan Allah dengan Yesus sebagai satu-satunya juruselamat.
Untuk melengserkan kedudukan Allah sebagai Juru Selamat, kelompok pendukung Paulus memaksakan serah terima jabatan Penguasa Sorga dan Bumi dari Allah kepada Yesus melalui ayat palsu berikut ini:

” Yesus mendekati mereka dan berkata: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matins 28:18)
041. TANYA:
Apa dampak ajaran Paulus ini terhadap Umat Kristiani?

JAWAB:
Dampaknya cukup hebat, coba silakan dekati salah seorang Kristiani yang bisa diajak diskusi atau berbincang-bincang tentang Yesus. Arahnya pasti dan jelas Bukannya Yesus sebagai Nabi, bukan Yesus sebagai Anak Allah, bukan Yesus sebagai oknum kedua dari Trinitas, tetapi hampir pasti, pembicaraan akan selalu mengarah ke Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat. Ajaran Kristen pun hampir semua dikemas untuk bermuara ke Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat.
Perhatikan upacara pembaptisan, perhatikan lambang salib, perhatikan penyembuhan atas nama Yesus. Bahasa dosa warisan dan penebusan dosa sedemikian kental dan kuat, sehingga sudah mirip dengan mantera yang tidak boleh dibantah, diganggu gugat, atau dipertanyakan.
042. TANYA:
Dari mana Gereja mendapatkan ide untuk mendukung Yesus sebagai Juruselamat?

JAWAB:
Menurut filsafat Yunani yang diajarkan oleh Aristoteles dan Plotinus, Tuhan yang maha mulia tidak menciptakan dunia ini atau pun menghakimi manusia di akhir zaman. Kemuliaan Tuhan tidak boleh dicemari dengan mengurusi dunia dan manusia yang berdosa.
Oleh karena itu segala tugas yang menyangkut urusan dunia termasuk menghakimi dan mengampuni manusia yang jatuh dalam dosa, diserahkan kepada perantara yakni Logos.
Para pemimpin gereja yang berlatar belakang fllsafat Yunani ini tinggal melantik Yesus menjadi Logos untuk menjalankan fungsi perantara antara Tuhan dan manusia. Selesai pelantikan, Yesus sudah harus sibuk mewakili Tuhan, sebagai hakim dan Juruselamat untuk menyelamatkan dunia beserta isinya
Kalau mereka masih belum cukup, masih bisa ditambahkan dengan ayat palsu (Matius 28:18) untuk lebih meyakinkan bahwa Yesus benar-benar adalah perantara Tuhan yang mulia dengan manusia, dimana Tuhan telah menyerahkan semua kekuasaannya baik di langit maupun di bumi kepada Yesus.
F. Pemalsuan Kitab Suci
043. TANYA:
Apa sebabnya kalau kita membaca Injil dalam Alkitab, Surat-Surat Paulus maupun surat-surat para murid Yesus seakan-akan semua sama mendendangkan Yesus sebagai Juruselamat?

JAWAB:
Jangan salah kaprah! Jangan sampai pembaca terperdaya membaca nama-nama murid-murid Yesus yang terpandang sebagai penulis Injil dan Surat-surat yang mencantumkan nama mereka dalam Alkitab.
Para pakar Alkitab dan sejarawan sependapat bahwa dalam kitab Perjanjian Baru hanya Surat-surat Paulus yang dianggap ditulis oleh Paulus. Itu pun tidak semuanya. Semua Injil yang ada dalam kitab Perjanjian Baru ditulis oleh orang misterius yang tidak dikenal. Perhatikan pernyataan Prof. Sanders dalam bukunya yang sama halaman 63-64:

“We do not know who wrote the gospels…. Present evidence indicates that the gospels remained unfitted until the second half of the second century. I have summarized this evidence elsewhere…The gospels as we have them were quoted in the first half of the second century, but always anonimously. . Names suddenly appear about the year 180.”

(Kita tidak tahu siapa yang menulis Injil-injil….. Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa Injil-injil tetap tidak memiliki nama sampai pada tahun 150an. Saya telah memeriksa bukti-buktinya di mana-mana. Injil-injil sebagaimana yang kita miliki telah dikutip sebelum tahun 150an, tetapi tanpa nama… Nama-nama penulis tiba-tiba muncul sekitar tahun 180)

Mereka ini adalah orang-orang Romawi pengikut Paulus yang menulis Injil bukan untuk bacaan umat Yahudi (umatnya Yesus) tetapi untuk kepentingan orang-orang Romawi penganut filsafat Yunani.
Sebenarnya ada lebih 300 Injil yang berbeda-beda yang tersebar di masing-masing gereja tanpa diketahui siapa penulisnya.
Pemberian nama-nama Injil baru diberikan tahun 180 demi kepentingan mempertahankan Injil-injil yang diinginkan untuk masuk dalam kanonisasi Alkitab.
Jadi kalau pembaca melihat nama Matius dan Yohanes, jangan sekali-kali membayangkan bahwa Injil yang mencantumkan nama mereka adalah tulisan mereka. Ini hanyalah sekedar upaya Gereja mencatut nama mereka agar sidang kanonisasi mau menerimanya masuk dalam Alkitab.
Ini dijelaskan pula oleh Professor Alvar Ellegard, dari University of Guteborg, Sweden dalam bukunya Jesus, One Hundred Years before Christ, halaman 188:

“Thus we can only conclude that ascribing the authorship of the Gospels to a certain of Jesus’ disciples was a step taken towards the mid- second century AD by member of the Church who, like Papias and Justin, were eager to find – or indeed fabricated -support for the view that the Gospels they chose to accept as canonical were the memories of Jesus’ contemporaries”

(Dengan demikian kita hanya dapat menyimpulkan bahwa dengan mencatut nama- nama murid-murid Yesus sebagai penulis Injil-injil adalah suatu langkah yang diambil menjelang tahun 150an oleh para pemimpin Gereja yang, seperti Papias dan Justin, sangat bersemangat untuk memperoleh – atau benar- benar memalsukan – dukungan agar orang berpendapat bahwa Injil-injil yang mereka pilih sebagai kitab suci tersebut adalah tulisan mereka yang sezaman dengan Yesus)

Dengan mencantumkan nama murid-murid Yesus berarti Injil tersebut harus diterima karena ditulis oleh murid Yesus atau saksi mata kehidupan Yesus.
Oleh karena itu kalau pembaca melihat bahwa Matius dan Markus sudah melantik Yesus menjadi Anak Allah, atau Yohanes melantik Yesus menjadi Logos penyembah berhala, harap jangan kaget atau terkecoh!
Janganlah pembaca bermimpi bahwa Matius murid Yesus yang hidup siang malam dengan Yesus dan sama-sama orang Yahudi, akan lancang mengatakan bahwa Yesus Anak Allah, seperti ajaran Platonis yang dipromosikan oleh Paulus, atau ramai-ramai makan babi.
Demikian pula jangan sampai pembaca terkecoh bahwa Yohanes murid kesayangan Yesus akan tega mengkhianati tuannya dengan melantiknya menjadi Logos penyembah berhala yang turun dari sorga ke dunia untuk menebus dosa manusia, sebagaimana yang dipromosikan Paulus dalam Suratnya kepada jemaat di Filipi. Semua ini adalah hasil kerja pengikut-pengikut setia Paulus yang siap melakukan apa saja untuk mendukung tuannya.
Demikian pula Gereja, tetap saja menyembunyikan kepada jemaat mereka kenyataan bahwa Injil yang mereka pilih sesungguhnya bukan hasil kerja murid-murid Yesus. Ini dijelaskan pula secara detail oleh Herman Hendrickx dalam bukunya From One Jesus, to four Gospels.” Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Spong dalam bukunya Why Christianity Must Change or Die, halaman XV:

“I contended that the authors of the synoptic Gospels, Matthew, Mark, and Luke, were not eyewitnesses, nor were these Gospels even based primarily on eyewitness memories of the life of Jesus.”

(Saya yakin bahwa para penulis Injil-injil Matius, Markus dan Lukas, bukanlah saksi mata, dan bahkan Injil-injil ini malah tidak didasarkan pada catatan-catatan para saksi mata kehidupan Yesus)

Iktikad kurang baik Gereja juga terlihat dari penempatan Injil-injil sebelum Surat-surat Paulus yang dapat memberi kesan keliru seakan-akan cerita tentang kelahiran Yesus, cerita tentang kematian, kebangkitan maupun terangkat ke sorga sudah ada sebelum Paulus menulis Surat-suratnya.
Padahal kenyataannya hampir semua adalah mitos yang baru dibuat-buat puluhan tahun setelah surat-surat Paulus selesai ditulis berdasarkan kepentingan narasi untuk mendukung ajaran Paulus
Belum lagi ribuan perubahan maupun tambahan ayat-ayat palsu yang baru dibuat oleh penyalin-penyalin Injil yang pada ujung-ujungnya bermuara pada Yesus sebagai Juruselamat sebagaimana yang diinginkan Paulus.
044. TANYA:
Apakah pengaruh ajaran Paulus tentang Yesus sebagai Juruselamat bagi bangsa-bangsa Eropa yang Kristen?

JAWAB:
Orang-orang Kristen Eropa berhasil diyakinkan oleh ajaran Paulus dan para pemimpin Gereja bahwa Yesus adalah satu-satunya Juru Selamat dan bahwa berdasarkan ayat-ayat Injil, Yesus sudah memerintahkan umat Kristen untuk mengkristenkan dunia, sehingga mereka merasa terpanggil untuk mengemban tugas-tugas tersebut

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,…” (Matius 28:19)

“Lalu la berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk..” (Markus 16:15)

Para misionaris pun menjelajah benua Afrika, Asia dan Amerika Latin. Mereka mendompleng armada kapal-kapal dagang menyebar ke seluruh dunia untuk menjajah sekaligus mengajak atau kalau perlu memaksa penduduk yang dijajah untuk menerima Yesus menjadi Juruselamat mereka.
Mereka tidak perduli bahwa kebanyakan negara atau kerajaan di Afrika dan Asia yang mereka datangi sudah beragama Islam. Yang penting sebagai misionaris yang taat kepada perintah Yesus, misi mengkristenkan dunia sebagaimana yang diperintahkan harus dilaksanakan. Kalau penduduk yang dijajah tidak mau tunduk, disiksa atau dibinasakan! Sebagaimana yang mereka lakukan terhadap umat Islam Moro di Luzon dan Visayas Filipina.

“Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.” (Lukas 19:27)

Ternyata, ayat-ayat Injil yang memerintahkan para misionaris untuk menyebarkan Kristen ke seluruh dunia adalah ayat-ayat palsu yang baru ditambahkan kemudian oleh Gereja.
Injil Matius seharusnya berakhir pada pasal 28:15. Hugh J. Schonfield dalam hukunya The Original New Testament halaman 124 menjelaskan:

“This (Matthew 28: 15) would appear to be the end of the Gospel. What follows (Matthew 28: 16-20) from the nature of what is said, would then be a later addition”

(Ayat ini – Matius 28:15 – nampak sebagai akhir dari Injil Matius. Ayat-ayat selanjutnya – Matius 28:16-20 – dari kandungan peryataannya, baru ditambahkan kemudian).

Selanjutnya, mengenai Injil Markus seharusnya berakhir pada Markus 16:8. Injil Markus dalam buku The five Gospels yang disusun oleh Robert W. Funk, langsung berakhir pada Markus 16:8 tanpa penjelasan Alkitab Revised Standard Version juga menutup Injil Markus pada Markus 16:8, dan menempatkan Markus 16:9-20 pada catatan kaki (footnote). Sementara itu Alkitab Good News Bible memiliki dua tambahan kumpulan ayat-ayat masing- masing a) Markus 16:9-20 dan yang satu lagi b) Markus 16:9-10} Keduanya terpisah dari teks Injil Markus disertai penjelasan:

“Some manuscripts and ancient translations do not have this ending to the Gospel (verses 9- 20)”

(Beberapa naskah dan terjemahan tua, tidak memiliki tambahan di akhir Injil ini (ayat-ayat 9-20)

Selanjutnya, mengenai Injil Markus seharusnya berakhir pada Markus 16:8. Injil Markus dalam buku The five Gospels yang disusun oleh Robert W. Funk, langsung berakhir pada Markus 16:8 tanpa penjelasan Alkitab Revised Standard Version juga menutup Injil Markus pada Markus 16:8, dan menempatkan Markus 16:9-20 pada catatan kaki (footnote). Sementara itu Alkitab Good News Bible memiliki dua tambahan kumpulan ayat-ayat masing- masing a) Markus 16:9-20 dan yang satu lagi b) Markus 16:9-10} Keduanya terpisah dari teks Injil Markus disertai penjelasan:

“Some manuscripts and ancient translations do not have this ending to the Gospel (verses 9- 20)”

(Beberapa naskah dan terjemahan tua, tidak memiliki tambahan di akhir Injil ini (ayat-ayat 9-20)
045. TANYA:
Mengapa umat Islam di berbagai negara melakukan perlawanan terhadap usaha pengkristenan, dan paling dimusuhi?

JAWAB:
1. Umat Islam menyadari bahwa ajaran Kristen yang dicemari ajaran penyembah berhala berusaha membengkokkan ajaran Islam yang lurus.

“Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan meilainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.” (Ali Imran 3:69)

“Katakanlah: “Hai Ahli kitab mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Ali Imran 3: 99)

“(Yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.” (Al-A’raf 7:45)

2. Kristen memusuhi Islam karena merasa selama ada umat Islam, mereka sulit menutup-nutupi kecurangan ajaran mereka. Setiap kali mereka berusaha mempropagandakan ajaran Kristen, mereka selalu akan terbentur pada fakta-fakta sejarah tentang kehidupan dan ajaran murni Yesus, yang pada kenyataannya justru lebih banyak dianut dan dijalankan oleh umat Islam dibanding umat Kristen yang mempertuhankannya,

3. Umat Islam tahu dengan jelas bahwa ajaran Kristen yang diajarkan Paulus dan dimodifikasi oleh Gereja adalah ajaran yang menyimpang dari ajaran Yesus, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran. Dari Al-Quran pula umat Islam tahu bahwa Allah telah mengamanatkan kepada Rasulullah beserta seluruh umat Islam untuk memberikan peringatan kepada umat Kristen agar tidak terjerumus lebih jauh ke lembah kemusyrikan dengan menyekutukan Allah.

“Ini adalah sebuah kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadaniu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab (Al-Qur’an) itu (kepada orang kafir) …” (Al-A’raf 7:2)

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah.” (Ali Imran3:64)

Saat ini walaupun sangat terlambat, peringatan Allah ini juga telah disampaikan oleh para tokoh Agama Kristen, sejarawan dan pakar Alkitab, antara lain, Uskup Agung Jenkins dari Inggris, Uskup John Shelby Spong dari Amerika Serikat, Robert Funk, John Davidson, Reverend Dr. Charles Francis Potter, Barbara Thiering dari Australia, serta puluhan atau mungkin ratusan ribu lainnya yang tidak disebutkan disini. Malah Spong secara khusus mengatakan yang sekaligus merupakan judul bukunya: “Mengapa Ajaran Kristen Harus Berubah Atau Mati”

046. TANYA:
Sendainya kita sepakat pada pengertian bahwa Yesus adalah bukan satu-satunya juru selamat, tetapi hanya salah seorang juru selamat, apakah kita dapat menerimanya?

JAWAB:
Saya pernah mengunjungi Kantor Pos Kendari dan menanyakan sanksi apa yang akan dikenakan kepada seseorang yang sengaja mengambil kiriman paket orang lain. Petugas Pos menjawab, itu adalah tindakan kriminal yang harus dihukum
Kita ketahui baik melalui Al-Qur’an maupun Alkitab bahwa Yesus hanya diutus sebagai Nabi untuk Bani Israel.

“Dan sebagai Rasul untuk bani Israil.” (Ali Imran 3:49)

“Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” (Matius 2:6)

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan la berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,” (Matius 10:5)

“Jawab Yesus: ‘Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15:24)

Malah menurut Yesus, bangsa lain dianggap anjing dan babi, serta tidak pantas mengikuti dia.

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus (Ajaran Yesus) kepada anjing (orang bukan Yahudi) dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi…” (Matius 7:6)

Kita ini adalah bangsa Indonesia, bukan Bani Israel. Yesus bersama Injilnya adalah paket yang dikirim Allah untuk Bani Israel. Sebagaimana Nabi Muhammad saw bersama Al-Qur’an adalah paket yang dikirimkan Allah untuk seluruh umat manusia. Jadi alangkah tidak etisnya kalau kita sampai lancang menerima paket yang bukan ditujukan kepada kita, walaupun ada yang menggoda kita untuk menerimanya. Mungkin si penggoda dapat saja menghapus nama si penerima dan menggantinya dengan nama kita, namun kita toh masih mempunyai pikiran dan perasaan serta hati nurani untuk menolak dan mengatakan bahwa paket tersebut sebenarnya bukan untuk kita.
Jadi alangkah tidak tahu diri, kita orang-orang Indonesia (yang bukan orang Yahudi) kalau mau lancang menerima Yesus sebagai Juruselamat yang sama sekali tidak pernah dialamatkan kepada kita.

Saya tidak habis pikir, kalau kita orang-orang Indonesia yang disebutnya anjing dan babi, dan bukan dombanya, masih mengharapkan sesuatu darinya. Tentu kita tidak ingin melanggar perintah Tuhan. Kalau kita melakukan tindakan kriminal terhadap negara, hukumannya adalah penjara. Tetapi kalau kita melakukan tindakan kriminal terhadap Allah, hukumannya adalah neraka. Oleh karena itu kalau orang mengatakan “Allah Juruselamat kita melalui Yesus Kristus”, hanya ada dua pengertian yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Kalau ini diucapkan oleh umat Israel ada benarnya, karena dapat ditafsirkan sebagai berikut :
1) Allah adalah Juruselamat
2) Allah tidak berbicara langsung dengan Bani Israel, tetapi mengutus Yesus
3) Yesus menyelamatkan Bani Israel dengan ajaran Injil yang diwahyukan Allah.

Kalau ini diucapkan oleh orang-orang Romawi penganut filsafat Yunani, yang kemudian dianut oleh orang-orang Kristen, arahnya menyimpang dari ajaran Tauhid yang disampaikan para nabi termasuk Yesus.
1) Allah adalah Juruselamat
2) Allah yang suci tidak dapat langsung menyelamatkan manusia yang berdosa
3) Allah mengutus anaknya ke dunia untuk dijadikan korban menyelamatkan umat manusia melalui darahnya di tiang salib.

Kalau ini diucapkan oleh kita, orang-orang Indonesia, tentu tidak tepat, karena kita bukan orang Israel dan Yesus tidak punya urusan dengan kita.
047. TANYA:
Kalau Paulus mengatakan bahwa Yesus sebagai Anak (Tuhan) Allah adalah Juruselamat, siapa yang meningkatkan status Yesus sebagai Tuhan Juruselamat?

JAWAB:
Athanasius. Kalau menurut Paulus, Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan sudah bisa menyelamatkan, maka menurut Athanasius, Yesus Kristus harus menjadi Tuhan selain Allah untuk menyelamatkan manusia. Sedikit saja ketuhanannya berkurang, maka pekerjaan penyelamatan akan bubar.
Pendapat Paulus ini dikemukakan oleh Richard E Rubenstain dalam bukunya When Jesus Became God, halaman 9:

“Therefore if Christ is any less than God, he could not save us. And if we did not believe that he was God, we would not be saved”

(Oleh karena itu, kalau Kristus sedikit lebih kecil dari Tuhan (Allah), dia tidak akan dapat menyelamatkan kita. Dan kalau kita tidak percaya bahwa dia adalah Tuhan”, maka kita tidak akan selamat)

Coba bayangkan! Siapa yang tidak takut dengan ancaman seperti ini? Daripada masuk neraka, lebih baik “menerima” Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Ancaman Athanasius ini kemudian dikuatkan dengan SK Ketuhanan Yesus yang dia sponsori, untuk ditetapkan oleh Kaisar Romawi dan dewan Gereja pada Konsili di Nicea 20 Mei 325.

“He (Jesus) is God from God, Light from Light, and true God from true God”

(Dia (Yesus) adalah Tuhan yang berasal dari Tuhan, Cahaya yang berasal dari Cahaya, dan Tuhan sesungguhnya yang berasal dari Tuhan sesungguhnya).
F. Penyembuhan Atas Nama Yesus
048. TANYA:
Apa kegiatan yang dapat dipandang sebagai upaya untuk mendukung ajaran Yesus sebagai Juruselamat?

JAWAB:
Salah satunya adalah penyembuhan spiritual atas nama Yesus. Gereja memanfaatkan penyembuhan spiritual dimana-mana untuk mengingatkan orang atas beberapa peristiwa penyembuhan spiritual yang dilakukan Yesus sebagaimana tercatat dalam Alkitab Dengan kegiatan-kegiatan penyembuhan yang disertai khotbah-khotbah dan doa-doa, maka lengkaplah penampilan Pendeta, Pastor atau penginjil mewakili figur Yesus untuk menyembuhkan orang sakit sambil berkhotbah.

Sedemikian besar pengaruh pengobatan ini sehingga apa pun yang dikatakan oleh Pastor, Pendeta dan penginjil seakan-akan semua bisa terjadi. Kegiatan penyembuhan ini merupakan salah satu otoritas Gereja yang berusaha untuk tetap dipertahankan, walaupun lama-kelamaan kebohongannya makin terungkap.

Ada dua faktor yang nampaknya sulit bagi Gereja saat ini untuk mempertahankan peranannya sebagai pemegang otoritas penyembuhan atas nama Yesus:

1) Penemuan bakteri, virus dan jamur serta senyawa kimia / fisik sebagai penyebab penyakit membuat orang sadar bahwa penyakit-penyakit seperti malaria, kusta, dan keracunan kimia bukan urusan para Pastor, Pendeta ataupun penginjil untuk disembuhkan atas nama Yesus. Apalagi orang yang buta karena penyakit kusta atau yang lumpuh karena penyakit polio. Walaupun disebut-sebut nama Yesus 7 hari 7 malam, mereka yang buta tidak akan melihat dan orang yang lumpuh tersebut tidak akan dapat berjalan. Bidang ini merupakan otoritas para dokter dimana para pastor, pendeta dan penginjil tidak punya peran.
Namun bagi orang-orang yang masih berfikir primitif, yang masih percaya kepada tahayul, masih mudah terpengaruh propaganda mereka.

2) Para ahli kedokteran jiwa sejak lama sudah 81 mengungkapkan adanya hubungan antar jiwa seseorang dengan fisiknya. Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah Psychophysiologic Disorder yang oleh James C. Coleman, James N. Butcher dan Robert C Carson, dalam buku mereka “Abnormal Psychology and Modern Life, 1984, didefinisikan sebagai “physical disorder in which psychological factors play a major causative role”, (penyakit fisik dimana faktor-faktor kejiwaan berperan sebagai penyebab utamanya)

Peranan kejiwaan ini selanjutnya dijelaskan:
“an emotional upset may lower resistance to physical disease… the overall life situation of an individual has much to do with the onset of a disorder, its form, duration and prognosis”

(perasaan yang kalut dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit……. Situasi kehidupan seseorang secara keseluruhan sangat berkaitan erat dengan kejadian, jenis, lamanya maupun berkembangnya suatu penyakit)

Bagaimana langkah-langkah terjadinya penyakit fisik akibat gangguan psikologis digambarkan sebagai berikut:
a. Timbulnya kekalutan perasaan sebagai dampak dari situasi stres yang berlarut-larut.
b. Ketidakmampuan menanggulangi kekalutan perasaan ini,
c. Respon berbagai sistim organ tubuh terhadap gangguan perasaan yang berakibat rusaknya organ-organ tubuh tertentu, atau secara umum merobah dan melemahkan sistim pertahanan tubuh.

Jadi ada banyak penyakit fisik yang disebabkan oleh faktor kejiwaan. Banyak dokter yang karena kesibukan melayani pasien menyebabkannya mereka tidak sempat mendiagnosa dengan tepat penyebab sesungguhnya terjadinya penyakit. Akhirnya yang diberikan adalah obat-obat dari apotek untuk menyembuhkan gejala penyakit yang tidak menyentuh gejala kejiwaan penyebabkan terjadinya penyakit fisik.

Penyakit-penyakit fisik yang berhubungan dengan kejiwaan seperti ini dengan mudah dapat disembuhkan dengan sugesti oleh dokter, dukun, hypnoterapist dan lain-lain tanpa harus berteriak atas nama Yesus. Para penulis yang sama di halaman 275, sebaliknya menjelaskan bahwa emosi positif sangat mendukung penyembuhan penyakit-penyakit yang berkaitan dengan kejiwaan.

“Positif emotion seem often to produce a certain immunity to physical disease or to be associated with speedy and uncomplicated recoveries when disease does strike”

(Emosi positif nampaknya sering menghasilkan daya tahan tubuh tertentu terhadap penyakit atau berkaitan erat dengan kesembuhan yang segera dan mudah dari suatu penyakit)

Penyakit-penyakit seperti inilah yang sekarang menjadi komoditi Gereja untuk memproklamasikan Yesus sebagai Juruselamat, tanpa sedikit pun ada iktikad baik dan kejujuran mereka untuk menjelaskan kepada jemaat bahwa penyakit seperti ini sesungguhnya dapat disembuhkan sendiri oleh otak si penderita berkat kebesaran hati dan kesediaannya bekerjasama untuk sembuh. Proses penyembuhan seperti ini dijelaskan oleh Mark R. Rosenzweig dan Arnold L. Leiman dalam buku mereka Physiological Psychology, hal. 6-7:
“Various regions of the brain do indeed contain naturally produced chemical that are now called endorphine, short for “endogenous morphine”. Such compounds can relieve pain and in some cases they are more effective than morphine” ( (Di berbagai lokasi dalam otak ternyata mengandung zat kimia yang dihasilkan secara alami yang saat ini disebut endorphine, singkatan dari “endogenous morphine”, Senyawa ini dapat menghilangkan rasa sakit dan dalam beberapa hal jauh lebih kuat dari morphin)

Penulis sendiri telah menyembuhkan ratusan orang baik di Indonesia maupun di Filipina sejak penulis mengikuti pelatihan hypnotisme tahun 1980 di Jakarta.

Dalam ratusan penyembuhan ini, tidak sekalipun penulis memanggil-manggil nama Yesus, tetapi orang yang mau sembuh, Alhamdulillah sembuh juga.

Sesungguhnya penyembuhan spiritual terjadi atas jutaan manusia setiap hari di muka bumi ini, terutama di Asia Selatan, Afrika dan lain-lain, tanpa harus berteriak-teriak atas nama Yesus. Kejadian-kejadian ini tidak dipublikasikan secara luas, karena tidak ada sponsor dan tidak memiliki nilai komersil.

Upaya untuk memahami penyebab penyakit dan berupaya untuk mencari obatnya tanpa harus berbohong merupakan esensi sabda Rasulullah saw dalam Hadisnya yang mengatakan:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah telah menurunkan pula obatnya, baik yang telah diketahui oleh orang maupun yang belum diketahuinya, kecuali penyakit maut.”

Dari Hadis di atas, kita mendapat gambaran bahwa penyakit bakteri dan virus diobati dengan obat-obat antibiotik, sementara penyakit yang disebabkan oleh gangguan kejiwaan diobati pula dengan pengobatan kejiwaan. Bahwa penyakit kejiwaan diobati dengan antibiotik atau penyakit bakteri dan virus diobati dengan pengobatan kejiwaan, tentu hasilnya tidak akan optimal, atau malah sia-sia.

Jadi kegiatan penyembuhan atas nama Yesus terhadap setiap penyakit yang disiarkan melalui stasiun-stasiun televisi, radio, koran dan pertunjukan di lapangan terbuka sesungguhnya dapat dianggap pembodohan dan pendangkalan intelektual manusia. Dalam idiom bahasa Inggris dikenal dengan hammer and nail (palu dan paku). Artinya setiap persoalan diselesaikan dengan palu dan paku. Pintu rusak, dipaku; mobil mogok dipaku; anak bandel, dipaku! Semua penyakit diselesaikan atas nama Yesus! TBC diobati atas nama Yesus, kanker diobati atas nama Yesus, kolera diobati atas nama Yesus, lumpuh karena polio diobati atas nama Yesus, ditabrak mobil diobati atas nama Yesus

Kalau ini dilaksanakan di masyarakat primitif 2000 tahun yang lalu, masih dapat dimaklumi. Tetapi kalau ide ini disuapkan kepada manusia yang berpikiran waras di abad ke XXI ini, sudah sangat keterlaluan. Sesungguhnya tujuan utama berbagai pertunjukan penyembuhan di depan umum ini, bukan dimaksudkan untuk membuktikan kuasa Yesus menyembuhkan penyakit, tetapi sebagai propaganda dengan menggunakan juru-jurus hipnotis dan sugesti agar orang mau menerima Yesus sebagai Juruselamat.

Berapa banyak kasus penderita penyakit kronis yang hanya terhibur sesaat oleh placebo effect di waktu pengobatan, tetapi kemudian penyakitnya tetap saja bercokol. Dan ribuan kegagalan pengobatan seperti ini tentu tidak menguntungkan propaganda Yesus sebagai Juruselamat, kalau disebar-luaskan di koran atau ditayangkan di televisi. Sebagaimana dijelaskan, kebanyakan orang menderita gangguan fisik karena pengaruh psikologis. Gangguan kejiwaan seperti stress, menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan metabolisme yang berdampak pada gangguan pisik.

Oleh karena itu dalam kasus-kasus ringan, hiburan, pemberian harapan, pemberian semangat dan lain- lain, akan dapat memperbaiki ketidakseimbangan emosional, yang pada gilirannya akan memulihkan kembali metabolisme tubuh seperti sedia kala.

Seorang yang kena histeri, misalnya, yang mengamuk dan berteriak-teriak, oleh para penginjil menganggapnya sebagai kerasukan setan. Oleh karena itu menurut mereka, setannya harus diusir atas nama Yesus, agar setan tersebut keluar dari orang yang kena histeri. Namun apa yang terjadi ketika pasien seperti ini dibawa ke rumah sakit? Dokter tidak akan memanggil pastor, pendeta atau penginjil untuk berdoa mendatangkan Yesus agar setannya pergi. Apa yang dilakukan oleh dokter adalah mengambil alat suntik dan obat penenang, menyuntikkannya kepada pasien, dan sim salabim, pasiennya sembuh seketika!!! Tanpa kehadiran penginjil dan Yesus, setan yang menguasai pasien lari tunggang-langgang ditembak oleh dokter dengan suntikan obat penenang tanpa harus menyebut nama Yesus.

Para pastor, pendeta dan penginjil terutama mereka yang sudah dilatih dengan keterampilan hipnotis dan sugesti di Amerika Serikat dan Eropa sangat mengerti akan hal ini. Oleh karena itu, pada saat mereka melakukan pengobatan di lapangan, mereka menyadari bahwa penderita penyakit akibat gangguan kejiwaan, akan mendapat manfaat dari teknik pengobatan ini, sementara mereka yang menderita penyakit bakteri, virus dan lain sebagainya, walaupun tidak sembuh, setidaknya akan mendapatkan pengaruh placebo effect sesaat.

Jadi apa yang dilakukan para pastor, pendeta dan penginjil internasional hanyalah praktek hipnotherapy biasa, yang kemudian tiba-tiba menjadi luar biasa setelah dikemas dalam paket atas nama Yesus Juruselamat yang mengagumkan, dan diiklankan berdasarkan pesan sponsor.

Paula Fredriksen, Guru Besar Sejarah Kristen di Boston University, dalam bukunya Jesus of Nazareth King of Jews, halaman 115, menjelaskan bahwa para pastor, pendeta dan penginjil yang melakukan penyembuhan spiritual atas nama Yesus, sesungguhnya hanyalah melakukan praktek hipnotis dan sugesti biasa yang dikemas dengan bahasa primitif di zaman Yesus. Bagi orang-orang yang kritis di zaman modern, jelas ini sesuatu yang menyesatkan.

“Modern culture, too, is familiar with charismatic cures worked by suggestion. Our explanation differ from those given in ancient sources – where we use the language of psychosomatic disease and suggestion, people in antiquity spoke of demons and special power – but the phenomenon observed seem identical”

(Dalam budaya modern pun, penyembuhan spiritual yang dilakukan dengan sugesti (seperti di zaman Yesus) banyak dilakukan orang. Penjelasan (ilmiah) yang kita berikan berbeda dengan pemahaman. di masa lalu – ketika kita menjelaskan penyakit dengan bahasa psikologi dan sugesti, orang-orang di zaman dahulu (yang didukung para penginjil) mengatakan kemasukan setan atau roh jahat – padahal wujud (penyakit) nya sama saja).

Mengomentari ketidak-jujuran para pastor, pendeta dan penginjil Internasional di daratan Eropa dan Amerika yang berkeliling dunia untuk mengkris-tenkan orang-orang Asia dan Afrika, L. Braker, ahli mesin perkapalan dari Utrecht, negeri Belanda, dalam perjalanannya dari Filipina menuju Indonesia pada tanggal 31 Desember 1999 mengatakan:

“Hanya orang bodoh, yang tidak tahu siapa Yesus sebenarnya. Para penginjil itu bukanlah orang-orang yang jujur, tetapi sekedar menggunakan agama sebagai barang dagangan. Mereka tidak memperkenalkan siapa Yesus sebenarnya, tetapi malah memperkenalkannya sebagai barang dagangan. Mereka tidak punya nyali untuk mengatakan ‘kuda adalah kuda’. Saya memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama Kristen, dan Saya bisa menjadi jutawan hanya dengan ikut berkeliling dunia memanipulasi Yesus. Tetapi saya punya harga diri. Dan harga diri saya lebih utama dari uang jutaan dollar.”

Dr. Bruce Goldberg dalam bukunya New Age Hypnocis mencantumkan beberapa alamat di Amerika Serikat sebagai pusat-pusat pelatihan dan penyediaan alat-alat bantu hipnotis.
Penulis sangat menyayangkan satu hal. Selama ini para penginjil merajalela di seluruh Indonesia, bahkan di berbagai negara terutama di negara-negara berkembang untuk melakukan propaganda, bahwa mereka melakukan penyembuhan atas nama Yesus. Bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Dan selama yang saya ketahui, belum pernah ada satu pun, dokter umum, psikiater, atau pakar psikologi di Indonesia yang pernah menjelaskan kepada umum ketidak-jujuran para penginjil yang mengatakan kepada jemaat bahwa yang punya andil dan berperan menyembuhkan seseorang adalah Yesus, padahal mereka mengetahui dengan jelas bahwa yang berperan dalam suatu proses penyembuhan adalah 1) obat, 2)lingkungan yang mendukung, 3) penampilan pengobat (dokter, dukun, hipnoterapist, penjual jamu penginjil dan lain-lain yang meyakinkan, serta 4) kesediaan pasien untuk bekerja sama dan semangatnya untuk sembuh.

Apa yang dilakukan penginjil sebenarnya hanyalah praktek hipnotherapy (penyembuhan dengan hipnotisme dan sugesti), yang juga banyak dilakukan oleh para dukun, dokter dan para hipnoterapist lainnya, tanpa loudspeaker yang memekakkan telinga dan tanpa liputan kamera televisi.
049. TANYA:
Bukankah banyak “bukti-bukti” penyembuhan atas nama Yesus yang dibicarakan orang atau ditulis dibuku, koran, majalah maupun jurnal?

JAWAB:
Inilah yang sering membuat orang salah kaprah, karena prosesnya salah kaprah (false attribution). Para Pastor, Pendeta maupun Penginjil Internasional terutama dari Amerika dan Eropa, yang kemudian ikut-ikutan pula para penginjil lokal, dengan bangga mengatakan bahwa Yesus telah menyembuhkannya, padahal mereka menyadari bahwa mereka berdusta. Dari mana penyembuhan itu berasal, perhatikan pernyataan para pakar Psikologi berikut ini.

Mark R. Rosenzweig dan Arnold L. Leiman dalam buku mereka Physiological Psychology menjelaskan bahwa seseorang mudah terpengaruh oleh lingkungan yang menghasilkan efek Placebo.

“Placebo effect usually takes place when the pills are given in a medical environment, accompanied by the confident reassurances of a physician… Now some researchers suggest that the placebo gives relief because the clinical setting promotes the release of endorphins”

(Efek Placebo biasanya berlangsung di saat pemberian pil di lingkungan pengobatan yang disertai dengan dukungan moril dokter… Saat ini beberapa peneliti menemukan bahwa placebo dapat menyembuhkan karena lingkungan pengobatan yang mendukung dihasilkannya endorphins)

Dari pernyataan berbagai pakar kedokteran dan psikologi kita dapat menarik kesimpulan bahwa penyembuhan spiritual yang dilakukan oleh para pastor, pendeta dan penginjil, dipengaruhi antara lain oleh faktor-faktor berikut ini:
1) Penampilan Pendeta, Pastor atau penginjil yang rapi dan berwibawa, mampu melahirkan keyakinan pada penderita bahwa Pastor, Pendeta maupun penginjil tersebut, memiliki kemampuan untuk melakukan penyembuhan

2) Para Pastor, Pendeta dan penginjil terlatih dalam olah vokal dan retorika sehingga apa yang mereka ucapkan dapat memberikan pengaruh pada penderita

3) Para Pastor, Pendeta dan penginjil terlatih dalam jurus-jurus hypnotisme sehingga mereka sudah trampil menciptakan lingkungan yang kondusif untuk menaklukkan suyet (penderita)

4) Penderita mau bekerja sama sebagai syarat mutlak penyembuhan.

Kesemua faktor diatas, akan memberikan efek placebo pada penderita yang pada gilirannya akan merangsang produksi endorphine.

Coba perhatikan alangkah jelasnya! Tidak satu pun ilmuwan yang mengatakan bahwa atas nama Yesus menjadi prasyarat penyembuhan. Mereka semuanya sembuh karena penampilan Pastor, Pendeta dan penginjil, dukun, dokter, penjual jamu, tabib dan lain-lainnya; lingkungan yang sengaja diciptakan untuk mendukung proses penyembuhan serta semangat penderita untuk sembuh.

Oleh karena itu penulis dengan senang hati, menyediakan hadiah cuma-cuma tanpa diundi sebesar Rp. 1.000.000,00,- kepada siapa saja penginjil di muka bumi ini, yang dapat membuktikan bahwa mereka yang menderita penyakit-penyakit kronis seperti TBC, Kusta, AIDS, Kanker stadium akhir, atau lumpuh karena penyakit polio, dapat sembuh seketika atau segera “atas nama Yesus”.

Sumbangan Abussalam

Sumber : Disini

Oleh : DR. H. Sanihu Munir, SKM, MPH.


Menurut Alkitab Yesus Bukan Tuhan

September 23, 2009

Jesus
Jesus

Semua sumber doktrin kristen adalah Alkitab, sehingga jika ada satu saja ayat dalam Alkitab tidak dipercayai maka dia kafir! Seperti kata seorang kristen Fundamentalis, Jimmy Swargard bahwa jika ada penyisipan dalam Alkitab walaupun satu ayat saja, maka kita tidak bisa menerima kitab tersebut sebagai firman Tuhan.

Tetapi anda tidak perlu kawathir, karena semua ayat-ayat Alkitab yang akan dipakai disini adalah bukan suatu penyisipan yang dimaksud.

Orang – orang kristen selalu mengatakan, Tuhan Yesus, Tuhan Yesus. Sebenarnya apa yang membuat mereka mengatakan demikian ? Tidak lain adalah karena mukjizat yesus yang dimilikinya seperti :

Penyembuhan :

(Matius 8:1-4) , (Markus 2:1–12), (Lukas 5:12-16)

Pengusiran setan :

(Matius 8 : 28-34), (Markus 5:1-20), (Lukas 8:26-39)

Mengendalikan alam :

(Matius 8:23–27), (Markus 4:35-41), (Lukas 8:22-25)

Menghidupkan Orang Mati:

(Markus 5:21-43),  (Lukas 7:11-17),  (Lukas 8:40-56)

Padahal semua Mukjizat yang diberikan kepada yesus adalah Berasal dari Allah, tidak percaya ? Tanyakan kepada Yesus :

“Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. ” (Matius, 28: 18).

Jikalau demikian, Al-Qur’an pun mencatatnya :

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.”[QS. 5 :110]

Dengan Izin Allah, artinya diberikan kepada Yesus dari Allah.

Stop! Tetapi Yesus sendiri pernah mengakui bahwa dia adalah Tuhan! Mari kita lihat ayatnya :

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan“.[Yoh 13:13]

Memang Yesus mengakui dirinya Guru dan Tuhan, tapi benarkah demikian ? Mari kita lihat beberapa terjemahan Alkitab untuk Yoh 13:13 :

TBKamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
BIS Kalian memanggil Aku Guru dan Tuhan. Dan memang demikian.
FAYH Kalian memanggil Aku ‘Guru’ dan ‘Tuhan’. Benarlah kata kalian itu, karena memang demikianlah halnya.
DRFT_WBTC Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan. Dan perkataanmu itu tepat. Memang Akulah Guru dan Tuhan.
TL Kamu ini memanggil Aku Guru dan Tuhan, maka betullah katamu itu, karena Akulah Dia.
KSI Kamu menyebut Aku Guru dan Junjungan. Memang sepatutnyalah demikian, karena Aku adalah Guru dan Junjungan.
DRFT_SB Adapun kamu menyebutkan aku guru dan Rabbi, maka patutlah katamu itu, karena akulah dia.
BABA Kamu triak sahya ‘Guru’ dan ‘Tuhan:’ dan patut juga kamu kata bgitu; kerna sahya-lah dia.
KL1863 {Mat 23:8,10; 1Ko 8:6; 12:3; Fil 2:11} Kamoe panggil sama akoe Goeroe dan Toehan; betoel katamoe, karna akoe dia.
KL1870 Bahwa akoe dipanggil olihmoe goeroe dan toewan, maka benarlah bagitoe, karena akoelah dia.
DRFT_LDK Kamu ‘ini menjebut ‘aku guruw dan Tuhan, dan kamu berkata betul 2; karana ‘aku ‘ada dija ‘itu.
ENDE Kamu memanggil Aku Guru dan Tuan. Dan tepatlah demikian, sebab memang itulah Aku!
TB_ITL_DRF /Kamu <5210> menyebut <5455> Aku <3165> Guru <1320> dan <2532> Tuhan <2962>, dan <2532> katamu <3004> itu tepat <2573>, sebab <1063> memang Akulah <1510> Guru dan Tuhan.*
TL_ITL_DRF Kamu <5210> ini memanggil <5455> Aku <3165> Guru <1320> dan <2532> Tuhan <2962>, maka <2532> betullah <2573> katamu <3004> itu, karena <1063> Akulah Dia.

Fakta dari terjemahan diatas yang paling mendasar adalah ada yang menyebutkan Tuhan dan Tuan.  Hal ini akan sangat mudah di cocokkan dengan ayat selanjutnya yaitu Yoh 13:16

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.[Yoh 13:16]

Mana yang lebih tepat untuk melengkapi Yoh 13:16 ? Tuhan atau Tuan ?

Bukti Lain dari Alkitab adalah Ayub:

Bagaimana manusia benar di hadapan Allah? (Ayub 25:4 )
dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?(Ayub 25:4 )

Alkitab mengatakan bahwa siapapun yang dilahirkan oleh perempuan tidaklah Bersih! Siapa yang dilahirkan Perempuan ? Biarkan Alkitab menjawab :

Dan ketika genap dalapan hari dan la harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum la dikandung ibu-Nya”(Lukas, 2: 21).

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem [Matius 2:1.]

Ternyata menurut Alkitab Yesus dikandung Oleh Ibunya dan dilahirkan oleh perempuan. Mari kita liat ayat selanjutnya :

“Sesungguhnya, bahkan bulanpun tidak terang dan bintang-bintangpun tidak cerah di mata-Nya”(Ayub 25 :5)

Bintang dan Bulan tidak ada apa-apanya dimata Allah.

“Lebih-lebih lagi manusia, yang adalah berenga, anak manusia, yang adalah ulat!” (Ayub 25:6)

Kata Alkitab Manusia itu Berenga! anda tau berenga ? Belatung! yang biasanya ada di kotoran manusia, di bangkai manusia dan binatang! itu Belatung! Saya dan Anda tidak lebih dari Belatung Kata Allah, Tetapi… terkecuali Anak Manusia, Anak Manusia dikatakan Ulat, lebih tinggi sedikit dari pada Belatung, ini suatu perbuatan khusus oleh Allah, Taukah anda siapa Anak Manusia ? Biarkan Alkitab menjawab :

Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala­Nya. ” (Matius, 8: 20).

“Kemudian anak manusia datang, ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum.. ” (Matius 11: 19).

Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.[Matius 10:23]

“…apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak”, Jawab Yesus: “…kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa….” [Matius 26:63-64]

Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia”[ Matius 17:22]

Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.[Matius 12:40]

Ternyata Anak manusia tidak Lain dan tidak bukan Adalah Yesus! Jika Alkitab sudah mengatakan demikian, Lalu siapa yang berani membantahnya ?

Kesimpulan :

1. Yesus dilahirkan oleh perempuan, dan menurut Alkitab dia tidaklah Bersih

2. Yesus adalah Anak Manusia, dan menurut Alkitab dia adalah Ulat

Lalu Apa Yang membuat Yesus Menjadi Tuhan ?

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” [Yohanes 17:3]

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.[QS 5:72]

Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)[QS. 5:75]


Bisakah Kristen Tegak Tanpa Paulus ?

September 13, 2009

Sumber : [Id.amor[swaramuslim.net]]

Setiap kristian kalau mereka ‘dianggap tidak mengikuti Yesus’ tetapi mengikuti Paulus, saya yakin mereka akan keberatan ,dan salah satu alasannya adalah karena dari sudut pandang nama saja menunjukan sebagai pengikut Yesus bukan Paulus. Maka artikel ini merupakan ringkasan diskusi penulis di forum lain, dan penulis perlu postingkan disini barangkali ada orang Kristen yang bisa memberikan jawaban/penjelasan yang berdasarkan argumentasi yang kuat (tidak mudah dipatahkan) bahwa Kristen bisa tegak tanpa ajaran Paulus.

Dan topik ini bukan untuk membandingkan antara ajaran Paulus dan Yesus tetapi untuk membuktikan Kristen sesungguhnya ajaran Yesus atau Paulus.

Sebelumnya dalam sebuah kesempatan disebuah forum seorang penghujat Islam (yang kebetulan seorang Kristian tetapi pernah menyangkal ia tidak pernah menjadi bagian dari orang Kristen) membuat pernyataan :

Paulus

Paulus

“Anda jangan lupa, PAULUS bukanlah satu-satunya rasul saya dalam kekristenan. Kalaupun nama Paulus dihapus dari Perjanjian Baru, kekristenan tetap jalan”

Perlu diketahui dahulu bahwa alkitab yang seperti kita lihat sekarang adalah terdiri dari dua kelompok besar ,yang sering disebut dengan perjanjian lama dan perjanjian baru.

Perjanjian lama merupakan kitab orang yahudi yang disebut kitab Tanakh, sedangkan 4 Injil kanonik merupakan kisah kehidupan Yesus, Dan ajaran Yesus yang paling terkenal adalah khotbahnya diatas bukit.

Tetapi ternyata isi khotbah diatas bukit tersebut banyak ungkapan-ungkapan yang ditemukan secara harfiah dalam apa yang disebut literature Yahudi ?Pseudepigraphical ? dan non kanonik dari abad kemudian dinisbahkan kepada Yesus .dalam hal ini , testaments of twelve the patriarch utamanya sangat kaya dengan kutipan-kutipan yang beberapa abad kemudian dinisbahkan kepada Yesus .

Misalnya bahan-bahan Q dalam Matius 5:3 memiliki banyak persamaan dengan perjanjian Benyamin 1:26-27,perjanjian Yehuda 4:31 ,dan perjanjian Gad 2:15 . sebagai contoh kedua , kandungan Q dalam Matius 5:11-12 memiliki banyak persamaan dengan perjanjian levi 4:26 dan perjanjian Yosef 1:20-21,mengenai kutipan-kutipan dari perjanjian dua belas murid ini, bisa dilihat dalam buku Platt RH :thelost books of the bible and the Forgotton books of Eden ,new york publishing Co.dan dalam buku Brett JA

Dan dari segi nama saja Kristen mulai ada bukan dijaman yesus tetapi dijamannya Paulus (Saulus) dan Barnabas.

[Kis 11:25-26] Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Sudah ada beberapa apologi yang dilakukan beberapa kristian tentang persoalan ini, Kristian menyatakan :

Hei!!… tanpa Pauluspun, kekristenan akan tetap ada dan berjalan dengan kedua-hukum yang diamarkan oleh Yesus Kristus. (baca Injil Matius 22:37; Injil Lukas 10: 27; Injil Markus 12: 30)

Benarkan ayat yang anda sampaikan itu ajaran Kristen yang murni = kristen yang berdiri sendiri?? kita lihat bersama-sama !

Pertama:

[Mat 22:37] Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Pembuka ayat tersebut adalah : Jawab Yesus = pasti ada yang bertanya, lihat ayat sebelumnya :

“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”, Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”[Mat 22:36-40]

Jelas sekali konteks ayat tersebut bukan menjelaskan tentang ajaran Kristen tetapi tentang hukum yang terutama dalam Taurat. Kalau ayat ini anda jadikan alasan Kristen bisa berdiri sendiri maka apa bedanya dengan agama Yahudi??

Kedua:

[Lukas 10:27]  Jawab orang itu : “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Perhatikan ayat diatas, ayat yang diawali dengan jawab orang itu = siapakah orang tersebut? apakah orang Kristen atau orang diluar Kristen? Kita lihat konteks ayat tersebut dengan memperhatikan ayat sebelum dan sesudahnya!

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”[Lukas 10:25-28]

Jelas yang mengatakan pada ayat 27 bukan Yesus atau pengikut yesus (orang Kristen) tetapi justru ahli Taurat. = klaim kristian sebelumnya yang mengatakan itu amar yesus adalah klaim orang yang buta terhadap isi kitabnya sendiri.

Ketiga:

[Markus 12:30] Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Apa yang tertulis di Markus 12:30 tidak jauh berbeda dengan ayat-ayat sebelumnya (Mat 22:37 dan Lukas 10:27) = sebuah kisah sama dengan redaksional yang berbeda… versi Injil karangan MAtius dan Markus yang menyatakan / menjawab adalah Yesus , sedangkan versi lukas ,yang menjawab Ahli Taurat , untuk lebih jelas kita lihat ayat sebelum dan sesudahnya.

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.[Markus 12:28-32]

Kemudian Kristian lainnya mencoba untuk memberikan apologinya,

Inti dari apa yang di ajarkan Yesus semasa hidupnya adalah:

[Yoh. 13:34 ]Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Dan kalimat itu, menurut saya sudah cukup menjelaskan ajaran Kristen. Kalau itu anda anggap sudah menjelaskan agama Kristen.. maka apa perbedaan ajaran tersebut dengan ajaran ini?

[Im. 19:18] Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

[Im. 19:34] Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.

[Ul. 6:5] Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

[Mzm. 31:23 (31-24)] Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya! TUHAN menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung.

[Ams. 4:6] Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya.

Maka jika pertanyaan  adalah seperti diatas: apa perbedaan ajaran tersebut dengan ajaran ini?” Jawabannya adalah  TIDAK ADA!

Kalau jawabannya seperti itu, ayat yang anda ajukan sudah menjelaskan Kristen maka apa perbedaannya Kristen dengan Yahudi? subtansi dari yang hendak di sampaikan adalah, ajaran-ajaran Kristen yang sangat prinsipil secara subtansial banyak membedakan dengan ajaran yahudi / ajaran lainnya sebenarnya ajaran Yesus atau paulus? saya ambil salah satu contoh kongkrit dahulu :

Orang yang percaya yesus mati di tiang Salib akan diselamatkan. itu Ajaran yesus atau Paulus?

Kristian respon:

Yang saya pahami adalah bahwa Yahudi menerapkan prinsip tersebut di atas dasar hukum taurat, sedangkan Kristen melakukan hukum tersebut di atas dasar kasih karunia, dasar argumentasinya :

[Yoh 1:16-17]  Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.

[Mat 23:23] Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Dan itu ajaran Yesus

Kita lihat terlebih dahulu ayat yang anda sampaikan yaitu [Yohanes 1:16-17 ] dengan memperhatikan konteks ayat tersebut (ayat sebelum dan sedudahnya ) :

Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.”[Yohanes 1:15 -20]

Jadi jelas yang kristian ajukan ayat diatas bukan berasal dari Yesus tetapi berasal dari Yohanes. kemudian secara subtansial kesaksian Yohanes tersebut sesuai dengan yang tercatat didalam alkitab (ayat-ayat lain atau tidak) kita perhatikan ayat-ayat ini :

Apakah Musa hanya diberikan Taurat saja, atau juga kasih karunia ?

[Kel. 33:17] Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau.”

Kemudian kita perhatikan juga ayat-ayat ini:

TUHAN berfirman kepada Musa “Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.”[6:22-27 ]

Kemudian ayat lain yang anda ajukan:

[Mat 23:23] Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Jelas sekali dalam ayat tersebut Yesus sedang menyerang ‘kemunafikan’ sebagian dari orang-orang Yahudi. bukan menyerang secara keseluruhan ‘yahudi’ dan soal contoh spesifik yang penulis ajukan (tentang ajaran : orang yang percaya yesus mati di tiang Salib akan diselamatkan. itu Ajaran yesus atau Paulus?) sama sekali tidak ada yang meresponnya hingga sekarang.

Dan sebelumnya Kristian juga menyatakan yang saya pahami adalah bahwa Yahudi menerapkan prinsip tersebut di atas dasar hukum taurat, sedangkan Kristen melakukan hukum tersebut di atas dasar kasih karunia, dengan jawaban seperti ini sebenarnya anda sedang menegaskan bahwa apa yang anda pahami tersebut berdasarkan ajaran Paulus untuk lebih jelas saya sampaikan ayat-ayatnya:

[Rm. 6:14-15] Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!

Jadi jelas sekali ‘pemahaman anda’ tersebut dasar yang paling jelas’ adalah surat Paulus. jadi kembali kepertanyaan amor diawal Kristen tanpa Paulus, bisa?

Apa konsekwensinya kalau tidak ada seorang Kristianpun yang mampu menjelaskan Kristen bisa tegak tanpa ajaran paulus? penulis hanya mengingatkan pesan yesus (berdasarkan yang tercatat didalam Injil kanonik):

[24:4-5] Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.


Kata [Kami] Dalam Al-Qur’an dan Alkitab

September 5, 2009

Orang-orang Kristen seringkali mengklaim kata majemuk “Kami” dalam Al-Qur’an sebagai wujud adanya kemanunggalan tiga substansi Tuhan dalam satu pribadi atau yang lebih populer dikenal dengan sebutan Trinitas. Tentu saja, ini adalah pemahaman yang sangat sempit tanpa melalui proses berfikir secara rasional. Mereka hanya mendasarkan pemahamannya pada ajaran/doktrin Trinitas yang sudah terpatri dalam otak mereka semenjak masa kanak-kanak.

Al-Qur'an

Al-Qur'an

Keesaan Tuhan tidak diragukan lagi di mana saja di dalam Al-Qur’an, sebagaimana dinyatakan dalam daftar berikut:

QS. 2:133; QS. 2:163; QS. 4:171; QS. 5:73; QS. 6:19; QS. 9:31; QS. 12:39; QS. 13:16; QS. 14:48; QS. 14:52; QS. 16:22; QS. 16:51; QS. 18:110; QS. 21:108; QS. 22:34; QS. 27:60-65; QS. 37:4; QS. 38:65; QS. 39:4; QS. 40:16; QS. 41:6; QS. 112:1.

Kata jamak atau tepatnya kata ganti orang pertama jamak, yakni “Kami”, digunakan secara konsisten bila dalam suatu aksi perbuatan malaikat ikut terlibat, bukan hanya Allah SWT sendiri. Sebagai contoh, turunnya Al-Qur’an terjadi dengan partisipasi malaikat Jibril (lihat QS. 2:97 di bawah). Oleh karena itu, jika membicarakan wahyu-wahyu Allah SWT, kata majemuk “Kami” digunakan untuk mengakui peranan malaikat Jibril (lihat QS. 5:44 dan QS. 15:9 di bawah). Begitu pula bilamana kata majemuk “Kami” digunakan, kita tahu malaikat dilibatkan, dan Allah SWT menghargai para malaikat atas partisipasi mereka (lihat juga QS. 70:40 di bawah).

Dengan kata lain, dalam situasi di mana Allah SWT sendiri sebagai pelaku, kita mendapatkan bahwa Allah SWT mempergunakan bentuk kata tunggal atau kata ganti orang pertama, kedua, dan ketiga tunggal. Sebagai contoh, ketika Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa a.s. di mana tidak ada malaikat sebagai perantara, kita mendapatkan bahwa Allah SWT berfirman dalam bentuk kata ganti orang pertama tunggal (lihat QS. 20:11-15 di bawah). Demikian juga dengan sikap ibadah makhluk yang harus ditujukan kepada Allah SWT, Dia mengekspresikan firman-Nya dengan menggunakan kata ganti orang pertama tunggal (lihat QS. 51:56 di bawah).

“Katakanlah: ‘Barang siapa yang menjadi musuh JIBRIL, maka JIBRIL itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (QS. 2:97)

“Sesungguhnya KAMI telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada AKU. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat AKU dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. 5:44)

“Sesungguhnya KAMI-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya KAMI benar-benar memeliharanya.” (QS. 15:9)

“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya AKU inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. Dan AKU telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya AKU ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain AKU, maka sembahlah AKU dan dirikanlah shalat untuk mengingat AKU. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang AKU merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.” (QS. 20:11-15)

“Dan tidak AKU ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah AKU.” (QS. 51:56)

Mengenai Alkitab :

Alkitab

Alkitab

Elah = Allah, yang berarti Tuhan

El-Shalom = As-Salam / Islam, yang berarti selamat, damai, sejahtera dll

Salah satu contoh yang mudah adalah dalam awal perjanjian lama Kitab Kejadian pasal 1 ayat 1.

[Kejadian 1:1] Pada mulanya KAMI menciptakan langit dan bumi.

Akan tetapi dalam terjemahnya telah dirubah menjadi “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi [Kejadian 1:1]“, padahal kata aslinya adalah seperti sebelumnya menggunakan kata KAMI [Elohim], [Elohim] “im” artinya Jamak.

KAMI baik dalam bahasa ibrani dan arab memiliki 2 makna, yaitu:

1. Kami berarti jamak.

2. Kami berarti menunjukkan keagungan, kemuliaan dan sebagainya.

Jika KAMI diartikan sebagai jamak, mengapa agama Yahudi yang mengakui Perjanjian Lama & menggunakan kata KAMI dalam kitabnya tapi hanya menyembah 1 Tuhan & tidak mengakui Trinitas 3 dalam 1? Padahal Yesus sudah sedemikian rupa diberi mukjizat oleh Allah? Lagipula bukankah Yesus berasal dari kalangan mereka sendiri? Sampai detik ini agama Yahudi tidak mengakui Yesus sebagai Nabi, apalagi sebagai Tuhan! Mereka,  memfitnah hal yang keji terhadap Nabi Isa & Ibunya Siti Maryam dikatakan sebagai anak haram karena tidak memiliki ayah, dikatakan sebagai Nabi palsu, dst dsb dll.

Dalam keseharian, kita pun sering menggunakan kata KAMI untuk merujuk pada kata yang lebih mulia & lebih baik. Contoh :

1. Kami mengucapkan bela sungkawa yang dalam…

2. Kami mengucapkan selamat atas kelahiran putra-putrinya…

3. Kami mengucapkan selamat menempuh hidup baru…

Padahal yang mengucapkan sendirian saja tidak ditemani orang lain. Tentu ucapan KAMI lebih mulia daripada:

1. AKU mengucapkan selamat atas…

2. Saya mengucapkan bela sungkawa atas…

Perjanjian baru / new testament tidak memiliki sama sekali “Salinan dari Salinan” Naskah aslinya. Naskah tertua ialah diperkirakan maksimum 350 tahun setelah kelahiran Yesus, itupun dalam bahasa Yunani, bukan bahasa keseharian Nabi Isa as.

Naskah yang berjumlah 12.000 ini tidak ada 2 buah naskah yang sama isinya, semua 12.000 berbeda isinya. Dan hanya beberapa Naskah saja yang diakui sedang Naskah lainnya tidak diakui, entah pertimbangan / kriteria / syarat apa yang digunakan, yang jelas dari sekian banyak naskah, hanya ada 4 injil yang diterima sementara murid Yesus ada 12 orang.

Injil yang diakui gereja saat ini ada 4 yaitu: Matius, Markus, Lukas & Yohanes.

Referensi :

1. Cicak Medan

2. [Debat Islam Kristen] Melawan Kristenisasi


Alkitab Mengisahkan Tuhan Tidak Adil

August 15, 2009

Salah satu nama Indah Allah (Asmaul Husna) adalah yang Maha Adil (Al-‘Adl) yaitu Allah SWT selalu berlaku adil kepada hamba-Nya dalam segala hal, dalam perkataan-Nya, perbuatan-Nya, qadla dan qadar-Nya, perintah dan larangan-Nya, pemberian pahala dan penjatuhan siksa-Nya, Allah senantiasa berada di atas Shirathal Mustaqim. Seluruh berita yang datang dari-Nya pasti benar, semua keputusan-Nya pasti adil, seluruh perintah-Nya adalah demi kemaslahatan dan semua larangan-Nya adalah keburukan, pahala bagi mereka yang berhak menerimanya adalah keuta-maan-Nya –fadlilah-Nya– . Sedangkan rahmat dan siksa-Nya bagi mereka yang berhak adalah dari keadilan dan hikma-Nya. Allah SWT pasti berlaku Adil sejak dahulu hingga pada hari penghakiman nanti, tidak ada seorang hambapun yang di dzalimi oleh Allah SWT

Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. QS. 10:47

Namun kita akan melihat kisah dalam Alkitab yang menggambarkan Allah SWT berlaku sangat tidak adil terhadap hamba-Nya, ketidak-adilan Allah yang dikisahkan Alkitab tersebut sangat bertentangan dengan nilai keadilan manapun dan dengan sifat Allah yang Maha Adil. Tentu saja kita jadi bertanya, apakah mungkin Allah tidak berlaku Adil atau apakah mungkin kisah yang dalam Alkitab tersebut yang PALSU ???

Dikisahkan dalam Alkitab tentang seorang yang bernama Yehuda yang mempunyai seorang istri dari Kanaan, Yehuda dikaruniai tiga orang anak laki-laki, anak pertama bernama Er, anak kedua bernama Onan dan anak ketiga bernama Syela, anak pertama dan anak kedua dikisahkan sudah berumur siap kawin dan anak ketiga masih kanak-kanak / belum balig.

Yehuda kemudian mengambil seorang menantu bernama Tamar untuk dikawinkan dengan anaknya yang pertama yaitu Er, namun belum sampai Er mempunyai anak dengan Tamar Er dibunuh Tuhan karena di mata Tuhan Er termasuk orang yang jahat.

Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia Kejadian 38:7

Tidak disebutkan apa kejahatan Er di mata Tuhan, tetapi yang jelas Er diceritakan mempunyai kejahatan hingga dia harus dibunuh Tuhan.

Sepeninggal kematian Er, sesuai adat orang Israel saat itu untuk meneruskan keturunan, maka kedudukan Er sebagai suami Tamar harus digantikan oleh Onan adiknya, maka resmilah Onan menjadi suami Tamar.

Lalu berkatalah Yehuda kepada Onan: “Hampirilah isteri kakakmu itu, kawinlah dengan dia sebagai ganti kakakmu dan bangkitkanlah keturunan bagi kakakmu” Kejadian 38:8

Namun Onan mengetahui bahwa ia dikawinkan dengan Tamar hanyalah untuk meneruskan keturunan bagi kakaknya yang telah meninggal, sehingga apabila ia mempunyai anak dengan istri bekas kakaknya maka anak tersebut akan menjadi anak kakaknya sebagai pewaris, Onan tidak dapat menerima hal ini, sehingga ketika ia berhubungan suami Istri ia selalu membuang maninya keluar, agar ia tidak memberikan keturunan bagi kakaknya. Perbuatan Onan ini di mata Tuhan adalah jahat, maka dibunuhlah Onan oleh Tuhan.

Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga. Kejadian 38:9-10]

Maka Tamar menjadi janda lagi. Kemudian sesuai hukum, maka adik Onan yang bernama Syela harus dikawinkan dengan Tamar agar dapat memberikan keturunan bagi kakaknya yang pertama yaitu Er, tetapi Syela belumlah cukup umur untuk di-kawinkan dengan Tamar, keadaan ini digunakan Yehuda sebagai alasan untuk menunda perkawinan Syela dengan Tamar bahkan Yehuda ingin membatalkan perkawinan antara Syela dan Tamar karena Yehuda takut kalau anaknya yang terakhir juga akan mati seperti kedua kakak Syela yang telah dikawinkan dengan Tamar.

Beberapa tahun kemudian Syela sudah besar dan cukup umur untuk dikawinkan dengan Tamar, maka seharusnya Yehuda segera mengawinkan Syela dengan Tamar, tetapi Yehuda tidak melakukannya dan Tamarpun mengetahui sikap Yehuda ini.

Ketika Istri Yehuda meninggal dan habis berkabung pergilah Yehuda ke desa Timna ke tukang cukur domba untuk mencukurkan domba-dombanya, Tamar diberitahu bahwa Yehuda pergi ke Timna, maka Tamar yang telah mengetahui Yehuda menyalahi janji untuk menikahkan anaknya Syela dengan dirinya, Tamar menggunakan kesempatan ini untuk balas dendam dengan menyamar menjadi pelacur.

Di jalan Yehuda melihat seorang pelacur dan tertarik kepada pelacur tersebut yang sesungguhnya adalah menantunya sendiri, Yehuda tidak mengetahui kalau pelacur itu adalah menantunya karena wajahnya ditutupi kain, maka diadakanlah transaksi dengan wanita tersebut:

Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata: “Marilah, aku mau menghampiri engkau,” sebab ia tidak tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: “Apakah yang akan kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?”

Jawabnya: “Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dari kambing dombaku.” Kata perempuan itu: “Asal engkau memberikan tanggungannya, sampai engkau mengirimkannya kepadaku.” Kejadian 38:16-17

Maksud Tamar meminta jaminan bukanlah agar Yehuda tidak inkar janji untuk mengirim dombanya, tetapi Tamar ingin punya bukti yang dapat digunakan di kemudian hari. Dan Yehuda memberikan jaminan berupa kalung dan tongkat. Beberapa hari kemudian Yehuda mengirimkan domba kepada pelacur tersebut untuk ditukarkan dengan barang jaminan yang dipegang oleh pelacur tersebut, tetapi pelacur tersebut tidak ditemukan.

Hingga kira-kira tiga bulan kemudian dikabarkan kepada Yehuda bahwa Tamar menantunya telah bersundal bahkan hamil dari persundalannya, maka Yehuda memerintahkan untuk membawa menantunya kepadanya untuk dihukum mati, tetapi Tamar memberikan kalung dan tongkat dan berkata aku hamil dengan orang yang empunya kalung dan tongkat ini, maka sadarlah Yehuda bahwa Tamar hamil dengan dirinya lalu dibebaskanlah Tamar dari hukuman.

Akhirnya Tamar melahirkan dua anak kembar yang diberi nama Perez dan Zerah

Dan Yesus diceritakan dalam Alkitab sebagai keturunan dari Perez. Yehuda dan Tamar sama sekali tidak dihukum oleh Tuhan karena perzinahan, bahkan diberkati karena Yesus adalah keturunannya.

Yehuda, Bapak bangsa Yahudi (darinya diturunkan kata-kata – Jew, Judaism, Judea, dll), dan Tamar (menantunya) serta keturunannya yang haram -Peres dan Zerah- diabadikan perbuatan haramnya di dalam yang dinamakan Kitab Tuhan:

“Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Ibrahim. Ibrahim memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub. Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar …” (Injil – Matius 1: 1-3).

Kesimpulan kisah

1. Er dibunuh Tuhan karena Jahat

2. Onan dibunuh Tuhan karena membuang mani agar tidak memberikan keturunan.

3. Tetapi Yehuda dan Tamar yang melakukan perzinahan antar mertua dengan menantu tidak dihukum sama sekali oleh Tuhan. Padahal semestinya dia harus mendapatkan hukuman yang jauh lebih dasyat dari pada Er dan Onan tetapi ternyata tidak.

Tentu saja hal ini tidak bisa diterima oleh hati nurani dan fitrah manusia manapun, mustahil Tuhan berbuat tidak adil seperti kisah tersebut di atas. Karena dalam ayat-ayat lain di Alkitab Tuhan berfirman :

yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia. Ulangan 32:4

Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya. Mazmur 119:160

TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Mazmur 145:17

Masih banyak ayat-ayat lainnya yang sangat bertentangan dengan kisah di atas, dan mustahil Tuhan berbuat tidak adil yang bertentangan dengan firman-Nya sendiri.

Jadi yang paling mungkin kisah antara Yehuda dan Tamar adalah kisah palsu alias karya manusia alias bukan firman Tuhan yang berarti di dalam Alkitab telah terdapat campur tangan manusia.

Mahasuci Allah yang telah menjaga kemurnian Al-Qur’an dari tangan-tangan jahil manusia. (al-islahonline.com)

Sumber :

1. Asmaul Husna – Pustaka Al-Kautsar

2. The Choice – Pustaka Al-Kautsar

3. Tafsir Alkitab perjanjian Lama – Kanisius

4. Tafsiran Alkitab Masa Kini – YKBK

5. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini – YKBK


KEBOHONGAN NATAL 25 DESEMBER

July 31, 2009

Perayaan kelahiran Sun of God menjadi kelahiran Son of God

SEJARAH NATAL
Kata natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Secara istilah Natal berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Isa Al Masih – yang mereka sebut Tuhan Yesus. Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325 – 354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).

Kelahiran Yesus Menurut Bibel
Untuk menyibak tabir Natal pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai Hari Kelahiran Yesus, marilah kita simak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang kelahiran Yesus sebagaimana dalam Lukas 2:1:8 dan Matius 2:1, 10, 11 (Markus dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus).
Lukas 2:1-8: Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dan kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud-supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung. Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak lakilaki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya didalam palungan, karena tidak ada tempat yang bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.

Jadi, menurut Bibel, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu sedang melaksanakan sensus penduduk (7 M = 579 Romawi). Yusuf, tunangan Maryam Ibu Yesus berasal dari Betlehem, maka mereka bertugas ke sana, dan lahirlah Yesus Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya dalam palungan (tempat makanan sapi, domba yang terbuat dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.

Menurut Matius 2:1, 10, 11:
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya.

Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintahkan tahun 37 SM – 4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur. Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal tidak mustahil. Bagi yang memiliki wawasan luas, hati terbuka dan lapang dalam mencari kebenaran, kitab suci Al

Qur’antelah memberikan jawaban tentang kelahiran Yesus (Isa alaihissalam).
“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu (untuk minum). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. (Surat Maryam: 23-25).

Jadi menurut Al Qur’an, Yesus dilahirkan pada musim panas disaat pohon-pohon kurma berbuah dengan lebatnya. Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible – seperti dikutip buku Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal 23) : Yesus lahir dalam bulan Elul (bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan: Agustus – September. Sementara itu Uskup Barns dalam Rise of Christianity – seperti juga dikutip oleh Soleh A. Nahdi berpendapat sebagai berikut:
There is, moreover, no authority for the belief than December 25 was the actual birthday of Jesus. If we can give any credence to the bith-story of Luke, with the shepherds keeping watch by night in the fields near Bethlehem, the birth of Jesus did not take place in winter, when the night temperature is so law in the hill country of judea that snow is not uncommon. After much argument our christmas day seems to have been accepted about A.D. 3000.

(Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang di dekat Behtlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pengunungan Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 200 Masehi).

Pada Tahun Berapa Yesus Lahir?
Umat Kristen beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun I, karena penanggalan Masehi yang dirancang oleh Dionysius justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun kelahiran Yesus. Namun Injil Lukas 2:1 (sudah dikutip sebelumnya) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus, jadi antara tahun 27 Sebelum Masehi – 14 Sesudah Masehi.** Sedangkan Matius 2:1 (juga telah dikutip) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodes Agung: tahun 37 Sebelum Masehi – 4 sesudah Masehi.

Ternyata antara pemahaman yang beredar di kalangan umat Kristen tentang kelahiran Yesus dengan berita yang disampaikan oleh Injil, Lukas maupun Matius, tidaklah menunjukkan suatu kepastian, sehingga ilmuwan-ilmuwan mereka ada yang menyatakan Yesus lahir tahun 8 Sebelum Masehi, tahun 6 Sebelum Masehi, tahun 4 sesudah masehi. Antara lain kita kutip buku tulisan rev. Dr. Charles Franciss Petter, MA., B.D., S.T.M. yang berjudul The Lost Years of Jesus Revealed hal 119 sebagai berikut:

In the nineteehnt century, when it became evident and was finally admitted that Herod died in the year 4 B.C. and it was recalled that, according to story in Matthew’s Gospel (2:16), King Herod, in order to eliminate little Jesus as a possible “King of the Jews”, had ordered all infants of two years old and under to be killed, the birth-date of Jesus 0bviously had to be moved back to 4 B at least. Today, scholars prefer 5 to 6 B as the date best accomodating the indonsistent and even cont5radictory traditions, legens, and gospels, although some historians push the date back to 8 and 10 b.C. The problem of the correct dating of Jesus’ birth, life, and death has now been raised again (due to several statemensin these Essence Scrolls) along with the related question on the deity.

(Pada abad ke-19 setelah terbukti dan akhirnya diajui bahwa Herodes telah mati 4 tahun sebelum masehi dan setelah ditetapkan, bahwa menurut cerita Matius (2:16) raja Herodes memerintahkan pembunuhan kanak-kanak umur/dibawah umur dua tahun untuk membinasakan Yesus yang masih bayi yang katanya bakal jadi raja orang-orang Yahudi, maka jelaslah tanggal lahir Yesus harus digeser ke belakang, paling sedikit 4 tahun sebelum masehi. Masa kini para sarjana lebih condong menggeserkan tanggal lahirnya Yesus itu 5 sampai 6 tahun ke belakang tahun Masehi. Kesulitan menentukan tanggal kelahiran Yesus, kehidupannya dan kematiannya terpaksa ditimbulkan kembali karena adanya keterangan-keterangan yang banyak terdapat dalam gulungan-gulungan Essene (yang terdapat di gua Qamran) malah soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanannya juga harus dibangkitkan kembali).

Jadi sampai hari inipun tidak ada kejelasan tahun berapa Yesus dilahirkan.

Asal usul Perayaan Natal 25 Desember

Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.

Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke 4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium romawi yang paganis politheisme.

Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katholik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun = matahari; day = hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.

Maka supaya agama Katholik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/penyembahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan = Yesus).

Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Juga diputuskan: Pertama, hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus, untuk menggantikan patung Dewa Matahari.

Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke-4 Masehi, maka rakyat pun beramairamai ikut memeluk agama Katholik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.

Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang.

Darimana kepercayaan paganis politheisme mendapat ajaran tentang Dewa Matahari yang diperingati tanggal 25 Desember?

Mari kita telusuri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan paganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuni di dalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud).

H.W. Armstrong dalam bukunya The Plain Truth About Christmas, Worldwide Church of God, California USA, 1994, menjelaskan:

Namrud cucu Ham. Anak nabi Nuh adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia kuno. Nama Nirod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kota “Marad” yang artinya: “Dia membangkang atau Murtad” antara lain dengan keberaniannya mengawini ibu kandungnya sendiri bernama “Semiramis”.

Namun usia Namrud tidak sepanjang ibu sekaligus istrinya. Maka setelah Namrud mati Semiramis menyebarkan ajaran, bahwa roh Namrud tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Maka dibuatlah olehnya perumpamaan pohon “Evergreen” yang tumbuh dari sebatang kayu mati.

Maka untuk memperingati kelahirannya dinyatakan bahwa Namrud selalu hadir di pohon Evergreen dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. Sedangkan kelahiran Namrud dinyatakan tanggal 25 Desember. Inilah asal-usul pohon Natal.

Lebih lanjut Semiramis dianggap sebagai “Ratu Langit” oleh rakyat Babilonia, kemudian Namrud dipuja sebagai “anak suci dari surga”.

Putaran jaman menyatakan bahwa penyembah berhala versi Babilonia ini berubah menjadi “Mesiah palsu”, berupa dewa “Ba-al” anak dewa matahari dengan obyek penyembahan “Ibu dan Anak” (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali. Ajaran tersebut menjalar ke negara lain: Di Mesir berupa “Isis dan Osiris”, di Asia bernama “Cybele dan Deoius”, di Roma disebut “Fortuna dan Yupiter”. Bahkan di Yunani, “Kwan Im” di Cina, Jepang, dan Tibet, India, Persia, Afrika, Eropa, dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa “Madonna” dan lain-lain.

Dewa-dewa berikut dimitoskan lahir pada tanggal 25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercaya sebagai Juru Selamat (Penebus Dosa).

1. Dewa Mithras (Mitra) di Iran, yang juga diyakini dilahirkan dalam sebuah gua dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat, karena ia pun mengalami kematian, dan dikuburkan, tapi bangkit kembali. Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang pengagum sekaligus penganut kepercayaan ini.

2. Apollo, yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.

3. Hercules yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.

4. Ba-al yang disembah orang-orang Israel adalah dewa penduduk asli tanah Kana?an yang terkenal juga sebagai dewa kesuburan.

5. Dewa Ra, sembahan orang-orang Mesir Kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi dan diperingati secara besar-besar dan dijadikan sebagai pesta rakyat.

Demikian juga Serapsis, Attis, Isis, Horus,Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas, Kybele dan lain-lain. Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh perawan, antara lain Zrates (Bangsa Persia) dan Fo Hi (Bangsa Cina). Demikian pula pahlawan-pahlawan Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Solulus, Aristonicus, Tibarius, Grocesus, Yupiter, Minersa, Easter.

Jadi, konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember, disalib/dibunuh kemudian dibangkitkan, sudah ada sejak zaman purba.

Konsep/dogma agama bahwa yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi, dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat Romawi karena mereka telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah kebohongan yang sengaja dibuatnya. Kata kepada jemaat di Roma.

redTetapi jika kebesaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliannya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa ? (Roma 3:7).

Mengenai kemungkinan terjadinya pendustaan itu. Yesus telah mensinyalir lewat pesannya:

Jawab Yesus kepada mereka: Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang?. (Matius 24:4-5).

Pandangan Bibel Tentang Upacara Natal
Untuk mengetahi pandangan Bibel tentang perayaan Natal yang diwarisi dari tradisi paganisme, baiklah kita telaah Yeremia 10:2-4:

“Beginilah firman Tuhan: “Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak, orang memperkuatnya dengan paku dan palu supaya jangan goyang.”

Demikianlah pandangan Bibel tentang upacara Natal, yaitu melarang orang Kristen mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala.

Selanjutnya mari kita simak penjelasan dalam Yeremia 10:5:

“Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun. Tidak dapat berbicara, orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baik pun dia tidak dapat.”

Sumber-sumber Kristen yang Menolak Natal

1. Catholic Encyclopedia, edisi 1911 tentang Chrismas:

“Natal bukanlah upacara gereja yang pertama … melainkan ia diyakini berasal dari Mesir, perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.”

Dalam buku yang sama, tentang “Natal Day” dinyatakan sebagai berikut:

“Di dalam kitab suci tidak ada seorangpun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Fir’aun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.”

2. Encyclopedia Britanica, edisi 1946 menyatakan:

“Natal bukanlah upacara gereja abad pertama, Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambi oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.’

3. Encyclopedia Americana, edisi tahun 1944, menyatakan:

“Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut”. (Perjamuan Suci, yang termaktub dalam kitab Perjanjian Baru hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus) … Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad ke-4 M. Pada abad ke-5 M, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari”. Sebab tidak seorangpun mengetahui hari kelahiran Yesus.”

Keterangan:

** Jika kita menerima keterangan Injil Lukas, maka Yesus dilahirkan pada tahun 2 Sebelum Masehi. Hal ini didasarkan pada keterangan Injil Lukas yang menempatkan pembaptisan Yesus pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Roma Tiberius, dan saat Pontius Pilatus menjadi pejabat gubernur Yudaea (Lukas 3:1), dan bahwa Kaisar Tiberius menggantikan Kaisar Agustus pada tahun 14 Masehi,* maka Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis pada tahun 29 Masehi, yakni ketika Yesus berumur kira-kira 30 tahun (Lukas 3:23). Ini berarti, Yesus dilahirkan pada tahun 2 Sebelum Masehi.

Rujukan:
* A) Josephus F (1998) B) Asimov I (1969) C) Braid W (1971) D) Duncan GB (1971) E) Leon-Dufour X (1983) F) Jerald F. Dirks (2001).
Sumber Cicak Medan